
Suara riang Dika kala memanggil namanya sungguh menjadi moodboster. Tak ada ikatan darah, belum ada ikatan spesial yang terjalin dengan Rahma seperti yang ia harapkan. Namun ikatan batin dengan Dika sudah terpupuk dan mengakar. Jadilah ia menghubungi bocah itu sebab kangen sehari ini.belum mendengar celotehnya.
"Eh, Dika lagi di mana ini?" Mizyan sedikit terkejut melihat latar belakang ruangan yang tak asing dilihatnya.
"Di lumah atu---"
Terdengar Dika memanggil bundanya meminta ponselnya disimpan. Ia baru faham jika Dika meminta ponsel dipasang pada phone holder kala melihat sosok Rahma dengan cepat menaruh ponsel di meja sehinga menghasilkan gambar yang stabil.
"Hai Bun, udah di Bandung ya?" Mizyan memanggil Rahma yang akan beranjak dari sisi Dika untuk memastikan tebakannya.
"Iya."
"Kapan?" Ia dengan cepat mengejar dengan pertanyaan lagi.
"Tadi jam 2 siang." Rahma menatap sekilas kemudian tampak menyibukkan diri merapihkan rambut Dika.
"Katanya mau pulang lusa? Tau gini kita bisa pulang bareng. Aku juga sudah di Bandung." Tampak sedikit kekecewaan tergambar di wajah Mizyan.
"Ini juga diluar rencana. Tadi pagi ada kabar dari tetangga kalau rumah kemalingan. Jadinya pesan tiket dadakan juga."
Mizyan terkaget. Ia menatap Rahma lekat-lekat. "Apa yang hilang, bun?"
"Alhamdulillah nggak ada. Keburu terciduk tetangga."
"Nda ihh---- atu juja mo bicala ma om buye." Dika menggoyang-goyang lengan bundanya dengan bibir mengerucut sebagai bentuk protes.
Mizyan terkekeh melihat pemandangan natural itu. Memilih menopang dagu dengan satu tangan menyaksikan Rahma yang meminta maaf dan mencolek dagu Dika agar tidak cemberut lagi.
"Aku tinggal dulu mau ke dapur."
Mizyan masih mengulas senyum menatap Rahma yang berpamitan padanya. "Buatin aku kopi dong, Bun."
"Apaan sih."
Ia lanjut tertawa melihat Rahma yang mendelik dan beranjak dari samping Dika. Tak lagi terlihat di layar.
__ADS_1
"Om, ayo lali pagi sama atu, sama Nda juja." Dika tampak turun dari kursinya dan berjingkrak-jingkrak di bawah.
Mizyan tersenyum simpul. Masih ingat saja bocah itu pada ucapannya tempo lalu. "Nanti ya, Om kasih tahu Dika kalau mau lari pagi. Sekarang Dika sama bunda dulu ya, Om ada tamu."
"Tamu ciapa, Om?" Dika malah mendekati layar dengan gaya celingukan.
"Tamunya teman Om." Mizyan tersenyum geli menatap kelakuan Dika seolah mengintip ingin melihat tamu yang dimaksud.
"Besok Dika yang telpon Om, oke?!" Ia membujuk Dika yang belum mau memutus sambungan video call. Akhirnya bocah menggemaskan itu pun mengangguk.
"Love you, Dika." Ia melakukan kiss bye.
"Lapyutu, Om buye." Dika balas melakukan sun jauh.
Mizyan mengacungkan dua jempolnya. Ternyata ajaran yang dibisikkan kala di MW diingat dengan benar oleh bocah pintar itu.
Ia beralih menatap Dado yang tak beranjak, tetap berdiri di depan meja, menunggunya selesai sambungan video. Dengan isyarat gerak bibir, tadi Dado mengabari jika ada tamu menunggunya di luar.
"Tamunya siapa, Do?"
"Pak Yunus, bapaknya teh Olla."
"Pak, maaf harus menunggu lama. lagi ada telepon dulu." Mizyan duduk di satu kursi kosong menghadap Yunus yang menganggukkan kepalanya.
"Justru bapak yang harus minta maaf sudah mengganggu istirahat nak Mizyan."
"Tidak kok pak. Saya biasa tidur diatas jam 10. Mau kopi atau teh manis, pak?" Tawarnya sebelum menyuruh Dado untuk membuatkan minuman.
"Teh tawar aja."
****
Langit malam yang menaungi seputaran pesantren tampak hitam pekat namun melukiskan keindahan. Sebab kerlap kerlip bintang bertaburan menghiasi cakrawala. Bulan hanya membiaskan sedikit cahaya sebab tertutup awan yang juga pekat. Dua gelas teh panas tawar sudah tersaji di meja menemani 2 pria yang tengah bercengkrama membahas berita terkini tentang politik yang memanas.
"Mizyan, saya dengar dari ustad Ahmad katanya lagi mencari keberadaan bapaknya nak Mizyan. Benar begitu?" Yunus mulai berbincang serius sesuai tujuannya ia menemui sang mualaf.
__ADS_1
"Betul, pak. Malah saya sudah menghubungi keluarga Papi yang di Jerman dan Amerika namun beliau sudah hampir 7 tahun tak pernah ke sana. Nomer ponselnya pun nggak aktif mungkin sudah ganti."
Yunus manggut-manggut. "Tadi siang saya spontan terkaget melihatmu karena merasa familiar. Dan sekarang baru ingat. Wajah nak Mizyan mirip dengan pemilik peternakan sapi yang ada di desa saya. Dia orang bule."
Mizyan tentu saja terkaget mendengarnya sekaligus penasaran. "Pak Yunus tahu namanya?"
"Orang-orang memanggilnya pak Emsi. Mungkin mengacu pada nama peternakannya PT. MC Indonesia."
Mizyan makin tertarik untuk mengorek lebih dalam. "Pak Yunus yakin wajah kami mirip?
"Pak Emsi wajah bulenya murni. Kalau kamu ada garis wajah jawanya. Tapi saya lihat jelas kemiripannya." Sahut Yunus sambil menelisik wajah blasteran di depannya itu.
MC Indonesia? Mungkinkah kependekan dari Mark Cornelius?!
"Apa mungkin itu ayah kandung yang dicari nak Mizyan?" Yunus menatap Mizyan yang tengah termenung dengan wajah serius.
"Saya harus memastikan dulu, Pak. Bolehkah minta alamatnya? Saya akan ke sana."
"Begini saja. Besok saya dan istri akan kembali ke Bogor. Bagaimana kalau kita berangkat sama-sama aja?"
Mizyan mengangguk setuju. Dan malam ini ia tidur dengan gelisah, tak sabar ingin segera pagi menjelang. Ingin segera meyakinkan sendiri dugaan ayahnya Olla itu.
Pukul 9 pagi, asa untuk segera berangkat ke Bogor pun terealisasi. Dengan dukungan doa dari Abah dan Umi, Mizyan pergi mengendarai si merah berlogo kuda jingkrak mengikuti mobil Avanza putih yang memimpin di depan berisikan 3 orang, Pak Yunus dan Ibu Nur serta Olla. Perjalanan panjang melalui tol Cipularang ditempuh dengan penuh semangat. Sempat dua kali berhenti sebab Yunus yang mengemudikan mobil butuh istirahat. Kalau Mizyan sendiri tak merasa cape, staminanya masih kuat untuk menggeber si merah tanpa istirahat pun.
Perjalanan selama 4 jam pun berhenti di pekarangan rumah minimalis dengan nuansa cat abu muda dan berhalaman luas. Yang tak lain adalah rumah orangtua Olla.
"A Iyan, ayo masuk. Istirahat dulu di dalam." Olla tersenyum cerah membimbing langkah Mizyan memasuki rumahnya. Ibu Nur dan Pak Yunus sudah terlebih dulu masuk ke dalam menyimpan oleh-oleh pemberian kakaknya alias Umi Hani.
"Enak banget lingkungan rumahnya, adem." Mizyan berhenti di teras sambil pandangannya mengedar menatap pot tanaman hias yang berjajar di sisi kiri dan kanan teras. Serta sejuknya halaman sebab adanya pohon mangga yang rindang serta pohon belimbing dan jambu merah berdampingan kokoh.
"Kalau di kampung ya gini, adem dan menenangkan. Cocok untuk refreshing dari keruwetan hidup di kota besar." Sahut Olla sambil terkekeh.
"Setiap tahun Pak Emsi selalu menyumbang sapi untuk kurban. Meskipun beliau itu non muslim. Terus waktu renovasi masjid juga beliau menyumbang sangat besar. Saya kebetulan ketua DKM di masjid kampung ini makanya tahu tentang kebaikannya. Yang turun langsung penyerahannya ada asistennya. Namanya Rangga."
Penjelasan panjang pak Yunus membuat Mizyan merasa deg degan. Apalagi mendengar kata non muslim, semakin menguatkan dugaan jika dia orang yang tengah dicarinya.
__ADS_1
"Kapan kita ke peternakannya, Pak?" Mizyan menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 1 siang. Ia tampak sudah tak sabar untuk bertemu muka dengan orang bernama pak Emsi itu.
"Kita sholat Duhur dulu ya!"