MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 137. Berita Viral


__ADS_3

Ceu Imas yang berjalan mondar-mandir di teras rumahnya dengan raut gelisah, sontak berbinar melihat mobil yang berhenti di depan gerbang rumah Uma. Segera keluar dan menghampiri Pak Badru yang baru turun dari mobil, akan membuka pintu gerbang.


"Pak Badru, tunggu sebentar!" Ceu Imas menahan ayahnya Rahma itu yang bersiap mendorong pintu. Mengajaknya duduk di kursi teras rumahnya.


"Ada apa, Ceu Imas?!" Pak Badru menangkap kecemasan di raut wajah tetangganya itu. Gestur yang gelisah tersirat dari kedua telapak tangan yang digosok-gosokkan.


"Saya yakin Pak Badru akan kuat menerima berita ini. Tadi hampir saya keceplosan mau ceritain ke Uma. Tapi khawatir Uma kenapa-kenapa...jadinya batal cerita." Ceu Imas nampak meringis bahkan menahan tangis.


"Uma sekarang lagi ke undangannya Bu Edi sama Dika. Jadi belum tahu dengan berita yang sedang viral." Lanjutnya.


"Saya masih belum faham, Ceu." Pak Badru menggelengkan kepala dengan kening yang mengkerut. "Pelan-pelan aja ceritain, ada masalah apa dan apa hubungannya dengan Uma?!" Sambungnya dengan tenang menatap Ceu Imas yang tangannya gemetaran memegang ponsel.


"Duh Gusti----" Wajah Ceu Imas nampak nelangsa. "Neng Rahma, Pak----" Ia mulai terisak sambil menyerahkan ponselnya ke Pak Badru.


Mendengar nama anaknya disebut, sontak Pak Badru menerima ponsel yamg disodorkan tetangganya itu dengan cepat. Dengan jantung yang mulai berdegup kencang dan tanda tanya besar di kepala, ia mulai membaca link berita di facebook yang lagi dikomentari netizen maha benar.


Ceu Imas menyaksikan reaksi di wajah Pak Badru yang jelas terkejut namun nampak bisa mengontrol emosi. Bahkan terdengar ucap istigfar berkali-kali diiringi gelengan kepala.


"Di Ig juga ada beritanya pak. Bahkan di share akun-akun gosip." Lapor Ceu Imas.


"Pak, sabar dan kuat ya Pak. INI FITNAH." Ceu Imas memberi motivasi. "Saya siap jadi saksi kalo Neng Rahma perempuan baik-baik. Saya juga udah komen berpuluh kali menyangkal tuduhan itu." sambungnya berapi-api bahkan nampak emosi saat mengingat komentar netizen yang sok tahu dan tanpa menunggu dulu klarifikasi.


"Makasih infonya, Ceu." Pak Badru tidak mengembalikan ponsel Ceu Imas. Beralih berdiri dan merogoh ponselnya untuk menghubungi Rahma. Lima kali tersambung namun tidak diangkat. Ia mengusap wajah dengan kasar diiringi lirih dzikir kalimat tahlil dan takbir untuk menenangkan hati.


"Ceu, saya pergi dulu ke toko. Rahma gak angkat telpon. Khawatir dia sudah baca berita dan syok." Pak Badru turun dari teras Ceu Imas dengan tergesa.


"Kalo Uma pulang, tolong temenin dulu ya. Tapi jangan cerita soal berita ini. Nanti saya akan suruh Suci ke sini. Biar Suci yang ceritainnya." Lanjutnya sambil bersiap membuka pintu mobil.


Ceu Imas yang mengikuti sampai sampai pinggir jalan, mengangguk mengerti. "Pak Badru, harus tenang ya pak. Jangan ngebut, Pak!" ujarnya mengingatkan. Justru dirinya yang nampak was-was dan ketar ketir.


"Tenang aja, Ceu." sahut Pak Badru yang sudah menghidupkan mesin mobil dan memasang sabuk pengaman. Dengan membunyikan satu kali klakson, mobil bergerak perlahan pergi meninggalkan perumahan.


Ceu Imas menatap mobil yang berlalu pergi sampai tak terlihat di belokan. Harap-harap cemas sambil mengusap dada, hatinya berdo'a agar keluarga Pak Badru diberi kekuatan untuk menghadapi berita tidak menyenangkan itu. Terutama Rahma.


****


Pias. Begitu raut wajah Rahma yang membaca berita viral tentangnya sambil duduk di kursi cafe. Lututnya melemas serasa tak bersendi. Tak merasakan nyamannya usapan lembut tangan Fitri di punggungnya yang menyalurkan kekuatan.


Fitri yang bergeming tidak menyerahkan ponsel saat dipinta. Justru Rahma membacanya dari nomor yang tidak dikenal, yang melakukan misscall berulang kali dan berakhir 2 pesan masuk dengan tulisan capslock, BERITA PENTING! disertai link.


"Fit, kita pulang!" Dengan suara gemetar dan badan terhuyung Rahma berdiri serta mendahului melangkah ke arah pintu keluar cafe.


"Iya, mbak. Tunggu duduk dulu ya, mbak! Aku pesan dulu mobilnya!" Fitri akhirnya bangkit dan mensejajari langkah Rahma dengan menggandengnya sebab Rahma tidak mendengarkan ucapannya. Ia kesusahan memegang ponsel dengan satu tangan. Setelah di luar cafe, terpaksa melepaskan gandengannya agar bisa cepat mengetikkan alamat tujuan pulang.


Tiiiinnnnn.


Suara klakson panjang diiringi jeritan, membuat Fitri mematung di tempatnya dengan wajah syok. Secepat kilat, hanya hitungan detik melepskan gandengan. Kini tersaji pemandangan Rahma yang jatuh tersungkur dan motor dengan pengendara tunggal terguling.


"MBAK RAHMA---" Fitri berlari mendekat. Mengangkat pundak Rahma yang tersungkur menyamping.

__ADS_1


"Mbak....mbak gak apa-apa?!" Fitri memeluk tubuh Rahma dengan wajah panik. Lalu tatapannya menyapu wajah bundanya Dika itu. Nampak pelipis kiri berdarah sebab mencium aspal.


"Perutku sakit, Ya Allah---" Rahma mengerang dengan tangan memgang perutnya.


Bukan hanya Fitri yang mendekat. Tukang parkir juga pejalan kaki serta pengendara motor lain ikut mengerumuni Rahma juga pemotor yang jatuh.


"Minggir-minggir---" Suara pria dengan tangan mengurai kerumunan memaksa masuk. Bahkan sempat menghalangi aksi orang yang menonton dan merekam peristiwa.


"RAHMA!" Pria yang tak lain Koko Andreas berjongkok di depan Rahma dan Fitri. Ia berada di belakang motor saat kejadian berlangsung. Sempat tak yakin jika wanita yang terjengkang menghindari motor adalah Rahma. Sehingga memutuskan untuk memarkirkan mobil dan menyeruak ke dalam kerumunan.


Fitri nampak senang melihat ada orang yang dikenalnya. "Ko, tolong bawa mbak Rahma ke rumah sakit!"


"Oke, Fit." Koko Andreas tidak bertele-tele menanyakan kronologis. Lebih mengutamakan kondisi Rahma yang nampak kesakitan. Spontan, sekali ayun membopong Rahma untuk membawa masuk ke mobilnya.


"Ko, urusan dengan motor yang nabrak gimana ya?!" Ujar Fitri yang duduk di jok tengah sambil pahanya menjadi bantal untuk Rahma.


Koko terdiam lima detik lamanya. "Sebentar!" Keluar cepat dari mobil dengan mesin yang sudah menyala. Tak lama kembali masuk dan memasang sabuk pengaman.


Ponsel di tas Rahma berdering tiada henti. Sang pemilik tas sedang mengaduh kesakitan sambil berucap dzikir. "Ya Allah, mules Fit----"


"Sabar, mbak. Sebentar lagi sampe." Fitri yang tak kalah panik, mengusap-ngusap bahu Rahma yang tidur menyamping.


Ponsel yang sebentar senyap kembali berdering di tas Rahma.


"Ko, masih lama?!" Fitri menatap belakang kepala sang driver.


Fitri berinisiatif mengambil ponsel di tas Rahma sebab terus menerus berdering. Bisa jadi itu telpon penting yang menanyakan kabar Rahma.


"Rahma, kamu di mana nak?!" Terdengar suara cemas di ujung telepon begitu Fitri mengangkatnya. Suara Pak Badru.


"Pak, ini Fitri. Mbak Rahma tertabrak motor." Tidak panjang lebar, Fitri memberikan alamat rumah sakit yang dituju agar Pak Badru menyusulnya.


.


.


.


Di ruang IGD rumah sakit swasta.


Koko berdiri tak jauh. Menatap getir dan cemas ke arah Rahma yang sedang mendapat penanganan sigap dokter jaga dan perawat. Dengan Fitri yang berdiri di sisi bed, menggenggam erat tangan Rahma yang meringis dan menangis.


Ia bungkam pada Fitri. Jika saat menggendong Rahma masuk dan keluar mobil, tangannya menyentuh cairan yang basah. Dan baru disadarinya sekarang, saat merasakan telapak tangannya kaku. Ternyata ada darah yang sudah mengering. Kembali tatapannya nanar menyaksikan Rahma yang masih diperiksa intensif. Bahkan kini blankarnya di dorong menuju ruangan lain. Membuatnya semakin cemas.


"Bapak, suaminya Bu Rahma?!" sapaan perawat membuat Koko tersadar dari lamunan. Ia masih mematung di tempatnya. Tak lagi melihat Rahma dan Fitri.


"Bukan, sus. Saya temannya. Ada apa dengan Rahma?!"


"Nak Andre, gimana keadaan Rahma?!" Pak Badru datang mendekat dengan raut tegang dan peluh bercucuran.

__ADS_1


"Nah, ini ayahnya Rahma." Koko sigap memperkenalkan pada suster agar segera memberikan info. Berharap tidak mendapat berita buruk.


"Mari ikut saya ke ruangan dokter Nurul, Pak!"


Tanpa kata, Pak Badru menuruti langkah suster menuju sebuah ruangan. Duduk berhadapan dengan dokter wanita dengan gelar spesialis kandungan terpampang di papan nama.


Enam kali mengulang panggilan, namun jawabannya tetap sama, suara operator telepon. Menandakan Mizyan sang menantu, ponselnya tidak aktif. Pak Badru memejamkan mata. Menghela nafas panjang berulang kali. Mengucap bismillah dengan keputusan berat yang harus diambilnya. Ia membubuhkan tanda tangan persetujuan. Janin Rahma tidak bisa diselamatkan. Harus dilakukan tindakan kuretase saat ini juga.


****


Bogor


Tok tok tok


Ketukan keras dan tak sabaran terdengar di pintu kamar Fatimah. Membuat si pemilik kamar membuka pintu setengahnya. Nampak Olla berdiri dengan wajah tegang menatapnya.


"Ada apa, Olla?!" Dalam suasana non formal, Fatimah memanggil nama langsung Olla yang sudah dianggapnya seperti adik.


"Bu Ima, sini!" Olla menarik tangan Fatimah. Membawanya duduk di sofa.


"Barusan aku mau setor naskah, iseng membuka dulu fb. Eh ada link berita viral hari ini." Olla yang menunggu jadwal mengajar selepas Ashar, duduk menunggu di rumah Fatimah. Saat mengedit dan bersiap mengirim naskah, ia tak sengaja membaca judul dengan huruf besar terpampang jelas.


"Berita gosip kah?!" Fatimah yang menatap layar laptop masih belum ngeh tentang siapa berita itu. Ia baru membaca judulnya saja sebab tak suka mengikuti berita gosip.


"Mbak Rahma, Bu. Ini lihat fotonya jelas sekali." Olla menunjukkan gambar. "Ada komen yang memperjelas nama inisial RA dan MA. Coba baca sampai tuntas." sambungnya melihat angka yang mencapai ribuan komen.


Membuat Fatimah membelalakkan mata. Jelas terkejut. Lalu fokus membaca kata demi kata dengan jeli.


BARU SETAHUN DITINGGAL MATI, JANDA MUDA ANAK SATU MENIKAH LAGI SETELAH MENDAPAT WARISAN SENILAI 40 MILYAR


RA, janda cantik asal Bandung yang baru ditinggal suaminya kini berhasil memikat arsitek ternama bernama MA. Keputusannya menikah cepat tentu mencederai perasaan para janda mati lainnya di luar sana. Sampai netizen berkomentar jika dia perempuan itu tidak setia, tidak mencintai almarhum suaminya. Jelas matre, kata komentar lainnya. Masih banyak komentar pedas lainnya dari kalangan emak-emak.....


"Astagfirulllah hal'adziim---" Fatimah menggelengkan kepala. Tak kuasa melanjutkan lagi membaca sampai akhir. Hanya membaca komentar secara random.


"Aku harus telpon Pak Mark. Barangkali beliau belum tahu." Fatimah bergegas masuk lagi ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Memutuskan duduk di tepi ranjang, menghubungi orang yang kini bertahta di hatinya.


"Alhamdulillah....ada yang merindukan aku." Jawaban di sebrang sana nampak riang. Fatimah bisa menebak jika ayahnya Mizyan itu belum tahu berita tentang anak dan menantunya.


"Ada hal serius, Pak Mark." Fatimah berkata dengan gemetar.


"Hei...Bunny, ada masalah apa?" Suara Mark kini berubah serius. Memanggil nama kesayangan untuk Fatimah setelah resmi bersilaturahmi menemui Faisal dan mengutarakan niatnya untuk meminang mantan bunga desa itu.


"Ini soal Mbak Rahma dan Mas Mizyan." Ujarnya dengan nada sedih. Dengan berat ia menceritakan berita apa yang baru saja dibacanya. Dan menyuruh Mark mengecek sendiri untuk meyakinkan.


Panggilan masih tersambung, namun hening beberapa menit lamanya. Fatimah menunggu respon Mark yang sedang membuka laptop dan mencari berita dengan searching di google. Begitu mudah berita itu tampil.


"Aku akan ke Bandung sekarang!" Terdengar suara Mark yang menahan marah.


"Aku ikut!" Fatimah spontan menyahut.

__ADS_1


__ADS_2