MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 88. The Power of Daging Kambing


__ADS_3

Dapur luas dengan interior dan peralatan masak modern yang lengkap. Dan baru kali ini Rahma menginjakkan kaki di area dapur. Dulu pertama kali ke villa ini sebagai tamu sebab pertolongan Mizyan saat insiden kecelakaan dibegal. Kini datang untuk yamg kedua kali sebagai anggota keluarga baru. Pandangannya menyapu, mencari letak lemari penyimpanan piring.


"Neng, ada yang bisa Bi Cicih bantu?" Tergopoh-gopoh wanita paruh baya mendekat, meninggalkan pekerjaannya yang tengah mengiris sayuran.


"Saya mau pinjam piring dua, Bi. Di mana ya?" Dan aroma masakan daging kambing tercium harum. Membuat Rahma menoleh ke sumbernya dimana seorang pria yang menggunakan apron tengah memasak dengan tangkas dan penuh konsentrasi.


"Ini neng piringnya." Fokus Rahma teralihkan lagi begitu asisten rumah tangga yang memperkenalkan nama Bi Cicih itu datang membawa dua buah piring.


"Dia namanya Iwan. Koki andalan tuan Emsi yang jago masak makanan luar negeri. Jangan kaget ya neng kalau dia mah begini---" Bi Cicih seolah tahu rasa penasaran yamg ada di benaknya Rahma. Sembari memperagakan gerak tangan gemulai, memberitahukan karakter chef Iwan.


Rahma mengulum senyum geli. Tangannya terulur mengeluarkan box-box kue dari dalam paper bag. Obrolan bersama Bi Cicih yang merupakan asli warga kampung sini mengalir santai disela kegiatannya memotong-motong bika ambon dan menata pai buah di piring.


"Aw aw aw....pantesan ada aroma yang tak biasa di sini. Rupanya ada bidadari turun ke dapur. Siapa gerangan dikau ini?" Chef bernama Iwan yang tampak maskulin saat memasak berubah gemulai kala bergabung dan menyapa Rahma.


Bi Cicih mengeplak lengan Iwan sebab matanya mengerjap-ngerjap centil. "Ini Neng Rahma, istrinya Den Mizyan. Jangan genit-genit!"


"Eh genit eh genit-genit---" Iwan berucap latah sebab Bi Cicih mengacungkan pisau kue di depannya. "Ish, bibi. Jangan galak sama inces dong jadinya hilang sudah wibawaku." Bibirnya mengerucut sembari memutar bola mata.


Rahma tak bisa menahan tawa. Lingkungan baru dan bertemu spesies baru membuatnya terhibur.


"Neng geulis, perkenalkan namaku inces Wanda, alias Iwan Damian. Tapi cukup panggil aku inces." Iwan sedikit membungkukkan badan sembari mengatupkan kedua tangan di dada. Rahma menganggukkan kepala sembari menyebutkan namanya.


"Hmm, pantesan si aa bule tadi pagi telepon request masakan sama inces, rupanya oh rupanya---" Iwan meremas kedua tangannya sembari tersenyum lebar dengan bola mata diputar-putar.


"Emang request apa kang? Eh inces." Rahma meralat begitu melihat raut wajah Iwan berubah cemberut.


Membuat Inces pun kembali sumringah. "Aa bule pesen sate kambing sama tongseng kambing. Secara di Bogor tuh dingin dan sering hujan. Cucok deh pengantin baru---" Pungkasnya dengan mata mengerling menggoda Rahma.


Rahma tak bisa menyembunyikan rona malu di pipinya yang putih. Ditambah Bi Cicih yang ikut mesem-mesem, membuat semburat merah menjadi seperti tomat.


"Nda---"


"Nda---"


Dika datang berlari ke arahnya dengan semangat dan nafas ngos-ngosan.


"Nda, ayo pelgi sama Papa. Mau tetemu sapi atu, sapi nda, sapi papa juja." Dika menarik-narik tangan bundanya untuk meninggalkan dapur.

__ADS_1


"Tunggu dulu, sayang. Bunda bawa ini buat Opa." Rahma meminta Dika untuk melepaskan tangannya sebab harus membawa nampan.


"Neng, biar sama bibi aja." Bi Cicih meminta nampan yang akan dibawa Rahma.


"Gak papa, Bi. Bi Cicih tolong buatin teh tawar melati aja 2. Sekalian buat Papi juga. Tapi saya tidak tahu minuman kesukaannya apa."


"Mangga, Neng. Kalau Tuan mah teh hitam."


Setelah punggung Rahma tak lagi kelihatan, Inces yang melongo melihat kedatangan bocah yang lucu dan menggemaskan itu baru tersadar kala Bi Cicih menyikutnya.


"Info dari mas Rangga, neng Rahma itu janda cerai mati. Den Mizyan sangat menyayangi dua-duanya." Bi Cicih berinisiatif menjelaskan melihat raut penuh tanya dari sang koki.


Inces manggut-manggut mengerti. "Anaknya lucu, Bi. Bibit unggul ini mah. Gedenya calon bidadara. Aku aja jatuh cinta pada pandangan pertama." Sembari melangkah gemulai menuju tempatnya meracik masakan untuk melanjutkan lagi.


****


Dengan bujukan Rahma, Dika menurut untuk pergi ke peternakan selepas sholat dan makan siang, yang tinggal 30 menit lagi waktunya adzan Duhur. Sembari menunggu waktu, Mizyan mengajak anak istrinya home tour ke seluruh area villa. Meninggalkan Papi Mark yang duduk santai menikmati kue oleh-oleh dari sang menantu.


"Besok kita berenang ya." Mizyan mengajak Rahma dan Dika duduk di gazebo halaman belakang usai berkeliling. Sembari menghadap kolam renang dengan airnya yang biru berkilatan terkena pantulan sinar matahari.


"Atu mau lenang sama Papa." Dika mengacungkan tangan.


"Tenang, Bun. Nanti aku ajarin." Mizyan memberikan solusi.


Selepas ikut-ikutan sholat berjamaah di musholla, mencium tangan Papa buye, Dika merajuk lagi menagih janji untuk bertemu sapi. "Makan dulu biar gak masuk angin. Baru kita berangkat!" Rahma mencolek bibir sang anak yang mengerucut. Yang tampak tak sabar ingin segera pergi. Mizyan pun tersenyum geli melihat bibir mungil yang maju sampai 5 cm itu.


Rahma mengamati lauk pauk yang ada di meja makan. Ternyata benar apa yang dikatakakan sang koki, sate kambing dan tongseng bersanding dengan chicken cordon blue dan sup ikan tuna. Dan Mizyan hanya meminta diambilkan sate serta tongseng, tidak mau yang lain. Papi Mark kebalikannya, tak menyentuh 2 olahan daging kambing itu. Ia sendiri makan sembari menyuapi Dika yang mengunyah dengan cepat. Tentu saja semangat agar bisa segera pergi bertemu sapi.


Perjalanan menuju peternakan hanya ditempuh 30 menit. Mendekati lokasì, Dika yang terus bertanya warna-warna sapi mulai mengerutkan kening lalu menutup hidung. "Papa, ini bau apa?"


"Dika kentut kali---" Dari spion tengah Mizyan melirik bocah yang kini mengendus-ngendus.


"Atu tidak tentut. Nda, ya?!" Dika melempar tuduhan pada bundanya.


Rahma yang duduk di samping Mizyan terkekeh sembari menolehkan wajah melihat ke jok belakang. "Bunda juga enggak kentut. Itu baunya eek sapi."


"Ih sapinya jolok--- nanti atu malahin sapinya."

__ADS_1


Respon Dika membuat Rahma dan Mizyan tertawa lepas. Sepertinya sudah ada konfirmasi ke manajemen jika akan kedatangan anaknya Pak Mark ke peternakan. Terlihat sambutan ramah beberapa orang di gerbang masuk dengan pintu yang sudah terbuka lebar begitu mobil melintasi pos jaga. Aroma kotoran sapi yang tercium ke jalan sebab hembusan angin, nyatanya begitu berada di kawasan sama sekali tidak tercium baunya.


Dika sempat melongo dengan mulut menganga begitu turun dari mobil disajikan pemandangan kandang dengan sapi yang berjajar panjang dan berhadapan tengah diberi pakan rumput oleh petugas.


"Nda....Nda....sapinya besal-besal." Dika mulai menguasai keadaan dengan berkomentar takjub. Menarik-narik lengan bundanya untuk lebih dekat melihat sapi. Meninggalkan Papa buye yang masih berbincang-bincang dengan 2 orang staf. Dengan berani Dika mengambil setangkai rumput panjang lalu disodorkan ke mulut sapi dengan pengawasan bundanya. Begitu seterusnya dengan bergeser memberi makan ke sapi-sapi yang lain.


"Ayo saatnya naik kuda!" Mizyan menghampiri diiringi 2 orang joki yang menuntun kuda. "Kita akan lihat-lihat sapi yang dilepas liar."


"Lesgow, Papa--" Dika paling antusias menyambut dan berjalan paling depan menuju kudanya.


"Sayang, naik sendiri ya. Aku boncengi Dika." Mizyan lebih dulu mrmbantu Rahma naik ke atas kuda. Sembari mewanti-wanti pada joki agar menjaga keselematan istrinya itu dengan benar.


"Papa---Papa, bismilah dulu bial tidak tatut." Dika mendongak menahan lengan papa buye yang bersiap naik ke pelana kuda. Sejatinya kalimat itu adalah untuknya sendiri yang diajarkan sang bunda bahwa setiap merasa takut harus baca bismillah.


"Oke, boss!" Mizyan menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk tanda bulatan. Selanjutnya meraih tubuh Dika yang digendong naik oleh sang joki, duduk di depannya.


Meski siang hari, beruntung cuaca tidak panas terik. Cenderung teduh dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Sangat mendukung jalan-jalan santai menunggangi kuda, melihat-lihat sebagian sapi yang di lepas liar di padang rumput.


"Emoooohhh----" Dika dengan riang mengikuti suara lenguhan sapi. Menunjuk satu persatu sapi yang mengais rumput dengan santai sembari menyebutkan warna-warnanya.


****


Hujan deras melanda seputaran Bogor malam ini. Membuat Rahma menarik selimut lebih rapat sampai leher untuk mengusir hawa dingin yang menyergap. Bersamaan dengan Dika yang terkantuk-kantuk selepas isya, kecapaian setelah sampai sore berpetualang di peternakan. Ia pun pamit terhadap papi Mark dan Mizyan untuk masuk kamar lebih dulu.


Mandi air hangat membuat tubuhnya menjadi rileks dan mengantuk. Rahma akhirnya turut terlelap mengikuti Dika yang tidur pulas dalam usapan tangannya. Merasa tidur belumlah lama, namun gerak kasur empuk yang mengombak di belakang tubuh memvuatnya mengerjapkan mata. Disusul rengkuhan sepasang tangan kekar dengan wangi maskulin yang sudah dikenalnya, membuat mata terbuka sempurna.


"Jangan dulu tidur, sayang. Aku butuh selimut hidup biar gak dingin." Bibir Mizyan menyapu di sekitaran leher sang istri. Menyesap dengan lembut sembari meninggalkan jejeak kissmark yang membuat tubuh Rahma menggelinjang.


Rahma membalikkan badan sehingga kini saling berhadapan. "Memangnya gak cape seharian ini belum istirahat?" Tatapnya pada wajah tampan yang mulai sibuk membuka kancing piyama.


"Mana ada cape kalo udah dekat kamu. Bawaannya on fire, ditambah udah makan daging kambing waktu lunch and dinner." Mizyan mengerling nakal usai membuka seluruh kancing piyama istrinya itu.


"Dika pindahin dulu, Papa." Rahma menahan wajah Mizyan yang siap terbenam di dadanya.


"Aman, bunda. Coba liat!"


Usai menoleh ke samping, Rahma baru menyadari jika Dika tidak ada. Tampak sudah berpindah ke sofa dengan dihalangi guling. Dika jarang terbangun tengah malam apalagi jika sudah cape seharian main tanpa tidur siang. Alhasil keadaan aman terkendali.

__ADS_1


The power of daging kambing sedang diuji cobakan. Start jam 10 malam, hawa yang dingin dalam guyuran hujan lebat di luar. Sungguh perpaduan yang pas pengantar aktifitas sang pemain expert dalam memberi servis yang memanjakan segudang kenikmatan untuk kekasih halalnya. ******* dan lenguhan terus saja lolos tak terkontrol seolah berlomba dengan jarum detik dan menit yang merangkak menuju tengah malam.


Rahma sudah berkali-kali meraih puncak kenikmatan. Tubuh yang telah lunglai mendapat infus lagi sebab sentuhan di titik-titik sensitifnya. Sempat berpikir, bagaimana bisa suaminya itu lihai membuatnya terus sakaw. Tak ada waktu otaknya berpikir untuk memecahkan tanda tanya. Sebab sentuhan lembut dan membuai kembali membuat tubuhnya bergetar. Dan permainan sang expert belum juga usai.


__ADS_2