
Mendengar nama Rahma disebut, tentunya menggelitik rasa penasaran Mizyan. Ia mengikuti mobil Alex yang memberikan sein ke kiri memasuki parkiran sebuah cafe. Ia keluar dengan cepat dari mobilnya dan sudah berdiri di samping mobil memperhatikan Alex yang baru turun.
Meja outdoor paling ujung yang tidak terganggu lalu lalang orang menjadi tempat duduk keduanya. Mizyan menatap tajam sosok di depannya yang mulai menyalakan rokok.
"Gue nggak ngerokok." Mizyan menolak rokok yang disodorkan Alex. Sejak divonis si junior tidak bisa bangun, ia berhenti total dari merokok.
"Sorry waktuku tidak banyak. Gue lagi ada urusan. Lo mau ngomong apa?" Ia menatap Alex yang mengepulkan asap rokok dengan santainya.
"Oke, to the point. Lo deketin Dika untuk dapetin emaknya bukan?"
"Urusannya sama lo apa?" Mizyan mulai memindai gestur Alex dari balik kaca mata hitam yang dipakainya. Merasa ada sesuatu niatan yang tersembunyi.
"Lo jawab aja dulu. Yes or no?!"
"Yes." Mizyan menjawab cepat hanya untuk mengorek maksud dan tujuan Alex.
"Sudah gue duga." Alek tersenyum menyeringai. "Lo udah tahu kalau Rahma janda kaya. Rahma dan anaknya punya warisan banyak dari Malik. Kalau bukan untuk kuasai hartanya ngapain lo deketin janda. Cewek SMA juga gak akan nolak pesona lo bukan? Secara lo kan casanova." Ia tergelak mengejek dengan diiringi hembusan asap rokok yang dikepulkan ke atas.
Mizyan mengepalkan tangan kirinya yang ada di bawah meja. Ucapan Alex yang mengungkit masa lalunya membuat emosinya terpancing.
Dua gelas kopi sudah dihidangkan pelayan di meja. Namun Mizyan menyipitkan mata melihat Alex yang mengeluarkan minuman dari waist bag nya. Vodka.
"Terus kalau sudah tahu lo mau apa?"
Alex meneguk minumannya dua kali tegukan lalu menyimpannya lagi ke dalam tasnya. "Gue akan dukung lo sampe bisa nikahin Rahma. Ngomong aja kalau butuh bantuan gue." Ia lalu mencondongkan badannya ke depan sambil berkata pelan. "Dengan syarat warisan Malik kita bagi 2. Lo hanya perlu ambil dokumennya, gak ribet. Gimana deal?"
Mizyan mengaduk vanila latte miliknya dengan tenang. Menyeruputnya secara perlahan sebab masih panas. "Lo tega khianati Malik, kakak lo sendiri?"
"Bokap gue nikah sama Mama Indah. Masing-masing bawa anak yaitu gue dan Malik. Gue sama Malik sama sekali gak ada ikatan darah." Alex tampak mulai mabuk dan bicaranya mulai meracau sambil tertawa-tawa. Diteguknya lagi vodka yang ia rogoh dari tasnya.
"Ha ha---kasihan juga si Malik punya nyokap gila harta. Asal lo tahu bro, nyokap lagi deketin Rahma biar bisa ngambil Dika. Ujung-ujungnya mau nguasain kebon sengon, ha ha---" Mata Alex sudah memerah dan kini menggoyang-goyangkan kepala mengikuti backsound musik yang terdengar seantero cafe.
"Kebon sengon?!" Mizyan mengernyit heran. "Adanya di mana?!" Ia menatap tajam Alex yang kepalanya terkulai di meja dengan mata yang teler. Dulu ia biasa bergaul dengan berbagai karakter orang di klub. Sehingga ia bisa menilai jika Alex adalah anak manja pengangguran dengan pergaulan bebas yang bisanya hanya menghabiskan duit orangtua.
"Hai bangun lo." Mizyan mengguncang bahu Alex yang dinilainya bodoh sebab minum alkohol berlebihan tanpa aturan. "Bilang dulu kebon sengonnya ada di mana." Ia menepuk wajah Alex dengan keras. Agar di tengah ketidaksadarannya itu mau membocorkan lebih banyak hal.
"Di Bogor, broh---" Alex meraih kopi yang ada si meja untuk mengusir pusing yang memberatkan kepalanya. "Gue udah nyuruh orang mata-matain. Bentar lagi masa tebang sengon. Ada seribu pohon....lo bayangin jika 1 pohonnya rata-rata 2 juta....kita bisa hepi-hepi dikelilingi model seksi...liburan keliling dunia." Ia berdiri sambil meliukkan tubuhnya dan tertawa-tawa.
Dasar bocah ingusan.
Sebelum semuanya menjadi kacau sebab Mizyan bisa menduga sebentar lagi si Alex akan muntah, ia bergegas pergi dengan meninggalkan selembar uang di bawah cangkir kopinya.
****
Tiba di pesaantren, Mizyan langsung menuju rumah utama. Sudah 3 kali berucap salam sambil berjalan memasuki ruang tengah, namun tidak ada orang yang menyahut. Sepi.
Begitu keluar rumah ia berpapasan dengan Olla yang akan masuk. "Olla, di dalam nggak ada orang. Pada ke mana?"
__ADS_1
"Uwa baru aja berangkat safari dakwah agenda ke Garut, Tasik dan Ciamis. Pulangnya nanti jumat."
"Kalau Pak Yunus?"
"Bapak sama Ibu udah pulang ke Bogor tadi abis Duhur."
Mizyan menghembuskan nafas panjang. Kenyataan saat ini sungguh di luar ekspektasinya. Ia merasakan kepalanya berdenyut sebab kurang tidur dan masalah baru yang muncul. Kehidupan Rahma dan Dika ternyata dikelilingi orang-orang serakah.
"A Iyan ada perlu sama Uwa dan Bapak?"
Pertanyaan Olla menyadarkan Mizyan dari lamunan. "Tadinya iya. Tapi gak papa lain waktu aja." Ia pun pamit meninggalkan Olla yang berdiri di hadapannya.
"A Iyan, tunggu!"
Mizyan membalikkan badannya yang sudah turun dari teras dengan kedua alis saling bertaut.
"Minggu depan sudah mulai libur kenaikan kelas. Aku mau pulang ke Bogor. Nanti jadi kita ngetrail bareng?"
Mizyan tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "InsyaAllah."
Olla mengulas senyum senang. Matanya berbinar menatap punggung Mizyan yang pergi sampai menghilang menuju paviliun.
Di kamarnya Mizyan duduk terpekur di tepi ranjang. Pembicaraan semalam dengan ustad Ahmad dan Pak Yunus, pembicaraannya dengan Alex tadi, menjadi 2 permasalahan yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan pemikiran matang. Terutama dengan Alex dan ibunya, tidak boleh gegabah apalagi lengah dari menjaga Rahma dan Dika.
Bang Kemal.
"Dasar adik nakal--"
"Kau kenapa jadi pelit, jadi susah kalau disuruh datang."
"Apa harus disiapin red carpet buat nyambut kau dbandara hah?"
"Mau ngapain kau telpon aku?!"
Mizyan malah tertawa menanggapi Kemal yang langsung merepet begitu menerima panggilan teleponnya. Sudah 3 kali Kemal membujuk agar menyusulnya ke Medan untuk mengikuti prosesi peletakan batu pertama pembangunan homestay. Namun ia menolak, memilih mengirimkan hasil rancangannya via email. Sebab di Bandung lebih penting, tengah menunggu jawaban Rahma.
"Bang, aku diterima." Ia segera memotong Kemal yang akan berucap lagi.
"Diterima apa?!" Terdengar nada bingung dari sebrang sana.
"Lamaranku diterima dia tadi siang. One step closer to be halal." Mizyan tersenyum lebar begitu bayangan Rahma yang merona kala cincin sudah tersemat di jari manisnya.
"Alhamdulillah. Ini baru good news. Congrats my brother. Kapan hari H nya, Le? Aku akan datang ke Bandung."
"Nanti, bang. Lamaran resmi juga belum. Aku bingung bang---" Mizyan menghembuskan nafas kasar.
"Kalau mau curhat ke sini aja entar jam 7 malam. Aku baru tiba di Bandung. Nanti aku shareloc."
__ADS_1
"Really?!" Mizyan mendadak bangkit dari duduknya sambi membelalakkan mata. Merasa surprise dengan ucapan Kemal barusan.
Hampir saja Mizyan ketiduran lebih lama jika Dado tidak mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Ia mengerjapkan mata, mengumpulkan nyawa yang terserak sambil melirik jam yang menempel di dinding. Jam 5 sore. Berarti ia tertidur setengah jam lamanya. Lumayan memghilangkan penat di kepala.
Ia membuka pintu dengan mulut yang terus menguap. "Ada apa, Do?"
"Ini ada titipan dari teh Olla." Dado mengangkat rantang susun 3 yang dipegangnya.
"A Iyan tumben tidur sore, biasanya tidak." Dado menatap heran Mizyan yang bermuka bantal dan menguap lagi.
"Kecapean, Do. Ditambah malam kurang tidur." Mizyan pun melenggang menuju kamar mandi untuk mengguyur badannya yang lengket.
Selepas magrib, berdua dengan Dado, ia memakan nasi lauk pemberian Olla. Meski ia tahu ini sebagai bentuk perhatian Olla padanya. Tak dimakan sayang mubazir dan mungkin Dado akan melaporkan dengan polosnya.
Mizyan membuka shareloc yang dikirimkan Kemal. Ia tahu pasti alamat hotel itu sebab tadi siang baru saja dari sana selesai menghadiri meeting. Kali ini tempat janjian dengan Kemal di coffee shop hotel.
"Fahmi mana, Bang?" Mizyan memilih duduk berhadapan usai berpelukan dengan boss batubara yang sudah dianggapnya kakak sendiri.
"Aku pingit di kamar. Kau kan mau curhat pribadi bukan mau bahas kerjaan."
Mizyan acungi jempol dengan pengertian dan perhatian Kemal. Ia memilih pesan minuman Kiwi Punch Soda berbeda dengan Kemal yang memesan kopi espresso.
"Aku udah melangkah lebih maju sesuai yang aku harapkan. Tapi kini jadi khawatir, Bang."
"Masalahnya?!" Kemal menatap santai ke arah Mizyan yang tampak serius.
"Junior sampe sekarang belum sembuh juga. Bisa gagal nikah kalau gini, Bang." Mizyan meremas rambutnya sebagai refleksi rasa gundahnya.
"Ya sudah museumkan aja tuh senjata kalau gak guna. Rugi wajah ganteng tapi senjata tumpul."
"Bang!!!" Mizyan melotot kesal mendapat ledekan Kemal yang watados (wajah tanpa dosa)
"Le, aku lebih suka lihat kau yang over confident. Bukan yang melempem gini kayak krupuk kena air."
"Oke, kita bicara sebagai pria dewasa." Kemal menegakkan punggungnya dengan tangan bersidekap di meja mengahadapi dua gelas minuman yang belum disentuh.
"Le, pengalamanku dulu membuktikan, saat men cum bu perempuan gimanapun cantik dan bohaynya rasanya tak senikmat saat men cum bu istri. Hanya ngikuti ***** saja."
"Tapi kalau menyentuh istri, karena dilakukan dengan sepenuh hati yang didasari rasa cinta yang dimiliki, gairahnya menjalar ke seluruh tubuh, seolah sengatan listrik yang akan menghidupkan sel-sel sensorik."
"You know what I mean."
"Go ahead, never give up, Le."
Mizyan terdiam meresapi ucapan panjang lebar Kemal yang memotivasinya. Benar, rasa percaya diri sebagai keyakinan menjadi kunci utama.
"All right, Bang. Bismillah. Go ahead!"
__ADS_1