MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 61. Pounding to Meet You


__ADS_3

Pounding to meet you (Berdebar untuk bertemu denganmu)


****


Rindu??? Sure. Jangan ditanya tentang itu. Setelah Rahma meminta ijin memutus komunikasi sementara selama seminggu ini, Mizyan dapat merasakan adanya kehampaan dalam hati. Merasa kembali seperti dulu sebelum bertemu wanita cantik itu. Namun ia tidak bisa egois, memilih bersabar hati memberikan kesempatan pada Rahma yang ingin berada pada masa tenang untuk berfikir. Baiklah sabar, hanya tinggal 5 hari lagi akan mendapat kepastian jawaban. Ia menghibur diri.


Mizyan bersyukur kesibukan pekerjaan sebab dikejar deadline membuat malarindunya teralihkan sementara. Ia akan merasakannya lagi rindu memenuhi hati terhadap Dika dan Bundanya kala menjelang tidur. Benar-benar rindu itu berat.


Ia meregangkan tangan untuk mengusir rasa pegal. Malam ini pekerjaannya selesai lebih awal. Fokusnya kini mengecek email masuk yang belum ia buka seharian ini. Salah satunya surat elektronik dari Italy yang menawarkan pekerjaan untuk bergabung di tim architect consultant. Ini adalah email yang kedua setelah sebelumnya ia membalas akan mempertimbangkan terlebih dahulu.


Dado masuk dengan membawa piring kecil berisikan pisang goreng, lalu menawarkannya pada Mizyan yang tengah selonjoran di sofa.


"A Iyan, kata Umi sibuk tidak?"


"Kalau tidak, Umi pengen ketemu Aa."


Mizyan belum menjawab sebab tengah membalas chat dari mami Kanti dan beberapa klien. Setelah semuanya selesai dibalas, ia pun menyimpan ponselnya di meja.


"Aku akan temui Umi." Mizyan mencomot satu pisang goreng yang masih hangat itu. Bahan dasar pisang kapas membuat rasa pisang goreng makin pulen dan manis alami.


Di ruang tengah kediaman ustad Ahmad sudah ada Umi, Abah, juga orangtua Olla. Mizyan menyalaminya satu persatu dan duduk di satu kursi kosong yang tersisa.


"Pak Yunus dab Bu Nur kapan datang dari Bogor?" Mizyan mulai berbasa-basi setelah terakhir kali ketemu di Bogor kala ia pamit pulang ke Bandung.


"Tadi pas isya. Alhamdulillah kebagian masbuk dulu." Yunus yang mewakili menjawab.


Obrolan ringan pun mengalir. Mizyan lebih banyak menjadi pendengar perbincangan para orangtua itu dan hanya sesekali menanggapi. Melihat Olla datang membawa nampan berisi 5 gelas minuman, tiba-tiba ia teringat akan surat yang diterimanya dari Dado.


"Di minum, A Iyan." Olla tersenyum lembut menatapnya sebelum berlalu pergi.


Mizyan mengangguk. Bukan waktu yang pas untuk minta maaf pada Olla kalau dirinya lupa belum membaca isi surat.


"Nak Mizyan, Mang Yunus sengaja datang dari Bogor ada maksud dengan nak Mizyan." Abah mulai berbicara serius dan mendadak suasana pun hening.


"Mang Yunus punya dua orang anak, yang pertama perempuan bernama Violla, yang kedua juga perempuan bernama Fania yang masih SMA."


Mizyan memusatkan konsentrasi mendengarkan uraian ustad Ahmad itu. Ia masih belum menangkap arah tujuan pembicaraan orangtua angkatnya itu.


"Olla saat ini usianya 23 tahun. Usia memang belum tentu menunjukkan kedewasaan. Tapi InsyaAllah, Olla sudah matang dalam usia dan juga berpemikiran dewasa. Dan siap lahir batin untuk membina rumah tangga."


"Jadi nak Mizyan, Mang Yunus dan Bibi Nur juga Abah dan Umi meminta kepadamu. Apakah nak Mizyan bersedia untuk taaruf dengan Violla?!" Abah menatap lurus Mizyan yang duduk berhadapan dengannya. "Barangkali kalian berdua kalau sudah saling mengenal lebih jauh, nantinya ada kecocokkan. Bukankah nak Mizyan juga belum punya calon istri?!"


Dari balik dinding tembong penyekat ruang tengah dan ruang makan, ada Olla yang berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan dada. Ia mendengar semua pembicaraan yang disampaikan Uwa nya itu. Jantungnya kini berdebar-debar tak menentu, harap-harap cemas menanti jawaban lelaki yang sudah menarik perhatiannya itu.


****


Mizyan kembali ke paviliun kala jam dinding menunjukkan angka 11. Dado sudah tertidur lelap dengan dengkuran yang keras. Ia masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuh di ranjangnya yang empuk. Sungguh pembicaraan tak terduga dan tak disangka akan terjadi jika para orangtua itu berharap ia bisa berjodoh dengan Olla.


"Abah, Pak Yunus, mohon maaf sebelumnya. Soal itu saya belum bisa menjawabnya sekarang. Beri saya waktu untuk berfikir."


Ia merasa jawaban yang diberikannya sudah tepat. Meski hanya diminta ta'aruf tapi ia tak mau memberi harapan pada gadis yang sudah bisa ia baca dalam diam menyukainya. Jam terbang masa kelamnya cukup handal memindai gestur perempuan yang berada di sekelilingnya.


Sejatinya, ia meminta waktu bukan untuk menimbang-nimbang tapi ia tengah menunggu jawaban bundanya Dika. Agar bisa mengambil langkah dan sikap di kemudian hari.


Surat.

__ADS_1


Mizyan terperanjat bangun kala teringat akan surat yang masih tersimpan di saku baju koko. Keningnya berkerut melihat amplop dengan stempel nama jasa ekspedisi. Berarti di kirim dari luar pesantren namun tidak ada nama pengirim.


Bukankah dari Olla?


Rasa penasaran menyeruak. Ia membuka tepi amplop dengan hati-hati agar tidak merobek kertas di dalamnya.


...Untukmu yang teguh dalam harapan,...


...Ditunggu kedatangannya di rumah jam 7 malam ini....


...Maaf aku majukan deadline tanpa konfirmasi....


...Pounding to meet you...


...Bundanya Dika...


"Ya Allah, Rahma!" Mizyan sontak berdiri dengan tangan meremas rambut. Seolah percaya tak percaya jika surat itu dikirim oleh Rahma. Hingga mengulang membaca sampai 3 kali dengan tanggal yang tertera hari ini.


Jam 7?!


Mizyan terkesiap menatap jam dinding yang bergerak menuju tengah malam. Ia merutuki diri sendiri yang teledor dan menganggap tidak penting surat yang diterimanya tadi siang. Diraihnya ponsel yang tergeletak di nakas. Ia mengusap muka dengan kasar setelah menyadari jika nomernya masih diblokir Rahma. Tak mungkin juga ia menghubungi nomer Pak Badru di waktu menjelang tengah malam ini. Tidak sopan.


Pagi hari ia bangun dengan kondisi kepala pening. Semalaman matanya nyalang menatap langit kamar dengan perasaan bersalah dan menyesal tak bisa menemui Rahma. Padahal itu moment pertemuan yang sangat dinantikannya.


Mizyan terlanjur buat janji meeting dengan klien barunya jam 8 pagi ini tak mungkin di cancel. Ia harus profesional. Jam 11 siang meeting di hotel kawasan jalan Gatot Subroto pun selesai. Setengah berlari ia meninggalkan hotel bintang 5 itu menuju mobilnya yang terparkir di basement. Rumah Rahma menjadi tujuannya.


"Semalam Rahma menunggu nak Mizyan." Ucapan Uma begitu ia menanyakan Rahma membuat hatinya mencelos. Di rumah tampak sepi hanya ada Uma saja.


"Maaf Uma, saya baru baca suratnya tengah malam. Saya yang salah, padahal udah terima surat itu dari siang tapi malah lupa." Mizyan merasa tak mungkin bilang jujur jika tadinya mengira surat itu dari Olla.


"Di toko. Dika juga ikut bundanya."


"Kalau gitu saya pamit, Uma. Mau ke toko." Mizyan bergegas berdiri namun Uma menahannya.


"Tunggu sebentar, nak Mizyan." Uma beranjak pergi ke dapur dan tak lama datang dengan menenteng goodie bag.


"Kemarin sore Rahma masakin gulai kakap merah karena mengira nak Mizyan akan datang. Ini bawa aja ke toko. Nanti kalian makan sama-sama di sana."


Lagi-lagi hati Mizyan mencelos mendengar ucapan Uma. Setelah mengucapkan terima kasih dan mengecup tangan Uma dengan khidmat, ia tancap gas menuju toko Citarasa.


****


Mizyan mengedarkan pandangannya diantara keramian pengunjung toko, mencari sosok karyawan yang sudah dikenalnya.


"Fitri!" Ia menemui Fitri yang tengah menata kua tart di show case. "Rahma di mana?"


"Mbak Rahma di atas, Mas. Sebentar saya kasih tahu dulu." Fitri berniat menuju meja interphone, namun dicegah oleh Mizyan.


"Nggak usah, Fit. Biar saya sendiri yang ke atas." Mizyan mengikuti arahan Fitri yang menjelaskan letak ruang kerja Rahma sebab di atas ada beberapa ruang beda fungsi.


Ia menyaksikan seorang wanita yang duduk termenung di kursi kerjanya. Sepertinya tengah melamun. Sebab keberadaan dirinya di ambang pintu yang terbuka belum disadari oleh Rahma.


"Assalamualaikum, Bun." Mizyan mendekat sambil mengulas senyum khasnya. Di tariknya kursi yang berada di depan meja Rahma yang tampak terkejut menatapnya. Ia mendengar Rahma menjawab ucap salamnya dengan lemah.


"Maaf, Bun---" Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Rahma yang berada di meja. Namun Rahma menarik tangannya, menolak untuk disentuh.

__ADS_1


"Semalam aku tidak datang karena baru baca surat darimu tengah malam." Mizyan berinisiatif menjelaskan sebab Rahma hanya diam mengatupkan bibir. Tampak kekecewaan tersirat di wajah cantiknya.


"Memangnya kurir nyampein suratnya tengah malam?" Rahma berkata datar sambil menundukkan wajah membuka-buka catatan laporan gudang. Padahal hanya alibi sebab tak mampu berlama-lama bertatapan mata.


"Bukan gitu, Bun. Sebenarnya aku terima suratnya siang tapi ada mis uderstanding. Kalau tahu itu surat dari kamu aku pasti datang." Mizyan tersenyum meringis, terpaksa menyampaikan alasan sebenarnya.


"Owh. Banyak yang suka ngirim surat toh ?!" Suara Rahma mulai terdengar nada jutek. "Ya ya, aku lupa kalau kamu itu ganteng, keren, pasti banyak penggemarnya. Kenapa nggak sekalian jadi aktor film."


Mizyan tersenyum lebar bukan karena dapat pujian tapi karena nada cemburu bundanya Dika itu malah membuatnya bahagia.


"Tuh kan ngaku!" Rahma menodongkan pulpen yang dipegangnya ke arah dada Mizyan yang kini terkekeh.


"Kamu ngegemesin kalau lagi marah gitu." Bukannya ditanggapi, Mizyan malah menggoda Rahma. Mode jail on.


"Ish, sebel." Rahma mengerucutkan bibir. "Jadi ke sini cuma mau laporan punya fans banyak gitu. Maaf aku lagi sibuk." Ia membuka halaman berikutnya laporan stok akhir bahan kue di gudang yang sama sekali tidak masuk ke otaknya.


Tangan Mizyan terulur menutup berkas yang tengah dilihat Rahma. "Look at me, Bun!" Ia bersidekap tangan di atas meja, memandang lembut bunda Dika yang kini tampak gugup.


"Aku sangat excited setelah membaca kalau deadline dimajukan. Jadi apa jawabannya?!"


Rahma menggeleng lemah. "Nggak jadi ah. Udah lewat."


"Belum expire, Bun. Masih bisa sampe 5 hari lagi."


"Tell me, please!" Mizyan merendahkan suaranya penuh perasaan dengan tatapan yang tak beralih memandangi wajah yang tengah merona.


"Memangnya pertanyannya apa?!" Rahma bertanya dengan suara bergetar sebab debaran jantungnya makin berdetak kencang mendapat tatapan lembut dan hangat pria bule di depannya itu.


Rahma meremas tangannya yang mendadak berkeringat dingin. Seluruh tubuhnya menegang melihat Mizyan yang beranjak dari kursi. Dan kini beralih memutar kursinya dan berjongkok sambil membuka telapak tangan yang menampilkan sebuah kotak kecil berbahan beludru merah


"Will you marry me, Cut Mutiara Rahma?"


Rahma mengatupkan bibirnya. Mendadak lidahnya kelu untuk berucap saking nervous nya mendapat perlakuan romantis seperti itu.


"Nda---" Suara serak Dika mengalihkan perhatian Rahma dan Mizyan yang menoleh bersamaan. Dika berdiri dimbang pintu sambil mengucek-ngucek mata diiringi mulut yang menguap khas bangun tidur.


"Ayah Buye---" Dika berseru riang setelah nyawanya terkumpul sempurna sebab dapat melihat dengan jelas sosok om buyenya yang berjongkok di depan bundanya.


"Ayah---" Dika berlari mendekat dan menubrukkan badannya dengan keras.


Mizyan yang tidak siap hampir tubuhnya oleng sebab ia masih terkaget dengan panggilan Dika untuknya. Ayah?!?


"Itu jawabannya, Mas." Ujar Rahma yang tampak tersenyum malu.


"Bun, seriously?!" Mizyan antara senang dan kaget menatap Rahma dengan sorot meminta kepastian sekali lagi.


Rahma mengangguk.


"Yes!" Mizyan mengepalkan tangan. "Alhamdulillah ya Allah....I'm so happy." Ia berdiri dan menggendong Dika sambil menciumi seluruh wajah bocah itu yang terkikik kegelian.


"Bunda cini, atu peyuk juja---" Mizyan berkata ala Dika. Ia merentangkan tangan kirinya yang bebas diiringi senyum usil.


****


Hi readers, kata Ayah Buye kalau mau ngasih ucapan selamat tidak cukup komen aja. Tambahin LIKE VOTE HADIAH 😄😄😉

__ADS_1


__ADS_2