MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 69. Nasehat Calon Mertua


__ADS_3

Mizyan memasuki lobi apartemen dengan satu tangan menuntun Dika dan tangan kiri menenteng tas perlengkapan Dika juga paper bag berisi sepatu roda. Ia mengulas senyum melihat Dika yang mengenakan topi dengan posisi dibalik. Berjalan dengan riang serta mengayun-ngayunkan tangan yang digenggamnya. Keluar dari lift, keduanya melangkah tak jauh menuju sebuah pintu dan langsung meminit bel. Meski langsung masuk juga bisa sebab ia memegang kartu akses tapi ia menghargai keberadaan keluarga di dalamnya.


Morgan yang membukakan pintu sambil tersenyum. Begitu akan berbalik badan mendadak urung ketika pandangannya bersirobok pada sosok bocah yang digenggam sang kakak.


"Eh, adek siapa ini---lucunyaaaa." Morgan membungkukkan badan. Tapi Dika malah menarik diri bersembunyi di balik badan papa buye.


Tingkah Dika membuat Mizyan merasa dejavu. Ia pertama kali menatap Dika di toko citarasa kala datang pertama kalinya bersama Rade dan Satya. Dan Dika bersembunyi di balik badan bundanya lalu sesekali mengintip menatapnya malu-malu kucing.


"Hai adek...kenapa ngumpet." Morgan semakin penasaran dengan tingkah Dika yang mengintip dengan sebelah mata lalu bersembunyi lagi dengan kedua tangan memegang erat ujung baju papa buye.


"Ada apa rame-rame---" Mami Kanti datang menghampiri sebab mendengar suara tawa Mizyan dan Morgan. "Miki, anak siapa?!" Ia terkaget menatap Mizyan yang menggendong bocah laki-laki lucu dengan rambut kriwil berwarna kecoklatan.


"Papa---" Dika menyembunyikan wajah di leher Mizyan. Begitulah ia jika bertemu orang baru. Perlu adaptasi untuk kembali ke mode riangnya.


"Papa?!?"


"Papa?!?"


Morgan dan Mami serempak berucap kaget dan menatap tajam Mizyan.


"Namanya Mahardika. Panggilannya Dika." Mizyan mendudukkan Dika di sisinya usai diajak salim kepada Mami Kanti dan Morgan. "Ayahnya pass away, last year."


"Ya Tuhan. Kasian sekali masih kecil." Mami menatap Dika dengan sorot mata penuh empati. "Berapa tahun usianya?"


"2,5 tahun. Anaknya pintar." Mizyan mengecup puncak kepala Dika penuh sayang. "Aku udah jatuh cinta sama anak ini. Like my son."


"Ibunya di mana?" Mami memperhatikan Dika yang mulai mencair, mau diajak Morgan bermain dengan berpindah ke depan jendela. "Kenapa malah bawa anak? Katanya mau bawa calon istri." Pungkasnya menagih janji sang anak sebelum tadi pergi.


"Mami, wanita yang akan aku lamar adalah his mom. Namanya Rahma." Mizyan memperhatikan reaksi kaget maminya yang menatapnya dengan gelengan kepala. Tak percaya.


Mami terdiam. Lalu menoleh ke arah jendela dimana Morgan dan Dika tengah berseru riang melihat pesawat melintas. "Miki, pertimbangkan lagi. Mami yakin banyak gadis yang suka sama kamu. Kenapa milih janda?"


Inilah alasan Mizyan mengapa tidak memperkenalkan langsung Rahma kepada sang ibu. Sebab ia tahu watak maminya yang spontanitas men judge seseorang. Ia tidak mau wanita pujaannya itu melihat reaksi Mami seperti yang barusan ia lihat. Susah payah mendapatkan hati Rahma sampai ada kemajuan untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Ia tidak ingin Rahma sedih, kecewa, apalagi sampai memilih mundur teratur karena merasa tidak diterima.


"Mami, gak penting soal status. Bagiku dia wanita istimewa. Kalau Mami peduli dengan kebahagiaanku, antar aku untuk melamarnya!"


Mami Kanti termenung. Membiarkan Mizyan yang beranjak menghampiri bocah itu. Seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Ia sudah berpengalaman berumah tangga dan cinta saja ternyata tidak cukup untuk mempertahankan hubungan. Ia menatap foto seorang wanita berhijab yang dikirimkan Mizyan ke ponselnya lengkap dengan caption nama panjangnya, Cut Mutiara Rahma.


Suara jeritan riang diiringi sorakan Morgan membuatnya menoleh. Mizyan tengah mengajari bocah itu main sepatu roda, sementara Morgan bersorak menyemangati. Tak menyangka anak bungsunya itu tampak senang dengan kehadiran Dika.


"Mana anak itu?" Mami menatap heran Mizyan yang datang ke meja makan sendirian.


"Tidur di kamarku. Jam 12 jadwalnya tidur siang." Mizyan menyendok nasi hangat yang berada di depannya tanpa menatap maminya yang tajam mengawasi.


"Miki, dalam menjalani pernikahan cinta saja tidak cukup, butuh kedewasaan agar bisa saling memahami keinginan masing-masing. Mami tidak ingin kamu gagal seperti Mami dan Papi." Kanti leluasa berbicara sebab Morgan tengah pergi ke tempat gym di lantai 2 apartemen.


"Mam, trust me! Aku tidak gegabah dalam memilih pasangan. Aku sudah berdoa dan Tuhan sudah memberi petunjuk jika Rahma adalah jodohku. Islam telah mengajarkanku ilmu berumahtangga, bagaimana menjalankan hak dan kewajiban suami istri. Jadi InsyaAllah aku bisa menjalaninya." Mizyan menatap Mami dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Kalau Mami tidak setuju gimana?" Kanti terus memperhatikan Mizyan yang melanjutkan menyantap lauk masakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Aku akan tetap maju dengan pilihanku. Aku akan berbakti pada Mami dalam hal lain. Maafkan aku, Mam."


Kamu benar-benar mewarisi watak papimu.


"Mami ingin bertemu Rahma malam ini juga!"


"What for?" Mizyan menyeka sudut bibirnya dengan tisu usai mengakhiri makannya. "Kalau Mami tidak setuju cukup aku saja yang tahu, Rahma jangan. Aku tidak ingin melihat lagi kesedihan di wajahnya."


Mami Kanti terkekeh. Anaknya itu benar-benar pria sejati. Begitu menjaga perasaan, tak ingin orang yang dicintainya bersedih hati.


"Mami restui kamu, sayang. Makanya Mami tak sabar ingin bertemu wanita yang sudah menaklukan anak mami ini."


Secepat kilat Mizyan memutari meja beralih ke kursi Mami. Memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu dari belakang. "Thanks, Mam." Dikecupnya pipi Mami sebagai luapan rasa bahagianya.


Kebersamaan dengan Dika di apartemen berlangsung sampai sore. Kala bangun tidur dengan telaten Mizyan menyuapi Dika makan. Lalu melanjutkan mengajari bermain sepatu roda jenis in line skate itu di taman tematik yang berada di halaman depan gedung apartemen. Usaha Papa buye membuahkan hasil. Dika mulai berani melaju sendiri, meliukkan badan ke kiri dan ke kanan.


****


Rahma mengulas senyum lebar sekaligus jantungnya berdebar kencang. Mizyan menghubunginya lewat video call. Memperlihatkan aktifitas Dika yang berjalan dengan sepatu rodanya jauh ke depan lalu berbalik lagi mendekati arah ponsel. Ia berdebar sebab takut jika Dika tiba-tiba terjatuh.


"Say hallo to Bunda!" Terdengar suara Mizyan mengomando.


"Hallo Nda---"


Yang dicemasi tampak riang melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.


"Nda, atu bisa---"


"Ya Allah, Mas. Bikin jantungku mau copot."


"Tenang, Bun. Ada coach di sini." Mizyan beralih memenuhi layar sembari menepuk dada dan mengedipkan sebelah mata.


Issh, dasar. Malah tambah tak karuan ini jantung.


Rahma memperpanjang mengelus dadanya.


Sebelum magrib Dika pulang. Bocah itu berceloteh riang di hadapan bunda juga kakek neneknya. Menceritakan kegiatan seharian ini selama bersama papa puye dengan berapi-api, tak terlihat lelah.


"Telusss...atu disuapi eskim sama Oma." Dika mengingat kenangan sebelum dirinya pulang.


Mizyan menganggukkan kepala pada Rahma yang menatapnya. Sebagai isyarat tak usah lagi grogi dengan ajakan dinner maminya malam ini. Seperti yang dikhawatirkan tadi saat dikabari untuk siap-siap dijemput. Sebab Mami Kanti bersikap baik pada Dika dan tentunya tiket restu sudah didapatnya.


"You look so beautiful tonight." Mizyan tersenyum menatap Rahma yang sudah memasang safety belt nya. Ia ikut bersama pak Badru sholat magrib berjamaah di masjid komplek. Lalu meminta ijin mengajak Rahma makan malam bersama maminya.


"Kayak lirik lagu ya." Rahma mulai terlatih tidak lagi baper dan grogi di depan calon imamnya itu. Memilih membalas dengan joke untuk menetralkan desiran halus yang timbul tenggelam di dadanya.


Mizyan tertawa lepas mendapat balasan seperti itu. Padahal ia menunggu semburat merah di pipi putih bundanya Dika itu. Kali ini ia mengakui kalah. Mungkin rangkaian katanya terlalu pasaran. Mobil sport merahnya melaju meninggalkan komplek menuju restoran hotel yang sudah direservasi satu meja spesial.


"Saya Rahma, tante." Rahma menyalami dengan takzim wanita berambut coklat yang masih tampak cantik diusianya yang tidak muda lagi.

__ADS_1


"Saya Sukanti, Maminya Miki. Eh maksud saya Mizyan." Mami Kanti yang baru datang, mempersilakan Rahma duduk lagi. "Miki itu panggilan kecilnya, panggilan kesayangan." Lanjutnya menjawab keheranan yang tampak di wajah Rahma.


Acara makan penuh kehangatan dan santai. Begitu yang dirasa Rahma setelah sebelumnya merasa berdebar sebab untuk pertama kalinya bertemu ibunya Mizyan. Dulu, ia tidak mengalami meet up seperti ini sebab Malik dan mama Indah berseteru. Orangtua Nico lah yang mewakili dan mendukung pernikahannya.


Ya Allah, Abang.


Tetiba kesedihan menyelimuti hati. Teringat akan perjuangan cinta dirinya dan Malik.


"Miki, jadi mau kapan lamarannya?"


Lamunan Rahma berlarian dan menghilang diterbangkan realita jika kini langkah masa depanlah yang harusnya ada di pikiran. Ucapan ibunya Mizyan membuatnya menoleh menatap Mizyan yang duduk di sampingnya.


"Jangan dilamain soalnya Mami hanya ada waktu 2 minggu berada di Bandung. Segerakan ya!"


"Aku maunya jum'at depan. Tadi sudah menghubungi Papi dan sahabat dekat agar bisa hadir. Alhamdulillah semuanya bisa reschedule agenda kerjanya. Siap hadir semuanya."


"Enam hari lagi?!" Rahma menatapnya tak percaya. Secepat inikah ia akan segera mengakhiri status jandanya.


"Tenang, Bun. Aku akan bantu prepare. Besok kita cari EO or WO yang siap." Mizyan tersenyum simpul menanggapi kekagetan Rahma.


Apa yang ada di benak Rahma dan Mizyan sangatlah berbeda. Dan Rahma hanya bisa menelan saliva dengan berat dan mengulas senyum tipis. Respon bahagia tampak pada wajah Mizyan dan mami Kanti.


"Aku ke toilet dulu." Mizyan beranjak meninggalkan kursinya. Ke toilet hanyalah alibi demi memberikan keleluasaan pada 2 wanita terpenting dalam hidupnya itu untuk saling akrab.


Tinggallah 2 wanita yang duduk saling berhadapan terhalang meja. "Rahma, Mami pernah kehilangan Miki belasan tahun lamanya dengan rasa bersalah yang menghantui dan rasa rindu yang tidak terperi." Ia menatap lembut calon menantunya itu. "Tahun ini jadi tahun sejarah kebahagiaan buat Mami. Karena bertemu lagi Miki kecilku, dan mendapat surprise mau menikah."


Ia meraih tangan Rahma dan menggenggamnya erat. "Rahma, Miki punya watak keras kepala yang mungkin itu bisa jadi kekurangan atau kelebihannya. Nanti jangan kaget ya. Keras jangan dilawan dengan keras lagi. Tapi lawan dengan kelembutan."


"Iya tante." Rahma mengangguk menerima nasihat calon mertuanya itu.


"Mami. Panggil Mami jangan tante!"


Rahma tersenyum meringis mendapat teguran diiringi gelengan kepala itu. "Iya, Ma mi." sahutnya masih ragu-ragu.


"Satu hal lagi." Kanti menghela nafas perlahan. "Masih ada sedikit kabut menyelimuti, terlihat jelas di matamu. Mami sudah mendengar cerita masa lalumu dari Miki." Ia mengelus punggung tangan Rahma seolah menyalurkan kekuatan. "Mulai hari ini belajarlah meninggalkan masa lalu di belakang. Tutup rapat kenangan manis itu dan simpan di sudut hati terdalam. Sekarang masa depanmu bersama Miki."


"A--aku." Rahma tercekat dan menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan mata yang berkaca. Ia tidak menyangkal apa yang diucapkan Mami Kanti. Hatinya masih bercabang.


"Mami melihat tatapan Miki yang penuh cinta. Dan Mami juga melihat tatapan cinta yang sama di matamu bersanding dengan kesedihan. Masih ada rindu pada mendiang, bukan?"


Rahma tidak bisa menyeka buliran air mata yang jatuh membasahi pipi sebab kedua tangannya digenggam erat oleh calon mertuanya itu.


"Kita sama-sama wanita, dan Mami mengerti keadaanmu. Tidak mudah memang melupakan orang yang yang kita cintai apalagi ini baru setahun."


"Tapi lihatlah Dika anakmu. Dia merindukan sosok ayah dan Miki memberikan apa yang Dika butuhkan. Miki tidak hanya cinta sama kamu tapi juga sangat sayang sama Dika."


"Jadi Mami harap, terimalah Miki sepenuh hati."


Kedatangan Mizyan yang tahu-tahu sudah duduk, tidak diketahui oleh Rahma maupun Mami sebab keduanya sedang larut dalam obrolan.

__ADS_1


"Rahma, kenapa nangis?!" Raut kaget tampak di wajah Mizyan. "Mami bicara apa sama Rahma?!" Ia beralih menatap maminya lalu mengambil tisu untuk menyeka pipi Rahma yang basah.


"Aku nangis bahagia kok Mas. Barusan Mami nasehatin aku." Rahma menggeleng menolak uluran tangan Mizyan yang menyeka pipinya. Namun Mizyan bersikeras melakukannya. Membuat Rahma merona malu dengan sikap cuek Mizyan di depan Mami Kanti yang menyaksikannya sambil senyum-senyum.


__ADS_2