MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 129. Bau Amis


__ADS_3

Mulai terdengar keributan. Mizyan menoleh lagi, menyaksikan adu mulut Alex dan 2 petugas security yang menghalangi jalan Alex yang memaksa masuk. Lebih tepatnya Alex yang menunjuk-nunjuk security dengan badan sempoyongan. Jelas, dia sedang mabuk.


"Papa....issh, liat atu!" Protes Dika membuat Mizyan kembali menatap lurus ke layar.


"Dika, nanti disambung lagi kalau Papa udah di kamar. Oke!" Mizyan mengacungkan jempol. Suara gaduh membuatnya terganggu. Dan ia tidak ingin Rahma tahu jika ada Alex di sini.


Dika tidak menjawab. Malah memanyunkan bibirnya. Nampak kecewa.


"Sayang, aku ada urusan dulu. Nanti satu jam lagi aku telpon." Mizyan menatap Rahma penuh arti. Agar sang istri bisa membujuk dulu Dika yang sedang ngambek.


"Oke, Pa. Love you, Papa---" Rahma mengangkat tangan Dika agar mau melambaikan tangan. Lanjut memberi bisikkan di telinga sang anak.


"Aylapyu, Papa." Dika terpaksa tersenyum usai mendapat bisikkan sang bunda.


"Love you too---" Mizyan melambaikan tangan, mengakhiri dengan mengucap salam.


Mizyan memasang kupluk untuk menyamarkan wajah agar tak terlihat oleh Alex. Masih duduk di kursinya memperhatikan petugas security yang tetap bersikap ramah tak terpancing kemarahan Alek yang keukeuh ingin masuk. Terdengar petugas meminta pengertian pada perempuan yang menemani Alex. Akhirnya kedua orang itu berlalu pergi meski Alex nampak masih kesal.


"Di luar ada ribut apa?!" tanya Arya begitu Mizyan bergabung lagi.


"Orang mabuk. Maksa pengen masuk tapi dicegah security soalnya bikin ulah sama waiter." Mizyan menyeruput minumannya. Tak ingin berpanjang lebar jika ia mengenal orang yang meresahkan dan mengganggu kenyamanan cafe itu.


Ketiganya kembali ke penginapan yang masih satu lokasi dengan cafe.


Pagi menjelang. Mizyan dan dua sahabatnya melakukan lari pagi mengelilingi area resort. Kebiasaan olahraga pagi berlaku dimana pun berada demi menjaga stamina agar selalu prima. Sudah cukup berkeringat di hawa udara yang dingin, mereka berjalan santai untuk kembali ke kamar.


"Aduh---" Seorang perempuan menabrak lengan Mizyan hingga oleng. Dan Mizyan menangkap tubuh perempuan itu yang hampir jatuh. Pandangan mereka bersirobok. Dan Mizyan terkaget. Melepaskan dengan cepat tangannya di pinggang perempuan yang sama-sama terkaget.


"Ar, Ky, duluan aja!" Mizyan mempersilakan dua sahabatnya pergi lebih dulu. Dan mendapat persetujuan keduanya.


"Ternyata dunia memang sempit ya, sayang. Kita ditakdirkan bertemu terus." ucap Mona, perempuan yang menabrak itu sambil tersenyum sumringah Ia mengibaskan tangan menyuruh asistennya menjauh.


"Makin hot aja kamu, beb." Mata Mona jelalatan menatap sosok tinggi dengan wajah yang segar disertai tetesan keringat yang mengucur dari rambut coklat. Otaknya traveling.


"Jaga mata dan otakmu, Mona!" Mizyan menggeleng dan bersiap berlalu namun lengannya ditahan. Ia pun mengibaskan dengan cepat.


"Istrimu yang songong itu sepertinya gak ikut ya?!" Mona menjegal jalan, menatap dengan sorot menggoda. "Aku di sini mau pemotretan. Gimana kalau nanti malam kita saling menghangatkan," sambungnya dengan berucap pelan tanpa rasa malu.


Mizyan menghela nafas panjang, berusaha bersikap sabar dengan perempuan agresif itu. "Mona, aku do'akan semoga suatu saat kamu berubah menjadi perempuan baik. Good looking physically and morally." Ia berkata tulus. Kemudian berlalu tanpa bisa dicegah.


"Dasar sok alim. Gue tau banget lo, Michael!"


"Gue do'ain juga istri lo yang songong itu dapat karma karna udah hina gue!"


Mona meneriaki Mizyan yang berjalan cepat dengan intonasi marah. Masih merasa dendam dan benci terhadap Rahma yang sudah menyamakannya dengan 'binatang'. Merasa terhina.


Mizyan mendengar jelas makian Mona. Ia memilih acuh tak mau meladeni ucapan model seksi itu.


****


"Biar saja kalau dia tidak ingin mengenalmu lagi. Toh kita tidak pernah ada niat memutus tali silaturahmi. Sudah, jangan dimasukin ke hati." Uma memberi nasehat usai mendengar cerita Rahma saat kemarin bertemu Mama Indah.


"Apa aku perlu cerita sama Mas Mizyan, Uma?" Rahma menghentikan memotong ranting pohon bunga mawar yang terkena hama. Menoleh pada ibunya yang sedang menyabuti rumput liar di pot tanaman keladi. Sekilas memperhatikan Dika yang semangat membantu kakeknya mencuci mobil. Lebih tepatnya, Dika semangat bermain air.


"Sama suami harus terbuka komunikasi. Jangan ada yang disembunyikan." sahut Uma tetap fokus mencabuti rumput. Hangat sinar mentari pagi menerpa punggung. Membuat semangat melakukan aktifitas bersih-bersih dan merawat tanaman.

__ADS_1


Hari ini Rahma memutuskan bekerja dari rumah sambil menunggu Mizyan pulang. Melakukan praktek membuat resep baru cake and cookies yang ia pelajari dari youtube yang menjadi hobi sekaligus menghasilkan keuntungan.


"Bun da....atu mau lagi!" Dika datang ke dapur menyodorkan mangkuknya yang kosong. Meminta Cream cheese cookies untuk kedua kalinya. Jenis kue lembut dan mudah lumer di mulut dengan bahan baku jenis keju berupa cream cheese yang membuat olahan kukis makin legit.


"Dika suka?!" Rahma menerima mangkuk. Mengisinya dengan 5 keping cookies yang masih hangat fresh from the oven.


Dika menjawab dengan anggukkan kuat.


"Emang enak ya?!" Rahma merasa senang mendapat penilaian pertama dari sang anak. Sebab anak kecil akan berkata jujur apa adanya.


"Enyak,.enyak, enyaaakkk...." Dika mengacungkan jempolnya.


"Tengyu, Bun da---" Dika berterima kasih dengan riang serta mata berbinar. Ia selalu ingat nasehat bundanya untuk mengucapkan terima kasih setiap mendapat pemberian dan pertolongan. Ia pun pergi lagi ke ruang keluarga. Melanjutkan menonton film kartun sambil ngemil cookies keju buatan bundanya.


Tes resep baru selesai tanpa gagal. Tinggal membuat kalkulasi harga pokok produksi untuk menetukan harga jual per toplesnya. Dan ilmunya siap ditularkan ke karyawan toko bagian pantry.


Yang ditunggu akhirnya datang selepas ashar. Dika lebih dulu yang menyambut kedatangan Papa buye. Sebab dirinya sedang bermain sepeda di pekarangan rumah bersama cucunya Ceu Imas yang tadi pagi datang dari Jakarta.


"Papaaaa---!"


"Holeee Papa atu pulang!" Dika turun dari sepeda. Berlari menyongsong Papa yang baru turun dari mobil usai memarkirkan mobil di tepi jalan.


"Papa, mana eslim stawbeli atu?" Dika yang digendong sambil menggelayutkan tangan di leher Papa, menagih oleh-oleh.


Mizyan terkekeh. Mencium pipi Dika dengan gemas sambil berjalan ke teras. Hampir saja lupa membawa es krim pesanan si bocah kriwìl. Beruntung saat akan memasuki komplek, matanya melirik mini market di ruko depan. Jadilah mampir dulu membeli 5 cup eskrim strawbery.


Rasa dingin dari kantong kresek yang ditempelkan di pipi, membuat Dika terkikil sambil bergidik kedinginan. Mengambil alih kantong dari tangan Papa dengan penuh keriaan.


"Tengyu, Papa." Dika tersenyum lebar sambil memiringkan kepala. Meminta turun untuk membuka oleh-olehnya.


"Namanya Unay." Sahut Dika. Ia memberikan satu cup es krim. Bersama Unay, keduanya duduk lesehan di teras untuk makan es krim bersama.


Rahma yang barusan ke dalam untuk mengambil jus jambu, kembali ke depan dengan wajah sumringah. Ia melihat Mizyan ada di teras sedang membantu membukakan cup es krim kedua bocah.


"Strawbery Lembangnya mana?" Rahma menagih request semalam. Ingin strawbery yang baru petik. Membuka telapak tangannya usai mencium tangan dan cipika cipiki dengan sang suami.


"Eh, lupa di mobil. Ada oleh-oleh buat Uma juga."


"Biar aku aja yang ambil." Rahma menahan Mizyan yang akan melangkah. Mengambil alih meminta kunci mobil. Mizyan berganti mengambil alih jus jambu yang dipegang sang istri.


"Di jok depan, sayang." Teriak Mizyan.


"Di jok depan, zeyeng. Hi hi hi---" Dika terkikik usai ikut-ikutan berteriak dengan bibir yang belepotan es krim.


Mizyan tertawa. Mengacak-ngacak rambut Dika sampai mengembang tak beraturan.


Selepas magrib Mizyan pamit pulang kepada Ayah dan Uma, memboyong anak istri kembali ke apartemen.


Mizyan usai berada di ruang kerja satu jam lamanya, menyusul Rahma ke kamar kedua. Nampak sang istri sedang mengeloni Dika sambil bersholawat lirih. Perlahan ikut bergabung agar tidak mengganggu Dika yang sudah setengah terpejam. Memilih ruang di belakang Rahma sambil memeluknya. Memejamkan mata, turut meresapi lantunan sholawat yang menentramkan hati dan pikirannya.


"Mas---" Rahma memanggil pelan usai Dika terlelap.


"Hmm." Menjawab dengan gumaman sambil merapatkan pelukan dengan bibir mengecupi tengkuk Rahma.


"Kemarin aku ketemu Mama Indah di rumah sakit. Pas mau pulang nengok Maminya Koko, ketemu di dekat lobi." Rahma membalikkan badan sehingga kini saling berhadapan.

__ADS_1


"Dia tetep angkuh ya. Gak suka liat kamu, apalagi nanyain kabar cucunya." Mizyan mengusap-ngusap pipi halus Rahma. Tidak nampak kaget mendengar cerita sang istri.


"Ish, kok tebakannya benar." Rahma mengerucutkan bibir. Yang malah menjadi umpan untuk Mizyan melahapnya.


Pa gutan dilepas Mizyan setelah pasokan oksigen keduanya habis.


"Karena dari awal baiknya dia sama kamu dan Dika hanya modus UUD." Mizyan mengusap bibir Rahma yang basah dengan ibu jarinya.


"UUD, maksudnya?!" Rahma mengernyit tak mengerti.


"UJUNG-UJUNGNYA DUIT." Jelas Mizyan sambil menarik tangan Rahma ke kepalanya.


"Bisa aja istilahnya." Rahma terkekeh. Memulai memberi pijatan lembut di kepala Mizyan yang nampak memejamkan mata.


Maaf sayang, aku gak akan bilang kalau sudah melihat Alex di Lembang. Gak ingin kamu jadi khawatir.


Mizyan menikmati pijatan yang merilekskan kepalanya dengan hati bermonolog.


"Kalau cape diundur aja ke Bogornya jangan besok." Rahma menatap raut lelah di wajah tampan sang suami. Masih melanjutkan memberi pijatan lembut di kepala.


"Gak cape kok hanya lelah banyak duduk. Kita nyetir juga gantian. Malam ini cukup full tidur, besok bisa fresh." Sahut Mizyan masih dengan mata terpejam menikmati pijatan.


"Besok berangkatnya sore ya, Mas. Biar aku gak mabuk. Ini perut lagi sensitif bau-bauan. Bau obat, bau bubur, bau bensin, bau asap rokok. Hanya satu bau yang bikin aku gak mual, malah nyaman and happy."


Mizyan membuka mata. "Bau apa?!" tanyanya penasaran.


"Bau amis."


Mizyan mengkerutkan kening heran. "Bukannya bau amis bikin mual?!"


Rahma menggeleng.


"Karena bau amis yang ini beda. Amis you so much." Rahma mengedipkan sebelah mata diiringi kekehan.


"Ehhh, mo ngapain, Papa." Rahma memekik kaget sebab Mizyan mengangkat tubuhnya.


"Kamu udah bangunin burung yang tidur. Harus tanggung jawab!" Mizyan dengan gemas menggesekkan hidung ke leher Rahma. Menggendong tubuh istrinya itu berpindah ke kamar utama.


********


Jangan Skip, Plis.


PENGUMUMAN PENTING!


Give Away 5 buah Hampers mulai counting down (hitung mundur). Bersiap-siap pemenangnya akan diumumkan di bulan ini. Tanggalnya masih rahasia. Masih ada kesempatan naik lencana GOLD agar mendapat kesempatan undian hadiah.


GC Me Nia akan di restart. Semua member akan terhapus. Silakan nanti daftar ulang lagi bagi pembaca yang mendukung karya author. Menjadi member tidak harus aktif chat, tapi WAJIB dukung karya.


Follow dulu admin @Imas Perwati. Jika belum di acc, silakan kirim bukti screen shoot hadiah (bunga or kopi or koin) agar admin meloloskan masuk member.


Ada Give Away khusus untuk member sebagai tanda cinta author untuk keluarga besar fans Me Nia yg terangkul dalam Grup Chat.


Salam Hangat 😍


Me Nia

__ADS_1


__ADS_2