
Semalam terbuai oleh sentuhan level expert sehingga terlelap lepas tanpa terjaga. Alhasil subuhnya kesiangan. Tahu-tahu bangun sudah jam 5. Rahma segera mengontak ke ruang dapur. Meminta bibi membangunkan anak-anaknya. Eh ternyata sudah dibangunkan oleh Ibu Ima. Membuat Rahma malu sendiri sebab ia bahkan belum mandi besar. Ia menggelengkan kepala. Menyayangkan kenapa Mizyan tidak membangunkannya sebelum berangkat ke masjid.
Keluar dari keteraturan membuat pagi harinya menjadi sedikit berantakan. Mandi tergesa, mengejar waktu shalat subuh keburu terbit fajar. Jam 6 pagi masih berkutat di kamar untuk mengeringkan rambut yang masih basah. Rahma tahu hari ini tanggal kelahirannya. Harap-harap cemas menunggu kejutan apa yang akan diberikan Mizyan di tahun ini. Dimana setiap tahun selalu memberi surprise yang berbeda.
Rahma sudah berpenampilan rapih dan fresh dengan sentuhan make up tipis menyapu wajah. Melirik jam, keningnya mengkerut. Tumben-tumbenan jam segini Mizyan belum pulang dari masjid. Ataukah sudah pulang tapi berada di bawah berbincang dengan Papi Mark.
Berbalut tunik pink motif floral membalut perut yang semakin membuncit. Kehamilan ketiga ini melewati masa mabuk parah selama 5 bulan pertama. Tidak bisa makan nasi. Mencium baunya saja langsung muntah. Alhasil berat badan turun drastis. Namun menginjak bulan keenam kebalikannya. Selera makannya naik, seolah balas dendam. Fisiknya lebih bugar dan wajah lebih segar, berselera makan apapun. Tiada waktu yang terlewat untuk ngemil. Alhasil menginjak bulan ketujuh ini berat badannya naik terus.
Sepi. Rahma membuka pintu kamar Dika dan Mentari. Tidak ada orang. Tempat tidur dan ruangan kamar sudah rapih dan bersih. Ia pun menuruni anak tangga dengan hati-hati sembari mengusap-ngusap perut. Masih ada waktu menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Semalam sudah mempersiapkan bahan masakan untuk pagi ini. Bibi akan memasaknya.
Di lantai bawah pun sepi. Rahma menautkan kedua alis. Tumben.
Biasanya pagi selalu diisi dengan berisiknya Dika dan Mentari saling goda. Ditambah sekarang ada si kembar. Harusnya makin berisik dengan jeritan dan tawa cekikikkan dibumbui saling kejar-kejaran seperti biasanya.
"Bi---"
"Bibi---"
Rahma melongokkan kepala ke arah dapur dari mini bar. Memanggil asisten rumah tangganya. Merasa kaget sebab meja makan kosong melompong tidak ada satu piring pun tersaji.
Yang dipanggil datang menghampiri sembari memegang sapu.
"Bibi belum masak?!" Rahma menatap heran. Padahal di rumah ada mertua yang ingin dijamunya dengan istimewa. Sehingga semalam memilihkan menu apa saja yang akan dimasak.
"Maaf, Neng. Kata Den Mizyan pagi ini gak usah masak. Malah semuanya sudah pergi. Katanya mau sarapan di luar."
Rahma melongo.
"Ini Den Mizyan nitip surat." Bibi merogoh saju celananya. Menyerahkan kertas memo terlipat dua. Ia pun permisi untuk melanjutkan tugas.
Sayang, maaf ya gak diajak karena telat bangunnya. Kita sarapan di luar. Aku akan suruh kurir nganterin bubur ayam kesukaanmu. Mungkin bentar lagi sampe.
Love you
__ADS_1
Papa
Rahma melipat lagi kertas bertuliskan tangan sang suami. Mengerucutkan bibir dengan raut wajah kecewa. Sebab tidak diajak ikut serta rame-rame sarapan bubur di luar.
Bel rumah terdengar. Rahma melangkah ke pintu utama. Dari jendela samping pintu nampak pria berseragam security perumahan, berdiri sembari menenteng goodie bag. Bisa dipastikan itu dari kurir yang mengantar sampai pos jaga. Sebab aturan yang ketat demi keamanan, kurir ataupun sales dilarang masuk ke dalam komplek.
"Pagi Bu....Ini ada titipan paket untuk Bu Rahma." Petugas keamanan menyapa ramah. Goodie bag berwarna biru diserahkan.
Sebagai ucapan terima kasih, Rahma menyelipkan uang tip. Tiba-tiba perutnya menyeruwuk mencium aroma daun jeruk purut dari bubur ayam yang ada di dalam goodie bag. Setelah membawa segelas air putih, ia memilih membukanya di ruang keluarga sembari menyalakan televisi untuk mengusir sepi.
Rahma mengeluarkan isi goodie bag. Dahinya mengkerut. Bukan hanya box yang panas berisi bubur ayam aroma jeruk purut favoritnya. Tapi ada satu kado berbentuk persegi panjang berhias pita biru. Sebuah amplop biru muda menempel di atasnya.
Bunda.....
Barokalloh fii umrik. Semoga Bunda sehat selalu. Selalu sayang sama Papa, Abang, adek, dan baby di perut Bunda.
Bunda adalah ibu terbaik in the world.
Love you
Buliran air mata lolos begitu saja. "Dika---kenapa cepat gede sih." lirih mengucapkan nama si sulung sembari menyeka pipi yang basah. Waktu terasa bergulir sangat cepat. Si kriwil menggemaskan kini sudah berubah. Bertambah besar dengan sifat dewasa yang menonjol dibanding anak seusianya. Begitu menyayangi Bunda dan Papa. Menyayangi dan melindungi Mentari dan sabar menghadapi si centil super usil itu.
Papa buye, papa atu, papa nda juja.
Papa atu, Nda atu.
Ini Papa, ini Nda, ini atu. (Menunjuk pada 3 robot sapi)
Rahma terkekeh. Lembar tisu kedua dipakai untuk menyeka sudut mata. Teringat jargon si kriwil dulu yang membuat semua orang gemas dan selalu menggodanya. Bubur yang dilahapnya terasa sedikit asin sebab bercampur air mata haru yang lolos masuk ke mulut.
Kertas bertulis tangan bocah kelas 3 SD itu dicium dan dimasukkan lagi ke amplop. Akan disimpan dan dijadikan kenang-kenangan. Beralih membuka kotak kado. Secarik kertas terselip di tengah sepasang sepatu flat warna beige yang cantik dan elegan.
Bunda,
__ADS_1
Ini sepatu Abang yang milih lho. Bunda pakai ya buat nemenin Abang lomba hafiz.
Oh ya, buburnya habisin dulu. Nanti kita akan pulang kalo Bunda makan bubur sampai abis.
Rahma tersenyum simpul. Cepat-cepat bubur dengan topping suwiran ayam dan telor rebus itu dilahapnya. Sudah tidak tahan ingin memeluk anak bujang yang ganteng itu.
****
Di ruang fitnes. Dika berkali-kali menegur, berganti membekap satu persatu dari tiga orang bocah yang terus-terusan cekikikan. Bersama Papa dan juga Oma Opa bersembunyi di ruang fitnes itu untuk memberikan kejutan. Bubur ayam berjumlah 6 kotak sudah habis isinya. Dan Papa Buye terus dikerubuti 4 orang bocah yang kepo ingin melihat rekaman cctv dari ponsel.
"Hahh....Bunda udah buka kado Abang." Mentari spontan memekik tertahan dengan tangan mengepal saking senangnya. Dari layar ponsel Papa nampak aktifitas bundanya di ruang keluarga. Dan Dika menempelkan telunjuk di bibir saat si kembar ikut heboh.
Sementara Opa Mark duduk santai di single sofa. Duduk rapat dengan sang istri sembari memainkan ponsel. Mengirim pesan pada Rangga untuk memberikan tugas pekerjaan. Membiarkan anak-anak yang heboh mendekap kado ingin segera diberikan pada kakaknya yang ulang tahun.
"Papi ayo...Ibu ayo!" Kay menarik-narik lengan ibunya. Sudah waktunya keluar dari ruang fitnes sesuai perintah kakak Mizyan.
"Kay duluan aja. Papi sama Ibu keluar terakhir." Papi Mark masih harus membalas pesan dari relasi yang mengajak bermain golf.
Mizyan berdiri di dekat pintu. Memberi aba-apa bersiap pada para bocah yang ingin segera keluar sembari mendekap kado. Dika juga sudah siap dengan party pooper yang dipegangnya. Siap untuk mengikuti intruksi papanya.
Rahma menolehkan wajah begitu mendengar suara pintu dibuka. Terkejut melihat Mizyan keluar dari ruang fitnes. Melangkah mendekatinya dengan senyum terkembang.
"Loh...katanya---" Ucapannya menggantung sebab Mizyan mengecup bibirnya sekali. Dan kemudian berulang sampai tiga kali.
Mizyan beralih merangkum wajah istrinya itu. Menatap lembut ke dalam manik mata hitam yang teduh. "Met ulang tahun, sayang. Berkah sepanjang usia, istri salehaku. Selamanya menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak kita. I love you, Bunda" Berakhir dengan mencium kening Rahma, dalam dan lama. Kemudian memeluknya erat.
"Makasih, Papa. Love you too." Hanya sebaris kalimat pendek yang mampu diucapkan Rahma. Haru menyelimuti. Memilih merekatkan pelukan merasakan kehangatan dan kenyamanan yang mengaliri tubuh.
Rahma mengurai pelukan. "Jadi boong ya. Gak pergi keluar kan? Yang lain ke mana?" Ia penasaran dengan pertanyaannya yang menggantung tadi.
Mizyan terkekeh. "Bentar ya aku tutup matamu dulu." Tanpa menunggu jawaban, ditutupnya mata Rahma dengan kedua tangan. Siulan keras menjadi kode untuk memanggil pasukan bocah.
****
__ADS_1
Next bonchap akan ada reuni 4 sekawan lengkap dengan anak istrinya.
Tapi papa atu minta sumbangan kopi dan buket bunga buat suguhan para tamu. Ayo bantu gais 💪💪💪