MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 125. Theo dan Alex


__ADS_3

Jakarta


Indah menatap heran penampilan suaminya yang baru datang bergabung di meja makan. Bukan pakaian santai rumahan, padahal baru saja pulang kerja. Namun outfit semi formal yang dikenakan Theo.


"Papa mau pergi ke mana?!" Indah memperhatikan Theo yang begitu duduk langsung mengambil nasi dan lauk dengan cepat.


"Malam ini mau lembur. Di kantor lagi numpuk kerjaan." Menjawab tanpa menatap wajah Indah, istrinya.


Alex mendongak sesaat. Menatap dan memperhatikan silih berganti kedua orangtuanya. Lalu menunduk lagi melanjutkan makan.


"Sebelum pergi, Mama mau bicara dulu sebentar!" Indah menatap tajam sang suami yang duduk segaris dengannya.


"Besok aja, Ma. Aku buru-buru." Theo mengelak sambil menatap jam di pergelangan tangan kanannya.


Tring.


Denting sendok dan garpu yang dijatuhkan keras ke piring, membuat Theo dan Alex mendongak bersamaan dengan raut terkejut. Menatap Mama Indah yang nampak kesal.


"Sudah 2 bulan ini Papa pergi pagi pulang malam alesan lembur. Pulang sore pergi lagi malam, alesan lembur. Sabtu minggu ke luar kota alesan kunjungan pabrik. Mana ada waktu untuk bicara, PAPA. Besok aja-besok aja terus jawabnya." Intonasi Indah terdengar menahan marah dan kesal. Tak lagi melanjutkan makan sebab nafsu makan menguap begitu saja.


"Aku udah selesai. Duluan---" Alex memundurkan kursi. Bersiap pergi dari ruangan itu. Tak ingin mendengar orangtuanya yang sepertinya bersiap bertengkar. Baru seminggu berada di rumah usai bebas dari pusat rehabilitasi. Bebas lebih cepat sebab memakai pelicin. Ia melihat suasana penghuni rumah yang berbeda. Mama Indah yang sakit-sakitan, Papa Theo yang sering berada di luar rumah.


"Alex, mau ke mana?" Theo menahan langkah sang anak yang baru berjalan 2 langkah. "Jangan keluyuran apalagi berbuat masalah lagi. Papa tidak akan mau menebus kalau kamu bikin ulah lagi!" sambungnya dengan tegas.


"Ck, orang mau ke kamar juga." Alex mendecih sambil memutar kedua bola matanya. Ngeloyor pergi dengan cepat ke arah tangga menuju lantai 2.


Theo pun menunda sendok garpunya. Tak menghabiskan makan sebab mendadak hilang selera dengan atmosfer ruangan yang kini tercipta menggerahkan hati.


"Aku ada waktu 10 menit. Mama mau ngomong apa?" Theo mengelap mulutnya dengan kain yang terlipat di samping piring.


"Jelasin soal uang dari Rahma yang tinggal 90 juta lagi. Jantung Mama sakit lagi Pa, liat mutasi banyak pengeluaran yang tanpa konfirmasi dulu." Indah berbicara dengan mengatur emosinya. Sekarang ini jika sedikit tensi kemarahan naik, akan berakibat jantungnya berdebar kencang dan sesak nafas.


"Selain bekas biaya pengobatan dan biaya ngebebasin Alex, Papa kirim uang buat siapa?!" Indah menatap penuh selidik. "Papa transfer 60 juta sampe 3 kali jarak seminggu sama Daniel, siapa dia?! Belum lagi banyak tarikan ATM. Jelasin, Pa!" sambungnya masih menahan kesal.


"Ma, jangan marah-marah. Ingat peringatan dokter, emosi bisa bikin anfal." Theo melembutkan suaranya sebelum memulai penjelasan. Jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan alasan sebagai alibi dari kebobrokan kelakuannya yang telah mengkhianati kesucian pernikahan.


"Daniel itu partner bisnis di bidang perkebunan organik. Papa mulai investasi dari sekarang biar nanti pas pensiun sudah punya cabang usaha baru. Makanya kirim dana bertahap sama dia." Theo meneguk minumannya usai berucap.


"Kalau tarik tunai, itu Papa pakai nraktir teman makan-makan. Biasalah buat ngelobi biar mau inves di perusahaan travel kita biar bisa nambah armada." Lagi-lagi Theo meneguk minuman tehnya usai berucap. Menyibukkan diri melihat ponsel menghindari menatap Indah.


"Kenapa harus pakai uang yang dari Rahma, tidak kartu lain. Lagian Papa traktir dimana sampai harus narik duit. Kan bisa gesek kartu kalau makan di restoran. Ndeso kesannya." Indah masih belum bisa menerima sepenuhnya alasan suaminya itu.


Theo menelan saliva. Alasan kedua seolah mendapat kecurigaan. "Bosan Ma, makan di restoran atau cafe. Relasi Papa mintanya makan di kaki lima yang sekarang lagi hits."


"Kartu lain yang mana? Kan yang platinum dipegang Mama. Papa hanya punya kartu gold dan saldonya gak banyak. Makanya pakai black card yang isinya uang dari Rahma." Pungkas Theo dengan berbicara tenang. Sudah mampu keluar dari ketegangan sebab tadi berkata bohong.


"Sini kartunya, Pa. Padahal rencananya Mama mau liburan keliling Eropa sama teman-teman arisan." Indah menekuk wajahnya dengan tangan terulur.


"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, Ma. Contohnya Mama yang tiba-tiba sakit jantung, Alex yang kena musibah." sahut Theo sambil membuka dompet yang ia ambil dari saku belakang celana. Memberikan black card yang sempat ia pakai untuk 'jajan' tiga kali sebelum memutuskan menyimpan sugar baby di sebuah perumahan.

__ADS_1


****


Di sofa ruang tamu yang empuk, Theo menarik pinggang wanita muda simpanannya untuk duduk di pangkuan, Lira namanya. Tubuhnya yang seksi dibalut pakaian minim, sungguh membangkitkan hasrat kelakiannya. Keluar dari rumah untuk lembur nyatanya terdampar di komplek perumahan bersama sugar baby.


"Om, aku tadi jalan-jalan ke mall. Ada tas New arrival. Beliin ya, please!" Lira merajuk manja dengan jemari lentik yang menyusuri rahang Theo. Membiarkan dadanya membusung, menantang sepasang mata yang sudah berkabut gairah untuk hanyut terperangkap.


"Minggu kemarin baru beli sepatu kan. Bulan depan aja!" Theo bersiap membenamkan wajahnya di dada Lira. Namun mendapat penolakan sang wanita dengan menahan wajah Theo.


"Aku ini perempuan zaman now, Om. Harus fashionable. Ya udah, malam ini gak ada jatah. Bulan depan aja!" Lira menekuk wajahnya. Bersiap turun dari pangkuan Theo.


"Oke, baby. Berapa harganya hmm?" Theo menarik lagi pinggang Lira dan menjatuhkannya telentang di sofa. Rok mini yang dikenakan perempuan berumur 23 tahun itu tersingkap menampakkan isinya. Membuat Theo semakin mabuk, tak kuat menahan desakan birahi yang sudah ke ubun-ubun.


"Harganya 12 juta, Om. Janji ya transfer uangnya!" Lira menutupkan kakinya mencegah Theo berbuat lebih. Sebelum ia mendapatkan apa yang diinginkan.


"Iya, sayang. Tapi servis Om 2 kali malam ini." Theo menyerah. Demi mendapatkan kenikmatan memabukkan. Yang sebelumnya belum pernah merasakan sedahsyat ini efeknya. Membuatnya selalu ketagihan.


"Dengan senang hati, Om." Lira tersenyum penuh kemenangan. Membuka lebar lagi kedua kakinya untuk menyenangkan laki-laki paruh baya itu.


Tok tok tok.


Sekali diabaikan oleh kedua orang yang sedang bergulat di sofa. Mungkin ketukan pintu di rumah tetangga.


Tok tok tok.


Ketukan di pintu lebih keras, membuat Theo dan Lira menghentikan aktifitasnya. Jelas sekarang jika pintu rumah inilah yang diketuk. Getarannya terasa merambat ke kaca jendela rumah type 45 itu.


"Kamu punya tamu?!" Theo menatap tidak suka pada Lira. Sesuai perjanjian tidak boleh ada teman atau keluarga Lira yang berkunjung ke rumah ini.


"****." Maki Theo saat ketukan kali ketiga terdengar. Ia pun bangun dan terduduk dengan perut buncit yang berkeringat. Lalu meraih kemeja yang teronggok di lantai.


"Biar aku yang lihat!" Theo menahan lengan Lira yang akan menuju pintu. Penampilan seronok wanitanya itu bisa memancing harimau lain yang kelaparan.


Theo mengintip dengan menyibakkan sedikit tirai jendela. Tak nampak sosok orang di depan pintu. Membuat keningnya berkerut. Hari belum malam, barulah jam 9. Namun suasana komplek sangatlah sepi. Orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah. Cenderung apatis dengan kehidupan tetangganya.


Penasaran, dibukanya pintu dengan sikap waspada. Melongokkan kepala ke kiri dan ke dari balik pintu yang dibuka setengahnya. Tak ada orang.


"Ehmm." Deheman terdengar bersamaan dengan sosok orang yang keluar dari balik tembok samping. Jelas membuat Theo melotot, terkejut bukan main.


"Alex?!" Theo menyebut nama sang anak dengan wajah syok dan tubuh menegang.


Alex dengan senyum menyeringai mendekat dan kini berhadapan dengan Theo yang berdiri mematung di depan pintu.


"Jadi ini ya yang katanya mau lembur...bilangnya di kantor numpuk kerjaan." Alex bersidekap tangan di dada dengan tersenyum sinis.


"Kamu ngikutin Papa?! GAK SOPAN!" Sarkas Theo menahan geram.


Alex tertawa meledek. "Asal Papa tau ya, aku gak ada niat ngikutin Papa. Aku keluar rumah pakai motor, disuruh Mama ke apotek. Pas di lampu merah motorku tepat di belakang mobil Papa. Harusnya arah kantor itu lurus, tapi mobil Papa belok ke kiri. Aku heran dong. Penasaran diikuti....ternyata lembur di sini." ujarnya dengan nada sinis.


"Siapa dia?!" Alex menatap tajam penuh selidik.

__ADS_1


"Dia siapa?! Jangan ngaco kamu." Theo membentak Alex dengan suara pelan. Bsrusaha mengelak tuduhan anaknya itu.


"Om....kok lama. Tamu siapa sih?!" Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan Lira muncul di belakang Theo dengan nada suara merajuk.


Theo menghembuskan nafas kasar, memejamkan mata. Tak berkutik lagi di depan anaknya.


Mulut Alex menganga. Menatap perempuan cantik beramput pirang sebahu yang berpenampilan seksi dengan belahan dada menantang dihiasi beberapa tanda merah. Ia bersiul sambil geleng-geleng kepala.


"Lira, masuk ke kamar. Jangan keluar sebelum Om suruh!" Theo berkata tegas campur marah. Ia tidak menyangka sugar baby nya yang tadi disuruh diam di dalam, malah keluar.


Lira dengan wajah takut, memundurkan tubuh dan berlari ke dalam. Memutus tatapan Alex yang memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Jangan ngadu sama Mama!" Perintah Theo. Begitu keduanya duduk berhadapan di sofa.


Alex duduk bersandar bertumpang kaki. Pandangannya menyapu ke seluruhan ruangan tamu yang lurus menyatu dengan ruang tv. Yang jika diukur sama luasnya dengan kamar tidurnya.


"Wajar aja Mama protes, marah-marah, liat tiap hari Papa lembur. Weekend juga tetap kerja. Pantesan.... punya daun muda." Alex mengabaikan peringatan Theo. Ia ingin puas melampiaskan kekesalannya dengan kelakuan ayahnya itu.


"Sudah berapa lama?!" Menatap sang ayah dengan galak.


"Anak kecil gak perlu tahu. Ini menyangkut kebutuhan orang dewasa. Mama kamu gak bisa penuhi, karena sakit."


Alex tertawa sumbang. "Hellow Papa, umurku 25. Papa bilang aku anak kecil yang gak ngerti urusan ************, hah?!" Jawabnya menghentak.


Theo meremas rambutnya. Rasa nikmat yang tadi belum memuncak berubah menjadi kepala yang sakit berdenyut. Ia tidak bisa menyetir anaknya untuk patuh.


"Bilang aja kamu pengen apa. Tapi jangan pernah membocorkan rahasia ini sama Mama. Mama bisa anfal." Theo melunak dengan nada suara yang lemas.


Alex tersenyum menyeringai. Menjentikkan jarinya sambil menegakkan punggung. "Ini baru penawaran yang bagus, Pa."


"Aku mau minta sertifikat rumah. Mau dipinjam buat modal usaha jual beli mobil. Bukan lagi jual beli narkoba, Pa."


"Papa jangan khawatir, pinjam hanya 1 tahun saja. Sertifikat rumah akan kembali lagi pada tempatnya." Pungkas Alex dengan wajah berbinar bisa mendapat ide dan peluang cuan yang tidak disangka-sangka.


Theo menggeleng tidak setuju. "Itu sertifikat rumah atas nama mama. Mama yang beli dan dokumennya disimpan di brankas."


Alex menggedikkan bahu. "Aku gak mau tahu urusan asal muasal rumah. Pokoknya kalau mau rahasia Papa aman, Papa harus turutin permintaan aku!" Kali ini Alex merasa di atas angin.


Theo terdiam dengan bibir mengatup. Hening 5 menit lamanya.


"Janji, 1 tahun sertifikat balik lagi?!" Theo menegaskan.


"Swear, Pa." Alex mengangkat 2 jarinya.


Theo menghela nafas berat. Keputusan harus diambil demi keamanan rahasianya.


"Oke. Deal." Ujarnya dengan nada berat.


*********

__ADS_1


Mau double up? 🤔


Sok kirim kopinya sing banyak + hamparan bunga mawar untuk Opa Mark yang berbunga-bunga mendapat bingkisan paper bag dari bu Ima.


__ADS_2