
"Aku minta mahar bacaan surah Al Fatihah." Sahut Fatimah tanpa ragu.
Mark menautkan kedua alis. Ia mengira Fatimah akan meminta mahar emas atau uang. "Boleh aku tau alasannya?!"
"Al Fatihah disebut juga Ummul Qur'an, yaitu induk Al Qur'an. Ketujuh ayatnya merupakan intisari dari Al Qur'an."
"Al Fatihah menjadi syarat sahnya sholat. Maka bacaannya harus baik dan benar, dari segi makhraj dan tajwidnya."
"Karena Pak Mark akan menjadi imam saya dalam rumah tangga dan juga imam dalam sholat, maka Al Fatihah menjadi bacaan wajib yang harus dikuasai secara fasih oleh calon imam saya. Maka cukup bagi saya meminta mahar bacaan surah Al Fatihah." Pungkas Fatimah setelah panjang lebar menjelaskan dengan lembut dan tenang.
"Maa sha Allah---" Tak banyak kata yang terucap dari bibir Mark. Ia begitu kagum dengan penjelasan dan keinginan sederhana tapi bermakna dalam dari calon makmumnya itu.
"Aku juga minta jangan ada resepsi besar. Cukup akad nikah sekaligus resepsi kecil mengundang tetangga satu RT. Jadi acara beres dalam sehari." Tambah Fatimah.
Mark mengangguk. Menyetujui keinginan Fatimah. "Oke, Bunny. Aku juga punya permintaan. Setelah nikah, tanggal 13 kita berangkat honeymoon ke Raja Ampat selama empat hari. Tidak ada penolakan!"
Mark melihat wajah cantik alami tanpa polesan itu merona lagi sebab membahas tentang honeymoon.
"Baiklah---" Fatimah menganggukkan kepala sambil tersenyum malu.
"Jaga kesehatan, gak boleh capek-capek ya. Urusan dengan WO dan catering, kita serahin sama Rahma dan Mizyan. Kita calon pengantin terima beres." Ujar Mark saat bersiap pamit pulang.
"Terus saya kebagian nyiapin apa dong?" Fatimah nampak bingung.
"Manjain diri aja, Bunny. Lakukan perawatan ke klinik skin care biar kamu makin cantik." Mark mengedipkan sebelah mata.
Lagi-lagi Fatimah tersenyum malu.
Mark mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompet. "Bunny, pakai kartu ini untuk biaya daftar ke KUA, untuk dresscode keluarga dan untuk segala kebutuhanmu." Sambungnya sambil mengirimkan no pin lewat pesan chat.
Dengan ragu dan bingung Fatimah menerima uluran kartu debit dari tangan Mark.
"Pegang kartu itu selamanya sebagai nafkah dari aku." Ujar Mark setelah kartu debit platinum berpindah tangan.
Fatimah sudah tahu, ucapan Mark tidak bisa dibantah. Ia menganggukkan kepala sebagai tanda patuh.
Pulang kembali ke villa dengan hati yang diliputi kehangatan dan rasa bahagia. Seminggu lagi bersiap menyambut kehidupan baru. Bibir Mark tak lepas dari melengkungkan senyum. Semua itu jelas tertangkap oleh Rangga yang menyetir sambil sesekali melirik penumpangnya lewat spion.
Berbanding terbalik dengan Rangga yang kecewa sebab ternyata hari ini Olla tidak ada jadwal mengajar. Alhasil, ia hanya duduk sendiri sambil membuka laptop selama menunggu boss Mark di dalam bersama Bu Ima.
Sampai di villa langsung ditodong Mizyan dengan pertanyaan. "Gimana, Pi?!"
Papi Mark tak lantas menjawab. Memilih berjalan melewati ruang tengah dimana ada Dika sedang anteng dengan hamparan mainan ditemani Bi Ida. Duduk di di sofa ruang keluarga yang diikuti pula oleh Mizyan.
"Jadinya tanggal 11. Bu Ima ingin acara sederhana. Total undangan 200 orang. Itu udah berikut undangan ke relasi Papi." Ujar Mark dengan aura bahagia tak bisa disembunyikan.
Mizyan tersenyum lebar sambil berucap syukur. Turut senang melihat kebahagiaan terpancar dari wajah sang ayah.
"Aku akan temui WO dan catering nanti abis Duhur, Pi."
Papi Mark mengangguk. "Papi serahkan semua urusan sama kamu dan Rahma. Sekarang Papi transfer 50 dulu karena udah limit. Kekurangannya besok."
Dika datang dan menggelayut di pangkuan Papa Buye.
"Dika, panggilin Bunda dulu ya sayang. Bundanya ada di dapur." Mizyan menguyel-nguyel rambut kriwil Dika yang nemplok sambil memeluk pinggangnya.
Dika berdiri tegak dengan aba-aba tangan siap melesat lari. "Belangkattt----"
__ADS_1
Tak lama Dika datang lagi sambil menarik-narik tangan bundanya dengan paksa.
"Hadeuh...ini bocah main tarik aja. Aku lagi bikin jus belum sempet tuangin ke gelas." Rahma geleng-geleng kepala sambil duduk di samping Mizyan yang terkekeh dengan kelakuan Dika.
"Sayang, Papi jadi nikahnya 11 Januari. Bersamaan dengan ultah Dika jadinya." Mizyan menerangkan.
"Alhamdulillah--- jadi dua momen dalam satu waktu." Rahma nampak berbinar menatap Papi Mark yang sedang berbisik di telinga Dika. Entah membisikkan apa. Hanya Dika yang terlihat manggut-manggut dan tersenyum lebar.
"Bu Ima meminta mahar bacaan Al Fatihah. Papi harus belajar melafalkan dengan benar. Bantu Papi ya!" Mark menatap bergantian anak dan menantunya itu.
"Tenang, Pi. Yang penting illmu dasarnya dulu dikuasai. Yaitu tahu makhrajul huruf dan tajwid. In shaa Allah mau baca surah apapun juga akan benar bacaannya." Rahma memotivasi.
"Kedepannya Papi bisa belajar 24 jam sama gurunya langsung. Sama Bu Ima." Lanjut Rahma sambil terkekeh.
Papi Mark tersenyum simpul.
****
Mizyan dan Rahma bergerak cepat. Waktu tersisa 6 hari menuju hari H. Sudah ada list WO dan catering yang akan didatangi siang ini. Mereka ingin mempersiapkan konsep acara secara totalitas. Demi hari spesial Papi Mark dan Bu Ima agar berkesan.
Hari kedua menjadi jadwal untuk membeli barang-barang seserahan. Rahma dengan semangat mengunjungi mall ditemani Mizyan yang harus rela mengekori sang istri memasuki gerai demi gerai.
"Sayang, ambil aja lah udah bagus itu." Mizyan mulai mengeluh melihat Rahma yang memegang tas, menilik-nilik lalu menyimpannya lagi. Sudah 3 jam muter-muter semua lantai mall, acara beli barang untuk hantaran belum selesai. Merasa kakinya sudah gempor dan bosan.
"Sabar, Papa. Kan harus memuaskan." Rahma menanggapi dengan santai. Sama sekali tak ada raut lelah. Nampak semangat 45.
Acara belanja dari jam 1 siang baru selesai magrib. Selepas sholat dan makan malam, barulah keluar meninggalkan mall.
"Kok berhenti di apotek?" Rahma menatap raut wajah driver yang sepanjang jalan diam membisu dengan wajah ditekuk. Ia tahu, sang suami merasa bete menemani belanja 5 jam lamanya. Padahal beberapa kali disuruh menunggu saja di cafetaria, namun bergeming. Dengan dalih gak tega jika meninggalkannya sendirian.
"Ngurusin Papi sampe lupa sama keinginan suami. Katanya harus nunggu dua hari, katanya harus pake pengaman." Mizyan menatap kesal sambil mengerucutkan bibir.
"Ulu-ulu...ada yang merajuk." Rahma menggelitik pinggang Mizyan sambil terkekeh.
"Tenang, sayang. Malam ini aku yang akan servis deh. Jangan ngambek ah...JELEK!" Rahma mengecup bibir suaminya itu sebelum turun untuk membeli stok alat kontrasepsi.
Kamu paling bisa bikin aku meleleh lagi, sayang.
Mizyan menatap punggung Rahma yang berjalan memasuki pintu apotek dengan seulas senyum tersungging. Ia tidak benar-benar marah, hanya merajuk untuk mendapat perhatian istrinya itu.
Persiapan menjelang pernikahan Papi Mark berjalan lancar. Semua keperluan final di hari keenam. Keluarga dari Bandung pun tiba di sore hari. Ada Ayah Badru dan Uma serta Suci dan Nico yang berangkat dengan satu mobil.
"Manda....ayo mandi bola!" Dika tidak mempedulikan para orang dewasa yang saling beramah tamah. Malah menarik tangan Manda pergi ke ruang playground untuk bermain bersama.
"Aku seneng...kamu udah keliatan menjadi Rahma yang ceria lagi." Suci merangkul adik sepupunya itu yang mengajak masuk ke dalam.
"Alhamdulillah, Suci. Support system mempercepat masa healing." Sahut Rahma. Ia sangat bersyukur memiliki banyak orang yang menyayanginya.
"Gemukan nih sekarang." Nico memperhatikan penampilan Mizyan. Hampir satu bulan tidak bertemu membuatnya pangling.
"Masa sih?!" Mizyan tertawa sambil spontan meraba perutnya. Merasa lega, perutnya masih teraba rata.
"Pastilah naik kisaran 3 kilo. Di sini kerjaannya mager. Hawanya pengen makan melulu." Celetuk Rahma yang mendengar obrolan Mizyan dan Nico.
"Awas bro, bentar lagi perut maju." Nico tertawa lepas.
.
__ADS_1
.
.
"Pi, gimana perasaannya." Mizyan menggoda Papi Mark di malam menjelang pernikahan. Dimana besok senin 11 januari jam 9 pagi, akad nikah akan berlangsung.
"Yeaah...adalah nervous dikit." Papi Mark berkata jujur.
"Latihan dulu Pak Mark, soalnya ijab kabul harus terucap dalam satu tarikan nafas." Pak Badru menimpali. Suasana kumpul bersama di ruang keluarga dipenuhi canda tawa menggoda calon pengantin.
Papi Mark tercenung. Ia baru teringat jika akan melakukan ikrar suci pernikahan secara Islam. Ia pun menuruti saran besannya itu. Mizyan membuatkan teks untuk dihafal saat mengucapkan ijab kabul.
****
Hari yang dinanti pun tiba. Cuaca pagi yang cerah mengiringi suasana gembira keluarga yang berkumpul di villa.
"Yaumil milad cucu kakek....jadi anak yang sholeh, panjang umur, berbakti dan menjadi kebanggaan Papa...sama Bunda ya, nak." Ayah Badru menciumi cucunya Mahardika Al Malik yang nampak tampan dan cute dalam balutan vest hitam dan dasi kupu-kupu.
Yang diaminkan oleh semua orang yang berkumpul.
Dika begitu riang mendapat kado dari Papa dan Bunda. "Makasih Papa....makasih Bunda." Ia mencium pipi kedua orangtuanya itu dengan wajah sumringah. Yang mendapat balasan ciuman juga dari Papa Buye dan Bunda Rahma diiringi ucapan doa terbaik.
Lalu disusul Manda dan neneknya memberi kado. Dika pun berucap terima kasih dan memeluk bergantian sang nenek juga Manda.
"Ini dari Om---"
"Makasih Om Langga." Dika menerima kado dari Om Rangga diiringi senyum lebar.
"Opa atu....mana kadonya?!" Dika dengan polos menengadahkan tangan menagih kado dari Opa yang nampak gagah mengenakan jas hitam. Semua orang sudah memberi kado tinggal opanya yang nampak santai.
Membuat semua orang mentertawakan kepolosan Dika itu.
Mark berbisik di telinga Dika. Lalu keduanya saling adu tos.
"Dika, Opa bilang apa sih?!" Mizyan menjadi penasaran melihat kedekatan Dika sama Papi Mark.
Dika menggedikkan bahu. "Papa kepo." Ujarnya sambil memeletkan lidah.
Tawa riang kembali menggema dengan kelucuan Dika yang menyebalkan namun menggemaskan itu.
Syukuran kecil dan doa bersama untuk Dika yang berulangtahun juga doa untuk kelancaran acara pernikahan Opa Mark, dipimpin oleh Ayah Badru. Dilanjutkan sarapan nasi tumpeng sebelum berangkat ke rumah tahfiz.
.
.
Senin 11 Januari, bertempat di musholla La Tahzan, Faisal menjabat erat tangan Mark.
"Wahai Mark Cornelius bin Carl Cornelius, saya nikahkan dan saya kawinkan kakak saya bernama Fatimah Malati binti Ahmad Baihaqi kepada engkau dengan mas kawin bacaan surah Al Fatihah dan 100 gram logam mulia dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Fatimah Malati binti Ahmad Baihaqi dengan mas kawin tersebut tunai." Mark berucap kabul dengan lancar dan mantap.
"SAHHH........" Ucap saksi yang diantaranya ada Ayah Badru, telah menyatakan sah.
*******
Mana sawernya......
__ADS_1
Jangan lupa, sawer kembang dan kopi buat penganten baru. 😍