MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 151. Kado


__ADS_3

Begitu pulang ke Bandung, hal yang ingin segera dilakukan Rahma adalah mengunjungi dokter spesialis kandungannya. Dokter yang kemarin menangani kuretase. Ada rasa was-was yang mengganggu pikiran, mengingat saran dokter yang menganjurkan boleh hamil lagi setelah 3 bulan masa kuret. Tapi baru setengah jalan, sang suami menggaulinya tanpa memakai pengaman.


"Bu Rahma sudah haid lagi pasca kuret?" Dokter Nurul memulai tanya jawab setelah mendengar kerisauan Rahma yang datang ditemani Mizyan.


"Sudah, dok. Dan kemarin itu saya lagi masa subur. Apa kalo nanti saya hamil gak akan beresiko?"


Dokter Nurul tersenyum. Berusaha memberi ketenangan pada pasiennya yang was-was.


"Memang anjuran hamil lagi harusnya minimal setelah tiga kali period menstruasi. Kenapa? Untuk antisipasi terjadi keguguran berulang, juga untuk menghindari kemungkinan janin gagal berkembang."


"Pasca kuret, tubuh membutuhkan beberapa waktu untuk memulihkan kondisi rahim dan juga untuk menguatkan kembali lapisan endometrium dalam rahim."


"Memang banyak perbedaan pendapat mengenai kapan boleh memulai lagi program hamil. Intinya adalah Bu Rahma bisa memulai untuk mencoba hamil lagi pasca kuret saat kondisi benar-benar siap secara lahir dan batin." Dokter Nurul menjelaskan terperinci.


"Kalau untuk kesiapan, saya sudah siap lahir batin untuk hamil lagi, dok." Rahma menjawab sambil menoleh pada Mizyan yang nampak tersenyum senang.


Dokter Nurul tersenyum lagi. Ia sangat faham akan keinginan setiap perempuan pasca kuret yang ingin segera hamil lagi.


"Apa setiap berhubungan mengalami sakit atau pendarahan?" Dokter kembali memastikan.


"Tidak ada dok. Setelah 2 minggu dikuret, udah bersih dan tidak ada keluhan apapun." Jelas Rahma.


"Baik Bu Rahma, ayo kita cek kondisi rahimnya." Dokter Nurul mengajak Rahma masuk ke kamar pemeriksaan untuk dilakukan USG.


Perjalanan pulang dari rumah sakit, Rahma nampak berwajah sumringah. Tak ada lagi raut cemas seperti sebelumnya. Plong rasanya setelah berkonsultasi dengan dokter. Apalagi hasil USG dipastikan kondisi rahim sudah kuat dan siap untuk dibuahi.


"Mas udah boleh lepas pengaman. Bismillah...kita ikhtiar untuk punya anak lagi." Rahma merangkul tangan Mizyan dan bersandar di bahunya saat mobil berhenti di lampu merah.


"Ada hikmahnya ya kemarin gak pake pengaman. Jadinya Bunda atu check up ke dokter lagi. Dan hasilnya bikin semangat olahraga tiap malam." Mizyan mengecup puncak kepala Rahma penuh sayang.


"Jangan ngarang deh, Pa. Tadi dokter bilang maksimal seminggu tiga kali." Rahma mencubit lengan suaminya itu yang malah terkekeh.


"Abisnya kalo deket kamu bawaannya on fire. Ini aja si adek langsung menggeliat bangun." Dengan iseng, Mizyan membawa tangan Rahma ke tengah pangkuannya.

__ADS_1


"Papa mesum ini mah." Rahma menegakkan tubuh setelah mencubit paha suaminya itu.


"Jangan-jangan kemarin sengaja gak pake balon ya?!" Sambungnya menatap Mizyan dengan tatapan menyipit.


"He he...iya." Mizyan menjawab dengan santainya sambil menaik turunkan alis.


Rahma hanya memutar bola mata. Sudah gak aneh suaminya itu selalu banya strategi dalam berbagai hal.


****


Waktu terus bergulir. Menyapa para insan yang melangkah pasti menatap masa depan di jalan yang lurus dan dipenuhi gelimang kebahagiaan.


Manusia punya rencana, Tuhan yang menentukan. Saat tiba waktunya pernikahan Rangga dan Olla, Rahma tidak bisa ikut ke Bogor. Sebab ia mendapat kejutan yang tak disangka secepat ini. Positif hamil.


Rencana memulai program hamil made in Maldives. Nyatanyanya made in Bogor berhasil menorehkan tespek dua garis merah.


Hanya Mizyan dan Dika yang berangkat ke Bogor. Sebab kehamilan kali ini Rahma lebih memilih berhati-hati dan mengurangi dulu aktifitas di luar di rumah selama trimester pertama, sesuai anjuran dokter.


"Lagi rebahan aja di sofa soalnya pusing kepala dan lemes." Sahut Rahma yang merasakan hamil muda kali ini kondisi badannya menjadi ringkih. Ia tinggal bersama Ayah dan Uma selama suami dan anaknya pergi ke Bogor.


"Vitaminnya jangan lupa, Bun." Sambung Mizyan yang bersikap lebih posesif. Ia bahkan memutuskan tidak akan mengambil job luar kota yang mengharuskan menginap. Pengalaman buruk yang menimpa sang istri waktu lalu membuatnya menjadi lebih waspada dan siaga.


"Udah tadi, Pa. Gimana akadnya lancar?" Rahma beralih menanyakan kabar pernikahan Rangga dan Olla.


" Lancar sih tapi gak lulus sekali, sampe diulang yang kedua baru SAH. Si Rangga keliatan banget groginya." Di sebrang sana Mizyan tetawa lepas. Ia menepi sebentar keluar dari graha yang sedang riuh oleh seremonial lempar buket bunga.


Rahma turut tertawa. Terbayang gimana susasana sukacita di pernikahannya Olla dan Rangga. Rencananya mau jadi bagian dari bridesmaid tidak terlaksana.


Mizyan mengakhiri teleponnya setelah memberi perhatian dan mewanti-wanti sang istri agar menjaga kesehatan. Melangkah lagi ke dalam gedung, menemani Papi Mark yang duduk di meja VIP. Sama-sama datang tanpa pasangan. Sebab Bu Ima yang kehamilannya berjarak 7 minggu dengan Rahma, juga tak hadir.


Dika yang ke sana ke mari diawasi Bi Ida, datang berlari mendekati Papa Buye. "Pa....Papa, atu mau esklim. Boleh ya, Pa?!" wajahnya dibuat seimut mungkin untuk merayu.


"Udah makan es krim berapa cup?!" Mizyan memperhatikan tingkah Dika yang menggelayut di lengannya. Tetesan es krim yang membekas di bagian atas baju menandakan bocah kriwil itu sudah memakan es krim.

__ADS_1


"Balu segini, Papa---" Dika mengangkat tangan kanan. Memperlihatkan 4 jari secara asal.


"Suda abis 2 cup, Den. Bibi bilang harus izin dulu sama Papa kalo mau es krim lagi." Bi Ida memperjelas.


"Kalau udah 2 stop. Nanti Bunda marah." Mizyan merapikan rambut depan Dika yang berantakan.


Dika mengerucutkan bibir dengan wajah merajuk. "Satu lagi ya, Pa. Pliisss....kita kan temen----" ujarnya menirukan ucapan anak-anak SD rumah tahfiz yang ia dengar saat bermain bersama.


Msmbuat Mizyan dan juga Opa Mark tergelak mendengar bahasa gaul Dika.


"Oke deh kali ini boleh satu lagi, mumpung gak ada Bunda." sahut Mizyan melanggar aturan yang dibacakan sang istri sebelum berangkat ke Bogor.


"Teng kiyu, Papa. Jan bilang-bilang Bunda ya Pa!" Dika menempelkan telunjuk di bibir. Lalu mengangkat tangannya untuk ber high five dengan Papa Buye. Setelah itu berlalu dengan riangnya.


Lagi-lagi Mizyan dan Opa Mark mentertawakan kelakuan Dika yang malah nampak lucu itu.


Sesi foto bersama pengantin selesai dilaksanakan. Mark dan Mizyan yang kompak memakai batik lengan panjang motif berbeda, berdiri tegap mengapit di kiri dan kanan. Dika berdiri sendiri di depan tengah sang pengantin, bergaya mengikuti arahan crew. Diabadikan bukan hanya oleh fotografer, tapi juga oleh para tamu yang mengidolakan wajah-wajah tampan tamu VIP itu.


"Jangan lupa beres acara langsung ke hotel. Kado dari Bu Ima dan Rahma ada di sana." Mizyan mengingatkan saat menyalami lagi sepasang pengantin untuk pamit pulang.


"Siap, Mas. Makasih kadonya." Rangga semangat menjawab dengan wajah sumringah. Ia tak perlu repot merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya pernikahannya. Sewa gedung dan WO dibayar oleh boss Mark sebagai kado untuknya. Menginap selama 3 malam di hotel Aston menjadi kado honeymoon dari Mizyan.


"Makasih, A Iyan. Salam untuk mbak Rahma ya!" Olla menimpali dengan rona bahagia terpancar di wajah cantiknya.


****


Rangga dan Olla bak raja dan ratu sehari. Mendapatkan servis istimewa di hari bahagia mereka. Pulang ke rumah hanya untuk berganti baju dan sejenak berbincang dengan 2 keluarga yang berkumpul dan menginap di rumah Pak Yunus itu . Sorenya dengan menggunakan mobil Alphard milik Mizyan, sopir dari villa Pak Mark mengantarkan sepasang pengantin baru itu ke hotel. Akan menghabiskan malam pertama sampai malam ketiga di hotel mewah dengan view danau yang indah.


Rangga dan Olla saling pandang saat memasuki kamar president suite dengan diantar room boy. Sungguh di luar ekspektasi keduanya. Kesan super romantis dan elegan di kamar yang luas dan memiliki fasilitas ruang tamu dan pantry itu. Sepasang angsa berbahan handuk terpajang di atas ranjang berseprai putih. Ada buket bunga cantik dengan kartu ucapan happy wedding dari pihak hotel.


Rangga menuntun Olla menuju kaca jendela besar. View danau yang eksotis di ujung senja dengan semburat jingga. Berdiri berhadapan dengan jarak dekat. Rangga merangkum wajah wanita yang sudah halal untuk disentuhnya itu.


"Olla, boleh aku menciummu?!"

__ADS_1


__ADS_2