MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 135. Iman


__ADS_3

Fatimah melipat mukena. Baru saja selesai mengaji selepas subuh. Sejenak termenung mengingat percakapan semalam di mobil bersama Pak Mark. Baru berasa malu menyeruak dan membuat kedua pipinya memanas dan merona. Entah dorongan dari mana ia begitu berani memberi jawaban saat itu juga. Ada rasa takut jika Mark berubah pikiran jika tidak diberi jawaban saat itu juga. Itu karena ia pun sudah menyimpan rasa sejak menerima payung hitam di rooftop. Bahkan tak sengaja bersentuhan tangan saat menerima uluran payung itu. Dampaknya, timbul desiran aneh yang sudah lama menghilang. Tak pernah lagi merasakan sejak kepergian sang suami untuk selama-lamanya.


Fatimah beranjak keluar dari kamar. Berpapasan dengan Faisal yang baru pulang dari musholla.


"Fais, teteh mau bicara dulu." Fatimah lebih dulu duduk di kursi ruang keluarga. Yang lalu diikuti Faisal sang adik.


"Ada apa, teh?" Faisal membuka kopiahnya sambil menatap sang kakak.


"Semalam Pak Mark melamar teteh secara pribadi." Fatimah tidak malu berucap pada adiknya yang sangat dekat itu.


"Terus jawaban teteh?!" Faisal masih bereaksi datar.


Fatimah menghela nafas panjang sebelum menjawab. Mengatur jantung yang tiba berdegup kencang begitu bayangan wajah Mark melintas di pikiran. "Teteh menerimanya. Karena sebelumnya teteh sudah memimpikan kedatangan dia selama seminggu berturut-turut. Mungkinkah ini arti dari mimpi Teteh." Pungkasnya sedikit ragu di kalimat akhir ucapannya.


Faisal tersenyum sumringah. "Bukan mungkin lagi Teh, tapi yakin mimpi itu petunjuk bahwa Pak Emsi adalah jodoh Teteh. Allah tidak akan salah memberikan petunjuk pada hamba-Nya yang beriman."


"Teteh, ingat gak waktu selesai berjamaah Isya, Mas Mizyan mengajak aku bicara empat mata?!"


Fatimah menganggukkan kepala.


"Dia meminta ijin sama aku untuk mendekatkan Papinya dengan Teteh. Dia sangat berharap Teteh bisa menjadi pendamping hidup Papinya."


"Anaknya udah mendukung. Bapaknya udah melamar Teteh. Mau nunggu apa lagi? Coba tanyakan mau khitbah dulu atau mau langsung akad?" Faisal menggoda kakaknya.


"Apaan sih...belum juga sehari masa Teteh harus nanyain soal itu." Fatimah mencebikkan bibir. "Teteh gak akan nanya tapi akan nunggu." Pungkasnya.


****


Mizyan sudah bersiap untuk pulang lagi ke Bandung siang ini. Memilih perjalanan siang karena menuruti permintaan bumil yang moodnya lagi berubah, menginginkan perjalanan siang. Berbeda dengan saat berangkat yang meminta perjalanan sore. Ia dengan senang hati siap mengabulkannya.


Pintu yang di dorong dari luar membuat Mizyan menoleh. Ia memilih ruang perpustakaan untuk melanjutkan membuat sketsa gambar villa sekaligus meeting virtual dengan Jason di Surabaya.


"Sudah beres belum kerjanya?!" Papi Mark hanya melongokkan kepala. Tidak ingin menggganggu jika anaknya belum selesai dengan pekerjaannya.


Mizyan menekan bersamaan keypad ctrl & s untuk menge save filenya. "Sudah beres, Pi. Masuk aja!"


"Jadi pulang siang ini?!" Ujar Papi Mark yang duduk berhadapan dengan sang putra.


"Iya, Pi. Lusa aku harus ke Bali menghadiri RUPS. Bang Kemal mewanti-wanti aku untuk datang." Jelas Mizyan sambil menutupkan laptopnya.


"Rahma sama Dika diajak?!"


"Nggak, Pi. Soalnya aku di Bali cuma 2 hari. Gak bisa santai liburan karena harus balik lagi ke Bandung. Ada bisnis sama temen di Lembang. Lagian pregnant Rahma masih rawan. Nanti aja trimester kedua liburannya."


Papi Mark mengangguk mengerti.


"Papi mau ngelamar Bu Ima kapan?" Mizyan beralih topik. Ia bisa menebak kedatangan Papi Mark untuk membahas soal bu Ima.

__ADS_1


"Besok Papi akan datang silaturahmi bertemu keluarganya Fatimah."


"Soal lamaran resmi, Papi nunggu kamu kapan bisanya nganter?"


"In syaa Allah, Pi. Minggu depan aku ke Bogor lagi. Siap nganter Papi melamar Bu Ima." Mizyan mengangkat tangan kanan memberi hormat. Diakhiri tawa lepas sebab Papi Mark melempar dadanya dengan bulatan sampah kertas yang ada di meja sebelum beranjak meninggalkan ruang perpustakaan.


"Ada yang lupa." Papi Mark membalikkan badan dan kembali duduk di kursi yang tadi.


"Miki, apa semalam pohon tumbang bagian dari skenario?" Papi Mark menatap tajam Mizyan dengan sorot penuh menyelidik.


Ditanggapi Mizyan dengan menepuk dada penuh rasa bangga.


"Papi harus berterima kasih pada anakmu ini. Aku totalitas membantu Papi. Kan gara-gara jalan ketutup, Papi bisa nembak Bu Ima." Ujarnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Papi Mark kembali melemparkan bulatan kertas ke dada Mizyan. Dan berlalu pergi meninggalkan ruang perpustakaan dengan iringan tawa lepas Mizyan yang berhasil membuat sang ayah speechless.


****


Perjalanan pulang ke Bandung ditempuh dengan kecepatan sedang dan tiba di apartemen sore hari pas adzan magrib. Mizyan harus menggendong Dika yang tertidur setelah keluar dari rest area tol sampai tiba di Bandung.


Dika sudah direbahkan di kamarnya bersama boneka sapi Opa yang reflek dipeluknya. Mizyan tak lupa memberi kecupan di kening Dika sebelum pergi ke kamar utama.


Dengan cuek Mizyan nyelonong masuk ke kamar mandi dengan tubuh polos. Mengagetkan Rahma yang sedang membersihkan badan di bawah guyuran air shower yang hangat.


"Aku belum selesai." Protes Rahma.


"Yang ada mandinya malah makin lama." Rahma mencubit tangan suaminya itu yang mulai nakal meraba-raba.


Membuat Mizyan tertawa. Lalu meminta Rahma menyabuni seluruh tubuhnya sampai rata dari atas sampai bawah.


"Hadeuh...bayi gede." Rahma menggeleng. Tak urung menuruti permintaan Mizyan yang tersenyum penuh kemenangan.


"Kita berjamaah ya, Pa." Rahma lebih dulu selesai, memakai bathrobe dan membungkus rambutnya yang basah.


"Iya, Bun." Sahut Mizyan yang sedang menggosok-gosok badannya.


Dika sudah tidur. Menjadi waktu luang bagi Rahma dan Mizyan untuk tetap di atas sajadah sambil mengaji. Menunggu adzan Isya yang tinggal 17 menit lagi.


"Gak ke masjid, Pa?!" Rahma menatap Mizyan yang setelah menyimpan 2 buah Al-Qur'an di atas nakas lalu merebahkan kepala di pangkuannya sambil meluruskan badan.


"Lagi males, Bun." Mizyan berubah menyamping sambil memeluk perut Rahma yang berbalut mukena.


"Pernah mendengar kalimat Al imanu yazidu wa yanqush?!" Rahma meminta Mizyan mengangkat kepala dulu untuk meluruskan kaki yang kesemutan.


"Sering mampir di telinga tapi lupa artinya apa." Mizyan beralih tiduran telentang sambil menatap wajah Rahma untuk mendengarkan penjelasan.


"Artinya iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Seperti itulah iman manusia, fluktuatif."

__ADS_1


"Kamu benar, sayang. Seperti yang aku rasakan sekarang ini, berat banget melangkah ke masjid. Selain cape juga jauh. Ah tapi bukan itu alasannya, motor or mobil kan ada. Yang pasti lagi males." Mizyan meralat ucapannya sendiri.


"Gimana cara agar iman bertambah?" Mizyan tertarik mengorek wawasan sang istri.


"Sama halnya batre ponsel, iman juga harus sering di charge. Salah satu yang dicontohkan Nabi adalah dengan terapi kalimat Tahlil. Yaitu perbanyak ucapan Laa ilaha illallah."đŸŒ»


"Sesimpel itu?!" Mizyan mengerutkan keningnya.


Rahma mengangguk.


"Meskipun mudah, nyatanya tidak banyak yang bisa mengamalkannya. Mungkin karena tidak mengetahui keutamaannya. Atau dunia terlalu menyibukkan kita. Hingga kita tak sempat berdzikir dan memperbanyak mengucap kalimat tahlil."


Membuat Mizyan bangun dan terduduk sila berhadapan dengan Rahma. Sungguh menarik, sharing yang membakar semangatnya.


"Tapi banyak yang bisa berucap tahlil tapi kelakuannya ya gitu deh---" Mizyan menggedikkan bahu.


Rahma mengangguk. "Memang iya."


"Bisa jadi orang yang demikian hanya mengucapkan tahlil tanpa menyelami maknanya. Hanya membaca di bibir saja. Sehingga ia menyatakan la ilaha illallah tetapi tidak beribadah kepada Allah."


"Ia mengatakan la ilaha illallah tetapi tidak berdoa hanya kepada Allah."


"Ia menyebut la ilaha illallah tetapi tidak bergantung hanya kepada Allah."


Mizyan terpana dengan penjelasan rinci sang istri. Merasa bangga dan makin cinta. Semakin tergali sisi lain istrinya yang memiliki wawasan keilmuan yang tidak pernah ditunjukkan. Dalam arti, tidak bersikap menggurui dan mendikte dirinya. Yakin, istrinya itu lebih tinggi ilmu agamanya dibanding dirinya.


"Idih...kenapa senyum-senyum?!" Rahma melambaikan tangan di wajah Mizyan yang dikiranya melamun.


"Aku mau ke masjid!" Mizyan mengecup bibir Rahma sebelum bangkit.


"Ishh, kan jadi batal." Rahma mengerucutkan bibirnya. Sebal.


"Gampang....wudhu lagi biar makin cantik." Mizyan mengambil kunci motor dari laci meja rias. Merapihkan baju yang kusut usai rebahan tadi.


Rahma hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban enteng suaminya itu.


"Pergi dulu, sayang." Lagi, Mizyan mengecup bibir Rahma. Masih kurang. Lanjut me lu mat bibir yang selalu menjadi candu itu


"Jangan ngebut, jangan ngetem. Abis Isya langsung makan!"


Mizyan terkekeh dan menjawil dagu bulat sang istri dengan gemas. "Abang bukan tukang ojeg, Neng."


******


đŸŒ»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Perbarui iman kalian” Lalu ditanyakan, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?” Beliau pun menjawab, “Perbanyaklah ucapan Laa ilaha illallah.” (HR. Ahmad dan Hakim dalam ‘Al Mustadrak ‘ala Shahihain)

__ADS_1


__ADS_2