
"Pak Mark!" Fatimah tergeragap menatap Mark yang mendekat. Ia terlalu fokus dengan buku yang dibacanya tanpa tahu jika Mark sudah berdiri sejak 5 menit yang lalu dan menatapnya lekat.
"Saya diajak mbak Rahma ke sini untuk melihat-lihat buku." Fatimah menjelaskan agar tuan rumah tidak mengira ia berlaku tidak sopan sebab sudah masuk ke ruang perpustakaan. Bahkan ia sempat memandangi foto Mark yang terbingkai besar di dinding. "Mbak Rahmanya barusan lagi ke kamar mandi dulu." Sambungnya sambil menundukkan pandangan sebab merasa tidak kuat mendapat sorot mata yang hangat menatapnya.
"Santai aja Bu Ima. Silakan baca-baca buku sepuasnya. Anggap saja rumah sendiri." Mark tersenyum simpul. "Saya ke sini mau mengambil hape." Lanjutnya sambil menunjuk pada meja khusus tempatnya membaca.
Fatimah tersenyum dan mengangguk mengerti.
"Boleh tanya sesuatu, Bu Ima?!" Mark duduk di kursi bekas Rahma tadi. Sehingga saling berhadapan sejajar dengan sang pemilik lesung pipit di pipi kanan itu.
"Silakan, Pak." Fatimah mengangguk sopan.
"Saya penasaran dengan pemilihan nama rumah tahfiz, La Tahzan. Adakah makna di balik pemilihan nama itu?!" Mark menatap lurus dengan sorot keingintahuan yang begitu kentara di matanya.
Fatimah menutup buku yang baru 2 lembar dibacanya. Beralih menautkan jemari di atas meja dengan tatapan mengarah jalinan tangan itu. "Iya, memang betul ada history di balik nama itu."
Mark menunggu Fatimah melanjutkan cerita.
"La Tahzan artinya jangan bersedih. Merupakan potongan dari surah At Taubah ayat 40, la tahzan innallaha ma'ana. Ayat tersebut mengandung makna janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”
"Dulu, 10 tahun yang lalu menjadi tahun yang penuh kesedihan bagi saya. Di tahun yang sama itu ditinggalkan 3 orang yang saya sayangi. Suami mendadak wafat saat menjadi imam sholat jum'at. Lima bulan kemudian Ibu wafat setelah sakit selama seminggu. Sebulan kemudian ayah pun menyusul Ibu pergi." Fatimah berdehem begitu suaranya mendadak serak sebab dorongan kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
"Maafkan saya, Bu Ima. Sudah membuka luka lama. Saya gak mengira history sepedih itu. Tidak usah dilanjutkan lagi. Maaf---" Mark nampak merasa bersalah. Hampir saja khilaf akan menggenggam tangan Fatimah sebagai penghiburan. Beralih tangannya dikatupkan di depan dada.
Fatimah mendongak menatap Mark sekilas sambil mengulas senyum dengan wajah tenang. "Waktu sudah berhasil menyembuhkan luka. Ungkapan La Tahzan menjadi motivasi saya menjadi hamba yang tegar dan ikhlas menerima takdir. Sehingga mengantar saya menjadi pengasuh anak-anak yatim piatu. Bermula 2 orang anak kakak beradik yang saya rawat karena kedua orangtuanya meninggal. Sampai kemudian bersama Faisal mendirikan rumah tahfiz yang seiring waktu anak-anak asuh pun bertambah." Ia mengakhiri cerita dengan helaan nafas lega.
"I'm proud of you." Mark bersidekap tangan di atas meja dengan wajah yang condong ke depan. Memuji dengan tulus terhadap wajah yang kini menunduk lagi menyembunyikan rona merah di pipi.
****
Hujan dengan intensitas sedang mengguyur malam ini. Wiper tanpa henti menyapu kaca mobil depan, untuk mengahalau embun serta guyuran air hujan yang menghalangi pandangan. Sudah 5 menit mobil terhenti sebab di depannya ada pohon tumbang menghalangi jalan. Nampak ada 3 orang pria bersiap untuk melakukan evakuasi. Sempat mengetuk mobil yang dikemudikan Mark untuk sabar menunggu. Tidak ada pilihan lain selain menunggu sebab tidak ada jalan alternatif. Kecuali kembali lagi ke villa. Namun tawaran kembali ke villa ditolak Fatimah. Memilih menunggu di mobil sampai nanti jalan bisa dilalui.
"Ini peluang untuk Papi lebih dekat dengan Bu Fatimah." Mizyan mengacungkan kunci mobil.
"Papi suka sama Bu Ima, kan?!" Mizyan masih memegang kunci yang belum diambilnya. "Tenang, Pi. Aku dan Rahma dukung Papi kok."
Mark mengingat lagi percakapan empat mata dengan sang anak di ruang tengah. Ia dan Fatimah tidak tahu jika Faisal dan yang lainnya sudah pulang lebih dulu. Dengan alasan mendadak ada kunjungan tamu kepala desa bersama ketua MUI desa. Membiarkan Fatimah larut dalam diskusi keagamaan bertiga bersama Rahma yang datang lagi ke perpustakaan 20 menit kemudian.
Dan Mark tidak berkelit akan tuduhan Mizyan. Menerima kunci dan siap mengantar Fatimah serta Salwa pulang.
"Hmm, kenapa gak diantar sama Kang Rangga atau security aja, Pak. Saya jadi gak enak....masa pak boss yang ngantar saya pulang."
"Rangga nganterin Olla menyusul Pak Faisal. Sama, Olla juga ketinggalan karena anteng nemenin anak-anak di playground. Gak papa Bu Ima, Papi biasa turun tangan kalo urgent. Kadang nyupirin mobil pick up buat nganterin sapi ke pembeli."
Mark tersenyum tipis mengingat alasan yang dibuat Mizyan. Ingin rasanya menggetok kepala putra semata wayangnya itu. Mana pernah ia nganterin sapi ke pembeli. Ada 2 sopir yang standby di peternakan yang selalu siap dengan tugasnya. Tapi urgent yang ini beda. Demi Fatimah, ia rela menjadi sopir pribadinya.
"Kenapa Bu Ima tidak menikah lagi?" Mark memecah kebisuan diantara mereka bertiga. Salwa anak bungsunya Faisal, asyik merangkai tulisan dengan telunjuk pada kaca jendela yamg berembun di jok belakang. Mengabaikan dua orang dewasa yang duduk di depan.
"Maaf jika bertanya hal pribadi. Biar kita lebih akrab sebagai teman. Jangan terus-menerus bersikap formal." Mark menyambung ucapannya melihat Fatimah yang masih membisu dengan pandangan lurus ke depan memperhatikan pekerja yang menggergaji batang pohon. Hatinya sedikit menegang, khawatir Fatimah tersinggung dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Nggak lah. Saya sudah bahagia dengan kehidupan yang saya jalani." Fatimah menoles sekilas. Mengulas senyum yang bagi Mark sangat tak baik untuk hatinya. Meski pencahayaan remang-remang dari penerangan jalan, manisnya lesung pipit itu kentara jelas di pandangan Mark.
"Kenapa tidak ingin berlimpah bahagia dengan menikah lagi? Kamu cantik dan baik hati. Saya yakin banyak pria yang ingin melamar seorang Fatimah Malati." Kekhawatiran Mark menguap. Ia semakin berani menjurus pada hal privasi untuk mencari celah baginya mengungkapkan asa.
"He he he---" Fatimah menutup tawanya dengan telapak tangan. "Dulu sih iya banyak yang datang. Tapi karena sering saya tolak, lama-lama pada mundur teratur dan tak ada lagi yang datang." Sambungnya bicara jujur.
"Pak Mark sendiri, kenapa gak nikah lagi? Padahal punya rupa dan harta, sangatlah mudah mendapatkan gadis muda juga." Fatimah membalikkan pertanyaan sambil terkekeh. Hanya menoleh sekilas dan kembali meluruskan pandangan. Tak ingin beradu tatap lama sebab ia tahu bahayanya peran setan.
Mark tertawa mendengar pertanyaan yang menurutnya bernada memuji sekaligus meledek itu.
"Karena belum ada wanita yang cocok dengan hati." Mark menghela nafas panjang. "Saya gagal mempertahankan pernikahan dengan maminya Mizyan. Dan tidak ingin gegabah mencari lagi pendamping hidup. Jika hanya sekadar memenuhi nafsu, seperti yang kamu bilang, gadis muda juga banyak yang mau. Tapi saya merasa trauma dengan kegagalan." Mark menangkupkan kedua tangan di stir kemudi, menatap lurus ke depan.
"Tapi Alhamdulillah, saat ini sudah ada wanita yang sangat mengusik pikiran. Yang kehadirannya berhasil mencairkan hati yang beku. Saya jatuh cinta padanya." Mark beralih menyandarkan punggung ke sandaran jok berbahan kulit itu. Mengembangkan senyum lebar dengan mata berbinar tanpa menolehkan wajah ke arah Fatimah. Tanpa ia tahu, seraut wajah penumpang di sampingnya itu tengah terkejut.
"Alhamdulillah---" Sahut Fatimah dengan wajah menunduk. Ia meremas ujung jilbab dengan rasa gelisah. Rasa syukur yang diucapkan berbanding terbalik dengan hati yang merespon kecewa.
"Do'anya mbak Rahma dan Mas Mizyan terkabul juga." Fatimah mendongak dan menatap pekerja yang mengalihkan batang pohon yang terpotong ke pinggir jalan. Ia mencoba tersenyum menyembunyikan hati yang gelisah.
Ya Allah, kenapa aku seperti ini....
Fatimah merasa heran dengan suasana hatinya saat ini.
"Maksudnya?!" Mark memiringkan badan menatap Fatimah yang menunduk sambil meremas ujung jilbab.
"Di perpustakaan tadi mbak Rahma sempat cerita, bahwa ia dan Mas Mizyan sangat berharap Papinya memiliki lagi pendamping hidup. Agar ada yang membimbing belajar agama 24 jam dan agar kebahagiannya sempurna. Sungguh niat mulia seorang anak dan Allah dengan cepat mengabulkan do'anya." Jelas Fatimah tanpa balas menatap Mark yang sedang mengulum senyum.
"Sungguh anak-anak yang manis." Mark tulus memuji.
"Pasti wanita itu sangat istimewa." Sahut Fatimah sambil berusaha meredam hati yang tiba-tiba berdesir perih.
"Ya, kamu benar sekali." Jawab Mark dengan semangat.
Hening.
Bahkan Salwa sudah tertidur di joknya entah sejak kapan. Baru terlihat oleh Mark saat barusan menatap rear vision mirror.
"Kamu tidak bertanya siapa wanita itu?!" Mark menatap lagi Fatimah yang sedang menatap lurus ke depan. Tanpa tahu jika sorot mata berbulu lentik itu redup.
"Emangnya saya boleh tahu?!" Fatimah balik bertanya.
"HARUS TAHU!"
Fatimah mengangguk mendengar jawaban tegas juragan sapi itu.
"Siapa wanita itu?" tanyanya dengan suara lemah.
"Dia---- FA TI MAH MA LA TI." Perlahan Mark mengeja nama dengan penuh penekanan.
Sontak Fatimah menolehkan wajah dengan raut kaget. Menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Jangan becanda, Pak Mark." Fatimah menggeleng lagi diiringi degupan jantung yang bertalu kencang. Mimpi itu....
"Tidak ada becanda pada urusan hati." Mark menatap lurus dan sungguh-sungguh berucap. "Saya sudah tertarik sama kamu sejak pandangan pertama bertemu di villa. Menjadi jatuh hati setelah sering berjumpa."
"Fatimahh Malati, saya ingin melamar kamu menjadi istri saya. Maukah kamu menjadi penyempurna kebahagian saya?!" Dari lubuk hati yang paling dalam, Mark mengutarakan perasaannya.
"Sa ya----" Fatimah berubah gugup dan lebih menundukkan wajahnya.
"Gak papa, jangan dijawab sekarang. Yang penting kamu sudah tahu dengan perasaan saya."
Mark menyalakan mesin mobil. Setelah 30 menit menunggu, kini jalan sudah bisa dilalui dan hujan pun sudah reda.
"Tapi saya ingin jawab sekarang."
Mark urung menginjak pedal gas. Membiarkan mesin menyala dengan wajah menoleh menatap wajah cantik tanpa polesan itu. Menunggu jawaban.
*****
Mark melangkah masuk ke dalam villanya dengan langkah tergesa dengan wajah sumringah. Kaget begitu mendengar deheman putranya yang muncul dari arah ruang keluarga. Membuat langkahnya menuju kamar terhenti.
"Roman-romannya ada yang lagi happy." Mizyan melipat kedua tangan di depan dada. Memutari tubuh sang ayah yang masih gagah itu dengan tatapan menyelidik. "Hmm, bau-baunya Papi udah nembak Bu Ima ya?!" sambungnya dengan hidung mengendus-ngendus jaket kulit yang dikenakan Papi Mark.
Pletak.
Mark mendaratkan sebuah sentilan di kening Mizyan. Lalu beralih menarik kerah kaos anaknya itu sehingga kedua wajah menjadi berdekatan. Membuat Mizyan kaget melihat ada kilat kemarahan di sorot mata sang ayah.
"Kamu kalo ngomong suka bener ya." Mark menggeram. Kilat marah itu berubah menjadi kilat kebahagiaan dengan sunggingan senyum serta kedua alis yang dinaik turunkan.
Mizyan yang awalnya terkejut, berubah tersenyum lebar. Segera memeluk erat Papi Mark diiringi ucap syukur.
Mark membalas pelukan hangat Mizyan sambil menepuk-nepuk punggung anaknya semata wayangnya itu.
Rahma yang menyaksikan dari jauh sempat terkaget melihat ketegangan yang tecipta sesaat. Kini meraba dada yang sudah lega sambil tersenyum turut bahagia. Kemudian memlilih beranjak ke kamar menemani Dika yang baru terlelap.
"Pi, gimana respon Bu Ima?!" Mizyan mengurai pelukan. Sangat antusias ingin mendengar cerita lengkapnya. Mengajak Papi Mark duduk di sofa panjang.
"She said 'Yes'." Mark menjawab dengan tenang.
"Really?!" Mizyan membulatkan mata, tak percaya. "Wuah, Bu Ima... gak yangka. Kirain bakal malu-malu meong dulu."
Mark menimpuk lengan Mizyan dengan bantal sofa. Anaknya itu kadang menyebalkan.
"Bu Ima bilang, selama seminggu ini setelah Tahajud, dia selalu bermimpi berjumpa Papi di depan musholla La Tahzan. Padahal sebelumnya gak pernah memikirkan Papi." Mark tertawa mengingat kejujuran Fatimah tadi.
Mizyan pun tersenyum simpul.
"Dia bilang bersedia menjadi penyempurna kebahagiaan Papi." Mark merebahkan punggung ke sandaran sofa yang empuk. Menopang kepala dengan kedua tangan. Dengan bibir yang tak lepas menyunggingkan senyum dan tatapan menerawang.
"Jaga pikiran....JANGAN MESUM!" Mizyan meledek Papi Mark dengan melempar bantal sofa ke pangkuan ayahnya itu.
__ADS_1
"Anak kurang ajar----! Mark menegakkan tubuh. Melempar bantal ke arah Mizyan yang kabur sambil tertawa terbahak-bahak. Sayangnya, bantal sofa tidak mengenai anaknya yang iseng itu. Malah terbentur ke tembok.