MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 27. Holiday in Bali


__ADS_3

Nusa Dua, Bali


Mobil yang menjemput Mizyan di bandara Ngurah Rai telah melaju meninggalkan keramaian bandara menuju The Latansa Resort, Nusa Dua. Pas sekali, begitu Kemal memintanya untuk datang ke Bali dikala ia tengah mumet dan berencana refreshing ke pantai. Jadilah kini ia berada di dalam mobil kelas eksekutif sebagai servis dari bos batu bara itu.


Setelah perjalanan sekitar 35 menit lamanya, sampailah ia di parkiran resor. Ia berdiri mengedarkan pandangan ke sekeliling yang menyuguhkan pemandangan pantai yang luas sejauh mata memandang. Senyum terulas di bibir, menyaksikan resor hasil karyanya yang ramai tamu meski ini weekday.


"Apa kabar, Mas Mizyan?" Fahmi, sekretaris Gionino Kemal sudah berdiri di lobby menyambutnya dengan hangat.


"Alhamdulillah. So far so good." Mizyan yang tampan dan cool dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menyambut uluran jabat tangan Fahmi dengan senyum cerah terkembang.


"Mari, mas Mizyan. Bos sudah menunggu di ruangannya, mas."


"Oke. Antar saya ke kamar dulu, mau naroh koper."


"Sekalian jalan, Mas. Kamarnya depan ruangan boss kok. Kata si boss, special room untuk sang arsitek."


Membuat Mizyan yang berjalan di sisi Fahmi tertawa lepas mendengar cerita sekretaris loyal itu. Ia tahu pasti bagaimana sikap royal Kemal kepadanya.


Usai menyimpan koper di kamarnya, ia langsung memasuki ruang yang dimaksud Fahmi. Berupa kamar privat yang luas dengan fasilitas mewah untuk tempat tinggal sang owner resor jika melakukan kunjungan ke Bali.


"Le, pa kabar woy?" Kemal berteriak girang dari arah sofa bed dimana ia sedang tidur menelungkup bertelanjang dada menikmati pijatan seorang wanita seksi di bahunya.


Bukannya menjawab, Mizyan hanya mendecak sambil berkacak pinggang dan mengerlingkan mata ke arah Fahmi yang tampak mengangkat bahu. Seolah mengatakan 'jangan salahkan aku'.


"Kamu, keluar!" Dengan isyarat gerakan menolehkan kepala ke arah pintu, Mizyan dengan nada dingin mengusir perempuan seksi yang duduk mengangkang di punggung Kemal.


Namun perempuan yang mengenakan hot pant itu tampak bingung, hanya menghentikan kegiatan memijat, belum turun dari punggung Kemal.


"Apaan sih kau ini. Jangan ganggu kenikmatan, Le!" Kemal mendelik menatap Mizyan yang selalu ia panggil Bule itu.


"It's oke." Dengan santai Mizyan mengeluarkan ponsel dari waist bag nya. "Gimana ya kalau mbak Sita liat foto-foto ini." Ia pun mengambil foto Kemal yang ditunggangi perempuan seksi dengan ancaman akan mengirimkannya kepada istrinya Kemal.


Membuat Kemal terkejut dan bangun sekaligus sehingga perempuan yang duduk di punggungnya itu terjengkang dan terjerembab ke lantai.


"Jangan, Le. Hapus----hapus!" Kemal tampak panik melihat Mizyan sibuk memainkan ponsel. Ia pun menyuruh perempuan seksi yang tengah meringis mengusap-ngusap pinggang, untuk keluar dari ruangannya.


"Udah tuh, Le. Udah aku usir."


"Please, jangan dikirim ke Sita!"


Meskipun Kemal suka bersenang-senang dengan perempuan di luar dengan sangat rapih, tapi ia sangat mencintai istrinya. Jelas jika Mizyan membuat ancaman seperti tadi, membuatnya takut jika istri yang sudah memberikannya 2 orang anak itu meninggalkannya.


Fahmi yang menyaksikan boss yang biasanya tegas dan berwibawa namun kini merengek seperti anak kecil di depan Mizyan, tampak mengatupkan bibir menahan tawa. Sebab Kemal berusaha meraih ponsel yang disembunyikan Mizyan di belakang punggung. Bisa dibilang Mizyan adalah pawangnya yang bisa menghentikan kebiasaan buruk Kemal.


Begitu berhasil merebut ponsel milik Mizyan, Kemal menjauhkan badan untuk memeriksa galeri foto. Benar saja, ada beberapa foto dirinya saat tadi. Dan ia pun menghapus semuanya. Lalu kembali mengecek ulang takutnya masih ada yang belum terhapus. Senyumnya terkembang setelah yakin clear. Tapi raut wajahnya berubah lagi penuh keterkejutan dengan mata melotot begitu melihat foto si bule tengah menggendong anak laki-laki. Yakin, ini adalah foto selfie. Tidak satu, tapi ada 4 foto.

__ADS_1


"Wow, Bule. Ini anak siapa?!" Kemal berteriak nyaring, menatap sekilas Mizyan yang tampak terkejut. "Ecieee, ada foto candid cewek juga. Biyutipul, Le." Lanjutnya sambil tertawa dan berkelit kala Mizyan ingin merebut ponsel yang dipegangnya.


"Bang, balikin!" Giliran Mizyan yang panik dan mengejar Kemal yang berkelit dan berlari mengitari sofa, berpindah mengitari meja makan untuk menghindar dari kejarannya.


Membuat Fahmi geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan absurd keduanya. Yang kemudian berakhir di ranjang dengan kedua tangan Kemal ditelikung ke belakang oleh Mizyan.


"Biasanya hape kau isinya gambar-gambar doang. Lah sekarang ada gambar manusianya. Berarti kau waras, Le." Kemal mengatur nafas yang ngos-ngosan usai aksi kejar-kejaran.


Mizyan memukulkan guling ke muka Kemal yang tertawa puas melihatnya tak berkutik. Lalu berpindah duduk di sofa untuk mengecek ponselnya, mengecek foto-foto yang sengaja diambilnya sebagai teman perjalanan nomaden nya.


Dua buah kelapa muda berikut sebungkus rokok tersaji di meja tepi kolam renang. Kolam renang yang berhadapan langsung dengan pantai itu menyuguhkan aktifitas 2 orang pria, Mizyan dan Kemal tengah berlomba berenang 4 putaran. Tampak Kemal tertinggal jauh dikala Mizyan sudah mencapai finish, ia baru bertolak melaju di putaran ke 4.


"Payah----" Mizyan meledek Kemal yang berjalan dengan nafas ngos-ngosan menuju kursi santai di sampingnya.


"Faktor U. Wajarlah---" Elak Kemal tak terima dikatakan payah. Ia meraih kelapa muda miliknya dan menyedot dengan cepat.


"Bukan faktor U. Tapi jarang olahraga, keseringan olahraga di ranjang. Gempor dah." Cibir Mizyan.


Kemal tersenyum menyeringai tanpa mampu membalas lagi sebab apa yang dikatakan Mizyan benar adanya.


Hembusan angin pantai di sore yang cerah menerpa tubuh telanjang dada yang telah dikeringkan dengan handuk. Menyisakan celana renang yang basah dan diabaikan oleh kedua pria itu. Memilih menatap sunset dengan semburat jingga yang indah yang siap surut seolah berjalan tenggelam ke dasar laut.


"Kapan berhenti, Bang?" Mizyan menolehkan wajah, menatap Kemal yang menyalakan sebatang rokok.


"Maksudnya?" Kemal menatapnya dengan kening mengkerut. Menyodorkan sebatang rokok yang sudah dinyalakannya untuk Mizyan.


"Serapih-rapihnya menutupi kebusukan, suatu saat akan tercium baunya."


"Dan ingat, DOSA!" Pungkas Mizyan. Diiringi isapan rokok lalu membumbungkan asapnya dengan mendongak ke atas.


"Susah, Le." Kemal turut melakukan gaya yang sama. Mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu membumbungkan asapnya dengan mendongkkan kepala ke atas. "Ibarat merokok, membawa perempuan naik ranjang juga sudah candu."


"Tapi kan aku lakuinnya kalau lagi jauh dari istri." Masih saja Kemal membela diri jika apa yang dilakukannya tidaklah sering.


"Kalau mbak Sita tahu, terus menceraikan Abang, gimana?"


"Jangan sampai." Kemal menggeleng keras. "Aku bisa mati gantung diri, Le. Dia wanita yang sabar mau hidup susah sama aku." Ia pun menerawang mengingat perjalanan rumah tangga 20 tahun lamanya bersama istri yang setia mendampinginya di kala susah, hidup sederhana di 3 tahun awal pernikahan. Ia yang dulunya seorang pemuda buruh petik kelapa sawit, lalu diterima menjadi menantu seorang keluarga kaya. Seiring waktu baru diketahui bahwa di tanah warisan milik istrinya itu terdapat kandungan emas. Berawal dari sana, kesejahteraan hidup rumah tangganya pun menanjak lalu meroket dan menjadi modal melebarkan sayap ke bidang pertambangan batu bara. Namun 4 tahun terakhir ini ia mempunyai kebiasaan 'jajan' yang awalnya iseng-iseng diajak teman di karaoke. Ia ditawari 'mencicipi' PL (pemandu lagu) yang masih muda-muda dan menggoda. Dan akhirnya ketagihan.


"Clarisa umurnya sekarang berapa?" Mizyan beralih menanyakan usia anak pertama Kemal.


Membuat Kemal yang pikirannya tengah menerawang jauh, berlabuh kembali pada kesadaran. "Bulan kemarin sweet seventeen. Nggak nyangka udah punya anak gadis," pungkasnya dengan wajah semringah.


"Anggaplah 5 tahun kemudian Clarisa nikah."


"Ternyata suaminya brengsek. Di luar suka main perempuan."

__ADS_1


"Apa yang akan abang lakukan?"


Mizyan menggerus rokok yang tinggal setengahnya itu. Berganti memilih menghabiskan minuman kelapa muda.


"Aku akan gantung lehernya di hutan. Enak aja nyakitin anak aku." Spontan Kemal dengan kemarahan yang tergambar di wajah.


"Sama halnya dengan bapaknya mbak Sita."


"Saat tahu menantunya brengsek, dia akan bawa pulang anak dan cucunya."


"Dan Abang akan nangis kejer meratapi nasib ditinggal anak istri."


Hening.


Mizyan menatap lurus Kemal yang terdiam dengan bibir mengatup rapat serta sorot mata yang kosong menatap deburan rendah air laut menyeret pasir dari tepian ke tengah.


Terdengar hembusan nafas kasar dari hidung Kemal. "Kamu bener." Ujarnya usai termenung lama. "Aku akan berubah tapi mulai besok ya, Le."


"Malam ini terakhir ya, Le?!"


Namun Mizyan menatap garang.


"Itu yang tadi sayang dianggurin. Bahenol gitu, masih mahasiswi, Le."


Membuat Mizyan mendekat dengan wajah membunuh.


"Iya Bule, iya----ampun dah. Nggak akan dipake." Kemal mengangkat tangan sebab takut dengan aura dingin Mizyan.


"Aku akan suruh Fahmi buat pulangin tuh cewek!"


"Terserah kau dah. Kau kan boss nya," sahut Kemal yang telentang di kursi kolam penuh kepasrahan. Sambil mengelus inti tubuhnya yang mengeras sebab berimajinasi membayangkan perempuan yang tadi memijat dan duduk di punggungnya.


Tingkah Kemal itu tak luput dari perhatian Mizyan. Deg. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat, begitu matanya menangkap gundukan yang nampak sebab celana renang basah yang dipakai Kemal. Jelas, sesuatu di dalam sana sedang terbangun. Ia teringat akan pusaka miliknya yang 2 hari terakhir ini terkulai lemas di setiap bangun pagi. Padahal biasanya, senjatanya akan spontan 'berdiri' saat tidur atau kala baru bangun. Menandakan kondisi alat vital yang normal dan sehat. Ia pun teringat ucapan Rendi kala menjelaskan hasil lab.


"Dosisnya tinggi, bro. Semoga tidak ada efek samping."


"Kalau nanti ada keluhan ngomong aja."


Ia terkesiap. Apakah mungkin?!


"Masuk yuk. Mau magrib."


Ajakan Kemal menyadarkan Mizyan dari lamunannya, dari praduganya. Ia mengikuti langkah sang owner resor masuk ke dalam ruangan sekalian membersihkan diri.


"Bang, kita shalat berjamaah!"

__ADS_1


"Nitip absen aja, Le. Aku mau tidur. Gak tersalurkan jadi lemes nih."


Mizyan hanya menggeleng mendengar Kemal yang menggerutu sambil masuk ke kamar mandi.


__ADS_2