MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 153. Welcome Baby


__ADS_3

Maldives we are coming.


Maldives (Maladewa), sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol di Samudra Hindia. Sebuah negara kecil yang terletak di Asia selatan. Menjadi negara yang 100 persen penduduknya beragama Islam karena regulasi dan undang-undang di negara tersebut melarang seseorang beragama non-Islam untuk menjadi warga negaranya.


Pasir pantai putih, deburan ombak kecil, warna laut biru dangkal….hmmm rasanya sudah tidak sabar untuk bermain air.


Mizyan dan Rahma, bergandengan tangan menyusuri pasir putih dengan bertelanjang kaki. Rencana honeymoon saat first wedding anniversary batal. Berganti acara makan malam bersama keluarga di Bandung saja. Mengingat kehamilan yang masih muda, menginjak minggu ke 10. Dan kini impian untuk datang ke Maldives itu terwujud dalam rangka babymoon, bulan madu kedua saat hamil sebelum si kecil lahir.


"Jangan lari-lari, sayang. Jalan aja!" Mizyan menahan tangan Rahma. Merasa riskan menyaksikan gerak semangat dengab perut yang membuncit itu. Rahma seolah anak kecil begitu riang membuat jejak kaki di pasir putih. Sesekali mengejar riak ombak yang menepi.


Memilih menginap di water villa di kawasan Maafushi Island. Dengan merogoh kocek untuk biaya menginap, 7 juta per malam. Setara dengan fasilitas yang disediakan dengan kolam renang private menghadap samudra dan jamuan makan spesial. Sebanding dengan pemandangan eksotik samudra Hindia dengan airnya yang tenang yang tersaji tepat di depan mata.


"Masya Allah, kesempurnaan ciptaan Tuhan tiada tara. Pemandangan yang sangat indah." Rahma mengagumi panorama sunset kala senja menjelang. Dari kursi pantai yang tersedia di balkon water villa nya. Semilir angin yamg berhembus pelan melambaikan jilbab dan tunik yang membungkus perut buncitnya.


"Dan kau jugq bagian dari keindahan ciptaan Tuhan." Ujar Mizyan menatap hangat dan saling melempar senyum. Lalu mengabadikan gaya santai istrinya itu dengan kamera yang dipegangnya.


Rahma berpose berbagai gaya. Aura ibu hamil yang sedang berbahagia terpancar, menambah kecantikan berkali lipat. Benar kata orang bijak. Bahagiakan hati wanita, maka akan terlihat aura kecantikannya memancar.


Malam menjelang. Usai menikmati makan malam dengan menu khas Maldives, saatnya bersantai di sofa. Membiarkan jendela terbuka untuk bisa menikmati panorama malam yang syahdu dan senyap. Sebuah momen refreshing yang paripurna. Melepas penat beban pekerjaan, menepi dari hingar bingar kehidupan di kota besar yang penuh persaingan.


"Papa, udah siapin nama buat baby?" Rahma yang duduk selonjoran kaki, menoleh menatap Mizyan yang sedang mengusap perutnya. Gerak bayi dalam kandungan berusia 7 bulan itu selalu membuat sang suami excited.


"Belum fix. Masih milih-milih, Bun. Aku pengen ngasih nama semua anak-anak kita dengan inisial M." Dengan perut buncit yang disingkap, Mizyan masih antusias mengikuti gerak sang baby yang seolah mengajaknya bermain-main.


"Aduh....Papa, udah ah jangan diajak main. Baby nendang keras, sakit nih." Rahma mengeluh sembari mengusap sisi kiri perutnya. Sang bayi yang sehat dan aktif, sebelum berangkat babymoon baru dicek jenis kelaminnya. Insya Allah kelak akan lahir, baby girl.


Mizyan turun dari sofa. Berjongkok menghadap perut buncit sang istri. "Hai baby M, relax dulu...bobo yang anteng ya. Bentar lagi Papa mau nengokin kamu. Harus nurut ya, sayang. Abang Dika bilang....kita kan temen."


Rahma terkekeh geli dengan ucapan Mizyan. Jadi teringat juga sama si sulung yang semakin banyak kosakata gaul. Sering meniru ucapan orang lain. Jadi kangen.


Malam makin merambat naik. Udara di luar terasa makin dingin. Memilih menutup jendela dan beralih membersihkan diri ke kamar mandi. Peraduan berseprei putih berhias kelambu seolah melambai. Bersiap menjadi saksi bisu dua insan memulai memadu kasih, merayakan cinta dalam ikatan halal.


****


Kembali ke tanah air usai puas trip Maldives selama 4 hari 3 malam. Tak lupa membawa sekoper oleh-oleh untuk dibagikan kepada keluarga dan karyawan toko.


Dika paling antusias menyambut kepulangan kedua orangtuanya itu. Menyongsong mobil yang menjemput bunda dan Papa ke bandara Sukarno Hatta. Dan kini memasuki pekarangan dengan lancar dan selamat.

__ADS_1


"Bunda---" Dika lebih dulu memeluk bundanya dengan penuh rasa rindu.


"Hallo adek, abang kangen adek." Dika yang sudah nampak menunjukkan sikap sayang dan mengayomi, mencium perut bundanya sembari menyapa adik baby dalam perut.


"Adek sehat, Abang. Adek juja kangen Abang Dika." Rahma menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


Mizyan menggendong Dika. Mencium kedua pipinya dengan penuh sayang. "Jagoan Papa pinter dan soleh ya. Gak nangis kan bobo sama nenek dan kakek?" Ia sengaja memberi pujian. Sebab selama ditinggal pergi, bocah kriwil yang makin bertumbuh sehat dan montok itu tidaklah rewel.


"Besok kita pergi jalan-jalan beli es krim. Abang mau gak?!" Mizyan dan Rahma sudah membiasakan memanggil Dika dengan sebutan Abang.


"Mau mau mau, Pa. Bunda jangan diajak ya, Pa. Kita kan temen..." Pinta Dika. Sebab sudah tahu kalau bundanya ikut pasti dilarang makan es krim banyak.


Membuat Mizyan dan Rahma tertawa. Ayah dan Uma menyambut dengan rasa bahagia dan lega sebab anak dan mantunya pulang dengan selamat.


Waktu terasa begitu cepat bergulir.


Villa besar nan artistik kini semakin hangat dan berwarna dengan suara tangisan bayi. Opa Mark dan Oma Ima sedang dilingkupi kebahagiaan akan kelahiran sepasang bayi kembar melalui operasi caesar. Lahir seminggu yang lalu. Dan hari ini digelar syukuran aqiqah. Bukan hanya 3 ekor kambing yang dipotong sebagai syarat aqiqah atas kelahiran bayi laki-laki dan perempuan. Tetapi juga mengorbankan 2 ekor sapi sebagai bentuk tasyakur bi ni'mat keluarga besar Opa Mark. Dibagikan kepada masyarakat satu desa.


Kaysan El Azzam dan Keisha Mahya. Opa Mark memberikan nama indah untuk kedua bayinya itu. Acara aqiqah berlangsung khidmat dipimpin oleh Faisal sang adik ipar. Semua tamu yang diundang nampak hadir turut berbahagia.


Siang hari acara aqiqah usai digelar. Menyisakan keluarga inti yang maaih berkumpul di ruang tengah. Rahma dengan perut yang besar menunggu HPL sekitar 6 minggu lagi, menggendong baby Kay. Adik bule yang sangat lucu dengan rambut pirang dan hidung tajam warisan dari Papi Mark. Mizyan tak kalah antusias menggendong adik baby Kei. Adik perempuan yang sangat cute dan sama-sama bule dengan hidung kecil seperti ibunya.


Rahma terkekeh begitu juga Mizyan dan Bu Ima yang berkumpul bersama.


"Ini bukan adek Abang tapi Om. Abang bisa panggil Om Kay."


"Kalau yang ini onty Kei." Mizyan menimpali. Ia begitu antusiaa menggendong adik baby. Hitung-hitung latihan sebab sebentar lagi juga akan menggendong baby, anaknya sendiri.


"Ohhh ini Om Kay." Dika mencium kening bayi di pangkuan Bunda. Beralih mendekati papanya dan mencium kening juga. "Ini onty Kei." Dika seolah menghafal nama.


Opa datang bergabung setelah mengantar tamu relasinya sampai depan rumah. "Dika jangan pulang ke Bandung ya. Di sini aja main sama Om baby dan onty baby."


Raut wajah Dika nampak bimbang. "Mau tapi Bunda jangan pulang. Abang mau liat adek di pelut Bunda."


Semua orang mentertawakan kegalauan Dika. Yang ingin berada bersama bayi kembar tapi juga tidak ingin jauh dengan bundanya menunggu sang adik lahir.


Rahma meninggalkan kerumunan keluarga. Beralih ke depan ingin mencari angin karena merasa kegerahan.

__ADS_1


"Hei teh Olla, baru datang ya?!" Rahma melakukan cipika cipiki menyambut Olla yang baru datang dijemput Rangga.


"Iya mbak, maaf telat datang. Baru beres ikut seminar kepenulisan." Jelas Olla.


Rahma mengangguk mengerti. "Udah isi belum?" tanyanya penasaran.


"Belum mbak, doain moga cepet nyusul." Olla mengusap perut buncit Rahma. Berharap segera menular padanya.


"Sabar....nikmati aja dulu masa pacaran halalnya."


"Pastinya mbak," sahut Olla sembari terkekeh.


****


Seorang pria berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit. Menabrak orang-orang yang menghalangi langkahnya sembari berucap maaf. Ia sangat terburu-buru untuk sampai di ruang persalinan. Tidak mau terlewat momen sang istri yang akan melahirkan.


"Nak Mizyan, Rahma udah pembukaan 6. Langsung aja ke rumah sakit ya."


Membuat Mizyan yang sedang meeting di hotel T terkejut bukan main. Saat berangkat pagi tadi, Rahma hanya merasakan kontraksi palsu. Dan perkiraan dokter, sang istri akan melahirkan besok. Makanya hari ini berani pergi untuk bertemu dengan klien. Nyatanya, siang ini ia mendapat telepon dari Ayah Badru yang mencengangkan.


"Ayah, Rahma di mana?! Mizyan menemui sang mertua yang duduk di ruang tunggu.


"Masuk aja, nak. Rahma udah nunggu." Ayah menunjuk ruang persalinan di sebelah kirinya.


Dengan memakai baju besuk sesuai intruksi perawat, Mizyan masuk ke dalam ruangan. Nampak Rahma ditemani Uma sedang merintih kesakitan menahan mulas.


"Sayang, aku datang." Mizyan mengecup kening Rahma. Menerima cengkraman tangan sang istri di lengannya yang nampak payah.


"Wah Papanya datang pas pembukaan lengkap. Bersiap mengejan ya Bu Rahma. Ikuti arahan saya!" Dokter Nurul yang ikut turun tangan, mulai memberi arahan.


Kehadiran Mizyan bak oase di padang pasir. Membuat Rahma bersemangat dan bergambah kekuatan untuk mengejan. Tak butuh waktu lama, bayi berlumuran darah lahir ke dunia dengan tangisan yang sangat keras.


"Allahu Akbar Allahu Akbar----" Bergetar suara Mizyan saat melantunkan adzan di telinga sang putri cantik yang digendongnya usai dibersihkan. Hari ini akan menjadi sejarah yang tak akan terlupa seumur hidupnya. Menyaksikan istri berjuang melahirkan, menyaksikan putri kecilnya dalam dekapan. Nampak mengerjap-mengerjapkan mata mendengar lantunan adzannya.


Sang putri beralih ke pelukan bunda Rahma untuk memulai menyusu. Mizyan menemani sembari menatap lekat penuh binar kebahagiaan.


"Mentari Putri Abdillah.....jadilah cahaya penerang di dalam keluarga. Jadilah putri cantik yang saleha seperti Bunda." Sebuah nama terucap dari bibir Papa Buye. Teriring do'a terbaik penuh harapan. Ia mengecup kening Rahma dan juga bayi bule yang lelap dalam buaian.

__ADS_1


"Aamiin, Papa." Rahma tersenyum menatap sang suami yang sedang lekat menatapnya. Rasa sakit barusan melahirkan seolah lupa berganti kebahagiaan tak terperi. Alhamdulillah.


Rumah baru telah siap menyambut kedatangan baby girl. Dengan kamar yang sudah dipersiapkan dengan dekorasi pink putih yang girly. Karya sang Papa yang mendesainnya dengan penuh cinta.


__ADS_2