
Rangga masuk ke ruang kerja Pak Mark di peternakan sapi. Setelah sebelumnya mendapat telepon dari sang boss dengan suara bernada tegas dan buru-buru. Sebagai orang terdekat, ia faham betul jika kondisi boss Mark menandakan sedang gusar atau ada masalah serius.
"Ada apa, Pak?!" Rangga yang baru saja melepas keberangkatan 2 truk colt diesel. Yang mengangkut masing-masing 6 ekor jenis sapi Limosin ukuran sedang tujuan Tasikmalaya. Merupakan pesanan peternakan lokal di sana.
Tanpa kata, Mark mendorong laptopnya menghadap Rangga. Membuat sang asisten mengkerutkan kening. Tak berani bertanya melihat wajah boss Mark yang kusut. Rangga segera menatap layar laptop dan mencerna berita yang tampil di layar. Sajian salah satu situs online itu.
"Miki gak bisa dihubungi, Rahma juga." Mark memecah konsentrasi Rangga yang sedang menamatkan membaca. Jelas raut keterkejutan nampak di wajah asisten setia itu selama membaca berita.
"Saya sudah telepon Pak Badru. Ternyata Rahma kecelakaan setelah membaca berita fitnah itu, dan mengalami keguguran. Sekarang lagi persiapan kuret. Bahkan Miki belum tahu soal ini. Dia lagi di Bali." Mark mengusap wajah. Terbayang bagaimana syok dan sedihnya sang menantu. Terbayang bagaimana nanti terkejutnya sang anak. Tangannya mengepal. Geram dengan orang yang sudah mengusik kehidupan anak dan menantunya itu.
"Kita ke Bandung sekarang, Pak?" Rangga menatap sang boss yang tengah diam dan nampqk berpikir keras. Sama halnya ia juga merasa marah dengan pelaku pembuat berita viral itu.
"Iya. Ayo kita pulang. Bu Ima juga akan ikut. Nanti jemput di rumah tahfiz."
Rangga mengangguk mengerti. Ia sigap merapihkan meja dan mematikan laptop. Membawa tas kerja boss Mark yang baru saja melenggang dengan langkah lebar keluar ruangan.
****
Bandung
Di kantin rumah sakit, Koko Andreas yang penasaran mulai mendengarkan cerita Fitri, kronologis kejadian sebelum Rahma tertabrak motor. Dua piring siomay dan minuman dingin tersaji di meja menemani perbincangab keduanya.
Koko dan Fitri masih setia berada di rumah sakit. Rahma masih puasa menunggu waktunya operasi kuret. Kondisinya lebih baik dan lebih tenang setelah kedatangan Uma dan Suci yang menghibur dan menguatkan.
"Jelas Rahma syok." Koko menghembuskan nafas kasar. Menyimpan ponselnya di meja. Tidak ingin terus membaca komentar netizen yang sok tahu dan sok benar.
"Mana Pak Mizyan lagi di Bali sejak kemarin." Fitri mengaduk es jeruknya tanpa semangat. "Aku tuh tadi awalnya iseng buka fb sambil nungguin mbak Rahma lagi vc an sama Pak Mizyan. Eh malah dapat berita gitu...." sambungnya sambil mengurut pelipis sebab kepala agak pusing.
"Eh, gimana urusan sama motor tadi?" Fitri baru teringat lagi. Ia tidak tahu pasti kondisi pemotor apakah luka ringan atau parah sebab lebih fokus pada Rahma.
"Dia hanya lecet-lecet di kaki. Spion kiri dan spakbor pecah. Aku tadi udah kasih uang kompensasi. Urusannya beres. Katanya salah Rahma, tiba-tiba nyelonong ke jalan kayak orang linglung." Jelas Koko sambil menusuk dengan garpu siomay suapan terakhir.
"Semuanya berapa, Ko? Aku akan bayar dulu dari kas toko."
Koko menggelengkan kepala. "Gak usah. Gak perlu diganti. Aku ikhlas bantu kok."
"Eh, tapi----" Ucapan Fitri menggantung sebab Koko mengibaskan tangan dan mengajak Fitri kembali ke ruangan Rahma. Ia pun mengalah.
.
.
.
Semua terjadi begitu cepat. Berharap ini semua hanya mimpi buruk namun nyatanya benar-benar terjadi. Kebahagaiaan dan keriangan usai berkomunikasi jarak jauh dengan sang suami, berubah 180 derajat oleh berita yang mencengangkan dan berakhir kecelakaan kecil menimpanya.
__ADS_1
Rahma tak berdaya berbaring di atas bed. Lemas serasa tak bertulang. Merasakan dua kesakitan hebat di perut dan pergelangan tangan kirinya. Mules seakan mau melahirkan menghasilkan sebuah berita bak disambar petir bahwa dirinya keguguran. Sakit dan bengkak di pergelangan tangan sebab menahan badan saat jatuh, menghasilkan diagnosis rongten jika dirinya mengalami patah tulang ringan. Complicated.
Operasi kuret dan pemasangan gips sudah dilalui. Dengan penanganan dua dokter dalam waktu yang berbeda, yaitu dokter spesialis kandungan dan dokter ortopedi, ia merasa lelah fisik dan psikis. Usapan lembut tangan Uma di kepalanya, membawa Rahma terlelap dengan wajah yang lelah dan sembab.
"Makasih Fitri, Nak Andre, udah membantu nolongin Rahma segera dibawa ke rumah sakit." Uma membuka perbincangan di sofa yang tersedia di ruang perawatan kelas VIP itu. Meninggalkan sejenak Rahma yang tertidur karena pengaruh obat.
"Sama-sama, Uma. Moga Rahma segera pulih kembali dan tidak down dengan pemberitaan di luar yang ngaco itu." Koko Andreas mewakili berbicara dengan nada kesal di ujung ucapan.
"Bapak dan Uma, apa akan mengusut siapa pelakunya?" Koko beralih menatap silih berganti Pak Badru dan Uma.
"Pastinya!" Sahut Pak Badru tegas. "Orangtua mana yang tak marah dan sakit hati, anaknya dijelek-jelekkan. Tapi untuk tindakan, nanti nunggu dulu Mizyan pulang." Sambungnya.
"Mendadak Mas Mizyan susah dihubungi lagi ya, Om." Suci menimpali dengan raut sedih. Sedih dengan cobaan yang menimpa adik sepupunya itu. Ia juga sudah menghubungi Candra dan Salma di Jakarta. Tapi belum bisa ke Bandung sekarang sebab anak kembar mereka sakit demam.
Saat Pak Badru akan menyahut, ponsel dalam mode vibrate di saku celananya bergetar.
"Alhamdulillah, nak Mizyan telpon." Wajah Pak Badru berbinar.
****
Nusa Dua
Bali, satu jam lebih cepat dari pulau Jawa. Mizyan usai sholat berjamaah Magrib bersama Kemal dan Fahmi. Meeting kedua yang alot dan panas. Namun keputusan endingnya bisa diterima semua belah pihak.
Selama meeting, Mizyan bukannya tidak merasakan kegelisahan. Entah kenapa ia pun heran. Namun tak mungkin meninggalkan ruang meeting sekadar untuk menyalakan ponselnya. Disaat Kemal terdesak oleh cercaan pertanyaan dari 2 pemegang saham lainnya yang menuduh kurang transparansi profit perusahaan untuk tahun ini. Ia tampil menjadi penengah untuk mendinginkan suasana agar tidak emosi diantara semua pihak. Memberi kesempatan pada Kemal dan petinggi perusahaan untuk melakukan presentasi laporan perusahaan selama setahun ini.
"Gak punya duit, Bang. Lagian belum tentu mereka mau jual sahamnya. Sultan dia---" Mizyan menyalakan ponsel dan menyimpannya di meja. Mulai mengambil nasi dan lauk dimana perut sudah orkes sebab energi yang terkuras.
"Dah...fokus makan dulu jangan liat hape!" Kemal melotot, menegur Mizyan yang akan meraih ponsel. Ia terbiasa galak pada anak-anak di rumah yang akan marah saat membawa ponsel ke meja makan.
"Iyeee---" Mizyan mengangkat 2 jarinya.
Membuat Fahmi yang juga bergabung dalam satu meja, mengulum senyum. Merasa heran kenapa Mizyan bisa lupa dengan kebiasaan Kemal yang tidak boleh main ponsel saat makan.
"Aku dah selesai ya, Bang." Mizyan yang makan dengan cepat, memperlihatkan piringnya yang licin tak bersisa remahan. Menuangkan teh dari poci tanah liat dalam cangkir berbahan sama. Yang sensasi rasanya begitu nikmat.
Kedua alisnya terangkat begitu melihat puluhan misscall tampil di layar. Panggilan tak terjawab dari Ayah, Uma, Wifey, Papi.
"Nak, kalo sudah aktif segera hubungi Ayah!"
Ia membaca pesan dari Ayah. Di samping banyak pesan lain dari grup komunitas dan klien, ia abaikan dulu tidak membacanya.
"Wa'alaikum salam. Ada apa, Yah?" Mizyan menjawab ucap salam Ayah mertuanya itu.
"Bisakah pulang sekarang juga, nak? Rahma lagi butuh kehadiran nak Mizyan." Suara Ayah di ujung telepon terdengar tenang namun bernada serius.
__ADS_1
Mizyan mengeratkan ponsel di telinganya dengan kedua alis bertaut. Ia mendengarkan Ayah Badru yang berbicara pelan-pelan. "Rahma kecelakaan kesenggol motor tadi siang. Sekarang ada di rumah sakit."
"Ah, Ayah becanda kan?!" Mizyan masih tidak percaya. Mengira mertuanya itu melakukan prank. Namun tak dipungkiri jantungnya berdegup kencang dan raut wajahnya mulai menegang.
"Tadi jam 2 waktu Bali, aku vc an sama Rahma. Dia abis workshop sama komunitasnya." Mizyan menyanggah lagi kabar Ayah.
Terdengar helaan nafas kasar dari sebrang sana. "Ayah ganti vc ya!"
Pemandangan yang tersaji di layar ponsel membuat Mizyan terkesiap dan berdiri penuh keterkejutan.
"Sayang--- Rah ma!" Spontan ia menyebut nama belahan jiwanya dengan bibir bergetar.
"Ayah, gimana bisa?! Rahma gak papa kan?! Aku mau bicara dengan Rahma, Yah!" Mizyan belum pernah merasakan sepanik ini. Tapi menyangkut Rahma, emosi jiwanya teraduk-aduk.
Reaksi itu tak luput dari perhatian Kemal dan Fahmi. Yang menatap dengan raut wajah heran dan penuh keingintahuan.
"Rahma lagi tidur pengaruh obat. Ayah gak tega ganggunya. Cerita panjangnya nanti aja di sini. Kami nunggu nak Mizyan pulang. Moga aja dapat tiket pesawat malam ini. Papi Mark juga bentar lagi sampe Bandung."
Mizyan mengangguk lemah. "Rahma beneran tidur kan, Yah. Bukan pingsan atau koma?!" Ia sangat takut membayangkan kemungkinan terburuk.
"Tidur, Nak. Beneran tidur." Ayah Badru meyakinkan.
Sambungan terputus setelah sang mertua mewanti-wanti agar Mizyan bersikap tenang dan hati-hati dalam perjalanan. Akan ada orang yang menjemputnya di bandara Husein jika ia bisa pulang malam ini juga.
"Ya Allah---" Mizyan terduduk dan mengusap wajah dengan kasar.
"Le, ada masalah apa? Rahma kenapa?!" Kemal sudah tak sabar ingin mendengar cerita lengkap percakapan Mizyan dan Pak Badru. Ia dan Fahmi fokus dan serius mendengarkan Mizyan mengulang cerita sang mertua.
"Tenang, Le." Kemal berdiri di dekat Mizyan yang masih duduk di kursi dengan wajah gusar dan panik. Mengusap-ngusap bahunya memberi ketenangan. "Aku akan antar kamu pulang ke Bandung!" sambungnya dengan yakin. Sebab dari Kalimantan ke Bali, ia membawa jet pribadi.
"Fahmi, telepon pilot. Siap-siap kita terbang ke Bandung!
*****
INGA INGA.....INGA INGA!!!
NEXT...DI BAB 142, PEMENANG HAMPERS AKAN DIUMUMKAN. AYO KENCENGIN MAWAR DAN KOPINYA, SIAPA TAHU KAMU YANG BERUNTUNG 😉
PEMUNCAK TOP FANS OTOMATIS MENDAPAT 1 BUAH HAMPER CANTIK.
4 PEMENANG LAINNYA AKAN DIUNDI OLEH AUTHOR.
CEMUNGUDDD 😍
Me Nia
__ADS_1