MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 126. Payung Hitam


__ADS_3

Bogor


Mark masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu yang biasanya tidak pernah dilakukannya sesiang ini sebab belum waktunya jam tidur. Namun beda kali ini, ada sesuatu di kamarnya yang membutuhkan privasi. Aneh memang. Padahal selama ini tanpa mengunci pintu pun tak akan ada orang yang berani nyelonong masuk ke kamar. Pasti akan ketuk pintu dulu, mengedepankan etika.


"Papi belajar ngaji dengan ustad Nanang. Rekomendasi dari Pak Yunus. Udah jalan 2 hari tiap jam 5 sore." Mark duduk di sofa dengan ponsel yang melekat di telinga, dipegang oleh tangan kirinya. Ia saat ini sedang menerima telepon dari Mizyan.


"Oke, Papi tunggu. Jangan ngebut-ngebut. Stop balapan di jalan, harus ingat ada anak istri yang menanti di rumah. Ingat juga, harus jadi suami siaga dan sabar kalau Rahma ngidam banyak maunya." Tangan kanannya menyentuh paper bag marun yang berada di sampingnya. Tanpa sadar mengelus-ngelus permukaannya.


"Hmm, oke. Gimana kalau sekalian aja. Papi juga pengen syukuran udah jadi manusia baru." Sahutnya diiringi kekehan.


"Wa'alaikum salam---" Mark menyimpan ponselnya. Sambungan telepon dengan sang anak sudah berakhir dengan wajah berbinar. Sebab tiga hari lagi putra kesayangannya itu akan datang.


Tuntas sudah segala kegiatan seharian ini. Sebenarnya hati sudah penasaran ingin tahu apa gerangan isi dari paper bag yang diberikan Rangga saat sedang berkuda di peternakan. Namun ia ingin membuka secara privasi di kamarnya saat malam menjelang tidur.


"Bismillah----" lirihnya dengan rasa tegang tetiba menyelimuti. Duduk sila di atas kasur empuk, membuka simpul pita warna gold yang menutup bagian atas paper bag.


Sebuah kertas meluncur jatuh begitu Mark mengeluarkan isi paper bag, berupa sebuah buku. Kertas memo bertuliskan tangan yang rapih bertinta biru. Dan ia pun tersenyum lebar. Serasa mendapat surat cinta.


The Advanture of Abu Nawas: Kumpulan Kisah-Kisah Inspiratif Abu Nawas.


Mark membaca judul buku yang tertera di sampulnya. Nama yang masih asing didengar dan belum pernah dibacanya. Meski ia hobi membaca buku dengan koleksi beragam berada di ruang perpustakaan.


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Pak Mark, mohon maaf lancang memberikan sebuah buku untuk Anda sebagai kenang-kenangan. Ini adalah salah satu bacaan favorit saya kala suntuk. Menghibur, juga mengandung pelajaran.Tak lain saya memberi karena merasa turut senang atas kabar yang saya dengar jika Anda sudah Muallaf.


Maa sha Allah


Allahu Akbar


Saya terenyuh. Semoga istiqomah dalam Iman dan Islam. Ahlan wa sahlan as a moslem.


Salam,


Fatimah


Mark merasakan dadanya penuh. Bahagia yang meluap, meluber, spontan membingkai senyum merekah. Poin penting yang membuat keriannya mengawang adalah karena perhatian dari sang bunga desa pada jamannya. Salah, baginya Fatimah Malati adalah bunga desa sepanjang jaman.

__ADS_1


Kamulah salah satu supporter yang membuat saya segera menjemput hidayah.


Mark masih menatap kertas. Mengulang lagi membaca tulisan tangan yang rapih itu.


Meraih ponsel yang tergeletak di sofa. Mark menatap jam yang tertera di layar sebelum scroll satu nama yang akan dihubungi. Baru jam 8.


Dalam 2 kali tut sambungan. Terdengar suara lembut di sebrang sana berucap salam.


"Wa'alaikum salam...hm, maaf Bu Ima apa saya mengganggu?!" Mark menjawab sambil berpindah lagi duduk bersandar di kepala ranjang.


"Oh tidak Pak, saya baru bersiap tidur." Jawab Fatimah terdengar merdu di telinga Mark.


"Memangnya biasa tidur jam berapa?" Tanya Mark sedikit melenceng dari tujuan menghubungi Fatimah.


"Seringnya tidur jam 9. Karena nanti bangun lagi jam 2 atau jam 3 untuk mengajak anak-anak sholat Tahajud."


Mark manggut-manggut. Tentu saja tidak akan terlihat oleh seseorang di ujung telepon.


"Saya mau ngucapin makasih untuk hadiahnya. Saya sangat suka." Mark kembali fokus pada tujuan. Tak ingin memberi kesan ingin tahu tentang kebiasaan wanita yang sudah menarik hatinya itu.


"Saya tidak melihat dari sisi harganya. Tapi dari ketulusan sang pemberi. Makanya ini hadiah terbaik yang saya terima. Terima kasih ya." Mark berucap tulus dengan nada riang.


"Alhamdulillah kalau Pak Mark suka." Terdengar Fatimah menghela nafas lega.


Tak ada lagi bahan pembicaraan. Butuh usaha step by step untuk lebih mengenal Fatimah secara pribadi. Mark pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan berucap salam. Tak ingin mengganggu waktu istirahat Fatimah.


****


"Ga, meeting jam 11 diundur jam 2 aja." Mark menginterupsi Rangga yang membacakan agenda hari ini usai sarapan bersama. Keduanya masih duduk di kursi ruang makan menikmati kopi hitam racikan chef Wanda.


"Jam 11 kita ke La Tahzan. Saya pengen lihat kerjanya tukang." sambung Mark. Yang mana hari ini dimulai pengerjaan roof top.


Rangga menurut. Menjadwal ulang agenda meeting menjadi jam 2 siang demi memgabulkan keinginan sang boss bertemu Bu Fatimah dengan alibi mau sidak pekerjaan tukang.


Berangkat menuju pabrik kayu, Rangga memelankan laju mobil begitu melintas di rumah Olla. Melirik sekilas ke arah halaman dengan pintu pagar setengah terbuka. Berharap bisa melihat Olla. Nyatanya nihil. Suasana depan rumah nampak sepi.


Berada 3 jam di kantor pabrik kayu, mobil yang dikemudikan Rangga kembali membelah jalanan desa menuju rumah tahfiz La Tahzan.

__ADS_1


Keluar dari dalam mobil, mengenakam kaca mata hitam Mark mengamati para pekerja bangunan yang tersisa yaitu di area musholla dan area roof top. Sehingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya untuk membalikkan badan.


Seulas senyum yang sudah lama tak dilihatnya. Senyum yang menampakkan lesung pipi yang membuat Mark terhipnotis untuk terus menatap wajah ayu sang owner yayasan dari balik kacamata hitamnya.


"Alhamdulillah senang sekali kedatangan lagi tamu agung setelah sekian lama hanya Kang Rangga saja yang datang." Ujar Fatimah melayangkan joke, diakhiri mengulum senyum.


"Bu Ima bisa aja. Kalau saya tiap hari ke sini nanti mengganggu atau dikira ada udang dibalik bakwan." Mark pun membalas joke Fatimah.


Padahal emang iya ada udang....


Rangga sok cool berdiri di belakang boss Mark mendengarkan percakapan sang boss dengan Fatimah yang sekarang tidak kaku lagi saat berbicara.


"Minta ijin saya mau ngontrol ke roof top." Tangan Mark menunjuk ke atas lantai 2.


"Tanpa ijin saya pun Pak Mark bebas keluar masuk sini. Itukan project Anda, kami sebagai penerima manfaat sangat-sangat berterima kasih." Fatimah berkata sambil mengiringi langkah sang tamu menuju tangga ke lantai 2.


Tak ada percakapan lagi selama melangkahkan kaki di tangga berikutnya di lantai 2, menuju roof top. Panas matahari siang hari terasa menyengat. Apalagi di atas masih terbuka belum ada pemasangan canopy sebab hari ini baru mulai pemetaan.


Mark berbisik pada Rangga.


Membuat Rangga segera pergi dengan tergesa setelah mendapat bisikkan bossy Mark. Fatimah tidak bertanya meski dalam hati merasa penasaran kenapa Mark harus berkata dengan berbisik.


Selang 10 menit kemudian Rangga datang lagi. Ternyata membawa payung hitam yang selalu tersimpan di dalam mobil.


"Ehhh---" Fatimah tergeragap begitu merasakan keteduhan melingkupi kepalanya. Tak menyangka ia yang fokus memperhatikan pekerja, kini dipayungi oleh sang mualaf. Membuat kedua pipinya semakin memerah perpaduan terkena panas matahari dan rasa malu.


"Pakai ini! Saya akan merasa bersalah melihat wajah putih Bu Ima tersengat panas matahari." Mark meminta Fatimah mengambil alih memegang payung hitam yang digenggamnya.


Fatimah menggeleng. Mark bergeming dengan perintahnya. Akhirnya Fatimah mengalah. Menerima uluran payung hitam.


Angel yang bagus untuk Rangga mengabadikan momen serah terima payung hitam. Di mana tangan Fatimah dan Mark berdekatan saat mengambil alih handle payung dengan view pegunungan yang hijau rimbun. Tentunya pencurian gambar tanpa disadari oleh dua orang itu. Siap dikirim ke ketua misi percomblangan. Dengan caption level naik.


Kenapa jadi aku yang gregetan lihatnya, jadi pengen gigit tembok. Hadeuhhh nasib jones....


Rangga hanya bisa menghela nafas panjang melihat adegan Bu Fatimah tersenyum malu-malu sambil memegang payung saat mendapat acungan jempol dan senyum lebar dari boss Mark.


Memilih menggeser langkah ke tepi. Menyapukan pandangan ke bawah. Siapa tahu beruntung melihat Olla di bawah.

__ADS_1


__ADS_2