
Acara resepsi berakhir di jam 1 siang. Hampir semua tamu yang diundang hadir. Cukup melelahkan namun aura bahagia jelas terpancar.
Untuk kali pertama Mark memasuki kamar Fatimah yang dihiasi dekorasi bunga mawar segar sebagai kamar pengantin. Romantis dan elegan, begitu suasana yang tergambar dari kamar yang cukup luas itu dengan kamar mandi di dalamnya. Dan untuk pertama kalinya pula, Mark menjadi imam sholat Duhur dengan sang istri menjadi ma'mumnya.
"Terima kasih sudah ridho menjadi istriku." Mark mengecup kening Fatimah yang masih berbalut mukena, dengan segenap perasaan.
"Terima kasih juga Pak Mark udah ridho menjadi suami aku." Balas Fatimah yang sudah berani balas menatap tanpa malu sebab sudah halal untuknya.
Mark menggeleng. "Masa masih manggil Pak. Yang mesra dong panggilannya." Ujarnya sambil menjawil hidung kecil Fatimah dengan gemas.
"Pengennya dipanggil apa?" Fatimah balik bertanya sambil mengulum senyum.
"Terserah. Kamu yang harus punya ide sendiri." Sahut Mark yang masih betah duduk di sajadah sambil memainkan jemari Fatimah yang halus lembut seperti kulit bayi.
"Bunny, buka mukenanya! Aku ingin melihat istriku tanpa hijab." Pinta Mark yang masih betah menggenggam jemari Fatimah. Menjadi kebiasaan yang menyenangkan sejak di pelaminan tadi.
Fatimah menganggukkan kepala. Apa yang ada pada dirinya luar dan dalam, telah halal untuk dilihat suaminya itu. Perlahan menarik tangan dari genggaman Mark. Lalu membuka mukena yang membungkus kepalanya.
Mark terpana sampai lupa berkedip. Rambut hitam bergelombang tergerai sebahu. Leher putih yang tidak jenjang itu begitu menggoda untuk disesap. Orang tak akan menyangka jika usia Fatimah sudah 45 tahun. Lebih cocok dikatakan berusia 30 tahunan. Awet muda.
"Kamu cantik sekali, Bunny." Tangan Mark terulur menyusuri wajah yg sudah bersih dari riasan. Berakhir menyentuh bibir merah muda yang kenyal dan hangat.
Fatimah memejamkan mata begitu merasakan hangat nafas Mark menerpa pipi. Pria yang sudah mendapat gelar suami itu semakin mendekatkan wajah. Dengan tatapan mendamba mengarah pada bibir yang membuat Mark tergoda untuk dicicipi.
Tok tok tok.
Tok tok tok.
Ketukan cukup keras di pintu beserta suara yang memanggil nama Fatimah, menggagalkan aksi Mark men cium bibir istrinya itu. Fatimah terkekeh melihat Mark yang mengerucutkan bibir dengan raut kecewa.
__ADS_1
"Kita harus keluar dulu. Paman dan Bibi ingin bertemu denganmu, Hubby." Fatimah tersenyum malu begitu mengucapkan kata Hubby.
Mark tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Aku suka panggilan itu. I love you, Bunny." Mark mencuri ciuman kilat di bibir Fatimah sebelum beranjak ke luar kamar. Membuat darah Fatimah berdesir dengan kedua pipi yang merona.
Di luar kamar masih terdengar riuh ramai anak-anak berlarian yang merupakan kerabat Fatimah yang datang dari dalam dan luar Bogor. Fatimah sudah memperkenalkan keluarga besar dari pihak Abah dan Mamah kepada Mark yang hampir semuanya hadir.
Sampai malam usai makan bersama pun, suasana rumah tetap ramai oleh suara bincang-bincang. Sebab momen pernikahan ini menjadi ajang reunian keluarga besar yang jarang bertemu muka.
Membuat sepasang pengantin melewatkan malam pertama hanya dengan icip-icip. Kemudian tertidur pulas sambil berpelukan setelah lelah dengan rangkaian acara seharian ini.
****
Mizyan dan Rahma menyambut kedatangan mobil Jeep Rubicon yang berhenti di pekarangan. Tak lain adalah Rangga yang menjemput sepasang pengantin dari rumah tahfiz.
"Selamat datang pengantin baru---" Dengan sengaja Mizyan membukakan pintu untuk Papi Mark dengan gaya tangan mempersilakan turun. Ujung-ujungnya mendapat hadiah tonjokkan dari Papi di bahunya.
Rangga tertawa ditahan sambil sibuk menurunkan 2 koper dari bagasi. Kelakuan Mizyan yang menggoda boss Mark seperti adik dan kakak saja. Tapi Rangga mana berani menggoda sang boss. Sepanjang jalan pun tak sanggup melirik spion tengah sebab merasa malu melihat kemesraan yang ditunjukkan boss Mark terhadap Bu Ima.
"Makasih Rahma." Fatimah balas menerima pelukan Rahma dengan hangat.
"Oma atu----" Dika tak kalah antusias mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Oma barunya. Manda pun ikut-ikutan.
Di ruang tengah, keluarga dari Bandung turut berbahagia menyambut kedatangan sepasang pengantin.
"Pak Badru, Bu Fatma tinggal aja dulu di sini meskipun saya dan istri gak ada." Pinta Papi Mark tulus. Ia baru saja memberitahukan akan berangkat sore ini ke Tangerang untuk menginap di hotel dekat bandara. Sebab jadwal keberangkatan pesawatnya jam 7 pagi. Dengan tujuan Jakarta-Sorong. Di Sorong menginap semalam untuk menunggu pesawat jenis cessna tujuan Raja Ampat.
"Makasih Pak Mark, saya juga akan pulang siang ini. Soalnya kesibukan sudah menanti. Apalagi Nico besok harus ke Jakarta." Jelas Ayah Badru.
"Aku juga mau pulang sore ini, Pi. Mau prepare liburan ke Turki." Mizyan menimpali. Sebelumnya ia memang belum memberitahukan rencana liburannya kepada Papi Mark.
__ADS_1
Papi Mark membelalakkan mata. "Wah bubar semua ini. Semoga perjalanan kita semua berjalan lancar dan selamat."
Mizyan dan yang lainnya mengaminkan.
Sore menjelang keberangkatan Papi Mark dan Bu Ima. Mizyan memeluk sang ayah dengan erat yang sudah siap di samping mobil. Rangga dan seorang bodyguard siap mengantar tuannya sampai besoknya ke bandara.
"Happy honeymoon, Pi. Aku siap dikasih oleh -oleh adek baby." Bisik Mizyan sebelum mengurai pelukannya.
"Aduh---" Mizyan pura-pura mengaduh sakit saat Papi Mark menonjok pelan perutnya.
"Kalian hati-hati juga di jalan. Awas Miki, jangan ngebut-ngebut!" Papi Mark memperingati. Yang dijawab Mizyan dengan hormat tangan.
"Dadah Opa atu...Oma atu." Dika dengan riang mambaikan tangan saat kaca mobil dibuka lebar. Dan mendapat balasan lambaian tangan dari Opa Mark dan Oma Ima. Mobil pun perlahan menjauh keluar gerbang villa.
Suasana di dalam villa menjadi lengang setelah orang-orang bertahap pergi. Ayah dan Uma yang paling awal pulang selepas Duhur bersama Nico dan Suci.
"Kenapa, Mas?" Rahma yang sedang memasukkan barang terakhir ke dalam koper, menoleh saat mendengar Mizyan menghela nafas keras.
"Rumah jadi kosong, semua orang pergi. Rasanya kok sedih ya." Ujar Mizyan sambil menjatuhkan bokong di tepi ranjang. Membantu menutup koper yang ada di sampingnya.
Rahma mengulas senyum. "Papi dan Ibu hanya pergi untuk sementara. In shaa Allah akan kembali dan hidup bersama di villa ini. Bukankah itu yang kita harapkan? Papi tidak kesepian lagi dan berbahagia bersama cinta di ujung senja."
"Kalau kita pergi karena rumah kita di Bandung. Di sini hanya untuk tinggal sementara."
"Apa Mas ingin pindah rumah di Bogor?!" Pungkas Rahma menatap sang suami yang sedang termenung meresapi ucapannya.
Mizyan menggeleng. "Mungkin efek kita tinggal lama di sini jadi berat untuk pulang. Kita akan tetap tinggal di Bandung."
"Setelah ini bersiap membangun rumah impian ya, sayang." Ujarnya memeluk perut Rahma yang berdiri di depannya. Usai sudah misinya menikahkan Papi Mark dan Bu Ima. Misi yang berakhir dengan kebahagiaan dan keharuan.
__ADS_1
"Iya, Mas. Ayo kita pamit sama Bi Cicih dan Om Wanda." Rahma mengecup puncak kepala Mizyan yang masih betah memeluknya.
"Let's go!" Mizyan berdiri dan meraih handle koper untuk didorong. Waktunya pulang ke Bandung.