
Jakarta
Aktifitas ranjang baru saja usai. Menyisakan si laki-laki yang terkapar dengan peluh bercucuran di samping perempuan yang menarik selimut menutupi tubuh yang polos.
"Ini yang terakhir!" Tegas si perempuan yang tak lain adalah Lira, baby sugar Theo.
"Lihat saja nanti." Ujarnya cuek. Laki-laki yang tak lain adalah Alex itu mulai memejamkan mata.
"Hei...lo jangan amnesia. Perjanjiannya hanya ngelakuin tiga kali dan gue bebas." Lira mengeplak lengan Alex.
"Lo cepet pulang sana! Aku harus ganti sprei dan beres-beres. Nanti malam Om Theo akan datang." Lira kembali mengeplak lengan Alex yang sudah terpejam. Kali ini tangannya dapat ditangkap oleh anaknya Theo itu.
"Jawab jujur! Lebih suka yang mana...gue atau bokap gue?!" Alex tersenyum menyeringai menatap Lira yang memalingkan wajah. Kedatangannya di siang menjelang sore hari ini merupakan kunjungan ketiga sejak ia penasaran dengan sosok simpanan sang ayah itu.
"Om Theo lah. Dia manjain gue dengan banyak duit."
"Bukan itu jawaban yang gue pinta. Lo pasti ngerti." Alex menahan tangan Lira yang ingin terlepas.
"Lepasin!" Lira mencoba menarik tangannya. "Lo gak takut kualat jadi anak kurang ajar udah nikung bokapnya sendiri," sambungnya dengan mata mendelik.
Dibalas Alex dengan tawa lepas. "Sesama kurang ajar tidak akan kualat, baby."
Alex lalu bangkit. Memunguti pakaian yang berserakan sembarang tempat dan memakainya kembali. Mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompet. Yang gerakkannya itu mendapat tatapan tajam perempuan yang berada di atas ranjang.
"Thank you buat servisnya. Gue mau travelling ke luar negeri." Alex melemparkan lembaran merah itu ke atas selimut yang masih di dekap erat oleh Lira. Berlalu pergi tanpa pamit keluar kamar dan meninggalkan rumah yang dikredit Theo untuk simpanan yang juga dilahapnya itu.
.
.
.
Seorang pria etnis Tionghoa duduk menghadapi kursi yang masih kosong di hadapannya. Malam ini sengaja berada di Jakarta untuk sebuah blind date yang iseng diikutinya di salah satu aplikasi.
Andreas Chong. Ia bukannya tak laku. Wajahnya tampan dengan rupa khas etnis Tionghoa, berkulit putih dan bermata sipit. Namun dirinya begitu susah menerima kehadiran wanita untuk menetap di hati. Satu nama yang bertahta di hatinya, yang selalu ia kagumi dari paras dan sikap, masih bercokol tak tergeser oleh hilir mudik para wanita cantik yang berusaha mendekat.
Andreas menatap jam yang tertera di layar ponsel. Sudah 6 menit berlalu dari waktu temu janji yang sudah ditentukan. Beralih jempolnya mengusap galeri foto untuk mengusir sepi menunggu teman kencannya datang
"Rahma---" Lirihnya diiringi senyuman miris menatap wajah dalam foto yang sedang tersenyum riang. Ada empat foto candid Rahma yang berhasil diabadikan oleh seseorang yang disuruhnya saat sedang berbincang di sebuah wedding party juga saat duduk satu meja di toko Citarasa. Berhasil menciptakan tawa riang untuk wanita yang dicintainya dalam diam. Namun tidak berhasil memenangkan hatinya. Semakin tak tergapai sejak Rahma memutuskan menikah dengan seorang mualaf blasteran. Ia sadar diri, keberadaannya hanya dianggap sebagai teman. No more.
Andreas berharap blind date malam ini penuh kesan istimewa. Tidak harus dari etnis yang sama, yang penting cantik dan baik serta satu visi dengannya. Dan wanita cantik yang akan dijumpainya sekarang jika dilihat dari profil, lumayan memantik rasa penasarannya. Sebab usia teman kencannya itu sama dengan Rahma, 27 tahun.
Lagi-lagi Rahma menjadi standarisasi. Membuat Andreas menghembuskan nafas kasar. Ia tidak bisa mengenyahkan bundanya Dika itu dari hati dan pikiran. Memang, ada jurang yang tak mampu ia lewati untuk menggapai Rahma. Perbedaan iman. Sehingga cukup baginya mencintai dalam hati saja.
Lewat 20 menit. Ia mulai merasa bosan dan bad mood. Kesan pertama yang sangat buruk, tidak disiplin. Dan Andreas tidak suka dengan karakter seperti itu. Bangkit dan bersiap meninggalkan meja setelah menyimpan selembar uang untuk bill minumannya.
"Hei...tunggu!" Seorang wanita yang datang dengan nafas tersengal sebab berlari, menahan langkah Andreas.
"Apa kamu Enrique!?" Sapa wanita itu dengan mata yang lekat menatap wajah Andreas.
Andreas mengerutkan kening. Itu nama samarannya di aplikasi kencan online. Dan wanita dengan dandanan menor yang mengkilap sebab berkeringat, nampak senyum-senyum senang.
Menjadi terkesiap melihat bunga mawar putih terselip di telinga wanita yang mengenakan dress warna merah selutut dan sepatu high heel senada.
Astaga...jadi ini teman kencanku.
__ADS_1
Andreas merasa kepalanya langsung berdenyut. Kenyataan tak sesuai ekspektasi. Foto profil dan realnya sangat jauh berbeda. Dan ia merasa tertipu.
"Sorry, kamu telat datang. Wajah juga berbeda dengan yang di profil. So, kencan kita batal!"
"Eh, tunggu! Aku bisa jelasin dulu!"
Andreas bergeming dengan teriakan wanita yang menurutnya berpenampilan too much itu. Sama sekali tak membalikkan badan, malah mempercepat langkah agar segera sampai ke parkiran cafe. Malam ini adalah mimpi buruk baginya. Merasa kapok dengan yang namanya blind date. Malam ini juga, ia memutuskan kembali ke Bandung.
****
Bandung
Rahma tersenyum menatap Mizyan yang berjongkok di depan perutnya dan memberi banyak kecupan. Siang ini jadwalnya sang suami pergi ke Bali menghadiri RUPS sebagai salah satu pemegang saham batu bara di perusahaan Bang Kemal. Dan Resort di Nusa Dua menjadi tempat acara berlangsung.
"Lima hari lagi jadwalnya ke dokter kan, sayang?!" Mizyan mendongak menatap Rahma. Dan mendapat jawaban anggukkan kepala dari sang istri yang siap diantarkannya ke rumah Ayah Badru. Kepergiannya ke Bali tiga hari 2 malam. Dan ia merasa tenang jika Rahma dan Dika tinggal sementara dengan mertuanya daripada berdua saja di apartemen.
"Jadi gak sabar pengen liat ukurannya udah sebesar apa ya sekarang." Mata Mizyan berbinar membayangkan pengalaman pertama kalinya akan mengantar Rahma memeriksakan kandungan sepulang dari Bali nanti.
"Assalamualaikum baby...sehat-sehat ya di dalam perut Bunda. Jangan bikin Bunda pusing dan mual terus ya." Lagi, Mizyan memberi kecupan lembut. Kali ini menyingkap atasan yang dikenakan Rahma. Mencium langsung ke perut yang masih rata itu.
"Papa...geli, ih----" Rahma merajuk sambil sedikit memundurkan tubuh. Aksi Mizyan yang lanjut menggesek-gesekkan jambang tipis di perutnya memberikan sensasi geli dan meremang.
"Bun da----" Dika memanggil dengan riang. Datang menghampiri dengan menggusur bonela sapi Opa dari dalam kamarnya.
"Sapi Opa mau diajak?!" Rahma menautkan kedua alis. Semalam bahkan sang anak setuju tidak akan membawa boneka teman tidur itu agar tidak kotor dibawa-bawa ke sana ke mari. Kini malah datang dengan menggusur boneka yang ukurannya lebih tinggi dan besar daripada badan anaknya itu.
"Kacian Nda....nanti sapi Opa nangis sendilian di kamal atu." Dika beralasan dengan menggelayut manja dan mengayun-ngayun tangan sang bunda.
Siapa yang tidak meleleh melihat Dika yang mendongak dan mengerjap-ngerjapkan mata sebagai jurus merayu. Rahma mengangkat kedua bahu. Mengalah dengan keinginan sang anak.
"Sini, Papa yang gendong bonekanya!"
Mizyan menenteng koper dan menggendong boneka menuju basement. Sementara Rahma menuntun Dika dan menenteng tas berisi perlengkapan dirinya dan Dika untuk keperluan selama di rumah Ayah Badru.
Rahma membujuk Dika yang merajuk ingin ikut begitu Papa Buye bersiap berangkat dari rumah Ayah. Bahkan Ayah siap mengantarkan menantunya itu ke bandara sekalian satu jalur ada keperluan ke daerah Cicendo.
"Nanti Papa akan ajak Dika sama Bunda liburan. Sekarang Papa perginya buat kerja. Nanti malam kita vidcall, oke!" Mizyan membujuk sambil menggendong Dika. Menyiapkan tangan diangkat ke udara untuk ber high five. Dika pun luluh meski nampak enggan turun dari pangkuan Papa.
"Ayo anak soleh.... sama Bunda dulu. Nanti Papa terlambat ke bandara." Rahma dengan lembut membujuk Dika untuk turun. Dan berhasil.
Rahma menerima pelukan hangat dan ciuman di kening usai dirinya mencium tangan suaminya itu. Lambaian tangan menjadi pelepas terakhir saat Papa Buye sudah berada di dalam mobil. Dika yang paling semangat melambaikan tangan dan berucap 'dadah Papa'.
Usai melepas kepergian Mizyan, hari ini Rahma memutuskan berada di rumah. Memantau kinerja karyawan toko dari laporan Fitri via telepon ataupun sambungan video. Hari ini di toko sedang disibukkan dengan order snack untuk acara di kantor walikota. Dan semua tertangani dengan baik.
Malam menjelang. Dika paling antusias dan semangat mengusap layar begitu ponsel bundanya yang sudah pada posisi terpasang di phone holder, berdering. Seolah sudah mengira jika yang menghubingi itu Papa buye atu. Dan itu benar.
Hari kedua berada di rumah Uma. Rahma sudah bersiap pergi ke toko diantar Ayah. Sang Ayah sudah lama tidak pergi ke toko dan sekarang ini ingin menengok kemajuan yang dicapai berkat tangan dingin anaknya itu.
"Rahma, Dika jangan dibawa. Uma mau ajak ke rumah Bu Edi. Cucunya Bu Edi udah dikhitan dan nanti siang nanti ada acara tasyakuran." Jelas Uma.
Rahma mengangguk setuju. "Moga aja Dika tertarik minta disunat ya, Uma." Ia begitu berharap Dika ada kerelaan sendiri minta dikhitan.
"Iya. Kalaupun belum mau, jangan dipaksa toh masih kecil."
.
__ADS_1
.
.
Uma duduk di teras mengawasi Dika yang bermain sepeda di pekarangan. Terdengar riang sambil bernyanyi-nyanyi Burung Kakak Tua dengan lirik yang makin lama makin salah, terbalik-balik dan seenaknya. Membuat Uma mengulum senyum.
"Uma---"
"Duh gusti, Uma---"
Ceu Imas datang sekonyong-konyong. Menggeser pintu gerbang dengan raut panik memanggil Uma sambil berlari mendekat.
"Ada apa?!" Uma mengerutkan kening melihat sikap salah tingkah dan gelisah Ceu Imas di depannya. Nampak berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel.
"Anu, Uma. Itu----" Wajah Ceu Imas meringis. Begitu berat ia berkata menyampaikan berita yang baru saja dibacanya di media sosial.
"Kalo ngomong yang bener, Ceu Imas. Ayo tenangkan diri dulu. Ada Apa?!" Uma makin penasaran melihat Ceu Imas yang menarik nafas seolah berusaha menenangkan diri.
.
.
.
Rahma pergi bersama Fitri menghadiri undangan Komunitas Mamake. Merupakan komunitas wirausaha ibu rumah tangga pembuat cake beranggotakan sementara 170 orang. Dan Rahma mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam sesi Sharing Sukses. Bertempat di sebuah cafe di kawasan Martadinata yang cozy, acara berjalan lancar dengan khas sebagian ibu-ibu yang selalu heboh disetiap sesinya. Bahkan sharing yang dibagikan Rahma dalam mengelola usahanya mendapat applause yang meriah dari peserta yang dihadiri sekitar 100 orang itu.
Selama durasi 2 jam, acara usai di jam ishoma. Usai makan siang bersama, ponsel Rahma berdering.
"Gimana sukses acaranya, sayang?" Wajah Mizyan terpampang di layar. Nampak sedang duduk santai dengan view pantai yang airnya biru dan beriak tenang.
"Alhamdulillah lancar." Rahma undur diri mencari tempat duduk yang sepi dari kebisingan tawa emak-emak.
"Ishh, jadi pengen mantai." Rahma mengerucutkan bibir. Merasa tertarik ingin berada di pantai itu.
Mizyan terkekeh. "Sabar Bunda, nanti kita liburan kok. Nanti kita konsultasi sama dokter kapan bumil boleh pergi jauh."
Percakapan video yang tidak lama. Sekadar berbagi kabar kegiatan masing-masing. Mizyan harus bersiap menghadiri meeting kedua setelah break 1 jam lamanya. Sebab ada ketegangan yang dibuat oleh pemegang saham lainnya, yang protes dengan pembagian dividen yamg menurutnya tidak adil.
"Fit, ayo pulang!" Rahma mendekati Fitri yang berdiri di dekat pintu keluar cafe.
"Fit, ada apa?!" Rahma baru menyadari ada kepanikan di wajah asisten kepercayaannya itu.
"Mbak---" Fitri memegang jemari tangan Rahma dengan gemetar serta mata berkaca-kaca.
"Fitri, ada masalah apa?!" Rahma makin tidak mengerti dengan sikap Fitri yang menggigit bibir sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Mbak Rahma ayo kita pulang!" Fitri memapah tangan boss rasa kakak itu.
"Nanti dulu!" Rahma menahan langkah. "Bilang dulu, ADA APA?!" sambungnya berusaha tenang dengan tatapan menyelidik.
Fitri memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang untuk menguatkan diri sebe?lum berucap.
"Mbak Rahma harus sabar dan kuat ya!"
Rahma menunggu kelanjutan ucapan Fitri.
__ADS_1
Fitri menelan saliva dengan susah payah. "Ada berita viral----"