
Sudah gelas kedua Rahma meneguk air putih. Tetiba tenggorokannya terasa sangat kering sebab kepanikan akibat kecerobohan yang dibuatnya. Berawal dari tak sengaja jempolnya menyentuh layar yang mengakibatkan tersambungnya panggilan video dengan pria di sebrang sana.
"Issh, kenapa aku bisa ceroboh sih?!" Lagi-lagi Rahma menggerutu sendiri sambil menelungkupkan wajah di meja makan. Menyesal, kecewa, malu, campur aduk jadi satu sebab sudah menampakkan diri dengan seragam khas rumahan di depan pria yang bukan keluarganya. Dasteran.
Ia berpindah menghampiri Ayah dan Uma yang tengah menonton tayangan berita. Memilih menyandarkan kepala di bahu Uma. Mata memang menatap televisi tapi pikirannya melayang teringat wajah tadi yang tersenyum padanya.
"Dika udah tidur ya?"
Pertanyaan Uma membuatnya tersadar dari pikiran yang melayang.
"Belum. Lagi anteng ngobrol sama dia. Aku tinggalin aja" jawabnya dengan malas sebab teringat lagi kelakuan cerobohnya.
"Dia siapa?" Giliran Ayah yang menolehkan wajah menatapnya.
"Ya itu. Om bule," sahut Rahma lagi dengan datar.
"Kenapa kayak berat gitu tiap nyebut nama Mizyan." Ayah menatap anak kesayangannya itu diiringi gelengan kepala. "Mizyan orangnya baik dan sopan."
Rahma menegakkan duduknya, kaget dengan tebakan ayahnya yang benar adanya. Iya benar, ia berat menyebut nama pria itu. Ada rasa takut jika benteng pertahanan hatinya yang ia bangun tinggi-tinggi menjadi runtuh. Komitmennya kuat, belum akan atau mungkin tidak akan membuka hati untuk pria lain. Apalagi usai membaca keseluruhan isi buku diary almarhum suaminya kemarin malam..
"Ah nggak kok. Itu perasaan Ayah aja," Rahma menyangkal. Dan memilih mengalihkan pembicaraan menanyakan kapan rencana mudik ke Aceh.
"Tadi siang sudah ada kabar dari Tandi. Awal bulan depan kita akan panen raya."
"Kita berangkat tanggal 4."
Rahma mengangguk. "Aku akan urus tiket pesawatnya."
Sudah hampir 1 jam berlalu namun Dika belum juga keluar dari kamar. Apakah belum selesai? Ia pun beranjak untuk melihat anaknya itu ke kamar.
"Rahma, sebentar!" Ayah menahan langkah Rahma yang baru berjalan 4 langkah. Yang kemudian membalikkan badan menatap sang ayah dengan kedua alis bertaut. Ia tampak menunggu apa yang akan disampaikan ayahnya itu.
"Biarkan Dika dengan kesenangannya."
"Maksud Ayah?" Rahma kembali duduk sebab belum faham dengan ucapan yang dilontarkan ayahnya itu.
"Dika sangat bahagia berteman dengan Mizyan. Setiap ikut kajian ahad Dika selalu nempel dengan Mizyan makanya begitu pergi selalu dikangenin. Biarkan dia bahagia mengikuti nalurinya. Jangan dikekang!"
"Tapi, Yah---"
"Banyak teman banyak saudara, Rahma." Uma memotong ucapan Rahma yang bisa ditangkapnya akan melakukan protes. "Ayah dan Uma di Bandung baru punya teman sedikit. Sekarang tambah kenalan baru, Mizyan. Sama kayak Dika, Uma dan ayah juga seneng."
Rahma mengatupkan bibir. Alasan yang disampaikan kedua orangtuanya cukup masuk akal. Ia pun tak bisa lagi melakukan protes. Apakah ia terlalu baper jika merasa sebenarnya pria berwajah bule itu tengah mendekatinya?
Dari pintu kamar yang terbuka lebar ia bisa melihat jika Dika sudah terlelap dalam posisi tidur tak beraturan. Dari jauh ia melihat ponselnya yang disandarkan di bantal untuk memastikan apakah masih nyala atau mati. Ia tak mau lagi ceroboh.
__ADS_1
Rahma menatap wajah yang tenang dalam lelap itu usai menyelimutinya.
"Biarkan Dika dengan kesenangannya."
"Dika sangat bahagia berteman dengan Mizyan."
"Biarkan dia bahagia mengikuti nalurinya."
Terngiang lagi ucapan Ayah kali tadi. Membuat matanya mendadak perih dengan dada yang sesak. Ia ingin sekali menjaga jarak dengan pria manapun juga. Tapi yang satu orang ini malah makin mendekat.
"Ayah, aku takut nggak bisa menjaga benteng hati." lirihnya berbicara sendiri dengan suara tercekat menahan kesenduan yang tiba-tiba hadir. "Aku takut jatuh cinta lagi. Aku nggak siap, Ayah---" Sebetulnya kalimat protes inilan yang tadi ingin disampaikannya. Namun sama sekali tidak ada keberanian.
Rahma sayangnya abang,
Maasha Allah. Sakit di kepala ini rasanya luar biasa menyiksa. Sepertinya tidak lama lagi waktunya Abang pergi. Mungkin juga ini tulisan terakhir Abang.
Sebelum menulis ini, Abang sudah berdoa agar Allah mengirimkan imam pengganti yang lebih baik dari Abang. Yang tulus menyayangi kamu dan Dika.
Langkahmu masih panjang. Pesanku, Menikahlah lagi.
Dika masih kecil. Butuh figur ayah. Kamu pun masih muda, jangan meratapi kepergianku.
Doakan Abang mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
Semoga Allah kabulkan do'a Abang ya sayang. Aamiin....
Rahma tak bisa lagi menahan buliran air mata yang mendesak berjatuhan. Tulisan tangan yang tak lagi rapih itu mendadak tampil dan hapal di kepalanya. Dan memang benar, tulisan itu menjadi lembar terakhir yang dibacanya. Jika melihat tanggal yang diingatnya, itu berarti ditulis 4 hari sebelum Malik tidak sadarkan diri 2 hari lamanya, lalu meninggal.
Rahma menggeleng-gelengkan kepala.
"Hanya Abang satu-satunya yang terbaik. Hiks....." Ia kini tergugu meredam tangisnya dengan ditutupi bantal. Hanya bahu yang terguncang menandakan betapa pilu yang dirasakannya malam ini sebab rindunya kembali menyeruak.
Ia bangun pagi dengan perasaan lebih plong usai menumpahkan segala sesak di dada dengan cara menangis. Bahkan sebelum berangkat, Dika melepas kepergiannya tanpa merajuk, tak ada drama. Malah bersikap sangat manis menciumi kedua pipinya.
"Nda, kata Om, atu da boyeh nacal." Dika memiringkan kepalanya yang berwajah riang sambil tersenyum. "Atu cayang Nda---"
"Bunda juga sayang Dika. Saaaangat sayang---" Rahma mencium kedua pipi Dika dengan gemas sebab kalimat manis yang diucapkan penyejuk jiwanya itu. "Dika juga harus sayang sama nenek dan kakek juga ya?!"
Dika mengangguk. "Atu juja cayang Om buye---"
Kali ini Rahma tak merespon. Hanya menelan saliva sambil sedikit meringis.
Sebelum berangkat ke kantor Nico usai janjian sehari sebelumnya, ia mampir ke toko florist membeli seikat bunga sedap malam yang kuncupnya mulai terbuka dan menguarkan wangi segar. Mobilnya mengarah menuju TPU tempat pusara almarhum Malik.
"InsyaAllah Abang husnul khotimah." Rahma berbicara sendiri sambil mengusap nisan bertuliskan Johan Al Malik bin Jamal Prayoga, usai membacakan do'a dan menyimpan seikat bunga sedap malam di depan nisan. "Selama sakit, Abang nggak pernah ninggalin sholat. Selalu mengaji dan bersholawat."
__ADS_1
"InsyaAllah, Allah lapangkan kubur Abang karena sedekah abang selama ini." Ia tersenyum menatap nisan yang kini mengkilat usai disapunya dengan beberapa lembar tisu. Tentunya ada kebanggaan tersendiri hidup seatap mendampingi Malik yang tak malu untuk belajar padanya memperbaiki kemampuan mengaji dan menguji hafalan juz amma.
Merasa cukup puas bersimpuh di depan pusara almarhum suaminya itu, Rahma bertolak menuju kantornya Nico. Ada hal serius yang harus dibahas bersama sahabatnya Malik itu.
"Ada wasiat penting dari bang Malik. Dan katanya aku harus minta bantuan mas Nico." Rahma langsung pada pokok tujuan kedatangannya sebab takut mengganggu kesibukan Nico.
Membuat Nico dan Suci saling pandang dengan raut heran.
"Wasiat apa, Rahma?" Suci menatap sepupunya itu dengan kedua alis bertaut.
"Awalnya aku mendapatkan buku diary bang Malik dari uma, katanya dikasih dari seorang perawat rumah sakit waktu abang meninggal." Rahma memulai kronologisnya.
"Beberapa bulan aku hanya menyimpannya, belum berani membukanya takut isinya menyedihkan. Dan aku baru mulai membacanya sebulan lalu."
Nico dan Suci tampak fokus menatap Rahma yang berbicara serius. "Kemarin malam aku kaget membaca wasiat, ada sebidang tanah yang bang Malik hibahkan untuk Dika dan aku." Rahma mengeluarkan secarik kertas yang ia tulisi.nama dan nomer ponsel.
"Katanya aku harus minta diantar mas Nico untuk menemui pengacara itu."
Ada keterkejutan yang nampak di wajah Nico usai membaca tulisan di secari kertas itu.
"Kenapa baru sekarang, Rahma? Pasti pak Hari menunggu-nunggu kedatangan kamu."
"Iya maaf, mas. Karena aku baru berani membacanya sampai tamat kemarin malam" Rahma tersenyum meringis mendapat tatapan kecewa dari Nico.
"Mas Nico kenal pengacara itu?" Giliran Suci yang penasaran melihat suaminya yang tampak berpikir keras.
Nico mengangguk. "Aku pernah mengantar Malik bertemu pak Hari. Sudah lama sekali, waktu kuliah. Dia pengacara yang mengurus akta warisan dari papanya Malik yang ingin digugat tante Indah, meminta bagian. Tapi Malik tidak ngasih karena isi surat wasiat papanya melimpahkan warisan 1,5 hektar tanah untuknya semua."
Nico beralih menatap Rahma yang tampak terkejut mendengar penuturannya. "Sepertinya Malik mengalihkan warisan dari papanya untuk kamu dan Dika. Tapi sebentar aku pastikan dulu."
Nico menjauhkan diri menuju jendela untuk menghubungi nomer yang tertera di secarik kertas.
"Kenapa aku jadi tegang gini." Rahma beralih menatap Suci sambil menautkan jemari kedua tangannya dan menghembuskan nafas berat.
Belum sempat Suci menyahut, Nico kembali datang bergabung lagi.
"Pak Hari selama ini menghubungi nomer Malik tapi tidak aktif. Maksudnya ingin bertemu dengan istrinya, katanya."
"Aku memang mematikannya." Sahut Rahma yang masih diselimuti ketegangan.
"Pak Hari sedang di luar kota. Hari senin meminta kita bertemu di kantornya di Jakarta. Gimana bisa?"
"InsyaAllah bisa, mas. Sekalian aku silaturahmi ke mama Indah."
Raut wajah Nico mendadak masam mendengar nama mamanya Malik disebut. "Oke. Aku konfirmasi dulu." Ia kembali menghubungi sang pengacara tanpa beralih dari duduknya di samping Suci.
__ADS_1