
Pilihan sudah dijatuhkan dengan mantap. Black orange, perpaduan warna motor trail yang membuat tampilan sangar dan gagah. Mizyan menyerahkan kartu debit platinumnya kepada petugas kasir untuk membayar motor trail yang dipilihnya.
"Kartunya yang ini, mbak." Rangga menyerahkan kartu kredit platinum warna hitam untuk transaksi unlimited, menggeser kartu hitam milik Mizyan. Membuat petugas kasir yang siap menggesek menjadi bingung sebab 2 orang di depannya saling dorong kartu.
"Kasihani saya, boss. Pak Mark akan potong gaji saya 50% kalau bayarnya nggak pakai kartu ini." Rangga menatap dengan sorot penuh permohonan agar Mizyan menuruti keinginannya.
"Oke." Mizyan terpaksa mengalah sebab kasihan terhadap asisten setia papinya itu. Dari dulu watak Papi Mark tak berubah, perintahnya tak boleh dibangkang. Meski sebenarnya ia juga mewarisi watak papinya itu.
Rangga memberikan alamat villa untuk pengiriman motor setelah selesai transaksi. Dua orang SPG cantik dan seksi sigap mengantar Mizyan dan Rangga sampai keluar pintu showroom dengan ucapan terima kasih yang mendayu dan gesture yang gemulai menggoda iman.
Lebay.
Mizyan mendecak. Ia sama sekali tak berselera untuk meliriknya. Memilih memberikan selembar uang tip kepada rangga untuk diserahkan kepada SPG itu.
Adu paksa kembali terjadi kala Mizyan menengadahkan tangan meminta kunci mobil. Namun Rangga menggeleng dan melangkah ke pintu mobil bagian kemudi.
"Gue yang nyetir. Lo duduk manis aja!" Mizyan menjegal langkah Rangga. Ia sengaja memakai panggilan Lo Gue untuk mengakrabkan diri sebab Rangga terlalu formal, sungkan dan kaku kepadanya. Sang asisten pun menyerah kalah dan memberikan kunci mobil pada anak majikannya itu.
Mobil Jeep Rubicon warna putih yang dikemudikan Mizyan melenggang meninggalkan showroom motor, melibas jalan raya kota Bogor yang ramai lancar.
"Rangga, gue perhatiin seminggu 7 hari lo nggak pernah jauh dari Papi. Apa emang selalu seperti itu?" Mizyan mengungkapkan rasa penasarannya sebab hari libur pun Rangga selalu berada di villa.
"Iya, boss. Ngapain pergi ke luar. Saya gak punya temen apalagi pacar. Mending jadi teman ngobrol Pak Mark."
Mizyan meninju lengan Rangga cukup keras. Membuat pria pendiam yang duduk di jok sampingnya itu menatapnya dengan kening mengkerut.
"Sekali lagi lo manggil gue boss tak pelintir leher lo." Ia memberi warning untuk yang kesekian kalinya dengan fokus tetap menatap jalanan sebab Rangga masih saja bersikap formal. Padahal ia sudah bilang ingin dianggap sebagai saudara bukan atasan.
"Oke sorry, Mizyan. Gue lupa." Rangga mengangkat 2 jari tanggannya. Pandangannya kini menerawang mengenang perjalanan hidupnya.
"Lima bulan setelah ibu meninggal, bapak nikah lagi dengan orang Lampung dan menetap di sana. Dia ninggalin aku yang masih kelas 6 SD dan adik yang baru TK, di rumah nenek. Setiap bulan ditelpon minta biaya sekolah cukup bilang gak punya dan acuh tak pernah menanyakan kabar kita gimana. Padahal pada anak tirinya dia sangat memanjakannya."
Rangga menghembuskan nafas kasar. "Gue benci pada Bapak. Sejak lulus SMP gue berjanji pada diri sendiri. Gue akan jadi orang sukses dan bisa membahagiakan nenek yang udah banting tulang membiayai hidup kami."
__ADS_1
Keheningan melingkupi di dalam mobil adventure mewah yang sejuk ber AC sebab Rangga menjeda ucapannya yang mendadak emosional.
"Gue gak punya teman, gak ada waktu untuk nongkrong-nongkrong. Setiap pulang sekolah jualan donat di alun-alun ngambilnya dari tetangga, pulang ke rumah abis magrib. Belajar, tidur, gitu terus tiap hari sampe lulus SMA." Pungkas Rangga diiringi kekehan.
"Gimana kabar nenek dan adikmu sekarang?" Mizyan menoleh sekilas sebelum membelokkan mobil memasuki jalan kampung.
"Alhamdulillah, mereka sehat dan sejahtera setelah gue bekerja dengan Pak Mark. Adik gue kuliah udah semester akhir."
Mizyan tak bertanya tentang bagaimana Rangga bisa bertemu dengan Papi Mark. Sebab ia sudah tahu ceritanya dari sang ayah.
Ia memelankan laju mobilnya ketika dua orang pria dengan motor yang menyilang di jalan, melambaikan tangan meminta berhenti. Dengan kedua alis bertaut, Mizyan menghentikan mobilnya ke tepi jalan.
"Waspada, banyak modus kejahatan." Rangga menahan lengan Mizyan yang akan keluar dari mobil. Ia bahkan mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang tersembunyi di bawah dashboard mobil milik Mark itu. Pistol.
Ketukan keras di kaca jendela membuat Mizyan mengalihkan perhatian dari Rangga yang menyelipkan senjata di saku hoodie.
"Kang, tolongin bawa ke rumah sakit. Ada korban jambret, itu...." Salah seorang yang mengetuk kaca berkata dengan panik kala kaca di buka setengahnya.
Mizyan memandang mengikuti arah telunjuk orang itu. Sebuah mobil SUV Outlander hitam yang tadi luput dari perhatiannya sebab fokus pada 2 orang yang menyetop mobilnya.
Ia berdesir kala membaca plat nomer yang hafal di luar kepala. Bertambah terkesiap mendengar cerita orang yang masih berdiri di depan pintu mobilnya. Dengan gerak kasar ia turun dari mobil dan berlari mendekati mobil hitam yang tak asing baginya.
"Rahma---"
Mizyan memanggil nama wanita yang duduk bersimpuh sambil menangis dan menepuk-nepuk pipi pria paruh baya yang tergeletak di aspal.
Yang dipanggil namanya mendongak dengan wajah yang berlinang air mata. Antara kaget dan senang ia spontan memanggil nama untuk pertama kalinya, pria yang selalu hadir dikala ia mendapatkan kesulitan. "Mas Mizyan----"
"Mas---- tolong Ayah, hiks---" ucapnya dengan mata yang nanar dan tangis yang berderai lagi.
Nurani mendorong Mizyan meraih tubuh Rahma ke dalam pelukannya. Ia dekap wanita yang tampak rapuh dan ketakutan dengan iringan air mata itu.
"Tenang-tenang, I'm here for you." Ia mengusap-ngusap punggung Rahma yang terguncang sebab menangis. Ia menuntun Rahma untuk berdiri dengan tangan beralih merangkum bahunya.
__ADS_1
Mizyan beralih menatap Rangga yang berdiri menonton dengan ekspresi wajah penuh keingintahuan. Ia menyuruh Rangga dan dua orang tadi untuk mengangkat Pak Badru ke dalam mobil. Menolong dulu 2 orang penting dalam hidupnya menjadi prioritas daripada bertanya kronologis kejadian.
"Ga, lo urus mobil ini. Lapor polisi dan minta 2 orang itu jadi saksi!" Tanpa menunggu jawaban, Mizyan memapah Rahma masuk ke dalam mobil.
Ia berlari lagi menghampiri Rangga yang tengah mendengarkan cerita 2 orang pemotor yang belum dikenalnya itu dan menariknya sedikit menjauh.
"Dia wanita istimewa buat gue. Jadi lo harus usut tuntas kejadian ini!" Mizyan pun berlalu setelah menepuk bahu Rangga yang mengangguk. Kini tanda tanya besar di wajah Rangga tampak mulai terpecahkan.
Mizyan mengikuti arahan navigasi yang tertera di layar monitor mobil untuk menuju rumah sakit terdekat. Ia berusaha bersikap tenang dalam situasi menegangkan itu.
"Minum dulu, Bun." Ia mengulurkan botol air mineral kepada Rahma yang sesekali menolehkan wajah ke jok belakang melihat kondisi ayahnya. "Nggak papa ya bekas aku minum dikit tadi." Lanjutnya sambil menoleh melihat Rahma yang bersiap membuka tutup botol dengan wajah meringis. Tegukan sampai tersisa seperempatnya cukup sebagai jawaban jika bundanya Dika itu tidak keberatan minum bekasnya.
"Ke atasin lengannya!" Mizyan melirik tangan kanan yang terluka dan masih mengucur darah usai Rahma menggulung lengan baju sampai sikut yang kainnya robek dan penuh noda darah. Bersamaan dengan mobil yang berhenti di lampu merah, ia meraih tangan yang terluka itu dan mengamati dengan seksama. Luka menganga yang kemungkinan harus dijahit.
"Sakit?!" Ia menatap penuh perasaan terhadap bundanya Dika yang mulai tenang namun tampak meringis-ringis. Hanya anggukan lemah sebagai jawaban yang diberikan Rahma.
"5 menit lagi sampe rumah sakit. Tahan ya!" Tangannya terulur mengusap kepala yang berbalut hijab itu untuk menyalurkan ketenangan.
Setelah menelpon Rangga menyanyakan letak kotak P3K, dengan sigap Mizyan mengeluarkan perban membebat lengan Rahma. Untuk menahan darah agar tak mengucur terus.
Tanpa hambatan, mobil yang dikemudikan Mizyan sampai di depan IGD rumah sakit swasta. Ia turun dan memberi kode ada pasien di jok belakang. Dua orang petugas mendorong blankar memasuki ruang IGD. Pak Badru masih belum siuman. Membuat Rahma yang mengikuti di belakangnya tampak cemas.
"Jangan khawatir. Ayahmu akan baik-baik saja." Mizyan menemani Rahma di bed yang bersebelahan dengan Ayah Badru yang sama-sama sedang ditangani. Dari luka sepanjang 16 cm itu, Rahma harus mendapatkan 5 jahitan sebab ada luka yang menembus daging cukup dalam.
"Aku takut jarum----" Rahma menarik lengannya kala dokter bersiap melakukan tindakan medis menjahit luka sedalam 1,5 cm itu.
"Tenang, mbak. Tidak akan sakit kok, sudah dikasih obat bius."
"Mas nya bisa bantu tenangin istrinya." Dokter menatap Mizyan sebab pasien Rahma yang takut dengan jarum suntik dan sejenisnya terus menolak dan menyembunyikan lengannya ke belakang yang menyebabkan darah keluar lagi.
"Bun, kalau takut sini deh----" Mizyan meraih kepala Rahma dan membenamkan ke dadanya. "Ngumpet aja, jangan dilihat." Ia merasakan tangan kiri Rahma yang mencengkeram kuat punggungnya. "Rilex, Bun. Jangan tegang biar gak sakit."
Ia merasakan Rahma menuruti arahannya. Tampak dari tubuh yang mengendur tak lagi tegang. Meski disamping itu ia bisa merasakan jantung bundanya Dika bertalu kencang. Mungkin karena fobia jarum, pikirnya.
__ADS_1
Mizyan memperhatikan aktifitas dokter dan perawat yang tengah menindak Rahma yang masih menyembunyikan wajah di dadanya. Ia kembali berbisik mengingatkan agar jangan lagi tegang kala merasakan debaran jantung Rahma tak beraturan.
"Finished soon----" Ia menghibur Rahma dengan mengusap-ngusap kepalanya kala dokter hampir merampungkan tindakan medisnya dan tangan kiri bundanya Dika itu mencengkram kuat punggungnya. Menandakan kesakitan.