MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 132. Misi di Balik Tasyakur


__ADS_3

Di ruang tamu, Rangga duduk berbincang santai dengan Pak Yunus. Menunggu Olla yang belum muncul sebab sedang mandi sore. Pak Emsi menjadi topik pembahasan Pak Yunus. Ia yang sangat kagum dengan konsistensi Pak Emsi, dimana setiap bulan rutin memberikan donasi ke DKM masjid. Menjadi bertambah respect dengan status baru juragan sapi itu sebagai mualaf.


"Oh ya, nak Rangga. Makasih sudah membantu mengurus motor anak bapak. Terus terang jadi gak enak sudah merepotkan nak Rangga." Pak Yunus beralih topik membahas motor seperti yang ia dengar dari cerita Olla.


"Gak merepotkan kok, Pak. Kebetulan yang punya bengkel motor teman saya, dia yang jemput dan antar. Karena mekanik tidak tau rumah Olla, jadinya diantar ke villa." Rangga beralasan. Padahal sebenarnya memanfaatkan peluang.


"Maaf, lama nunggu." Olla datang bergabung dengan wajah segar usai mandi. Keharuman aroma sabun yang segar menguar bersama dirinya yang mengambil posisi duduk di single sofa.


Membuat Pak Yunus berpamitan kepada Rangga, memberi ruang kepada sang tamu dan anaknya untuk berbincang berdua.


"Saya ke sini mau nyerahin motor." Rangga menyerahkan kunci, menyimpannya di atas meja.


"Makasih, Mas. Asli, saya gak enak hati udah ngerepotin Mas Rangga." Olla membiarkan kunci motor metiknya di atas meja. Menatap sang tamu dengan sorot sungkan. "Berapa semua biayanya, Mas? sambungnya bersiap membuka dompet yang dipegangnya.


Rangga menggelengkan kepala. "Gak usah, Olla. Biayanya gak seberapa kok. Sudah ya, saya mau pulang bentar lagi magrib." Ia beralih bangkit dari duduk, bersiap untuk keluar.


"Yaaah, Mas Rangga. Jadi tambah gak enak kalo gini. Saya harus balas pake apa dong." Olla ikut berdiri dan mensejajari langkah Rangga yang berjalan menuju pintu yang terbuka.


"Balasnya dengan nanti harus ikut hadir di villa. Gimana bisa?" Rangga yang sudah di teras, menoleh ke sampingnya dengan mengangkat kedua alis. Nampak pula di tepi jalan mobil yang aka menjemputnya sudah datang.


"Insya Allah ikut." Balas Olla diiringi anggukkan.


"Hmm, calon suami kamu juga boleh diajak kok. Biar aku juga bisa kenal dan bisa berteman dengannya." Rangga memasukkan kedua tangan di saku. Menatap tajam Olla agar tidak terlewatkan menangkap reaksi di wajah cantik yang memiliki hobi ekstrem itu.


"Kami sudah putus." Olla tersenyum getir. "Selangkah lagi menuju pernikahan dan Allah menakdirkan kami tidak jodoh." Ia menghembuskan nafas panjang sambil menatap lurua ke depan.


Yes. Ini dia jawaban yang kutunggu.


Dalam hati, Rangga bersorak girang. Akhirnya bisa mengorek sendiri kebenaran berita yang didapatnya dari Bu Ima.


"Eh, maaf Olla, saya gak tau. Saya kira---"


"Tak apa." Olla memotong ucapan Rangga. "Lagian juga kenapa saya malah curhat ya." Pungkasnya sambil terkekeh.


Rangga membalas dengan tersenyum simpul. Suduh hatinya menghangat. Merasa asa terbuka lebar untuknya.


****


Mizyan shooting bola ke dalam ring dalam jarak 3 meter. Dan bola basket masuk dengan sempurna. Dika yang menyaksikan bertepuk tangan sambil berlonjak-lonjak girang.


"Papa, atu juja bisa." Dika tak mau kalah. Memungut bola basket mini miliknya. Berdiri sejajar dengan ring basket mini portable yang merupakan fasilitas mainan dari Opa Mark.


Sayangnya, tembakan Dika tidak masuk. Memantul di papan dan bola kembali jatuh menuju kakinya. Bocah kriwil itu spontan memegang kepala dengan raut wajah kecewa.


Mizyan tergelak melihatnya. Beralih mendekati Dika dan mengarahkan posisi menembak bola yang tepat.


"Ayo, shoot!" Mizyan memberikan aba-aba agar Dika melepaskan bolanya.


"Yeay---" Dika berseru girang saat bola masuk ke dalam keranjang. Berlari-lari mengitari lapangan mini sebagai bentuk selebrasinya. Terakhir melakukan adu tos dengan Papa buye.


"Bro---" Mizyan melemparkan bola basket ke arah Rangga yang terlihat berjalan mengarah padanya.

__ADS_1


Rangga nampak kaget dan tidak siap saat bola melayang padanya. Tak urung bisa menangkapnya meski hampir lepas. Diakhiri dengan gelengan kepala sebab kelakuan anak bossnya beda tipis dengan boss Mark yang suka berlaku tiba-tiba.


Hoki bagi Rangga. Shoot nya dengan gaya lompat tinggi dari jarak jauh begitu ringan melayang dan bola masuk ke dalam ring.


"Amazing you!" Mizyan memberi appaluse diiringi acungan jempol. "Tumben shooting lo ngena, bro." Pujian pun disambung dengan ledekan dengan tatapan menyipit memindai aura bahagia di wajah Rangga.


Rangga tergelak mendapat pujian sekaligus ledekan dalam satu waktu. Lanjut dengan santai bersiul-siul tanpa tersinggung sebab ia sudah tahu yang dilakukan Mizyan hanyalah joke semata.


"Om Langgga, keleeeen---" Dika mengepalkan tinju dan mengangkat ke atas untuk beradu tos dengan Om Rangga.


"Nah ini baru pujian tulus." Rangga menyambut adu tos sang bocah dengan memberi sindiran halus pada Mizyan. Alhasil mendapat hadiah tinju dari Mizyan ke lengan atasnya.


"Katakan ada good news apa?" Mizyan dribbling bola dengan Rangga berada di depannya bersiap untuk merebut.


"Keliatan banget ya kalo saya lagi happy?!" Rangga yang bergerak berusaha mencuri bola, mendesah berat mendengar pertanyaan interogasi Mizyan.


"Mata orang yang lagi fall in love gak bisa disembunyikan, bro." Ujar Mizyan sambil berkelit membelakangi Rangga dan menembakkan bola arah ring dalam posisi memunggungi. Sungguh tembakan jitu. Dan Dika menjadi supporter yang bertepuk tangan dengan riang.


"Harghhh. Gue nyerah sama maestro!" Rangga berkacak pinggang dengan nafas ngos-ngosan begitu bola yang siap ditembakkan berhasil dicuri Mizyan. Ia pun menyerah pada kejelian anak boss rasa keluarga itu yang menebak tepat pada suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.


"Olla sudah putus dengan tunangannya. Dan ini peluang buat saya kan, Mas?!" Rangga tersenyum lebar. Masih sama-sama berdiri berhadapan di tengah lapang mini dengan keringat yang bercucuran di senja yang cerah.


"Lo sekarang harus gercep. Jodoh harus dijemput, jangan ditunggu. Bisa-biasa ketikung lagi nyesel dah. Tapi ingat, usaha harus dibarengi do'a. Jangan lupa Istikharoh!" Kali ini Mizyan berkata sungguh-sungguh. Ia memberi semangat agar Rangga percaya diri mendekati Olla.


"Makasih supportnya, Mas." Rangga tersenyum simpul dengan mata berbinar.


"Tenang--- malam ini 2 misi percomblangan akan berjalan. Papi and you!" Mizyan menaik turunkan alisnya.


Rangga berjalan ke paviliun tempat tinggalnya. "Haduh---- kok jadi deg-degan gini." Rangga bergumam pelan. Ia yang belum berpengalaman menjalin cinta, meraba dadanya. Selama ini sering meledek dalam hati kebucinan Pak Mark yang melakukan pendekatan pada Bu Ima. Kini ia sendiri mulai mengalami rasa hati yang gelisah.


****


"Sayang, aku udah atur orang lapangan. Moga semua berjalan lancar." Mizyan berkata sambil memeluk Rahma dari belakang dengan dagu disandarkan ke bahu. Sang istri sedang berdiri di depan meja rias untuk touch up wajah dengan riasan minimalis.


"Bismillah. Niat baik kita semoga diridhoi Allah." Rahma menatap Mizyan dari pantulan cermin. Mengulas senyum manis.


"Sudah cantik seperti ini. Jangan make up bold!" Mizyan mencium pipi kanan Rahma. Memuji riasan tipis yang membuat wajah cantik alami sang istri semakin fresh.


Membuat Rahma tersipu. Desiran di dada tak pernah lekang, tetap terasa setiap kali bersentuhan dengan Mizyan.


Suara pintu dibuka dengan dorongan kasar membuat Rahma dan Mizyan menolehkan wajah. Dika yang mengenakan setelan koko warna biru nyelonong masuk dengan sudut bibir belepotan coklat.


"Papa....Bunda....ada tamu." Dika datang disuruh Opa Mark.


"Aduuhh, Dika abis makan apa sih. Nih kena baju deh." Rahma mendekati Dika sambil membawa tisu basah. Mengelap mulut sang anak yang cemong dan baju yang terkena tetesan coklat.


"Makan Picok dali Om Wanda." Lapor Dika dengan santai menerima perlakuan sang bunda yang membersihkan dirinya.


"Apa picok?!" Mizyan yang masih di depan cermin memastikan lagi penampilan dirinya, menimpali penuh tanya.


"Piscok, Pa. Pisang coklat." Jelas Rahma.

__ADS_1


Mizyan ber oh ria, baru ngeh. Bertiga keluar dari kamar untuk menemui tamu undangan khusus dari rumah tahfiz.


Dengan karpet tergelar di ruang tengah. Mizyan dan Rahma menyapa para tamu berjumlah lima orang dewasa dan dua orang anak usia SMP dan SD yang merupakan keponakannya Ibu Ima. Sudah ada Papi Mark dan Rangga yang lebih dulu menerima tamu.


"Teh Olla, ya?! Apa kabar?" Rahma yang bergeser menyalami Olla yang paling akhir, menerka dengan senyum ramah.


"Iya aku Olla, Mbak. Alhamdulillah baik." Olla membalas cipika cipiki istrinya Mizyan itu dengan tersenyum tulus. Waktu sudah mengobati hati yang kecewa karena cinta tak bersambut. Sedekat ini interaksi dengan Rahma, hatinya mengakui jika memang Mizyan tidak salah mengejar janda beranak satu itu. Ia merasakan aura kesalehan wanita cantik yang sedang hamil muda itu.


"Bu Ima bilang mbak Rahma lagi hamil ya. Moga ibu dan bayinya sehat selalu dan dilancarkan sampai lahiran." Olla memandang lekat wajah Rahma yang masih menggenggam tangannya dengan hangat.


"Aamiin. Sekarang lagi masa mual pusing, teh. Tapi dinikmati aja." Sahut Rahma dengan gestur bersahabat, mengakhiri percakapan singkatnya.


"Mas Mizyam dan Pak Mark, mohon maaf dua orang lagi tidak bisa ikut karena kebagian tugas mengajar anak-anak." Faisal, adik Bu Ima memberikan laporan. Ditanggali Mark dan Mizyan dengan anggukkan dan senyum penuh rasa maklum.


Acara dimulai. Mizyan mewakili keluarga memberi sambutan dengan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu. Juga menyampaikan jika malam ini adalah menjadi momen silaturahmi serta tasyakur bi nikmat atas selesainya renovasi rumah tahfiz dan ber Islamnya Papi Mark.


"Pak Faisal, mohon untuk memimpin do'a sebelum kita mulai makan malam bersama." Ujar Mizyan diakhir sambutan non formalnya itu.


Rahma tidak bisa bergabung di meja makan saat jamuan makan malam dimulai. Ia harus mengawasi Dika yang sejak duduk di ruang tengah merajuk ingin bermain di play ground. Tidak mungkin menyuruh Bi Cicih mengawasi sebab sibuk di dapur.


Dika merasa senang ada teman main, yaitu anak bungsunya Faisal yang baru kelas 2 SD. Keduanya main perosotan yang mengarah pada kolam mandi bola. Rahma duduk mengawasi dari kursi panjang yang tersedia.


Rahma menoleh ke arah pintu yang terbuka saat mendengar ucap salam. Ia menjawabnya dan melihat Olla melongokkan wajah di ambang pintu.


"Eh, teh Olla. Sini!" Rahma melambaikan tangan.


"Maaf mbak, aku udah lancang masuk sini. Tapi udah ijin sama A Iyan, katanya boleh." Olla mengkonfirmasi agar tidak ada kesalah fahaman.


"Santai aja, teh Olla. Duduk sini!" Rahma menepuk ruang kosong disampingnya.


Olla menurut. "Maksud aku kesini, aku kan udah makan. Sekarang giliran mbak Rahma yang makan. Biar aku yang jagain anak-anak. Nanti katanya Mas Rangga juga mau nyusul ke sini bawain makanan." Olla menjelaskan tujuannya diiringi kekehan mengingat tadi Mizyan menyuruh Rangga membawa menu dessert ke ruang playground.


"Oke, deh. Nitip dulu bentar ya teh Olla." Tanpa ragu Rahma menyetujui dan mendapat anggukkan dari Olla sebelum melangkah ke luar. Firasat mengatakan, Mizyan memulai misi untuk Rangga dulu.


*****


Hellow, Papa buye lovers.


Maafkeun up yang telat. Karena kesibukan padat merayap di RL. Alhamdulillah job penuh sampe akhir bulan ini. Jadi ragu MJ akan end di bulan ini. 😃 Tapi tetep give away diumumkan bulan ini. Insya Allah.


Dan aku sedang berusaha bagi2 waktu utk menyenangkan para pembaca setia MJ. sekali lagi harap sabar menanti up.


Maaf DM yg menanyakan kapan up, tidak di balas satu persatu. Di sini aja ya jawabannya.


Mohon pengertiannya. Rejeki utama aku ada di RL. Ngehalu mah semata utk menghibur pembaca setia sluruh karyaku terkhusus MJ.


Sambil nunggu Up, bisa dengerin juga MJ versi audio book. Suara creatornya empuk banget dan menjiwai. Cocok sebagai dongeng menemani mak emak ngerjain tugas negara.


Last but not least. Beri dukungan terus agar aku tidak lari meninggalkan NT. 😉


Lap all of you 😍

__ADS_1


Me Nia


__ADS_2