MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 122. 20 November (3)


__ADS_3

"Oke. Bersiap ya, Mas! 5...4...3...2...1!"


Mizyan membuka syal yang menutupi matanya. Rasa deg degan sedari tadi, menebak-nebak apalagi kejutan yang akan didapatnya kini terjawab. Ia memperhatikan sosok yang berdiri dihadapannya. Keningnya mengkerut melihat buket bunga besar yang menutupi wajah seseorang itu.


"Hayo tebak siapa?!" Rahma yang mendampingi sang suami, berseru riang.


Menatap postur dari atas ke bawah serta model pakaian yang dikenakan, Mizyan tersenyum lebar.


"Mami!" jawabnya yakin. Lalu mengambil alih buket bunga itu. Benar saja tebakannya.


"Miki....sayang. Happy birthday." Mami Kanti merentangkan kedua tangan dengan senyum sumringah.


Mizyan menghambur memeluk sang ibu sambil berteriak senang. Bukit bunga yang dilegangnya diambil alih oleh Rahma.


"Mami thank you udah datang." Ia masih memeluk erat Mami Kanti yang tertawa dengan mata berkaca-kaca.


Mengurai pelukan, Mami Kanti mendongakkan kepala menatap ke dalam bola mata hazel sang anak yang posturnya lebih tinggi darinya. Menangkup wajah blasteran Jawa Jerman itu dengan tatapan lembut.


"Sayangnya Mami, semua do'a terbaik untukmu. Semoga Tuhan selalu memberkatimu."


"Maafin, Mami----Meski tidak utuh sebagai keluarga, tapi kasih sayang Mami dan Papi tetap utuh untukmu."


Mizyan kembali memeluk Mami. "I love you, Mam." Hanya sebaris kalimat itu yang mampu lolos dari bibirnya. Kalah dengan keharuan yang menyeruak apalagi melihat dan mendengar maminya terisak. Ia mengusap-ngusap punggung Mami Kanti penuh sayang.


Rahma menundukkan wajah. Buliran air mata lolos tak terbendung. Suasana haru biru tengah disajikan mother and son. Ia lagi-lagi harus menyeka pipi dan sudut mata dengan tisu. Ketegaran yang sudah dipersiapkan sejak kemarin sama sekali tidak ada efek. Baper.


Morgan yang mendekat diikuti Dika turut mengucapkan selamat dan memeluk hangat sang kakak tiri. Sudah tahu sekarang, kenapa tadi mendengar Dika bersorak heboh. Sebab senang melihat kedatangan Morgan dan hampir saja berteriak memanggil nama om nya itu. Namun Uma keburu membekap mulut cucunya itu.


"Aduh 2 kali dapat surprise jadi menguras energi nih." Mizyan mencairkan suasana. Ingin keluar dari kesyahduan. "Uma, aku laper....tadi sama Rahma cuma dikasih sarapan roti." sambungnya merajuk menatap Uma sambil mengusap-ngusap perut.


Semua orang tertawa. Rahma memukul lengan Mizyan sambil mencebik sebal.


"Sebentar, Mas. Surprisenya belum beres." Rangga menginterupsi di tengah keriuhan canda tawa di teras rumah itu.


"Ada lagi?!" Mizyan menatap tak percaya pada Rangga dengan kedua alis bertaut.


"Mas, jalan ke depan deh lihat sendiri!" Rangga menunjuk dengan dagunya ke arah jalan.


Penuh teka teki, merasa tadi tidak melihat apapun di jalan saat tadi datang. Mizyan meraih tangan Rahma mengajak ikut keluar pekarangan. Membuat yang lain pun ikut mengekori di belakang.


Dan.....


"Ya Allah--" Mizyan memekik keras melihat mobil berpita merah terparkir di sebelah kiri pagar. "Ini beneran?! Dari siapa?!" Ia menyapukan pandangan dengan wajah sumringah terhadap orang-orang yang berkumpul.


"Lihat aja, Mas. Tuh ada suratnya." Rangga menunjuk pada amplop yang menempel di kap mobil MPV warna putih, Alphard.


Tanpa menunggu lagi, Mizyan meraihnya. Membuka isinya dengan tidak sabar.


...For your beautiful journey,...

__ADS_1


...Once more, Happy Birthday to my son....


...Papi Mark...


"Ish, Papi---" Mizyan geleng-geleng kepala diiringi kekehan. Speechless, tidak tahu harus bicara apa lagi. Memilih menghambur memeluk sang ayah yang juga nampak berwajah sumringah.


"Thank you so much, Papi. Love you--" Tulus Mizyan menyampaikan perasannnya. Yang nendapat balasan usapan tangan di punggungnya.


"You deserve it." Kalimat pendek yang diucapkan Papi Mark namun bermakna dalam.


****


"Alhamdulillah...kita ditakdirkan berkumpul bersama untuk mensyukuri nikmat. Nikmat sehat dan nikmat masih bisa bernafas sampai detik ini." Ayah Badru mulai membuka suara sebagai pemimpin acara. Suasana ruang keluarga mulai hening dari aktifitas bercengkrama. Semuanya menyimak sambil duduk lesehan di karpet melingkari hidangan nasi tumpeng berikut lauk pauk dan cuci mulut pelengkapnya.


"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik pula perbuatannya. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk pula perbuatannya."


Tak ada yang menyela. Semua menyimak dengan khusyu. Nampak kepala Papi Mark manggut-manggut.


"Gak akan panjang-panjang saya berbicara. Sama, ini cacing di perut sudah menjerit-jerit mencium aroma nasi tumpeng."


Membuat suasana hening berubah riuh tawa setelah Ayah Badru berucap sambil mengelus perut.


"Untuk nak Mizyan khususnya, dan umumnya untuk kita semua. Mari kita berdo'a." Ayah Badru mengangkat kedua telapak tangan. Diikuti semua orang yang berkumpul. Kecuali Mami Kanti dan Morgan, menautkan kedua tangan di dada sambil menundukkan kepala.


"Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangkanlah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rejeki kami."


"Ya Allah, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan. Kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aamiin." **


Acara makan-makan dimulai. Suasana kekeluargaan kental terasa tanpa kecanggungan. Papi Mark dan Mami Kanti meski duduk di sisi yang berlawanan, namun tidak ada kecanggungan. Berbaur dalam obrolan santai. Usia dan kedewasaan pemikiran membuat keduanya berdamai dengan masa lalu.


"Ini untuk istriku yang sudah beri surprise." Mizyan yang menerima piring berisi nasi dan lauk dari Rahma, mengambil sesendok dan mengarahkan pada mulut istrinya itu.


Malu-malu, Rahma membuka mulut menerimanya. Semua yang berkumpul mesem-mesem menyaksikan kemesraan yang ditampilkan Mizyan.


"Suapan kedua buat calon cucu kedua Ayah dan Uma, Mami dan Papi." Mizyan tersenyum simpul saat mengarahkan lagi sendok ke mulut Rahma.


"Eh, tunggu maksudnya apa?! Rahma lagi hamil?!" Mami Kanti sampai urung memasukkan nasi ke mulutnya. Ingin memastikan.


"Yes, Mam. Tadi Rahma ngasih kado ini." Dengan bangga Mizyan mengeluarkan foto usg dari saku bajunya dan membuka lebar surat keterangan dokter. "Hamil 4 minggu." Sambungnya dengan senyuman yang terkembang.


Semuanya berucap syukur. Mami Kanti yang duduk di sisi Rahma langsung memberi pelukan dan mencium kedua pipi sang menantu penuh luapan bahagia.


"Dika kenapa cemberut?!" Uma lebih dulu awas melihat sang cucu yang sedari tadi nemplok dengan Morgan.


"Atu juja mau disuapin Papa." Dika menjawab masih dalam mode bibir mengerucut 5 cm.


"Wuahh si tukang cemburu tuh gak boleh terlewat." Ayah Badru menimpali menggoda Dika yang sudah tahu sangat dekat dengan menantunya itu.


Dengan terkekeh, Mizyan melambaikan tangan kepada Dika yang duduk di sebrangnya. Membawanya duduk di pangkuan. Bergantian ia makan dan menyuapi Dika yang kini berubah berseri.

__ADS_1


Selesai makan bersama, Rahma membantu Uma membereskan bekas makan ke dapurm Bahkan Mami Kanti ikut pula membantu. Tidak nampak ceu Imas, sudah pulang dengan alasan anak sulungnya yang di Jakarta datang.


Para pria berpindah duduk di sofa ruang tamu. Kecuali Morgan yang bermain dengan Dika di luar, di dekat mobil kado yang terparkir di pekarangan.


"Pak Mark, silakan ada yang mau disampaikan?" Pak Badru menatap besannya yang duduk bersisian dengan Mizyan.


Mizyan menaikkan kedua alis. Memiringkan badan menatap Papi dengan raut penasaran, apa yang mau disampaikan.


Menghela nafas panjang terlebih dahulu, Papi Mark menatap sang anak dengan sorot lembut namun tegas.


"Miki, jadilah saksi hari ini Papi akan mengucap syahadat!" Ujar Mark tegas dan lugas.


Seketika Mizyan terpaku. Menatap lurus ke dalam bola mata hazel sang ayah. Mengorek, mencoba mencari adakah kebohongan dari ucapan barusan.


"Papi, serius?!" Masih dengan rasa kaget tak percaya.


Mark menganggukkan kepala dengan yakin. "Papi sebetulnya sudah lama tertarik dengan Islam setelah kamu menjadi mualaf. Diam-diam mempelajari sendiri lewat buku, dialog dengan teman yang muslim. Termasuk bertanya sama kamu dan Rahma. Dan hari ini hati Papi sudah mantap."


Mizyan dengan cepat memeluk Papi Mark. "Allahu Akbar. Allohumma sholli'ala Muhammad." Ucapnya di balik punggung sang ayah, serak penuh keharuan. Matanya pun berkaca-kaca.


****


Mizyan kini sudah tahu siapa vokal di balik semua surprise yang diberikan untuknya di hari spesial ini. Rahma. Begitu rapih istrinya itu mempersiapkan segalanya. Tentunya dibantu pula Ayah dan Uma serta Rangga. Beriringan dua mobil menuju pesantren. Kecuali Uma dan Dika yang tidak ikut, menemani Mami dan Morgan di rumah.


Menginjakkan kaki di parkiran pesantren, Mizyan mengedarkan pandangan menatap deretan stan catering di samping masjid. Pemandangan yang tidak biasa.


"Aku disuruh Papi untuk menjamu jemaah bubar sholat nanti." Rahma seolah mengerti kebingungan di wajah Mizyan.


Mizyan tersenyum. Mengusap kepala Rahma sebagai ucapan terima kasihnya sudah mempersiapkan segalanya. Masih ada waktu 30 menit sebelum azan Duhur. Bertempat di rumah utama ustad Ahmad, ia menemani Papi Mark bercengkrama dengan sang ustad dan kedua anaknya ustad. Sampai kemudian azan Duhur terdengar berkumandang.


"Papi, aku tinggal dulu. Nanti aku jemput Papi setelah sholat." ujar Mizyan setelah melihat ustad Ahmad dan yang lainnya keluar rumah menuju masjid. Mendapat anggukan Papi Mark yang sudah mengenakan baju koko putih bersih.


"Rangga, kamu juga pergi ikut berjamaah!" Mark menyuruh Rangga. Tidak masalah jika harus ditinggalkan sendirian. Awalnya Rangga bergeming, tidak tega meninggalkan sang boss tanpa teman. Namun kode lirikan mata Mizyan meyakinkannya untuk keluar menuju masjid.


Jamaah sholat Duhur kali ini berbeda. Selain santri, ada wajah-wajah tokoh pemuka agama dari luar pesantren yang hadir. Dada Mizyan sudah sesak berada di barisan makmum sholat. Sesak karena keharuan. Merasa dejavu, masa dulu ia berikrar menjadi seorang muslim di masjid ini, masjid At Taubah. Tempat yang sama, kini sang ayah akan pula berikrar menyusulnya menjadi seorang muslim.


Jemaah usai sholat duduk rapih menepi, mengosongkan bagian tengah masjid yang kini sudah dipasang meja pendek. Serta sudah duduk melingkar di dekat meja tersebut para pengajar pesantren, tokoh ulama yang diundang, termasuk Ustad Ahmad yang akan menuntun Mark berucap syahadat.


Mizyan duduk sila di samping sang ayah, sama-sama mengenakan baju koko putih, berhadapan dengan ustad Ahmad terhalang meja. Ayah Badru dan Rangga duduk sila di belakangnya.


Mark Cornelius.


Tanpa paksaan, tanpa tekanan dari siapapun. Seiring waktu dirinya menyelami hati akan kesungguhan memeluk agama Islam. Siang ini, dengan kesadaraan penuh dan kemantapan hati, ia mengikuti arahan ustad Ahmad mengucap dua kalimat syahadat.


Allahu Akbar


Allahu Akbar


Tanpa dikomando. Semua jamaah yang hadir berucap takbir usai Mark dinyatakan sah menjadi seorang muslim. Di atas meja sudah tersedia sertifikat mualaf atas nama Mark Cornelius. Dengan mantap ia membubuhkan tanda tangan di bawah fotonya.

__ADS_1


Kata 'Aamiin' menggema mengiringi doa yang dipanjatkan oleh sang ustad agar semoga sang mualaf menjadi muslim yang baik dan istiqomah menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.


Mark dan Mizyan. Ayah dan anak saling berpelukan lagi, erat. Tanpa kata, hanya mata dan hidung yang memerah sebagai bukti luapan kebahagiaan dan keharuan yang menyesak di dada dan kini meledak dalam tangis tertahan.


__ADS_2