MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 106. Ada Satpam


__ADS_3

Rangga menghentikan motor trail di depan warung kecil tepi jalan. Mengambil sebotol air mineral di meja pajangan. Meneguknya dengan cepat dalam satu tarikan nafas sampai tersisa hanya tetesan. Lumayan memberi efek segar pada tenggorokan, adem pada hati, segar pada pikiran. Niat untuk menemui orangtua Olla esok lusa, pupus sudah. Pemandangan yang ia lihat barusan cukup sebagai jawaban jika Olla sama sekali tidak meliriknya.


Begini ya rasanya patah hati seperti yang dialamai Olla terhadap Mizyan.


Rangga tersenyum kecut. Untuk pertama kalinya serius menyukai seorang wanita, baru mau melangkah sudah kandas.


"Aa, bade (mau) ngopi?" tawar pemilik warung dengan ramah.


Rangga menggelengkan kepala. Berdiri sambil mengeluarkan uang dari saku celana untuk membayar minumannya. Sudah cukup beristirahat menenangkan diri sejenak dari kekecewaan yang timbul sebab patah hati. Urusan pribadi harus dikesampingkan dulu, pekerjaan hari ini sudah menantinya.


Sampai di peternakan, Rangga menyusuri kandang terbuka dimana tiap sapi berjajar dan diikat. Diikuti karyawan bagian perawatan sapi, ia meneliti sambil meminta opini sang karyawan, sapi indukan plus anak mana yang bisa dibawa ke villa. Selanjutnya masuk ke ruang kantor untuk memeriksa laporan sampai waktu siang nanti. Tenggelam dalam kekhusyuan menatap layar komputer mengalihkannya dari rasa kecewa tadi.


Perjalanan pulang menuju villa untuk berkantor lagi di ruang kerja Mark, terhenti di depan rumah Pak Yunus. Entah kebetulan atau bukan bisa bertemu dengan gadis yang akan diperjuangkannya.


"Olla--" Rangga membuka helm nya. Memanggil sang gadis yang akan masuk ke pekarangan. Suasana rumah pak Yunus sekarang sudah sepi. Berbeda dengan empat jam yang lalu yang ramai orang-orang.


"Mas Rangga?" Olla mendekati motor setelah melihat wajah di balik helm cross itu. "Dari mana, mas?"


"Dari peternakan." Rangga menatap sekilas wajah cantik yang sempat hadir di pikirannya itu. Hanya sekilas, lalu menundukkan wajah sambil mempermainkan kunci kontak. Menyembunyikan luka yang takut terbaca di sorot mata.


Menghela nafas panjang, Rangga berusaha bersikap normal. "Selamat ya, sudah ada yang melamar. Berarti sudah bisa move on." Pungkasnya diiringi senyum senatural mungkin.


Olla menganggukkan kepala. "Alhamdulillah....tidak baik untuk kesehatan lahir dan batin jika kita terpuruk dalam kekecewaan dan kesedihan."


"Ternyata melepas lebih melegakan daripada memaksa. Yakin Allah akan mengirimkan jodoh terbaik untuk hamba Nya yang sabar di waktu yang tepat." Pungkas Olla dengan lugas dan tenang.


Hati Rangga tertohok. Lidahnya kelu tidak bisa menanggapi. Kata-kata Olla sebenarnya berlaku pula sebagai nasehat untuknya. Ia merasa beruntung belum mengungkapkan perasaannya. Jadi tidak, akan merasa malu dan canggung jika tak sengaja bertemu lagi.


"Aku tunggu undangannya. Salam pada Pak Yunus." Rangga tak ingin berlama-lama. Memakai lagi helm nya setelah Olla menjawab dengan anggukkan kepala.


****


Mobil BMW hitam memasuki pintu gerbang villa yang dibuka lebar oleh petugas jaga. Mark berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Tersenyum lebar menatap kedatangan sang anak dengan keluarga kecilnya yang nampak baru turun dari mobil.


"Opa--- Opa--" Ternyata Dika lebih dulu melihat jika sang kakek sedang memperhatikan dari jendela. Sampai berteriak-teriak dan melambaikan tangan dengan riang.


Dibalas Mark dengan lambaian tangan pula. Lalu beranjak ke luar ruangannya untuk menyambut ke depan. Mizyan lebih dulu menyalami dan memeluk sang ayah. disusul Rahma mencium tangan sang mertua sambil bertanya kabar.


"Alhamdulillah, Papi sangat sehat." Mark mengusap kepala sang menantu yang berbalut jilbab.


Jawaban yang sekian detik membuat Rahma bertanya-tanya dalam hati. Namun segera menormalkan mimik wajah dengan senyum merekah.

__ADS_1


"Opa, sapi opa atu da boyeh dibawa sama Nda. Halus jagain lumah." Dika mengadu pada Opa Mark usai mencium tangan.


"Itu lho Pi, boneka sapi yang dari Papi." Rahma menjelaskan melihat sang mertua yang mengernyit tidak mengerti. "Pengennya kemana-mana dibawa."


Mark mengerti. Berjongkok di depan Dika agar sejajar. "Gak papa. Di sini ada sapi yang gede sama anaknya. Mau liat gak?"


Mata Dika berbinar. "Mau-mau, Opa. Lesgow!" Menarik tangan Opa Mark seolah tahu kemana arah jalannya. Yang ternyata salah, malah menarik tangan sang kakek masuk ke dalam rumah.


"Bukan di dalam. Ayo Dika yang Opa tuntun!" Mark beralih menuntun sambil tertawa. Mengajak sang cucu berjalan menyusuri samping villa menuju halaman belakang.


"Uwoouw, Opa!" Dika memekik dengan mata membulat. Menatap sapi besar berwarna coklat putih yang sedang makan rumput dan dibawahnya anak sapi sedang menyusu.


"Opa, sapinya ne nen." Dika berjongkok mengintip dari jarak dekat. Begitu antusias


Di kamar, Mizyan memeluk Rahma dari belakang. Sama-sama menyaksikan dari kaca jendela yang tertutup, pemandangan Dika dan Papi Mark yang sedang berada di kandang sapi yang dadakan dibuat.


"Papi sengaja ya bawa sapi ke sini." Rahma masih memperhatikan sang anak yang nampak girang mengelus-ngelus anak sapi.


"Sepertinya begitu. Papi keliatan sayang sama Dika." Mizyan mengurai pelukan. Mengajak sang istri ke mushola untuk berjamaah sholat Duhur.


Malam hari.


Motor yang dipakai berboncengan oleh Rangga dan Mizyan berhenti di depan garasi. Keduanya baru pulang dari masjid terdekat sejak magrib sampai isya. Sekalian silaturahmi dengan warga setempat sambil membawa 3 box aneka kue khas toko citarasa sebagai buah tangannya.


"Ada apa?" Mizyan menatap wajah Rangga penuh selidik.


"Ada apa apanya, Mas?!" Rangga yang nampak bingung balik bertanya.


"Gue tahu lo lagi ada masalah kan. Di masjid tadi banyak diemnya. Kadang bengong juga. Di jalan juga diem, gue kayak lagi naik ojol. Kita ini keluarga....ayo ngomong jangan sungkan." Mizyan meninju bahu Rangga pelan.


Rangga tidak bisa mengelak. Ia tahu jika insting Mizyan sangat tajam membaca gestur orang.


"Tadi pagi Olla dilamar ustad Syahrul, pemilik sekolah tempat dia mengajar."


"Aku kalah start. Eh salah, mungkin bukan jodoh ya." Ralat Rangga diiringi helaan nafas berat.


Mizyan mencerna penyebab Rangga yang nampak murung kurang gairah. "Sabar. Jika Olla bukan jodohmu pasti Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik."


"Jangan khawatir, Mas. Aku gak papa. Nrimo."


"Level saya sama itu ustad beda jauh. Ilmu agama saya jauh dibawahnya. Saya udah kalah sebelum berperang." Rangga merasa lebih baik setelah mencurahkan masalah pribadinya itu.

__ADS_1


"Sorry, Ga, bukan sok nasehatin." Mizyan memiringkan tubuh menghadap Rangga dengn wajah santai. "Di setiap kejadian akan selalu ada hikmah. Bisa jadi Allah memberi kesempatan buat lo memperbaiki diri. Memantaskan diri dulu. Sampai jodoh yang sebenarnya akan datang di waktu yang tepat."


"Kamu benar, Mas. Makasih udah diingatkan." Rangga tersenyum tipis.


"Sudahlah. Kita ke dalam dulu dinner bareng."


****


Pagi usai sarapan, Mizyan dan Rahma bertolak ke rumah Mang Ojak. Dika tidak ikut, teralihkan dengan kesenangan bermain dengan sapi. Ada Bibi yang menemai. Kedatangan keduanya untuk mengabari jika besom akan ditransfer sejumlah uang sebagai hak pengurusan kebun sengon. Disambut ucap syukur mang Ojak dan istrinya.


"Mang Ojak pernah bilang mau renovasi rumah kan ya? Apa jadi?" Mizyan beralih menanyakan rencana mang Ojak sambil pandangannya menelusuri keadaan rumah yang kusen-kusennya suda rusak dimakan rayap.


"Iya, Den. Rencananya setelah nerima uang mau renovasi." sahut mang Ojak.


"Saya akan bikinkan gambarnya gratis buat Mamang. Bilang aja detail ruangannya pengen ada apa saja."


"Alhamdulillah Den, nuhun sebelumnya. Mamang seneng banget dengernya." Mang Ojak dan Bi Siti saling pandang dengan wajah sumringah.


Rahma turut mengulas senyum melihat pancaran bahagia sepasang suami istri bersahaja itu.


Tujuan selanjutnya ke yayasan tahfidz yatim piatu yang lokasinya dekat dengan kebun sengon. Di jam yang sama kontraktor pun datang. Disambut Ibu Fatimah sang pemilik yayasan dengan sukacita dan ucap syukur mendengar renovasi gedung akan mulai dikerjakan lusa. Mizyan dan kontraktor berjalan-jalan menelusuri seluruh area bangunan 2 lantai yang sebagian plafonnya nampak bolong bekas bocor air hujan. Sekaligus menyerahkan gambar yang sudah dipersiapkanya jauh hari kepada kontraktor.


"Ibu tidak usah khawatir, semua material serta biaya tukang sudah kami handle. Saya gak lama tinggal di Bogor. Nanti ada orang kepercayaan yang menjadi pengawas pembangunan." Rahma menjelaskan kepada Ibu Fatimah yang sama-sama memperhatikan gerak Mizyan dan kontraktor.


"Sekali lagi jazakumullah khairon katsiron. Semoga menjadi sodaqoh jariyah untuk almarhum juga amal saleh untuk mbak Rahma dan Mas Mizyan serta semua orang yang terlibat." Tulus ibu Fatimah mendoakan. Rahma pun mengaminkan.


****


Rahma menjatuhkan tubuh di kasur dengan rambut tergerai di atas kepala. Seharian ini kegiatan di luar rumah sangatlah padat. Terutama karena mengejar target renovasi gedung yayasan agar lusa lancar. Hingga ia dan sang suami survey beberapa toko bahan bangunan yang akan dijadikan rekanan untuk menyuplai semua material yang dibutuhkan. Hingga terpilih satu toko yang klik dengan hati.


"Ndaaa---" Dika masuk ke dalam kamar disusul papa buye di belakangnya. Langsung naik ke atas ranjang dan memeluk sang bunda.


"Sayang, Glen ngundang ke birthday party nya besok malam di resort Puncak. Dia itu teman klub otomotif di Jakarta. Dia juga tahu kalau aku lagi ada di Bogor makanya maksa harus datang." Mizyan mengambil posisi tiduran di samping Rahma.


"Kita gak bawa baju kondangan, Mas." Rahma memiringkan badan melihat undangan digital di ponsel suaminya itu.


"Gampang. Besok siang kita ke kota beli baju dulu sekalian jalan-jalan."


"Atu ituuuut, Nda." Dika terperanjat bangun mendengar kata jalan-jalan.


"Iya. Sekarang Dika bobo biar gak kesiangan." Rahma menepuk bantal sebelah kanannya yang berbatasan tembok. Sebab di sebelah kirinya ada tangan yang sedang bergerilya.

__ADS_1


"Atu mau di sini bobonya." Dika beralih posisi tiduran di tengah-tengah. "Papa, awas!" Menarik tangan papa buye yang sedang menyusup ke balik piyama. Tanpa mengerti jika tangan itu sedang bersiap untuk aksi hot selanjutnya.


"Yaaahh....ada satpam." Mizyan mendesah kecewa sebab aksinya terganggu. Lain halnya Rahma yang terkekeh melihatnya.


__ADS_2