MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 87. Hari Pertama di Bogor


__ADS_3

Bogor


Bunyi raungan keras yang berasal dari knalpot motor trail membelah jalan di kawasan kebun sengon. Melibas jalan setapak yang teduh sebab rindang yang berasal dari pepohonan sengon yang tinggi menjulang. Bagian dalam kebun menjadi medan yang cukup menantang untuk penggemar olahraga yang memacu adrenalin itu. Lokasi yang lumayan jauh dari pemukiman penduduk, sehingga suara bising knalpot motor itu tidak mengganggu warga sekitar.


Keberuntungan sedang tidak berpihak bagi rider motor trail tersebut. Jumping yang dilakukannya mendarat tanpa keseimbangan. Membuat motor oleng dan terjatuh ke sebelah kanan. Spontan sang rider melompat terlebih dahulu demi menghindari tertimpa badan motor. Membuat tubuhnya berguling-guling sebab medan yang menurun dan baru berhenti begitu ada seseorang menahan tubuhnya sebelum terbentur batang pohon sengon.


Rangga. Sosok pria berbaju trail lengkap yang menolong rider yang jatuh itu membuka helm crossnya. "Kamu gak papa?" sembari menarik tangan untuk membantunya duduk bersandar di batang pohon. Namun mendapat tepisan halus sembari gelengan kepala dari orang yang ditolongnya itu.


"Buka helm kamu, Olla. Minum dulu!"


Sesaat rider yang jatuh itu membatu menatap tajam dari balik helm full face terhadap lelaki yang menolongnya itu. Merasa heran orang itu tahu akan namanya. "Kamu tau dari mana nama saya?" menatap lagi dengan kedua alis bertaut usai membuka helmnya.


Rangga tersenyum. Ikut duduk dengan memberi jarak. "Minum dulu. Nanti saya jelasin." Tak ada jawaban dan reaksi mengambil botol yang disodorkan. "Ini masih baru. Belum saya minum." Ujarnya memperlihatkan tutup botol air mineral yang masih bersegel.


"Ada yang luka atau cedera tulang gak?" Rangga memperhatikan Olla yang minum dengan selonjoran kaki lurus ke depan.


Olla menggeleng. "Alhamdulillah gak ada. Saya pakai pelindung lengkap." Sembari mengecek menggerakkan kedua tangan, menekuk kedua kaki dan meluruskan. Memutar pinggang ke kiri dan kanan. Merasa tidak ada yang sakit.


"Baguslah." Rangga tampak berwajah lega.


"Kamu siapa? Tahu nama saya dari mana?" Olla tergelitik rasa penasaran untuk mengetahui lelaki yang duduk di samping kirinya yang duduk memeluk lutut.


"Saya Rangga. Bukan siapa-siapa, hanya orang biasa. Saya pernah melihatmu di pesantren waktu mengantarkan mobil milik Mizyan." Sahutnya dengan santai. "Ibu guru Olla yang mengajar di pesantren Bandung. Dan kini pindah mengajar di sekolah islam terpadu di Bogor kota. Benarkan?" Ia mengangkat kedua alisnya, menatap Olla yang terkejut.


"Yang tidak hadir waktu pernikahan Mizyan. Mungkin karena patah hati, jadi memilih pulang ke Bogor dan menetap di sini."


Membuat Olla terkejut untuk kedua kalinya. "Sok tau kamu." Mengeles, meski dalam hati membenarkan jika kala itu hatinya tidak sanggup melihat lelaki yang disukainya berbahagia bersanding di pelaminan. Ia hanya wanita biasa yang bisa sakit dan terluka sebab cinta bertepuk sebelah tangan.


"Malah bengong, Neng." Rangga menatap lurus gadis yang terpekur menatap tanah kering berumput liar di depannya. "Tenang aja saya tidak ada maksud untuk mengejek. Justru ingin menghiburmu. Boleh kita berteman?" Sembari mengulurkan tangan. Namun tak ada sambutan, malah tatapan tajam penuh selidik. Ia pun menarik tangan, menjatuhkannya lagi di samping badan.


"Ada hubungan apa kamu sama A Iyan? Apa dia yang bilang soal saya? Terus kenapa kamu tau saya ada di sini?" Olla belum tuntas dengan rasa penasarannya. Mececar Rangga dengan tiga pertanyaan.


"Sudah dibilang tadi, saya hanya orang biasa. Sopir dari bapaknya Mizyan."


"Maksudmu sopir Pak Emsi?" Olla ingin memastikan. Dan mendapat anggukkan Rangga.


"Mizyan tak pernah bicara soal privasi. Justru matamu yang berbicara. Cara kamu memandang Mizyan saat saya melihatmu di pesantren, ada binar cinta. Cara kamu memandang Mizyan saat lamaran, ada sorot luka."

__ADS_1


"Saya bukan stalker yang lagi buntutin kamu. Saya di sini lagi survey pohon-pohon yang siap tebang untuk dilaporkan ke boss. Kebetulan dengar ada suara motor trail. Dan saya perhatikan cara bawanya kasar. Bukan nyumpahin ya, udah saya prediksi kamu akan jatuh."


"Hanya mengingatkan jika suasana hati lagi galau, jangan pernah lakukan olahraga ekstrim ini, bahaya. Nyawa taruhannya!"


Olla mengatupkan bibir. Tidak menyangkal atau ada niatan mendebat penjelasan panjang lebar pria tampan dan cool yang duduk di samping berjarak 1 meter itu.


"Saya mau pulang. Makasih untuk pertolongannya." Olla bangkit berdiri memilih menyudahi obrolan dengan pria asing baginya itu. Menepuk-nepuk celana dan baju yang kotor oleh tanah dan rumput kering yang menempel.


"Yakin masih bisa bawa motor?" Rangga ikut berdiri. Mengekori Olla yang berjalan naik menuju motornya di atas.


"Saya baik-baik saja, gak cidera." Jawab Olla tetap berjalan menaiki tanjakan tanpa menolehkan wajah.


Rangga berinisiatif memeriksa kondisi motor trail produk Kawasaki itu secara teliti. "Motornya masih on fire, fisikmu juga prima. Hanya hatimu yang kurang fit. So, hati-hati bawa motornya. Ingat, FOKUS!" ulasnya menekan kata diakhir sembari tersenyum tipis.


Olla tidak menjawab. Memilih menaiki motor, menstater sampai terdengar raungan memekakkan telinga bagi yang tidak suka mendengar bunyinya. "Saya permisi duluan. Assalamualaikum!" Ia melesat pulang usai helm cross full face terpasang sempurna melindungi kepala.


Rangga berdiri di tempatnya, menatap lurus sampai kuda besi itu hilang dari pandangan.


Kalau jodoh tak akan kemana bukan?


Relung hatinya berharap. Biarkan saja waktu yang menjawab. Ia mengangkat kedua bahu sembari sudut bibirnya tertarik melengkungkan senyum. Merasa geli sendiri dengan monolog hatinya. Ia melenggang menuju motor yang tersandar di batang pohon. Bersiap pulang menuju villa.


****


Mizyan memarkirkan mobil di samping Jeep Rubicon milik sang ayah. Yang ternyata orangnya berada di teras, duduk santai di kursi goyang, bertumpang kaki sembari sela jarinya mengapit cerutu yang mengepulkan asap. Tergesa ia menggerus ujung cerutu begitu melihat yang ditunggu-tunggu sudah datang. Tak ingin Dika sang cucu yang masih batita itu, terbiasa melihat orang dewasa merokok di depan mata.


"Papi, sehat?" Mizyan terlebih dahulu mencium tangan, merangkul Papi Mark yang berdiri menyambut dengan senyum lebar.


"So far so good, Miki." Papi Mark menepuk-nepuk punggung anak semata wayang, dengan bahagia membuncah memenuhi dada.


Giliran Rahma yang mencium tangan sang mertua dengan takzim. Dengan Dika yang menggelayut memegang ujung tunik dan kepalanya mendongak menyaksikan interaksi para orang dewasa itu. "Papi ada titipan salam dari Ayah dan Uma."


Papi Mark mengangguk. Mengusap puncak kepala sang menantu sembari mengulas senyum. "Salam kembali untuk beliau. Padahal ajak juga ke sini."


"Lain waktu katanya, Pi. Ayah dan Uma lagi ada kesibukan." Jawab Rahma yang kemudian menyuruh Dika untuk memberi salam.


"Opa, sapinya mana?" Usai mencium tangan, Dika menatap pria bule paruh baya yang menggendongnya.

__ADS_1


Membuat Mark tertawa dengan kepolosan Dika begitu juga Mizyan dan Rahma.


"Dika harusnya nanya apa kabar Opa, bukan nanya kabar sapi." Sembari Mark melangkah mamasuki pintu rumah yang terbuka tanpa menurunkan Dika, disusul Rahma di belakangnya.


Mizyan yang berjalan paling akhir, menoleh ke belakang begitu mendengar suara motor trail yang memasuki halaman. Ia berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana jeans selutut yang dikenakannya. Menunggu Rangga yang setengah berlari menghampirinya.


"Dari mana, bro?" Mizyan menyambut adu tos, merangkul Rangga penuh kekeluargaan.


"Survey ke kebun sengon milik istrimu. Permintaan plywood lagi naik terutama dari Jepang. Butuh suplay kayu segera ke pabrik. Dan gue lihat lebih dari 50 pohon sudah bisa ditebang minggu ini juga."


"Alhamdulillah--" Mizyan bersyukur dengan kabar baik itu. Sebaliknya ia harus menyampaikan kabar buruk mengenai keborokan manajemen pabrik.


"Masih ingat berkas purchase order yang gue ambil dari GM?"


Rangga mengangguk. "Ada yang salah?"


Giliran Mizyan yang mengangguk. "Ada indikasi korupsi selama ini di pabrik. Besok kita bahas soal ini. Sekarang family time dulu." Mizyan mengajak Rangga masuk. Namun Rangga mempersilakan lebih dulu. Ia berbelok menuju samping kiri villa, tempat tinggalnya. Yang memiliki akses pintu tersendiri.


"Papa-papa..., ayo liat sapinya. Sapi atu, sapi nda, sapi papa juja. Yang buanyak---" Dika menggoyang-goyang lengan papa buye yang baru mendudukkan bokongnya di sofa. Ia tidak tertarik obrolan orangtua, malah sudah tak sabar ingin bertemu sapi.


Mizyan meraih Dika ke pangkuan. Mendekap dengan gemas sebab sepanjang perjalanan yang dibahas bocah itu imajinasi tentang sapi dan sapi. "Besok pagi aja ya, sekarang panas."


Dika mengerutkan bahu dan mengerucutkan bibir. "Atu mau cekalang--" Punggung tangannya menyusut sudut mata yang berair bersiap menagis.


Melihat Dika yang merajuk seperti itu, luluh hati Mizyan. "Oke deh, kita pergi ke peternakan sekarang. Bunda mana?"


"Nda di dapul, Papa." Dika kembali riang. Beringsut turun untuk memanggil sang bunda tanpa disuruh.


Papi Mark terkekeh-kekeh melihat pemandangan barusan. "Bisa persis ya wataknya sama kamu. Waktu kecil kamu nangis guling-guling gara-gara Papi ngejanjiin akan nonton pacuan kuda. Padahal Papi cape baru pulang kerja dari luar kota. Tapi cape jadi hilang lihat kamu melompat-lompat girang waktu Papi iyakan."


"Really--?!" Matanya membulat antara percaya dan tidak sebab Mizyan sama sekali tidak ingat akan kenangan itu. Sembari matanya awas mengawasi Dika yang berlari ke arah dapur.


****


Readers tersayang,


Maafkan up story yang selalu random. Kadang subuh, siang, atau malam. Kadang pula zonk. Tergantung adanya waktu senggang.

__ADS_1


Maaf ngegantung karena sudah ngantukkkk. πŸ˜„Jangan bosan untuk terus menantikan kelanjutan kisah papa buye n family.


Salam cinta utk semua 😍😍😍


__ADS_2