MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 114. Mendadak Genit


__ADS_3

Ancaman Mona tidak dipungkiri sedikit mengganggu pikiran Mizyan. Teringat kembali di kala suasana senggang seperti ini. Pernikahan penuh kebahagiaan, yang baru menginjak bulan ke empat ini ternyata tak pernah lepas dari kerikil yang mengganggu. Sudah selesai dari rongrongan keluarga mantan mertua Rahma, kini perempuan dari masa kelamnya datang membawa ancaman.


Apa Mona mau mengumbar aibku?


Apa dia punya video masa lalu?


Diketuk-ketuknya meja dengan ujung jari sambil otak berpikir keras. Sehingga ia memilih sampai pada kesimpulan untuk waspada dan memohon perlindungan Allah SWT sebagai jalan terbaik.


Mizyan menatap jam weker di meja kerjanya. Saat menjemput Rahma dan Dika ke toko, Jason mengabari akan video call jam 8 malam membahas project villa. Sekarang sudah telat 5 menit. Padahal laptop sudah menyala bersiap presentasi lewat meeting virtual. Ponsel pun sudah terbingkai vertikal di phone holder.


Panjang umur. Ponselnya kini berdering. Orang yang ditunggu akhirnya muncul di layar.


"Waktu gue udah terbuang 7 menit." Mizyan menyapa lebih dulu dengan mencebik.


Jason di sebrang sana nampak tertawa lepas. "Si boss galak amat. Sorry-sorry barusan ada intermezo dulu."


"Om Darma akan gabung tapi 15 menit lagi. Beliau belum selesai dinner."


Mizyan mengangguk. Jason pada jam 6 sore tadi sudah mengirim pesan mengenai hal ini. Klien yang merupakan omnya Jason itu ingin tahu progress desain villa.


"Sebelum bahas project, gue mau ngasih surprise dulu." Tatapan mata Jason nampak berbinar. Perpaduan semangat dan bahagia.


"Gue udah bisa nebak kok." Mizyan menyahut enteng. "Lo baikan sama Leon kan?!"


"Njirrrr....susah kalau berhadapan sama paranormal. Langsung ketebak." Jason menepuk jidat seolah merasa kecewa surprisenya gatot alis gagal total. Kemudian senyumnya merekah diiringi raut wajah sumringah.


"Hanya oleh orang yang sedang jatuh cinta yang bisa menebak tatapan mata penuh cinta."


"Gue setiap waktu selalu jatuh cinta pada orang yang sama. She is my wife. Jadi gue bisa melihat matamu yang penuh binar cinta. Siapa lagi cewek yang bertahta di hati lo sejak dulu kalau bukan Leon." Pungkas Mizyan tersenyum penuh kemenangan.


"My God. Bahasamu itu thole....apik tenan." Jason menggeleng-gelengkan kepala. Ia selalu kalah jika berurusan dengan Mizyan yang selalu akurat membaca gestur seseorang.


"Babe, gak jadi surprise nya. Gatot."


Mizyan mengangkat kedua alisnya melihat Jason berbicara pada seseorang di sampingnya. Menjadi tersenyum lebar melihat wajah baru tampil di layar menggeser duduk Jason. Leony.


"Leon, pa kabar?" Mizyan menyapa sosok berwajah oriental yang sedang tersenyum sumringah.


"Very well. Kabar lo sama anak istri gimana?" Leon bertanya balik.


"Alhamdulillah---" Singkat padat, Mizyan memberi jawaban. "Selamat untuk kalian berdua. Akhirnya---" sambungnya sambil mengangkat kedua jempol.


"Indah pada waktunya kan, Bro." Jason menimpali. Nampak kini tangan Jason merangkum bahu Leon. Duduk rapat.


"Not yet. Indah pada waktunya itu kalau kalian sampai ke jenjang pernikahan."


"My God. Lagi-lagi si thole bikin speechless." Sahut Jason diselingi joke. Membuat ketiganya tertawa berderai.


Ketiganya larut dalam obrolan santai penuh sukacita. Sampai kemudian Jason menginterupsi untuk mengakhiri canda tawa itu sebab Om Darma siap bergabung dalam virtual meeting.

__ADS_1


"Mizyan, salam sama istrimu ya. Kapan-kapan kita ketemuan. Gue belum kenal dan pengen kenal. Belum pernah ketemu soalnya." Ujar Leon diakhir sambungan video itu. Mizyan pun mengangguk dan menyetujui permintaan teman lamanya itu.


****


Mizyan membuka pintu ruang kerjanya usai setengah jam lebih malakukan virtual meeting yang memberi kepuasan untuk kliennya. Terkejut melihat Dika sudah berdiri di depan pintu sambil memeluk satu robot sapi.


"Dika lagi apa di depan pintu?" Mizyan menurunkan tubuhnya, berjongkok untuk mensejajarkan tingginya. "Bunda mana?" Menatap heran bocah yang sorot matanya nampak sendu.


"Nda bobo. Nda atit." Jawab Dika tak bersemangat seperti biasanya.


"Bunda sakit?!" Mizyan ingin meyakinkan lagi dengan nada sedikit kaget. Sebelumnya ia melihat Rahma ceria seperti biasanya.


Dika menganggukkan kepala lemah. Berjalan lebih dulu mengajak Papa buye masuk ke kamar utama. Mizyan bergegas menghampiri Rahma yang tidur bergelung selimut sampai leher. Meraba kening yang basah sebab buliran keringat mengembun. Merapihkan rambut yang berantakan menutupi sebelah pipi.


"Sayang---" Mizyan memanggil pelan. Meyakinkan sang istri apakah tertidur lelap atau belum.


Rahma membuka mata perlahan. Memicingkan mata sebab silau oleh sorot lampu kamar yang terang belum berganti lampu temaram.


"Sakit apa hmm. Kenapa gak bilang?!" Mizyan duduk di tepi ranjang menatap khawatir. Sementara Dika naik ke tengah, duduk sila menyaksikan interaksi kedua orangtuanya itu.


Rahma berdehem merasakan tenggorokannya yang gatal dan kering. "Tadi abis sholat isya badan mendadak meriang. Dirasa-rasa badan jadi menggigil dan tulang-tulang sakit. Udah minum obat kok." Menarik lagi selimut agar lebih rapat menutupi leher.


"Dika kirain udah bobo." Rahma lanjut menatap sang anak yang sedari tadi menemani tiduran di sampingnya.


"Nda da boyeh atit." Dika merajuk. Balas menatap bundanya dengan mata berkaca.


"Ya udah Bunda istirahat aja. Kalau besok masih panas gini, harus ke dokter!" Mizyan kembali memeriksa suhu dengan termometer yang diambilnya barusan dari kotak P3K. 38, 2 derajat Celcius.


Rahma hanya menjawab dengan kedipan. Lanjut memejamkan mata merasakan reaksi obat yang membuat tubuhnya berkeringat serta mengantuk.


Mizyan mengajak Dika ke luar kamar. Membiarkan sejenak istrinya itu beristirahat merasakan reaksi obat. Membiarkan pintu kamar terbuka lebar agar bisa memantau keadaannya.


Dika menggeleng saat Papa buye mengajaknya memilih permainan. Menggeleng lagi saat Papa mengajak tiduran di kamar kedua, sebab sudah jam 9 malam. Memilih tiduran di sofa dengan menonton tayangan discovery chanel.


"Atu mau mimi, Papa." Dika menoleh pada sang ayah yang menemani di dekatnya.


"Oke. Papa buatin dulu. Dika tunggu di sini!"


"Ituuut---" Dika segera bangun, turun dari sofa mengekori sang ayah ke dapur.


Untuk pertama kalinya Mizyan akan membuatkan susu untuk Dika. Nampak bingung di depan kaleng susu formula yang sudah ia letakkan di atas meja.


"Takarannya berapa ya?!" Mizyan menatap Dika yang berdiri di sampingnya. Dijawab Dika dengan gelengan.


"Hm, masa gini aja gak bisa." Mizyan bergumam memotivasi diri. Ia membaca teks petunjuk yang ada di permukaan kaleng susu itu. Mengangguk-ngangguk mengerti.


Sukses dengan tugas menyeduh susu dan diminum Dika sampai habis. Mizyan tersenyum senang.


15 menit kemudian.

__ADS_1


"Papa, atu mau e ek---" Dika meringis memegang perutnya.


Mizyan terperanjat. Menyimpan ponselnya usai membalas pesan dari Mami Kanti yang sedang berlibur ke Singapore.


"Let's go ke kamar mandi!" Mizyan segera membawa Dika ke kamarnya. Mendudukkan pada kloset yang sudah terpasang dudukan anak.


"Papa nunggu di luar. Kalau sudah selesai teriak ya!"


Dika menjawab dengan anggukkan.


"Papa udaaahh." Teriak Dika 6 menit kemudian.


Untuk pertama kalinya pula ia harus menceboki sang anak sambung yang sudah dianggapnya anak sendiri itu. Sekalian saja mengajak menggosok gigi sebelum tidur.


Tak butuh waktu lama Dika tertidur lelap memeluk boneka sapi Opa. Malam ini Mizyan melaksanakan perannya sebagai suami siaga dan ayah siaga. Ia berpindah ke kamar utama usai menyelimuti Dika dan menyalakan lampu tidur.


Meraba lagi dahi Rahma yang kini tertidur pulas dan tenang. Bersyukur, panasnya sudah turun. Ia memutuskan membawa Dika untuk tidur bertiga lagi agar bisa tenang menjaga 2 orang kesayangannya itu.


Saat subuh menjelang.


"Ini sakit flu biasa. Kayaknya ketularan Dika kemarin." Rahma melipat mukena usai mengerjakan sholat subuh berjamaah. Menolak ajakan Mizyan pergi ke dokter.


"Yakin?!" Mizyan menangkup kedua pipi Rahma. Merasakan suhu di telapak tangannya yang sedikit hangat.


"Iya, Mas. Ini cuma flu aja."


"Oke deh. Untuk sarapan nanti biar aku yang masakin nasi goreng. Bunda kalau mau tiduran lagi gak papa. Nanti aku bangunin kalau udah jadi nasi gorengnya."


Rahma tersenyum. Menatap sang suami yang masih duduk di gelaran sajadah usai menjadi imam sholat.


"Kenapa malah senyum-senyum?!" Mizyan mengangkat kedua alisnya menatap Rahma.


"Papa buye atu pake koko sama kopiah gini jadi ganteng bingittt." Rahma tak mengalihkan pandangan. Terus menatap lekat-lekat sambil memanyunkan bibir isyarat kecupan.


"Hei....Neng Rahma. Kemarin-kemarin kemana aja. Kok baru nyadar kalo suaminya seperti bintang felem Hollywood." Mizyan menjawil gemas dagu bulat istrinya itu. Merasa sedikit aneh dengan sikap Rahma pagi buta ini yang mendadak genit.


"Ah masa sih." Rahma malah terkekeh menanggapinya.


"Astagfirullah--" Rahma terhuyung saat bangun dari duduknya. Merasakan kepalanya yang mendadak pusing.


Sigap Mizyan menahan tubuh Rahma yang hampir jatuh. "Sayang, ke dokter ya!" Menatap cemas sang istri yang memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pusing.


"Nggak mau ah. Ini karena kebanyakan tidur aja. Aku mau bikin teh manis." Tolak Rahma yang dipapah duduk di sofa.


Mizyan menghela nafas mendengar penolakan lagi. "Biar aku aja yang bikin. Manis apa manis sedang?!"


"Manis sedang aja. Nanti juga rasanya bakal berubah sangat manis karena ada kamu didekat aku."


"Sayang---" Mizyan menggeram. Ia menjadi ingin menerkam istrinya itu yang sudah 2 kali menggombalinya.

__ADS_1


__ADS_2