
Dika memberi aba-aba pada tiga bocah agar tidak bersuara, membekap mulut masing-masing saat keluar dari pintu. Dijawab dengan anggukkan oleh Mentari serta si kembar sebab dilarang mengeluarkan suara.
Bu Ima yang memantau tingkah anak-anak tersenyum geli. Menyikut pelan suaminya yang masih anteng menatap ponsel. Memberi kode dengan dagu ke arah anak-anak. Papi Mark mendongak, mengikuti arah pandangan sang istri. Ia pun menarik sudut bibir, tersenyum simpul.
Menjadi kesempatan mumpung para bocah sedang lengah menghadap pintu, Mizyan pun tidak ada. Papi Mark mendaratkan ciuman 3 detik di pipi Bu Ima dengan bunyi ceplak terdengar. Membuat ibunya si kembar itu memelototkan mata.
Kode siulan dari Papa Buye sudah terdengar. Dika membuka pintu. Memimpin ketiga bocah 5 tahun yang ikut-ikutan berjalan mengendap. Jarak semakin dekat menuju Bunda Rahma yang ditutup matanya oleh Papa. Kesenyapan mulai ternodai oleh suara cekikikan yang tertahan oleh bekapan tangan masing-masing.
Dika sudah bersiap menembakkan party pooper ke udara. Entah siapa yang menjadi biang kerok, sebab tiba-tiba.....
"Bhuahahaha----" kompak 3 bocah tertawa keras terpingkal-pingkal dengan bekapan tangan masing-masing yang sudah terlepas.
Mizyan memutar kedua bola mata. Mendesah kecewa. Kejutannya berantakan oleh tingkah 3 bocah yang malah tertawa dan belum juga berhenti sembari memegangi perut.
"Hahh. Surprisenya gagal, sayang." Ujarnya mengeluh sembari menurunkan tangan yang menutup mata Rahma.
Rahma menaikkan kedua alis melihat pemandangan di depannya. Dika yang cemberut, Mentari dan si kembar yang tertawa terpingkal-pingkal dengan satu tangan mendekap kado.
"STOP STOP STOP!" Dika berteriak. Wajahnya memberengut kesal. Mentari dan si kembar pun mengatupkan bibir, berdiri tegak berbaris sejajar.
"Kenapa kalian malah ketawa? Kan Abang mau nembakin ini dulu." Diacungkannya party pooper. "Kan jadinya gagal deh ahh," sambungnya. Menghentakkan kaki. Merasa geram sendiri sembari meremas rambutnya.
"Maaf, Babang. Tadi Mentari duttt ken tut....ya jadinya pengen ketawa." Keisha mewakili menjawab. Terkikik lagi sembari berusaha ditahan dengan melipat bibir.
"Bhuahahaha-----" Mentari dan Key tertawa lagi, lepas dan keras. Sungguh suasana menjadi sangat berisik. Opa dan Oma menyusul datang menampakkan raut wajah penasaran dengan kehebohan yang terjadi.
"Maaa afff, hi hi hi----" Mentari mencoba mengerem tawanya. "Abang....tadi aku deg degan. Jadinya meletus deh---" Kedua bahunya terguncang-guncang menahan tawa yang ingin meledak lagi. Namun bahunya menciut sebab mendapat tatapan tajam abangnya.
Mizyan menepuk kening. Opa dan Oma terkekeh-kekeh. Rahma tersenyum geli.
"Abang mau ngasih kejutan apa? Bunda mau lihat dong!" Rahma memeluk Dika dari belakang. Mengusap rambutnya menghibur si sulung yang berwajah kesal. " Eh apa Bunda merem aja ya, atau balik badan dulu," ujarnya berharap wajah beku Dika mencair lagi.
Mizyan tampil memberi solusi. Sudah gak bisa lagi menata kejutan yang sudah berantakan. Sebaliknya, sekarang tugasnya menormalkan suasana hati Dika. Menyuruh anak anak berdiri melingkar dengan Rahma berdiri di tengah lingkaran. Lalu membisikkan kata kepada Dika. Yang membuat si sulung terbit lagi senyumnya.
Rahma menurut mengikuti permainan. Agar semua anak-anak senang.
"Okee...kita hitung mundur ya!" Dika dengan riang memberi aba-aba pada pasukan berisik.
"Three...two...one. Doorrrr!"
Serpihan kertas manik-manik aneka warna berhamburan ke udara. Empat orang anak dengan riang berlomba menangkap. Jeritan suka ria terdengar begitu serpihan ada yang tertangkap tangan dan sebagian mengenai badan.
Happy birthday Bunda....🎵
Happy birthday Bunda....🎵
Happy birthday...happy birthday 🎵
Happy birthday Bunda 🎵
Dika dan Mentari kompak bernyanyi sambil bertepuk tangan. Begitu pun si kembar penuh semangat mengikuti.
Rahma tersenyum lebar. Bahagia dan bersyukur tentunya. Mengapresiasi pula usaha si sulung yang berniat memberi kejutan kedua meski gagal karena ulah trio perusuh. Ia memeluk Dika dan mencium keningnya penuh sayang dan mengucapkan terima kasih untuk surprise kado yang membuatnya menitikkan air mata haru.
"Bunda...ini kado dari aku. Ayo buka, Bunda!" Dengan bangga Mentari menyerahkan kado berwarna pink polkadot usai mendapat pelukan dan ciuman sayang seperti kakaknya.
"Wah, makasih sayang." Rahma mengusap poni si centil. Beralih menerima uluran kado dari si kembar yang juga antusias menyuruh dibuka.
Bu Ima memeluk Rahma. Mengusap-ngusap lembut punggungnya penuh sayang. "Barakallah fii umrik, sayang. Mabruk alfa mabruk. Sehat-sehat ibu dan baby. Dilancarkan dan dimudahkan sampai lahiran nanti." Ucapnya lembut di balik punggung.
"Aamiin....Ibu, makasih."
__ADS_1
Giliran Papi Mark terakhir. Mengusap kepala sang menantu dan memberi do'a keberkahan dunia akhirat.
"Kado Papi mana?" Kay menatap menyelidik sebab papinya bertangan kosong.
"Iya. Kado Ibu juga mana? Kok gak ada." Kei pun menatap heran. Ibunya tidak bawa apa-apa.
Papi Mark menghela nafas. "Aneh. Bukan yang ultah yang malak. Ini malah mereka pake ngancam lagi---" Tatapannya mendelik pada si kembar yang berlari menuju kamar setelah diberi tahu sang ibu jika kadonya ada di kamar.
Rahma dan Mizyan tertawa. Menjadi pagi yang diselimuti kebahagiaan. Bersama-sama membuka kado dalam iringan kehebohan anak-anak. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk berangkat mendampingi Dika ke sekolah. Hari ini lomba Hafiz Qur'an tingkat SD dan sederajat se kota Bandung akan digelar. SD IT Al Ma'un tempat Dika menimba ilmu, selalu menggelar lomba ini setiap tahun. Dan Dika didaulat menjadi wakil dari sekolahnya.
Waktunya berangkat ke sekolah. Oma Ima mengetes ulang hafalan surat-surat juz amma secara acak. Sebab kategori lomba meliputi hafalan dan sambung ayat. Dika dengan tenang dan percaya diri melalui tes dari guru hafiznya itu dengan baik dan benar.
****
Kursi penonton nampak penuh. Terisi oleh para wali dari murid yang mengikuti lomba dan supporternya. Keluarga Dika menjadi supporter terbanyak yang duduk di baris kedua. Beruntung tiga bocah bisa disiplin duduk tenang. Sebentar gaduh bersorak saat menyaksikan Abang Dika naik ke panggung. Bu Ima berhasil menjadi pawang, menenangkan anak-anak dengan lembut dan sabar.
Break diisi lantunan nasyid sebagai hiburan. Penjeda waktu menuju pengumuman juara Hafiz Qur'an yang diikuti oleh 20 peserta. Mentari dan si kembar berbagi cemilan yang dibawa dari rumah. Papi Mark dan Mizyan yang duduk bersisian berbincang mengenai pekerjaan.
"Nanti malam aku mau pinjem bantal love punya Bunda. Mau aku peluk sambil bobo." Mentari mulai berceloteh. Satu kotak susu coklat sudah habis disedotnya.
"No no no! "Kei menggoyangkan telunjuk di depan muka mentari dengan mulut penuh kunyahan roti. "Itu kan udah jadi miliknya Kakak Rahma. Nggak boleh dipinta lagi." Protesnya.
"Aku cuma pinjem kok. Bukan dipinta lagi. Bantalnya lucu sih...kayak aku! Hi hi hi---" Mentari terkikik sembari mengerjap-ngerjapkan mata.
Dengan iseng Kay menyumpalkan sobekan kertas roti pada mulut Mentari.
Si kembar tergelak bersamaan. Mentari membalas hal yang sama terhadap Om dan Onty cilik saat mulutnya terbuka.
Rahma dan Bu Ima spontan menegur kegaduhan para bocah. Pembawa acara sudah menaiki panggung bersiap mengumumkan juara.
"Hadirin yang kami hormati. Tiba waktunya pengumuman pemenang Lomba Hafiz Qur'an tahun 20xx, yang diselenggarakan yayasan Al Ma'un." Pembawa acara mulai menyampaikan prakata.
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi sang juara yang muncul dari belakang panggung.
"Selamat kepada....Nabila Nazah sebagai juara kedua Hafiz Qur'an 20xx. Peserta dari SD IT Baiturrahman."
Dua orang juara sudah berdiri di tengah panggung dengan wajah sumringah.
"Hadirin yang kami hormati. Tiba saatnya pengumuman juara pertama." Sang pembawa acara membuka amplop yang tersegel pemberian dari perwakilan juri. Tiga orang juri merupakan tokoh agama dan hafiz senior yang diundang dari luar Bandung.
Suasana tegang dirasakan semua penonton termasuk keluarga besar Dika. Bahkan Rahma dan Bu Ima saling menggenggam tangan dengan kepala menunduk. Harap-harap cemas.
"JUARA PERTAMA LOMBA HAFIZ QUR'AN TAHUN 20XX ADALAH....."
Sang pembawa acara menggantungkan ucapan. Tersenyum tipis menyapukan pandangan ke arah penonton yang nampak mengekspresikan ketegangan. Selembar kartu dikeluarkan dari dalam amplop.
"Selamat kepada....MAHARDIKA AL MALIK. Perwakilan dari SD IT Al Ma'un sebagai tuan rumah penyelenggara." Suara pembawa acara tegas meneriakkan nama juara pertama.
Rahma dan Bu Ima saling berpelukan dengan mata berkaca. Mengucap syukur dengan luapan keharuan.
"Yeay...Abang juara." Mentari bertepuk tangan.
"Say Alhamdulillah, Mentari!" Kay mengingatkan.
"Eh iya lupa. Alhamdulillah----" Mentari mengulang ucapan sembari berjingkrak riang bersama onty Kei.
Mizyan dan Opa Mark standing applause menyambut sang juara yang muncul dari belakang panggung. Bergabung dengan 2 rekannya. Senyum penuh kebanggaan terpancar di wajah-wajah bule itu.
Penghargaan sudah diberikan kepada ketiga pemenang. Berupa trophy dan papan simbolis hadiah uang. Menyisakan juara pertama masih berdiri di tengah panggung. Diberi kesempatan untuk ucapan terima kasih.
Dika, dengan kepercayaan diri yang tinggi hasil didikan Papa Mizyan. Memulai dengan berucap salam.
__ADS_1
"Pertama, aku cinta Allah dan Rasulullah." Dengan lugas Dika berucap.
"Kedua, terima kasih untuk Bunda dan Papa. yang selalu mensupport Abang." Tatapan Dika mengarah pada kedua orangtuanya diiringi senyuman.
Dari kursi penonton, sending kiss Rahma dan Mizyan mengarah ke tengah panggung.
"Makasih juga Oma yang udah menjadi guru tahfiz aku. Opa juga kakek nenek. Pokoknya semua keluarga besar aku."
"Spesial buat Ayah di surga---" Dika tercekat, menelan saliva dengan berat. Menundukkan kepala dan memejamkan kedua mata. Suasana pun mendadak hening.
"Buat Ayah----hiks." Lagi, Dika tak bisa meneruskan ucapan. Lengannya dipakai untuk menyusut mata sambil tetap menunduk.
"Oke, Mahardika. Tenangin dulu ya." Pembawa acara segera menghandle situasi emosional yang tercipta. Ia baru saja dibisikkan oleh guru tentang profil Dika. "Mahardika mau sampaikan sama Ayah di surga? Beliau akan mendengar do'a dari anak soleh."
Rahma mengambil tisu dari dalam tas. Sikap Dika membuatnya terbawa suasana. Mata pun berkaca-kaca. Tak disangka Mizyan sudah bersiri di depannya mengulurkan tangan. Jadilah berdua melangkah ke panggung untuk menguatkan Dika.
Dika menghambur memeluk bundanya. Menyembunyikan wajah yang berlinang air mata. Rahma merengkuhnya sambil memcium puncak kepala Dika dengan air mata yang lolos berderai. Hanya Mizyan yang nampak tegar. Menepuk-nepuk bahu Dika agar lebih tenang.
"Yuk hadirin semua....beri semangat dulu untun Mahardika." Pembawa acara mengajak semua bertepuk tangan.
Seperti biasa, bisikan Papa Buye menjadi mantra sakti. Dika menjadi tenang dan berdiri tegak dengan sisa isakan kecil.
"Mahardika, Kakak mau tanya dong. Cita-citanya mau jadi apa sih?" Sang pembawa acara mencoba mencairkan suasana syahdu.
Dengan diapit Bunda dan Papa, Dika nampak timbul lagi percaya dirinya.
"Aku mau jadi arsitek seperti Papa." Dika sudah tenang. Mendongak menatap papanya seolah meminta persetujuan.
Mizyan menganggukkan kepala dan tersenyum. Lalu mengacungkan kedua jempol.
"Aku juga mau jadi penghafal Qur'an agar bisa membangun rumah mewah di surga buat Ayah." Kini Dika bisa berbicara dengan lancar berkat bisikkan papanya.
"Maa sha Allah. Anak hebat!" Pembawa acara memberikan applause begitu juga penonton yang masij setia duduk sebelum acara berakhir.
Di bawah panggung tiga bocah tak kalah antusias memberi semangat untuk Dika.
"Abang...Abang!" Mentari memanggil meminta atensi. Setelah pandangan sang kakak teruju padanya, kompak ketiga bocah mengacungkan tangan kanan membuat kode Saranghaeyo.
****
Kejutan untuk yang ulang tahun belum usai. Ternyata Mizyan sudah booking tempat untuk acara makan-makan. Keluar dari sekolah, mobil melaju ke cafe Zero miliknya William. Begitu memasuki pintu cafe, sudah berkumpul beberapa orang. Fitri memegang kue ulang tahun kolaborasi anak-anak Citarasa yang dipersembahkan untuk sang owner toko.
"Ayah, Uma, kapan datang?!" Rahma juga terkejut akan kehadiran orangtuanya yang sudah seminggu berada di Aceh menengok panen raya. Dan mengkonfirmasi akan kembali ke Bandung lusa.
"Tadi malam sampe. Kan sengaja mau ngasih surprise." Uma memeluk sang anak semata wayangnya itu penuh kerinduan. Begitu juga Ayah. Do'a terbaik dipanjatkan untuk sang anak.
"Kakek, nenek, Alhamdulillah aku juara satu!" Dika dengan riang menceritakan lomba hafiz yang baru pertama kali diikutinya itu.
"Alhamdulillah. Kakek bangga sama Dika." Ayah Badru memeluk sang cucu bergantian dengan Uma.
Celine mewakili manajemen cafe hadir menyapa sang punya hajat. Memeluk Rahma yang sudah dikenalnya sembari menyerahkan sebuah kado. "Happy birthday mbak Rahma. Wish you all the best."
"Thank you, Cici." Rahma membalas cipika cipiki dan menerima uluran box kado berpita gold yang cantik.
Jadilah hari ini kebahagiaan dan keharuan melingkupi keluarga besar Mizyan dan keluarga besar Citarasa yang diundang hadir. Menjadi double tasyakur, Milad Rahma dan Dika sang juara.
********
Next...bonchap terakhir, REUNIAN.
Harus mandi bunga n banyak dopping kopi ini mah. Soalnya othor harus kerja extra. Bakal panjang n banyak dialog.
__ADS_1