
Kajian malam jum'at bersama komunitas Hijrahku memberikan kesan istimewa buat Mizyan. Mizyan hadir sebagai pembicara dalam sesi Inspiring usai sesi tausyiah yang dibawakan ustad yang terkenal di kalangan anak muda, dengan ciri khas gaya keseharian, mengenakan pakaian santai dan topi atau kupluk . Ini kali pertama ia bertemu dengan ustad yang humble itu. Bahkan di ruang tunggu sempat berbincang-bincang santai tanpa canggung seolah sudah berkawan lama, sampai kemudian bertukar nomer ponsel.
Menjadi lebih excited kala ia duduk berbaur dengan jemaah pengajian yang merupakan anak-anak punk dan geng motor. Tampang-tampang sangar dengan tato memenuhi tubuh dan ada pula yang penuh tato sampai wajah, ditambah telinga yang berlubang besar bekas tindikan. Sepintas tentu saja akan membuat siapapun yang melihatnya bergidik takut dan lari menjauh. Takut mereka berbuat kasar ataupun memalak.
Nyatanya, begitu Mizyan menyapa mereka, kesan sangar itu langsung bias sebab mereka begitu santun kala berkata dan penuh keramahan. Mereka orang-orang yang sudah dirangkul untuk berhijrah dan masuk dalam komunitas Hijrahku.
"Saya terlahir dari keluarga beragama. Orangtua saya Katolik."
Begitu Mizyan memulai opening cerita usai memanjatkan syukur kepada Allah dan sholawat atas Nabi.
"Awalnya kehidupan keluarga begitu harmonis. Saya sebagai anak tunggal tidak kekurangan apapun. Ingin beli apa saja tinggal tunjuk, tinggal bilang sama Mami. Pokoknya dimanjankan banget lah."
"Anak Mami ya, bro." Sang ustad gaul menyela dengan gaya becanda.
Membuat Mizyan terkekeh diringi anggukan. "Anak mami pada jamannya, ustad."
"Masa SMA mulai kelihatan gelagat tidak kondusif. Diam-diam saya mendengar orangtua sering adu mulut di kamar, entah apa yang diperebutkan. Lama-lama pertengkaran keduanya terang-terangan di depan mata, masing-masing saling menyalahkan tidak ada yang mau mengalah. Bahkan saya sudah biasa melihat gelas piring terbang, guci dibanting. Sungguh membuat muak dan saya memilih mengunci diri di kamar sambil meyetel musik dengan keras."
"Puncaknya, orangtua memutuskan akan bercerai dan saya ditanya mau ikut siapa?"
"Dari situ pemberontakan saya dimulai."
"Semua kartu sakti, kunci mobil, kunci motor, saya banting di kasur. Tengah malam memlilih pergi dengan membawa ransel berisi ijazah, pakaian, dan uang 10ribu di dompet."
Sharing yang dikemas dalam suasana santai itu mendapat antusiasme pendengar yang merupakan anak-anak punk dan geng motor. Semuanya hening mendengar alur cerita bagaimana perjalanan seorang Mizyan Abdillah hingga sampai meraih hidayah menjadi mualaf.
"Kalau istilah orang sunda nya, Saya papalidan numpang gonta ganti truk agar bisa sampai di Bandung. Karena kalau naik kereta atau bus nggak ada duit. Niat saya kuat ingin kuliah arsitek dengan biaya sendiri."
"Tidak mudah memang. Saya yang biasa hidup dengan berbagai kemudahan tiba-tiba harus hidup serba kekurangan. Tapi tekad kuat. Ingin membuktikan diri bisa hidup tanpa bantuan orangtua."
"Dan itu menjadi titik awal saya memilih menjadi atheis alias tidak beragama. Saya tidak percaya Tuhan itu ada. Katanya Tuhan maha pengasih dan penyayang. Nyatanya kehidupan keluargaku hancur. Dan saya terkatung-katung jadi gelandangan, tidur di emper toko, ngamen ke pasar-pasar demi menyambung hidup."
"MasyaAllah. Jadi bro Mizyan pernah mengalami kesengsaraan seperti itu?" Sang ustad geleng-geleng kepala merasa tak menyangka melihat sosok blasteran ganteng yang duduk di sisinya itu pernah hidup melarat.
__ADS_1
Mizyan mengangguk. "Iya, ustad. Beruntung wajah bule saya membawa hoki." Ia terkekeh sambil mengatupkan tangan dengan maksud bukannya sombong. "Kalau ngamen di kios ibu-ibu pasti dikasihnya goceng bukan gope. Kan lumayan bisa nanbung buat biaya kuliah." pungkasnya diiringi tawa.
"Kalau saya ngamen, dikasihnya gope." Seorang anak punk dengan daun telinga berlubang besar menyeletuk. "Terusnya sambil buang muka ngasihnya juga. Kayak nggak ikhlas gitu." pungkasnya dengan memasang wajah sedih.
Sontak semua mustami tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan salah satu anak punk itu.
"Wajar aja...udah item, jelek tatoan lagi. Untung dikasih juga." Temannya di belakang menanggapi tanpa sungkan sebab sudah biasa becanda saling ledek. Membuat tawa kembali pecah menggema memenuhi seisi ruangan.
Pembawa acara menginterupsi agar semua kembali fokus dan serius. Mizyan pun melanjutkan ceritanya.
"Singkat cerita, bertahun-tahun hidup prihatin banting tulang sampai pernah menjadi sopir angkot agar kuliah tidak putus di tengah jalan. Dan saya mulai merasakan naik level sejak semester 5, kuliah sambil magang. Nawar-nawarin gambar rumah ke developer. Juga ke perorangan yang ingin membangun rumah, tentunya dengan harga miring yang penting ada pemasukan."
"Dari sana saya semakin melesat naik tangga kesuksesan tak lagi melangkah tapi berlari. Uang terus mengalir deras, apalagi setelah lulus kuliah diterima kerja di perusahaan properti Amerika. Semakin yakinlah hati, jika kesuksesan yang saya raih karena kerja keras. Tak ada campur tangan Tuhan karena saya juga tak pernah berdoa."
"Hidup bebas, uang banyak, keluar masuk klub sudah menjadi kebiasaan. Bagi saya dulu yang tidak percaya akan adanya hidup setelah kematian, bener-bener menikmati bersenang-senang karena hidup hanya sekali, kalau mati berarti selesai."
"Astagfirullah." Mizyan menggeleng dengan wajah penuh penyesalan. "Saya bersyukur masih punya sahabat orang-orang soleh dan mereka tidak meninggalkan saya meski tahu saya seorang atheis. Bahkan saya sering mengajak debat mereka tentang Islam, tentang keberadaan Tuhan dari kacamta ilmiah. Dari jawaban mereka yang masuk akal, membuat saya tertarik untuk belajar Islam sampai berapa bulan kemudian dengan mantap mengucap syahadat"
Pekikan takbir dari semua yang berada di ruangan yang kesemuanya laki-laki mengiringi akhir cerita Mizyan.
Mizyan melajukan mobilnya menuju kantor Galaksi. Pagi ini ada jadwal meeting dengan sang direktur Galaksi, Arya Syahputra. Sepanjang jalan sudah dua kali ia menguap. Sebab semalam baru pulang ke rumah menjelang tengah malam. Bubar kajian, anak-anak komunitas hijrah itu menahannya sebab ingin sharing di bidang dunia wirausaha yang saat ini mereka sedang rintis. Dengan senang hati ia memberi masukan peluang usaha sesuai pengalaman dirinya selama ini nomaden ke berbagai kota di dalam dan luar negeri. Sampai dirumah tak lantas tidur. Ada pekerjaan menggambar detail kontruksi bangunan menjelang seminggu lagi deadline. Sehingga ia baru bisa memejamkan mata jam 2 dini hari.
Ponsel yang tergeletak di jok sampingnya menggelepar dengan bunyi nada dering. Saat Mizyan meliriknya, tak lama bunyi panggilan masuk itu berhenti. Ia meregangkan tangan begitu mobil berhenti di lampu merah. Kembali mulutnya menguap sebagai tanda masih mengantuk.
Sepertinya sudah waktunya mantai.
Ia menghembuskan nafas panjang. Rutinitas pekerjaan membuat otaknya merasa sudah penuh dan jenuh. Butuh refreshing.
Dering ponsel untuk kedua kalinya terdengar. Dengan malas ia meraih ponsel yang menggelepar di jok samping berbahan lederlux itu.
"Really?!?!" Ia memekik kaget melihat nama yang tertera di layar. Bahkan sampai mengedipkan mata berkali-kali lalu mengucek mata yang tadinya mengantuk. Takut salah lihat.
Bunda Dika Calling
__ADS_1
Sungguh Mizyan mendadak be go. Bukannya menerima panggilan itu, malah menatap layar tanpa kedip dengan wajah berbinar dan senyum terkembang. Kantuk pun terbang.
Ada apa ya?
Ngajak ketemuan kah?
Ah nggak mungkin. Dia pasti jaga gengsi.
Tapi kok telpon?
Raungan klakson di belakang mobilnya membuat ia tersadar dari spekulasi dan lambungan keriaan bersamaan dengan nada dering yang berhenti. Ia segera tancap gas. Matanya bergerak menatap jalanan di depannya mencari bahu jalan yang luas untuk berhenti.
Begitu mobilnya berhenti di bahu jalan yang aman, ia membuka safety belt, duduk tegak, mengatur nafas yang tiba-tiba berdebar kencang, dan berdehem untuk menetralkan suara agar terdengar cool.
Baru saja bersiap untuk menelpon balik, bunyi nada pesan terdengar berkali-kali.
"Assalamualaikum."
"Maaf kalau mengganggu."
"Hanya mau tanya, beli sapi di mana?"
"Saya mau minta alamat tokonya. Atau kalau beli online, minta link nya."
"Saya perlu sekarang juga. Urgent."
"Mohon dibalas."
"Makasih."
Tujuh pesan berturut-turut yang ia baca, membuat wajah yang tadinya sumringah berubah mendecak kecewa. Ditambah isi pesan di luar ekspektasi dan membingungkannya.
"Salah sambung ya, Bun."
__ADS_1
Mizyan melempar ponsel ke jok samping usai membalas pesan. Memasang kembali safety belt, lalu tancap gas dengan raungan khas mobil sport, melibas jalan raya yang cukup lengang menuju Plaza Galaksi.