MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 112. Atu Juja


__ADS_3

Mark mengangguk. "Oke. Jelasin dulu mihrab itu apa!" Kacamata yang tersimpan dalam kotak segera dikenakannya. Ia mulai memasang wajah serius dengan alat gambar tergelar di meja.


"Ini mihrab, Pak---" Fatimah membuka lembar gambar musholla bagian dalam. Telunjuknya mengarah pada ruang kecil paling depan dengan ukuran lebar 2 meter.


"Ini merupakan penunjuk arah kiblat sekaligus tempat untuk Imam memimpin shalat berjamaah."


"Saya ingin dinding depan ditatah berbentuk gambar kubah dengan cat nuansa putih---"


Fatimah dengan lancar mendeskripsikan apa yang tergambar dipikirannya. Mulai dari pembahasan mihrab berikut detailnya. Bergeser ke dinding kiri dan kanan mihrab. Sementara Mark mulai membuat coretan gambar kasar. Menuangkan imajinasi sang klien yang sesekali menjelaskan dengan memejamkan mata seolah sedang membayangkan gambaran nyatanya. Yang justru mambuat Mark betah menatap lama-lama pemandangan menggemaskan di depannya itu


"Seperti ini?!" Mark menunjukkan variasi ornamen hasil gambarnya.


"Wah, ini bagus." Fatimah mengapresiasi. "Tapi bisakah ornamennya tidak berlubang, Pak?"


"Karena ornamen berlubang lama-lama akan menjadi sarang debu. Awal-awal mungkin anak-anak akan semangat membersihkan. Tapi satu dua tahun ke sananya bisa jadi malas dan bosan."


"Diganti relief timbul aja bisa, Pak? Maaf kalau saya cerewet." Pungkas Fatimah tersenyum meringis memandang sejenak wajah Mark sehingga tatapan saling beradu. Merasa tidak enak hati karena banyak permintaan.


"Santai aja. Saya sudah biasa menghadapi berbagai macam karakter klien. Kamu belum masuk kategori klien cerewet. Masih normal." Mark tersenyum simpul.


"Eh, maaf Bu Fatim jika saya kurang sopan menyebut kamu. Keceplosan. Maaf ya." Mark baru tersadar akan ucapannya tadi. Kini dirinya yang merasa tidak enak hati.


Fatimah tersenyum simpul. "Gak masalah kok. Kumaha raosna salira wae."


Mark menautkan kedua alis. Telunjuknya digerak-gerakkan di depan. "Gak ada running text dibawah. Translete, please!" Dengan sorot mata memelas dibalik kacamata bacanya.


Membuat Fatimah terkekeh. Merasa lucu. Tak menyangka jika tuan rumah yang kemarin ditakutinya ternyata bisa berekspresi jenaka. Lalu menyembunyikan dan menahan tawa dengan menangkupkan tangan ke mulut.


"Lupakan aja, Pak." ujarnya dengan kepala menggeleng sambil berusaha menghentikan tawanya dengan melipat bibir.


Terpana lagi. Mark tak berkedip menatap Fatimah yang terkekeh renyah. Lalu wajah cantik alami yang putih itu merona merah sebab menahan tawa. Meski mulut ditutupi dengan tangan, pipi sebelah kanan masih terlihat melukiskan lesung pipit. Sweet.


Mark menggelengkan kepala. "Saya bisa insomnia kalau rasa penasaran belum terjawab. Jadi artinya apa, Bu Fatim?" ujarnya keukeuh ingin mendapat jawaban.


Fatimah mengulum senyum. "Artinya, up to you."


"Owh---" Wajah Mark nampak lega. Lepas dari rasa penasaran.


Keduanya kembali serius melanjutkan diskusi. Sehingga waktu tak terasa berjalan 1 jam lamanya sampai samar-samar terdengar adzan ashar berkumandang. Mark sudah menggambar di kertas ke empat.


"Bu Fatim, putra saya bilang ini mushollanya belum mulai dibangun ya?!" Mark menatap gambar layout dan kliennya silih berganti.


Fatimah mengangguk, mengiyakan. "Lusa baru mulai pondasi, Pak. Karena mendahulukan bangunan tempat belajar mengajar."


"Oke. Saya akan mengubah sedikit gambarnya. Di bagian jendela yang berjajar ini akan dibingkai kubah juga agar match dengan mihrabnya. Tulang-tulangnya dibuat timbul sehingga akan terkesan ruangan menjadi lapang " Jelas Mark sambil menunjukkan bagian yang akan dirubah termasuk ukurannya.


"Saya ngikut aja, Pak." Fatimah sudah kagum dengan coretan tangan Mark yang dengan cepat dan tanpa ragu menghasilkan gambar-gambar yang sesuai ekspektasinya. Melebihi malah.

__ADS_1


"Sepertinya tugas saya sudah selesai ya, pak." Fatimah memperhatikan Mark yang merangkum semua detail menjadi satu pada kertas ke lima.


"Iya, Bu. Tinggal tugas saya yang harus merapihkan dengan gambar komputer. Janji saya kemarin bilang gambar akan selesai hari ini diralat ya. Kalau hanya gambar pena memang selesai. Tapi lebih bagus ada gambar tiga dimensinya agar terlihat nyata. Saya minta waktu 3-4 hari, gak papa?" Mark menghentikan arsir yang sedang dibuat di lingkaran ceruk mihrab.


"Santai saja, Pak. Lebih dari seminggu juga gak papa. Toh lusa baru mulai pondasi."


"Oke. Nanti saya konfirmasi kalau sudah jadi. Minta nomer kontaknya, Bu!" Mark menyodorkan kertas gambar agar Fatimah menuliskan nomer ponsel di bawahnya. Hanya formalitas. Sebab sebenarnya ia sudah mengetahui nomer kontak owner rumah tahfidz itu. Tentu saja dari jasil investigasi Rangga.


"Apa di luar ada musholla? Saya mau ikut sholat ashar dulu sambil nunggu adek menjemput." Ujar Fatimah usai menuliskan 12 digit nomer kontaknya.


"Di dalam juga ada musholla. Biasa dipakai anak dan mantu saya. Ayo saya antar!" Mark membuka kacamata dan berdiri lebih dulu.


"Yaahhh, hujan." Keluh Fatimah menatap jendela yang terbuka saat mendengar suara pletak-pletak menimpa genting. Ia yang sudah merogoh ponsel dari dalam tas, urung membuka kunci layar. Di luar nampak hujan langsung deras seperti yang ditumpahkan sekaligus.


Mark bergerak menuju jendela, menguncinya. Sebab percikan air serta hembusan udara dingin masuk ke dalam ruangan.


"Nanti biar Rangga aja yang antar pulang. Silakan kalau mau sholat dulu."


Mark lebih dulu keluar. Fatimah yang sungkan sebab merasa sudah merepotkan tuan rumah akhirnya mengekor di belakang. Ia terpaku menatap musholla saat Mark berhenti melangkah dan menunjukkan ruang ibadah yang estetik itu.


"Ma sha Allah, indah sekali. Ini hasil karya Bapak pastinya ya?!" Fatimah berseru kagum lalu menoleh pada pria matang di sampingnya itu dengan senyum lebar.


"Hanya tanda cinta seorang ayah pada anaknya." Mark merendah.


"Kalimat simpel tapi bikin saya speechless. Anda sangat toleran terhadap anak sendiri." Dengan tulus Fatimah acungkan 2 jempol.


Suara gemuruh petir terdengar melengkapi derasnya hujan yang mengguyur Bogor disertai angin kencang. Dari jendela nampak dahan-dahan pohon bergoyang-goyang keras terkena hempasan angin.


Mark menghubungi Rangga. Sehingga tak lama sang asisten muncul dari pintu samping, menemuinya di ruang tamu.


"Rangga, antar Bu Fatimah pulang!"


Rangga mengangguk. "Kapan, Pak?"


"Sebentar lagi setelah sholat. Dia masih di musholla."


"Sekarang gak bisa, Pak. Barusan dapat kabar di jalan bawah ada pohon randu tumbang. Akses untuk mobil terhalang, motor masih bisa lewat. Warga akan gotong royong evakuasi tapi nunggu hujan petir reda."


Maaf Pak, mengarang bebas. Demi Ninja, level 2 harus sukses sampe dinner, Pak.


Rangga memperhatikan raut sang boss yang termenung dengan kening mengkerut.


"Oke. Nanti saya bilang saya Bu Fatimah. Kamu suruh bibi buatkan minuman wedang jahe 2!"


Rangga mengangguk. Berlalu menuju dapur sambil jempol bergerak lincah mengirimkan pesan.


"Do'amu terkabul, Mas. Hujan deras + petir + angin kencang." Ia send kepada seseorang di Bandung.

__ADS_1


****


Bandung


Rahma menemani Dika bermain di karpet sambil searching video di yutub mencari inspirasi resep baru pastry. Bocah yang baru sembuh dari sakit flu itu belum mau tidur. Malah menggelar semua mainan yang ada di container memenuhi karpet.


"Nda---"


"Iya, sayang." Rahma menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Mencermati teknik pastry yang diperagakan chef ternama.


"Nda, atu mau mimi." Dika merajuk sambil merebahkan kepala di pangkuan bundanya yang duduk selonjoran. Mengutak-ngatik robot di tangan yang bisa berubah menjadi mobil.


Rahma menutup video yang ditontonnya. Menyimpan ponsel di sofa sebelum beranjak ke dapur.


"Bunda bikin dulu. Dika tidurannya di atas." Rahma menepuk sofa empuk, menyuruh sang anak berpindah. Namun Dika memilih bangun dan mengambil mainan mobil truk yang besar.


Rahma berjalan sambil menggulung rambutnya ke atas. Bersamaan dengan Mizyan yang keluar dari ruang kerja menghambur ke arahnya.


"Sayang---" Tiba-tiba Mizyan berseru riang menarik tangan Rahma. Mengangkat ke atas dan meliukkan seolah mode berdansa sehingga tubuh sang istri dibuat memutar.


"Mas, ih apa-apaan. Stop ah." Rahma yang tidak siap merasa kaget diiringi tawa geli sebab Mizyan kini beralih memeluk pinggangnya, mengayun ke kiri dan ke kanan sambil bernyanyi.


Kehebohan itu membuat Dika menoleh menatap kedua orangtuanya itu.


"Ihhh, Papa cama Nda unyu hihihi." Dika terkikik melihat kedua orangtuanya menari-nari.


"Ada apa sih Papa....happy banget keliatannya." Rahma menghentikan sepihak gerakan dansa. Penasaran dengan raut wajah sumringah suaminya itu. Ditambah Dika yang ikut heboh mentertawakan.


Mizyan menghentikan gerakan. Berganti tersenyum lebar. Merogoh ponsel dari saku celana pendek yang dikenakannya.


"Sayang, Papi dan Bu Fatimah lagi dinner." Sambil memperlihatkan foto update terakhir kiriman Rangga. Dimana dua insan sedang duduk berhadapan di meja makan dengan banyak menu tersaji.


Rahma membeliakkan mata. "Ini bajunya janjiankah?" dengan nada kaget menatap foto lekat-lekat mengomentari baju yang match warna navy.


"Kata Rangga sih Papi waktu ke kantor bajunya bukan itu. Mendadak ganti baju dulu sebelum menemui Bu Fatimah. Sepertinya Papi pengen tampil perfect apalagi mau discuss lama dengan Bu Fatimah.


"Cie Papi...moga aja jodoh." Rahma beralih memeluk pinggang Mizyan dari samping. Menyandarkan kepalanya di dada bidang yang berbalut kaos putih. Keduanya masih mengamati 3 foto candid kiriman Rangga yang beralih profesi menjadi paparazi musiman.


"Papa--- atu juja mau peyuk." Dika tidak mau ketinggalan. Mendekat dan menginterupsi kemesraan orangtuanya itu. Rahma dan Mizyan pun tertawa bersama.


"Bunda mau bikin dulu susu. Sok lah Papanya buat Dika." Rahma menggelitik pinggang sang anak yang kini nemplok digendongan Papa Buye. Sampai Dika melonjak-lonjak tertawa kegelian.


"Papa mau bikin minuman apa?" Rahma membalikkan badan lagi saat berjalan menuju dapur.


"Mau susu juga, Bun. Tapi pengen susu cap nona." ujarnya diiringi kerlingan mata nakal.


"Nda--- atu juja mau susu nona!" Dika berteriak lantang.

__ADS_1


Mizyan tertawa lepas mendengar Dika yang ikut-ikutan. Ia membawa Dika berpindah duduk di karpet, pura-pura tidak melihat reaksi Rahma yang berkacak pinggang sambil mengerucutkan bibir.


__ADS_2