
Mizyan memperkenalkan diri serta memperkenalkan Fahmi pada Glen dan Eva serta Mira. Bahkan Eva dengan semangat mengajak keduanya duduk bersama. Tak mempedulikan cubitan yang mendarat lagi di kolong meja. Para pria tampak langsung akrab dengan obrolan saling menanyakan asal muasal.
"Mas-mas berdua ini udah pesan makanan or minuman belum?" Eva yang bersikap lebih cair, menatap Mizyan dan Fahmi bergantian.
"Sudah pesan kopi. Lagi nunggu diantar." Sahut Mizyan.
"Sayang, mau pesan apa?" Eva beralih menatap tunangannya.
"Aku mau lihat-lihat dulu. Temani yuk!" Glen balas menatap Eva yang duduk di dekatnya. Tatapan penuh cinta.
Eva mengangguk dan beralih menatap 2 sahabatnya. "Aku jalan-jalan dulu sama Glen. Pulangnya kita berpisah nggak papa ya?!" ujarnya meminta pengertian.
"Oke deh. Yang mau kangen-kangenan, sana----!" Mira berlagak mengusir pasangan kekasih itu. Yang dibalas Eva dan Glen dengan tertawa. Keduanya juga pamit terhadap Mizyan dan Fahmi.
Dua gelas cappucino sudah tersaji di meja dihantarkan pelayan. Suasana menjadi kaku kala Eva dan Glen tidak ada. Tanpa diketahui kedua pria itu, jika dikolong meja terjadi saling tendang kaki antara Rahma dan Mira. Seolah saling tuduh untuk memulai obrolan.
"Jadi Mira itu sepupuan dengan Rahma?!" Mizyan dengan pembawaan tenang, melanjutkan obrolan yang terjeda. Diduk disisinya Dika yang menggelayut manja di lengannya.
"Iya, mas. Ibuku adiknya Uma." Sahut Mira yang sesekali mencuri pandang terhadap pria di samping Mizyan yang diam saja.
Obrolan di meja itu berlangsung tidak lama sebab Dika merengek ingin pergi jalan-jalan. Ajakan Dika membuat Rahma senang sebab ia bisa menghindar dari Mizyan. Namun dugaannya salah. Dika serta merta menarik tangan Mizyan untuk mengikutinya. Meski Rahma sudah membujuknya untuk berjalan-jalan dengannya dan tante Mira, namun Dika menggeleng dan bersiap menangis.
"Ya udah sama Om aja." Mizyan menengahi dengan meraih Dika untuk digendong. "Jagoan nggak boleh nangis dong." Ia mengusap air mata yang menetes di pipi bakpau bocah itu.
"Mi, aku tinggal dulu nggak papa?" Mizyan beralih menatap Fahmi yang tengah menyeruput kopi.
Fahmi mengangguk. "Pergi aja, mas. Masih ada temen ngobrol di sini. Nggak ikut pergi kan, Mira?" lanjutnya sambil menatap Mira yang duduk berhadapan dengannya.
Mira mengangguk. "Iya Rahma, aku nunggu di sini aja." Ia beralih menatap Rahma sambil tersenyum tipis penuh arti.
__ADS_1
Jadilah Rahma mengekori langkah Mizyan yang berjalan menggendong Dika yang tampak riang. Makin beranjak malam pengunjung makin banyak. Aroma berbagai makanan menguar dari berbagai gerai, sungguh menggugah selera.
Rahma yang memang berniat hunting kuliner, matanya menjelajah membaca nama setiap outlet maupun cafe di jalan yang dilaluinya. Ada pilihan menu western dan lokal. Ia membiarkan Dika yang digendong Mizyan berjalan lebih dulu. Masih terdengar celotehan riang Dika yang tunjuk sana tunjuk sini. Tadi ia baru mencoba dimsum, pesan yang sama dengan Mira. Terlalu sibuk berfoto ria menjadi lupa menjelajah sepanjang jalan MW (Merdeka Walk). Sekarang matanya berbinar melihat outlet pancake durian. Hm, pasti enak.
Bruk.
"Astagfirullahhaladzim." Rahma memekik kaget kala tubuhnya menubruk sesuatu. Hampir oleng dan siap terjerembab sebab ia menubruk dengan keras. Namun sebuah tangan kekar merengkuh pinggangnya sehingga ia kembali tegak. Dan kini tubuhnya menempel lagi pada benda yang ditubruknya tadi, namun bukan tembok. Kenapa nyaman begini.
Ia terhipnotis dalam hitungan detik merasakan hangat dan wangi parfum maskulin yang merasuki indera pemciumanya, juga detakkan jantung yang bertalu dalam ketukan seirama. Berbeda dengan degupan jantungnya yang serasa berkejaran kala mata saling beradu tatap pada pemilik dada yang sesaat membuatnya terlena.
"Hihihi Nda peyuk Om." Dika terkikik dengan telunjuk mengarah ke wajah bundanya. Ternyata Dika tak lagi digendong tapi sudah berdiri di sisi om buye nya.
"Kalau jalan lihat ke depan, Neng." Ucapan Mizyan sambil mengulum senyum menambah merah muka Rahma setelah sebelumnya Dika dengan polosnya menggodanya. Meski pencahayaan tidak terang benderang tetap saja masih terlihat gestur salah tingkah dengan muka yang merah seperti tomat.
Rahma hanya jadi penonton kala Dika ditemani Mizyan bermain di wahana Happy Cars. Kejadian ia berada di rengkuhan Mizyan masih menyisakan debaran kencang dan kegelisahan. Ia bahkan sama sekali tak melihat gestur gugup pada wajah pria itu. Tetap tenang dan tersenyum manis. Iya, manis.
****
"Rahma, bangun!"
Guncangan keras yang dilakukan Mira membuat Rahma menggeliat malas. Ia masih merasakan bahagia dalam mimpinya, yang menyaksikan Dika tertawa lepas mengemudikan mobil-mobilan dengan arahan Mizyan. Kilas balik kejadian semalam semuanya hadir kembali dalam mimpinya sampai terakhir Dika terkulai kecapean dan tertidur di bahu Mizyan yang mengantarkan sampai ke mobil. Ia memyaksikan semuanya dan hatinya menghangat. Dalam mimpi.
"Rahma, bangun dong udah pagi." Rasa geli sebab gelitikan Mira di telapak kakinya, membuat Rahma mengulat.
"Aku nggak sholat, Mira. Aku masih ngantuk ah, jangan ganggu." Ia menarik lagi selimut sampai bahu untuk mengusir rasa dingin udara pagi yang menggigit. Matanya enggan terbuka, jalan-jalan semalam mengelilingi MW dan sampai ke rumah jam 10 malam menyisakan pegal di kaki dan masih mengantuk.
"Ada kabar buruk, Rahma. Cepat ditunggu Uma dan Om Badru tuh."
Mata Rahma melotot seketika mendengar ucapan Mira barusan. Ia langsung terduduk dan menatap tajam sepupunya itu. "Kabar buruk apa, Mira?"
__ADS_1
"Nanti ngobrolnya di luar. Cepetan cuci muka dulu!" Mira beranjak lebih dulu ke luar kamar. Rahma pun perlahan turun dari ranjang agar tak membangunkan Dikamyang masih lelap. Ia mengikat rambut hitam sebahunya sebelum masuk kamar mandi yang berada di dalam kamar untuk cuci muka dan gosok gigi.
Di ruang tengah sudah berkumpul Ayah, Uma, tante Midah serta Mira tengah membicarakan rumah di Bandung. Rahma duduk bergabung dengan wajah penuh tanya. "Ada kabar apa, Yah?" ujarnya dengan hati was-was.
"Tadi subuh Ceu Imas telpon Uma sampe 3 kali tapi nggak keangkat soalnya Uma lagi di dapur." Uma yang berinisiatif menjawab. "Uma barusan telepon balik, kata ceu Imas rumah kita disatroni maling."
"Innalillahi----" Rahma menutup mulutnya sebab kaget. "Terus gimana? Apa aja yang hilang?" lanjutnya tampak tak sabar mendengar kabar lanjutannya.
"Teralis jendela sudah tercongkel dan teralisnya terlepas. Alhamdulillah nggak sampai masuk keburu ketahuan dokter Gunawan yang baru pulang dari rumah sakit." Uma menceritakan kembali sesuai kabar dari ceu Imas.
"Sebaiknya kita pulang hari ini." Ayah mulai membuka suara setelah dari tadi tampak berpikir keras dan melirik jam yang menunjukkan pukul 6 pagi. "Rahma, coba pesan tiket yang paling cepet. Kita siap-siap pulang!"
Rahma mengangguk tanpa menyela. Pikirannya masih diselimuti rasa heran sebab selama menempati rumah di komplek perumahan itu tak pernah mendengar ada berita pencurian. Namun kini malah terjadi menimpa rumahnya.
****
Mizyan berada di mobil yang dikemudikan Fahmi dalam perjalanan menuju bandara Kualanamu. Ia memutuskan pulang ke Bandung pagi ini dengan kelas bisnis usai mendengar kabar dari Dado jam 1 dini hari yang mengatakan Ustad Ahmad mengalami kecelakaan sepulang mengisi ceramah di Cimahi. Meski dikabarkan mengalami luka ringan namun tetap membuat hatinya tak tenang. Ia yang rencananya nanti sore akan ke Balikpapan bersama Kemal, menjadi urung. Memilih pulang ke Bandung untuk berada di dekat orang tua angkatnya itu.
"Semalam dapat nomer telponnya nih pasti?!" Mizyan menoleh ke arah Fahmi yang selalu irit bicara kalau tak ditanya lebih dulu.
"Tau aja, Mas." Fahmi menoleh sekilas sambil tersenyum tipis.
"Matamu yang bicara." Sahut Mizyan singkat dan padat namun mengena. Membuat Fahmi tertawa tanpa menyanggah sebab tebakan Mizyan benar adanya.
Keheningan di dalam mobil tercipta dengan pikiran masing-masing yang menerawang mengingat kisah semalam di MW. Bagi Fahmi, duduk berdua bersama Mira sambil memperhatikan sikap dan tutur katanya membuatnya yakin jika Mira adalah gadìs baik-baik. Dan ia ingin lanjut menjalin komunikasi.
Mizyan terkenang kisah manis semalam kala ia merengkuh Rahma yang hampir jatuh. Meski tak lama tubuh bundanya Dika itu menempel hangat di dadanya, ia bisa merasakan degupan jangtung Rahma yang bertalu kencang. Ia lebih jago mengendalikan hatinya tanpa kelihatan jika perasaannya begitu membuncah kala bisa sedekat itu dengan Rahma.
Satu hal yang membuat Mizyan terkejut dan berpikir keras. Begitu Rahma berada di pelukannya sesaat, terasa arus listrik seolah mengalir mengarah ke pusat tubuhnya dan membuat pusakanya itu berkedut pelan. Amazing.
__ADS_1
Namun nyatanya pagi ini pas bangun tidur, ia melihat 'sang adik' tetap meringkuk tak mau bangun. Beda dengan semalam si kecil yang berkedut kala merengkuh bundanya Dika itu.