
Rahma PoV
Dari rekaman CCTV di hape Mas Mizyan terlihat Dika yang turun dari sofa. Berlari ke arah meja makan dengan tangan kiri menangkup toples plastik dan tangan kanan memegang gelas melamin bekas susu. Lalu keserimpet kaki sendiri hingga jatuh dengan telungkup dan dagu terantuk di lantai. Sudah jelas sekarang. Dika bilang mau menyimpan toples dan gelas kosong ke meja makan. Musibah kecil tak terduga.
Aku melakukan kompres dingin secara pelan-pelan pada bibir bengkak itu sampai Dika terkantuk-kantuk ditambah lelah menangis. Mas Mizyan membawa Dika ke kamar utama saat aku memastikan Dika sudah tertidur lelap di pangkuannya. Ia lalu pamit keluar untuk sholat Magrib dan Isya di masjid yang jaraknya lumayan jauh sekitar 2 km.
Sambil menunggu Mas Mizyan pulang dari masjid, aku memasak capcay saja karena sedang tidak sholat. Menu sayuran untuk menemani udang asam manis yang aku masak tadi sore.
Sudah jam 8 Mas Mizyan belum juga pulang. Mengecek ke kamar, Dika tampak lelap. Kuputuskan untuk menelpon saja karena cacing-cacing di perutku sudah konser.
"Assalamualaikum--"
Aku menyimpan hape. Tidak jadi menghubungi karena orang yang ditunggu kini nongol sambil berucap salam.
"Waalaikumsalam. Kemana dulu Mas, kok telat pulangnya?" Aku menghampirinya lalu mengajak ke arah meja makan.
"Ngobrol sebentar sama imamnya. Ternyata beliau pernah sekolah di Gontor sekelas dengan ustad Ahmad." jawabnya yang lalu menarik kursi untuk duduk.
Seperti biasanya aku mengambilkan nasi dan lauk untuknya serta segelas air putih hangat. Tak ada pembicaraan selama makan. Mas Mizyan tampak khusyu menatap piring dan makan dengan cepat. Tumben seserius itu..
"Bun, aku lagi banyak kerjaan. Lusa mau meeting lagi sama Sonia, selebgram itu. Dia pengen lihat desain dan layout sementara sebelum fix. Jadi aku mau lembur dulu."
Aku mengangguk. "Jangan terlalu malam, Mas. Ingat, jaga kesehatan!"
"Oke. Aku duluan ya." Mas Mizyan mengusap kepalaku saat beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerjanya.
Aku yang baru beres makan, memilih mencuci piring kotor daripada bengong sendiri tidak ada teman bicara. Dika tertidur, Mas Mizyan kerja.
Jam 10 sebelum tidur, aku melongokkan kepala di pintu ruang kerja Mas Mizyan. Tampak dia tengah fokus membuat sketsa gambar di kertas hvs. "Mas mau dibikinin apa, teh atau susu jahe? Jangan kopi ya, kan tadi sore udah. Gak baik buat kesehatan." Aku sangat peduli dengan gaya hidup sehat. Makanya kadang cerewet pada Ayah yang suka menunda-nunda makan malah mendahulukan ngopi. Tentunya sama suami sendiri juga seperti itu, selalu mengingatkan.
"Air putih aja, sayang." Tetap fokus pada gambar tanpa menatapku.
Segelas tinggi air putih hangat aku taruh di samping kanan mejanya. Sejenak memperhatikan laptop yang menyala menampilkan gambar 3D sebuah rumah mewah. Kertas bergambar layout tiap ruangan berserakan di meja. Aku kagum pada skillnya yang mampu bekerja sendiri dan teliti tanpa kerja tim.
"Mas, aku tidur duluan ya udah ngantuk." Aku akhiri sambil menguap dan menutup mulut dengan kedua tangan.
"Duluan aja, Bun. Nanti aku nyusul. Sini kiss dulu!" Mas Mizyan menyimpan penanya. Menarik tubuhku ke dalam pangkuannya. Aku pasrah dan menikmati ciuman perpisahan sebelum tidur. Memberi balasan yang membuatnya semakin mengunci tak mau melepas pagutannya.
__ADS_1
"Jangan terlalu malam ya!" Aku turun dari pangkuannya dengan mengatur nafas dan mengusap bibir yang basah. Merasakan sekali tonjolan keras yang seolah meronta di bawahku saat duduk.
"Masih lama, sayang ?" keluhnya dengan suara serak dan wajah menyedihkan.
Aku terkekeh. Merasa geli melihat wajahnya yang memelas seolah belum makan seminggu lamanya. "Tiga hari lagi. Mau aku servis biar gak sakit kepala?" Tantangku demi menyenangkan suami.
Mas Mizyan menggeleng. "Mau puasa aja. soalnya lagi banyak kerjaan."
Aku mengangkat bahu. Sudah menawarkan diri jadi gak dosa dong. Aku keluar dari ruangannya. Masuk ke kamar, tampak Dika sudah berubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Ya sudah aku ikut tidur menyamping saja toh space makin luas jika posisi seperti itu.
Pagi hari disibukkan dengan berkutat di dapur membuat bubur buat Dika yang request ingin makan bubur. Sekalian bikin nasi goreng buat sarapan aku dan Mas Mizyan yang kini sedang olahraga di treadmill. Aku memutuskan tidak ke toko karena Dika badannya sedikit anget.
Mas Mizyan keluar dari kamar sudah berpenampilan rapih setelah mandi. Menarik kursi di hadapanku sembari menyapa Dika yang sedang makan bubur. "Lihat bibirnya....Alhamdulillah udah ga sakit ya." Ia tampak menilik-nilik dengan seksama.
"Atu jagoan, Papa." Dika mengangkat lengannya dengan jari terkepal.
"Pa, hari ini aku gak te toko. Nemenin Dika di rumah." Mas Mizyan tampak mengangguk. Ia juga tahu kalau badannya Dika sedang anget. Aku melihatnya waktu subuh meraba-raba kening Dika.
"Papa, mau pergi?" Aku menatapnya yang sedang menikmati nasi goreng dan kerupuk udang.
"Iya, ada meeting sama Arya mau bahas planning pembangunan kantor baru. Lanjut ke dokter mau laser hapus tato terakhir." ujarnya.
"Baiklah. Aku tidak akan menanyakannya. Benar atau tidak, itu masa lalu yang tidak baik untuk diungkit. Aib."
"Setelah jadi mualaf dosa terdahulunya kan terhapus. Kembali seperti bayi yang baru lahir."
"Yang penting Mas Mizyan sekarang. Dia begitu baik, protektif cenderung posesif juga. Romantis and hot...." Aku tersenyum sendiri memeluk bantal sofa. Geli dengan otakku yang jadi ngeres.
"Hm, kok jadi rindu...."
****
Mizyan PoV
Tiba-tiba aku merasa tidak enak, jantungku berdebar gelisah saat Rahma mau menceritakan soal ucapan Alex. Dugaanku jika Alex sudah menceritakan aib masa laluku. Tangisan Dika menjadi penolong jatuhnya harga diri aku di depan Rahma. Karena jujur aku tidak siap mendengarnya bertanya soal kenakalanku di masa lalu. Malu.
Aku berhasil membuat Dika yang kesakitan menjadi tenang dan terlelap. Lalu pergi ke masjid lebih awal karena khawatir Rahma melannutkan pembahasan. Lalu sebisa mungkin menghindar dengan kerja lembur sampai tengah malam. Padahal aku masih rindu ingin quality time dengannya. Lumayan, kiss night mengobati keinginan aku mencumbunya.
__ADS_1
"Mau aku servis biar gak sakit kepala?" Tawaran menggiurkan yang ingin ku jawab dengan kata yes. Lagi-lagi rasa rendah diri membuatku menjawab sebaliknya.
Aku lajukan mobil menuju alun-alun Bandung. Semalam aku kirim pesan pada Asep Oray untuk janjian jam 9 pagi bertemu di alun-alun. Padahal janji meeting dengan Arya di jam makan siang. Aku sengaja keluar dari apartemen lebih awal selain menghindari obrolan dengan Rahma juga untuk meyakinkan dugaannya soal ucapan Alex dari mulut bodyguard yang aku sewa.
"Pagi, boss!" Asep Oray memberi hormat. Ia datang 5 menit lebih awal dari aku.
"Duduk, Sep!" Menunjuk bangku kosong yang tersedia di trotoar. "Ceritakan yang detail si Alex ngomong apa saja pada istri saya!"
Asep Oray terlihat mengerutkan kening sebelum bicara. Seperti sedang mengingat-ngingat.
"Si alex bilang Anda menikahi Bu Rahma hanyalah modus untuk mengincar warisan dari Malik. Dia mau membuktikan dengan menyetel rekaman di hape tapi Bu Rahma menolaknya dengan alasan lagi sibuk. Terus si Alex..." Asep Oray memandangku dengan dengan tatapn sungkan.
"Bilang aja seadanya!" Aku menguatkan.
"Katanya jangan percaya sama mulut manis mantan casanova itu. Anda dibilang sudah expert merayu wanita. Siapapun wanita akan bertekuk lutut menyerahkan tubuhnya sama Anda karena punya modal tampang yang menunjang."
"Katanya juga, Anda keluar kota bukan urusan kerja. Tapi lagi holiday sama model seksi. Tidak ada player yang benar-benar tobat. Dia akan kembali ke watak aslinya."
"Maafkan saya boss. Saya menyampaikan seadanya." Asep Oray menundukkan wajah merasa tidak enak hati padaku.
"Ada lagi?" Tanyaku datar. Berusaha meredam rasa marah yang bergolak di dada.
"Tidak ada, boss. Segitu saja."
"Nuhun, Sep. Kamu boleh pergi!" Aku mengusap wajah dengan kasar dan berucap istigfar. Masih duduk di bangku panjang meski Asep Oray sudah pergi. Benar dugaanku kalau Alex sudah membocorkan aibku. Lalu lintas yang ramai lancar sepanjang wilayan Masjid Bandung Raya tersambung mengitari alun-alun sama sekali tidak menarik perhatian. Aku sedang berpikir keras untuk mengambil sikap yang tidak boleh gegabah. Kutarik nafas panjang dari hidung dan membuangnya dari mulut, berkali-kali, sampai emosiku menjadi reda dan tenang.
"Ya Allah, aku mohon jaga pernikahanku. Jangan sampai aib masa lalu membuat Rahma membenciku." Aku menundukkan wajah dengan mata terpejam. Aku percaya, hanya Allah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Dua kali panggilan tersambung tapi Kang Hendra belum mengangkatnya. Aku butuh bertemu dengannya sekarang. Kuputuskan, sudah waktunya memberi pelajaran pada bocah ingusan itu.
"Assalamualaikum--"
Lega rasanya, akhirnya telponku dijawab setelah panggilan ke tiga kali.
"Waalaikumsalam. Kang bisa ketemu sekarang? Aku ada perlu penting."
"Bisa, Mas Mizyan. Kesini aja ya, aku ada di rumah singgah. Lagi ngajar anak-anak praktek wudhu."
__ADS_1
"Oke. On the way--"