MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 156. Bonchap 2


__ADS_3

Bandung


"Hoeamm---" Mentari menguap panjang dengan suara dikeraskan. Mainan boneka barbie dan rumah barbie di depannya kini diacuhkan. Memilih menggulingkan badan di karpet yang masih kosong dari mainan yang berserakan.


Rahma melirik Mentari sembari senyum dikulum. Sudah tahu dengan gestur anak gadisnya itu yang kini manyun dengan tatapan menerawang ke atas. Menandakan sudah bosan bermain dan merasa bete.


"Hoeamm---" Kembali Mentari menguap dengan suara keras.


"Kalo nguap mulutnya ditutup, sayang. Nanti ada cicak jatuh, masuk deh ke mulut adek." Rahma menopang dagu menatap Mentari. Memilih menyudahi membaca email laporan dari 2 tokonya dan mamatikan laptop.


"Sini naik!" Rahma menepuk sofa di sampingnya.


Dengan gerak malas, Mentari menurut berpindah naik ke sofa dan beralih tiduran di pangkuan bundanya.


"Abang sama Papa belum pulang, Opa sama Oma juga belum datang. Aku boseeennn---" Mentari merajuk, mencurahkan keluhannya dengan bibir memberengut. Sudah setengah hari main sendiri. Terakhir ini memainkan 5 boneka barbie, lama-lama membuatnya jenuh. Tapi jika ada teman main, lain cerita. Ia akan betah sampai lupa waktu.


"Bentar lagi Opa sampe....paling 30 menitan lagi. Barusan Bunda udah tanya ke Oma." Rahma mengusap rambut poni Mentari yang berantakan. "Anak cantik jangan bete lagi ah...jadi jelek kalo manyun gini," sambungnya sembari menggelitik perut anak gadisnya itu.


Mentari tergelak. Wajah cemberutnya berubah riang karena bunda sangat pandai menghiburnya. Diselingi bermain gadget untuk belajar membaca dalam bentuk game. Waktu menunggu pun tak terasa. Tahu-tahu suara bersisik di luar rumah terdengar sayup-sayup sampai ke dalam.


Mentari terlonjak mendengar suara yang familiar di telinganya. "Bunda, itu suara Om dan Onty---" pekiknya riang. Tanpa menunggu jawaban segera turun dari sofa. Setengah berlari menuju pintu utama yang masih tertutup.


"Onty Kei....Om Kay...." Mentari menautkan kedua tangan di dada sembari melenggak-lenggokkan pinggang diiringi pekik riang. Mengekspresikan rasa senang dan euforia menyambut family dari Bogor sekaligus teman bermain sebayanya.


"I miss you...sunshine---" Kei mengingat pelajaran Papinya yang selalu menyelipkan kosakata bahasa inggris. Sesekali senang memanggil Mentari dengan panggilan sunshine. Kedua gadis bule centil itu berpelukan riang.


Mentari beralih menyalami Kay dan adu tos. Lalu mencium tangan Opa serta Oma bergantian.


"Eits...adek baby belum salim sama kakak." Tegur Rahma usai menyalami Papi Mark dan Bu Ima. Dengan sengaja menggoda kedua adik kecilnya itu yang suka ngambek jika dipanggil baby.

__ADS_1


Benar saja. Si kembar siaga kompak melipat tangan di dada dengan wajah cemberut.


"Aku sudah besar, Kakak---" Spontan si kembar menjawab bersamaan. Berakhir dengan pipi yang mengembung.


Rahma terkekeh. Menjawil gemas dagu Kay dan Kei. "Eh iya lupa ya...adek-adekku ini udah besar ternyata ya." Ia meralat agar aksi ngambek si kembar berakhir.


.


.


.


Di sebuah Mall.


Ayah dan anak keluar dari restoran cepat saji usai makan siang. Memakai topi yang sama berlogo NY, kedua pria tampan beda generasi beriringan berjalan menuju gerai jam tangan. Seperti rencana awal, sepulang berlatih inline skate akan mencari barang untuk kado ulang tahun bunda Rahma.


"Dua aja. Kado dari Papa dan Abang. Cukup kan" Mizyan menjawab tanpa menoleh. Fokusnya mengamati jam tangan yang elegan dan menarik perhatiannya. Meminta petugas toko mengambilkannya dari display kaca.


"Harus tiga sama adek, Pa. Adek nanti ngambek kalau gak ikutan ngasih kado sama Bunda."


"Oh iya ya. Oke beli tiga. Papa udah beres nih. Abang mau beli kado apa?" Mizyan memberikan lagi jam tangan yang sudah ditelitinya kepada pegawai toko. Meminta di kemas dengan cantik karena untuk gift. Tidak sulit baginya menentukan barang yang akan dibeli. Kalau sudah suka tinggal bungkus dan bayar.


Tampilan jam tangan merk AC yang dipilihnya ini sangatlah cantik . Strap kulit berwarna coklat memberikan kesan vintage dan juga elegan pada jam tangan. Kemudian case jam dengan warna emas dan juga center dial berwarna putih menjadikan jam tangan ini manis dan juga sekaligus mewah.


"Ini, Pak." Pegawai toko memberikan nota untuk pembayaran di kasir. Mizyan melihat sekilas angka yamg tertera. Rp. 13.000.000.


Mizyan beralih ke kasir. Memberikan nota sekaligus kartu kreditnya. Done.


Berbeda dengan kaum perempuan yang menurutnya suka ribet. Contohnya jika mengantar Rahma belanja. Banyak pertimbangan pegang sana sini lalu berpindah tempat tanpa jadi membeli. Lalu balik lagi ke tempat awal. Dan pada akhirnya membuatnya bosan dan kesal kalau harus mengekori.

__ADS_1


Kartunya digesek dengan nominal 13 juta. Jam tangan seharga motor itu sudah berpindah tempat ke tangannya. Ditenteng dalam paper bag kecil.


"Abang mau beli kado apa?" Giliran Mizyan yamg mengikuti langkah bocah yang baru naik kelas 3 SD itu. Beralih keluar dari gerai jam tangan original merk ternama itu.


"Hmm, Abang mau beli sepatu aja. Tapi bayarnya pake uang Abang sendiri ya, Pa?" Dika menoleh sekilas sembari melangkah pasti menaiki eskalator untuk menuju gerai sepatu.


"Emang Abang punya uang?!" Mizyan menautkan kedua alis. Tangannya merangkum bahu si sulung yang tinggi badannya makin menyusulnya itu.


"Abang punya tabungan, Pa. Tadi malam dibongkar ada 800 ribu." Dengan bangga Dika memperlihatkan lembaran uang aneka warna yang tersusun rapih di waist bag nya. "Kalo dikasih kakek dan nenek, Abang gak abisin buat jajan, disisihkan masukkin ke celengan. Minggu kemarin dikasih Om Nico 200 ribu. Nanti juga punya uang lagi kan Opa udah datang pasti ngasih uang jajan." Dengan berbinar, Dika menyebutkan sumber pendapatannya. Ia mengetahui keluarga dari Bogor sudah datang sebab sang bunda mengirim pesan chat.


Mizyan tersenyum simpul. Merasa bangga dan menghargai akan niat si sulung yang memaksa ingin membayar sepatu flat berwarna beige yang sudah dipilihnya, memakai uang sendiri. Terakhir kado ketiga untuk akuan Mentari, dibayar menggunakan uang tunai.


Sampai ke depan rumah, Mizyan memarkirkan mobil di samping kanan mobil Papi Mark. Pekarangan terbuka tanpa pagar besi itu memudahkan keluar masuk kendaraan. Sebab memang aturan dari perumahan elit milik Satya itu demikian. Tidak boleh memiliki pagar rumah. Mizyan menjadi yang terakhir membangun rumah di lahan 2 kavling. Dan kini hunian sudah full. Keamanan 1 x 24 jam terjamin dengan penjagaan ketat dari satu pintu gerbang keluar masuk komplek.


"Pa, ini kadonya gimana? Jangan sampe Bunda tahu. Gak surprise dong." Dika nampak bingung. Di dalam pasti lagi ngumpul dan rame.


"Simpen di mobil aja dulu. Biar nanti malam sama Papa dipindahin." Mizyan memberikan solusi. Dika pun mengangguk setuju. Keduanya masuk ke dalam rumah dengan berucap salam.


"Abang.....Abang mana---" Mentari tiba-tiba datang dengan wajah sumringah mendekati abangnya. yang sedang menceritakan pada Opa dan Oma soal lomba hafiz besok juga lomba inline skate bulan depan di Bali. Tapi ucapannya terhenti. Dika secara cepat membekap mulut sang adik sembari mengerjap-ngerjapkan mata.


Dika segera menuntun Mentari menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan kedua orangtua dan Oma serta Opa yang masih melanjutkan perbincangan santai di ruang keluarga. Si kembar dengan rasa penasaran yang tinggi mengekori di belakang.


Dika mendudukkan Mentari di tepi ranjang. Sambil berdiri dengan tangan dilipat di dada mulai memberi warning pada sang adik. "Adek...Abang kan udah bilang jangan heboh. Nanti Bunda curiga kan jadi gak seru." Ia mengingatkan saat tadi di mall menelpon Mentari melalui ponsel Oma Ima. Sang adik yang meminta dibelikan bantal bentuk Love warna pink untuk kado, sudah diwanti-wanti agar bersikap biasa jangan centil.


"Iya-iya...I'm sorry, Abang. Tadi aku lupa hihihi---" Mentari terkikik sembari memasang wajah imut agar abangnya tidak mengomelinya lagi. Dan itu berhasil membuat Abang Dika mengurai tangannya yang terlipat menjadi turun ke bawah.


"Ada apa sih Babang...aku jadi kepo?!" Kay menatap Dika dengan sorot mata penuh keingintahuan.


"Iya aku juga kepo. Plis jangan ada rahasia diantara kita." Kei ikut naik ke atas ranjang. Duduk di samping Mentari dengan memasang wajah serius menunggu Dika bercerita. Si kembar memang belum tahu jika besok bundanya Mentari berulang tahun.

__ADS_1


__ADS_2