MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 72. You Know What I Mean


__ADS_3

Ketika semua orang tertawa dengan kepolosan Dika. Lain halnya dengan Olla yang terkejut mendengar kalimat demi kalimat Mizyan kala menyampaikan lamaran.


Calon istri dan calon anak?


Olla menatap uwa nya yang mesem-mesem dengan kelucuan anak laki-laki berambut kriwil itu. Tidak ada raut keterkejutan. Sama halnya ketika melirik Azis dan Ratna yang tergelak. Sudah pasti tamu yang lainnya tampak tertawa.


Berarti hanya aku aja yang belum tau dengan status calonnya A Iyan?!


Olla tersenyum getir. Obrolan terakhir dengan Mizyan kala klarifikasi malam itu di teras. Betapa Mizyan mengaku merasa bangga dan beruntung mendapatkan wanita ini. Sebegitu istimewanya kah?


Tatapannya kini tertuju pada ibunya Mizyan yang menyematkan cincin di jari manis Rahma. Kemudian ibunya Rahma menyematkan cincin di jari manis Mizyan. Kebahagiaan jelas tergambar di kedua keluarga yang tengah diabadikan juru foto. Meski sudah bisa menerima akan kenyataan cintanya bertepuk sebelah tangan, namun sedikit perih mengiris hati itu terasa.


Andainya aku yang dilamar.


Do'a sebagai penutup rangkaian acara selesai dipanjatkan. Mizyan dan Rahma duduk bersanding di kursi khusus berlatarkan rangkaian bunga mawar putih berhiaskan tulisan warna emas nama keduanya. Ada Dika yang duduk sebagai penengah.


"So beautiful, Bun." Kalimat yang ingin diucapkan Mizyan sejak menatap kedatangan Rahma, baru sekarang ada kesempatan dibisikkan usai acara selesai.


Rahma hanya berdehem menanggapinya dengan wajah yang semburat rona merah. Tak mau ia balas menatap Mizyan yang tertangkap sudut mata tengah tersenyum padanya. Takut salah tingkah melihat senyuman maut itu. Memilih mengarahkan pandangan pada 2 orangtua yang saling berpelukan dengan wajah penuh bahagia.


Kemal berdiri dari duduknya menghampiri pembawa acara dan meminta kesempatan bicara sebelum berlanjut pada sesi jamuan makan.


"Bapak dan ibu yang saya hormati." Kemal menatap pak Badru dan Uma. "Sebelumnya perkenalkan saya Muhammad Kemal biasa dipanggil Kemal. Dan saya merupakan kakaknya Mizyan. Kakak ketemu gede, Pak. He he--"


Pak Badru dan Uma terkekeh menyaksikan san mendengar perkenalan Kemal.


"Mumpung kita berkumpul duduk bersama, mewakili keluarga saya mau menyampaikan perihal waktu pelaksanaan pernikahan. Dan kami sudah rembukan, ingin pernikahan Mizyan dan Rahma dilaksanakan tanggal 13. Berarti jum'at depan alias seminggu dari sekarang. Bagaimana bapak dan ibu setuju?" Kemal menatap kedua orangtua Rahma yang tampak saling pandang.


Sama halnya Mizyan dan Rahma yang tampak terkejut dan juga saling pandang.


"Bapak dan ibu tenang saja. Segala persiapan sudah dihandle oleh kami mulai dari venue dan lain-lainnya." Kemal beralih menatap Mizyan dan Rahma. "Calon penganten pun tidak usah risau dan capek. Duduk manis aja.Biar kami keluarga yang akan mengurus dan memberikan yang terbaik buat kalian."


"Pak Badru, Bu Fatma, ini sebagai surprise untuk anak-anak kita." Mami Kanti mencondongkan tubuh, berbicara pelan. "Semalam kami sudah berunding bahkan berbicara dengan manajer hotel untuk kesiapan tempat. Dan tanggal 13 free. Ngapain dilama-lama coba, toh anak-anak kita sudah berniat untuk menikah.


Ayah Badru dan Uma manggut-manggut. Benar apa yang dikatakan ibunya Mizyan. Apa lagi yang mau ditunggu?!


"Saya setuju, nak Kemal." Ayah Badru angkat bicara menjawab dengan singkat dan padat.


"Alhamdulillah. Semuanya sudah mendengar kan ya. Jadi akad nikan dan resepsi Mizyan dan Rahma akan dilaksanakan tanggal 13, jum'at depan." Kemal pun mengetuk microphone yang dipegangnya sebanyak 3 kali sebagai tanda deal.


Mizyan antara kaget, senang dan resah berpadu jadi satu dalam dada. Ia menatap tajam Kemal dengan sorot mata meminta penjelasan sebab ia tidak diajak bicara terlebih dahulu. Namun yang ditatap tampak lempeng-lempeng saja membuat keputusan.


"Mas, kenapa gak kasih tau dulu sebelumnya?apa ini gak terlalu buru-buru?!


Pertanyaan Rahma dengan wajah yang masih kaget membuyarkan konsentrasi Mizyan. Ia tengah berbicara dengan isyarat mata pada Kemal yang sudah duduk lagi di kursi.


Mizyan menggeleng. "Aku juga gak tau. Keluarga belum bahas ini kok, makanya aku kaget."

__ADS_1


"Rahma, kamu gak keberatan kan kita nikah cepet?" Mizyan menatap serius. "Ada bagusnya juga sih biar aku bisa leluasa 24 jam bersama kamu dan Dika." Kedipan mata mengakhiri ucapannya.


"A-aku---" Rahma tampak gugup dan menatap sembarang arah orang-orang yang mulai mengantri prasmanan. "Aku ngikut gimana mas Mizyan aja." Senyum malu-malu menghiasi wajah yang merona.


Membuat Mizyan merasa gemas ingin sekali menggigit bibir tipis itu. Terasa pula aliran listrik yang menjalar sampai ke inti tubuhnya.


"Selamat, bro." Arya and the genk datang menghampiri adu tos dan saling berpelukan. "Sabar ya. Seminggu lagi mah waktu gak terasa." lanjut Arya sembari meninju bahu Mizyan. Keduanya pun tergelak bersama.


Mengekor dibelakangnya istrinya Arya juga memberi selamat. Dan Mizyan pun mengenalkan para istri empat sekawan yang lengkap membawa anak-anaknya itu pada Rahma dan Dika.


"Seminggu lagi kan? Aku sih yes." Willi giliran merangkul Mizyan. Lalu Ricky dan Rendi pun memberi ucapan selamat. Dan kebersamaan serta kehebohan itu diabadikan dalam jepretan kamera.


"Hei tunggu! Ikutan--" Satya yang menggendong anaknya menerobos masuk disela bahu Rendi diiringi Rade yang menempel berdiri di samping Marisa. Jadilah momen dengan formasi banyak itu diabadikan dalam beberapa kali jepretan dengan berbagai gaya gokil.


"Please kalian semua harus jadi bridesmaid dan groomsmen buat kita!" Pinta Mizyan usai sesi foto.


"Siap banget, bro. Tapi tolong izinin kita bolos kerja ke boss Arya." Ricky menunjuk dengan matanya ke arah Arya.


"Ar--?!" Mizyan menaik turunkan kedua alisnya menatap Arya.


"Sayang, enak aja Ricky sama Willy minta bolos." Arya pura-pura merajuk sembari merangkum bahu Andina, istrinya.


"Kasih izin, Pih. Ini kan momen bahagia semuanya." Tatapan lembut Andina membuat Arya tanpa malu mengecup kepala sang istri.


"Hadeuh pamer." Mizyan memutar bola matanya. Tangannya terulur untuk memeluk bahu Rahma. Tentunya hanya becanda.


"Seminggu lagi woy. Sabar--" Rendi menghempaskan tangan Mizyan. Yang sontak menciptakan tawa diantara mereka semua.


"Bro, kenapa kemarin sore aku gak mau nemuin kamu." Satya bicara sembari merangkum bahu Rade. "Karena kita meeting sama mami papi kamu, juga bang Kemal. Meeting buat ngurusin pernikahan kalian jumat depan. Bang Kemal bilang kamu sangat mengistimewakan hari jumat makanya pernikahan pun ngikut hari lamaran kamu.


"Pantesan kemarin Bang Kemal gak mau didatangin ke hotelnya. Mami juga pulang malam." Mizyan geleng-geleng kepala tak menyangka akan mendapatkan surprise.


"Tenang aja kak, urusan baju pengantin dan dresscode, aku dan mami yang urus. Kak Yan sama mbak Rahma nanti tinggal fitting aja. Oh ya sama nyiapin list tamu undangan." Rade turut menambahi dengan senyum sumringah.


"Thanks a lot untuk support kalian." Mizyan menepuk bahu Satya penuh haru.


****


Mizyan membawa Kemal ke kursi paling ujung yang jauh dari keramaian orang-orang. Meninggalkan sementara Rahma yang tengah bersenda gurau dengan para sepupu. Ia perlu bicara serius yang bersifat privasi dengan boss batu bara itu.


"Abang kenapa gak tanya aku dulu, bang." Mizyan menunjukkan wajah aslinya. Wajah yang sebenarnya panik kala mendengar pernikahannya seminggu lagi.


"Kan surprise, Le." Kemal menatap tenang ke arah Mizyan yang tampak tegang. "Apa kau gak happy bisa menikah dengan wanita pujaanmu itu?" Tanpa beban Kemal mengepulkan asap rokok dari mulutnya.


"Happy, bang. Absolutely. Tapi seminggu ini aku harus nyari dokter mana lagi."


"You know what I mean." Mizyan menyugar rambutnya dengan raut frustasi.

__ADS_1


Kemal menepuk-nepuk bahu Mizyan. "Tak perlu nyari dokter, Le. Kamu test drive aja, apa nyala lagi gak kalau minta nyicil sama Rahma. Kan udah setengah halal." Ia tersenyum menyeringai penuh arti.


"Bang, Rahma wanita terhormat!" Mizyan melotot sembari mendengus kesal.


Kemal tertawa lepas. "Canda, Le. Serius amat tuh muka." Ia pun berdehem dan menegakkan punggung untuk memperlihatkan keseriusannya. "Le, sugesti diri. Yakinkan hati kalau junior akan bangun pada waktunya yaitu hari pernikahan. Aku yakin itu. Berdo'a sama Allah. Yakin dan percaya pada kekuatan do'a."


Mizyan mengatupkan bibir. Ucapan Kemal bagaikan oase di padang pasir yang berhasil mendinginkan kepala yang panas, menyejukkan jiwa yang resah. Beginilah untungnya bergaul dengan orang-orang baik. Saat iman down ada yang menuntun naik bukan memukul jatuh.


Pandangan Mizyan kini terpusat pada Rahma yang tengah tersenyum menyambut kedatangan pria bermata sipit. Ia pun memicingkan mata ketika di belakang pria itu ada 2 orang yang berdiri mengantri mendekti Rahma. Alex dan mamanya.


Menambah naiknya semangat jika ia memang harus segera menikahi Rahma demi menjaga Rahma dan Dika dari rongrongan keluarga mantan mertuanya.


"Mas, kenalin ini koko Andreas." Rahma menyambut kedatangan Mizyan dengan memperkenalkan teman sipitnya.


"Mizyan."


"Andreas."


Kedua pria tampan beda etnis itu berjabat tangan. "Wah, aku keduluan deh." Koko menggeleng yang ditanggapi Rahma dengan tertawa. Jika Rahma menganggap ucapan koko sebagai joke, lain halnya koko yang sebenarnya mengungkapkan isi hatinya.


"Anyway, happy engagement. Maaf Mami lagi kurang sehat, gak bisa datang. Ditunggu undangan nikahnya ya."


"Makasih, Ko. Asal janji mau datang bawa gandengan, pasti aku undang."


Koko tergelak dengan mata yang merem. "Jahara kamu, Rahma." Ia beralih menatap Mizyan yang tersenyum menjadi penontong. "Maaf ya, saya dan Rahma suka becanda."


"Never mind." sahut Mizyan santai.


"Rahma, maaf kita datangnya telat tadi kena macet." Mama Indah memeluk Rahma usai koko pergi menuju stand. "Selamat ya kamu akan memulai lagi hidup baru." Ia lanjut mengusap-ngusap lembut bahu mantan menantunya itu.


Rahma tergugu. "Makasih lho Ma, udah mau datang ke sini. Saya sangat terharu." Matanya berkaca sebab silaturahmi tetap terjalin dengan perantara Dika yang masih ada ikatan darah.


Mizyan menatap datar pemandangan yang tersaji di depannya itu. Ia pun saling bertatap tajam dengan Alex yang intens memperhatikannya saat menunggu giliran menyalami Rahma.


"Kami akan menikah jum'at depan. Ditunggu kehadirannya. Undangannya menyusul." Mizyan tak mau lama melihat basa basi Alex dan mamanya. Kesan pertama bertemu pun hatinya tidak suka dengan 2 orang itu. Apalagi setelah tahu niat busuk Alex dan mamanya itu. Ia menyayangkan Rahma yang terlalu lugu menilai kebaikan sang mantan mertua.


"Apa?!"


"Apa?!"


Reaksi kaget spontanitas terucap bersamaan dari mulut mama Indah dan Alex.


"Serius, Rahma?" Mama Indah terfokus menatap Rahma ingin meyakinkan.


Rahma mengangguk. "Iya ma. Saya harap mama sekeluarga bisa hadir." Ia beralih memanggil Dika yang tengah bermain kejar-kejaran dengan si kembar Raka dan Rayi.


"Dika, sini sayang."

__ADS_1


Dika berhenti dan menolehkan wajah.


"Salim dulu sama Oma dan Om Alex." Rahma melambaikan tangan. Namun Dika menggedikkan bahu dan berlari sambil tertawa sebab dikejar lagi oleh 2 sepupunya itu.


__ADS_2