
Jakarta
Rahma beberapa kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Menunggu jam 8 pagi rasanya lama sekali. Jarum jam seolah lambat bergerak sebab atmosfer dalam rumah yang tak menenangkan hatinya. Rumah ini besar dan mewah dengan interior serba lux. Tapi berasa gersang meski hembusan AC sejuk menerpa kulit.
Ada untungnya Dika merajuk nempel terus tak mau jauh darinya dikala jam 6 pagi Alex berusaha membujuk anak itu untuk diajak jalan-jalan jogging pagi seputaran komplek. Hati kecilnya merasa berat, takut jika Dika dibawa pergi dan tak kembali. Sebab bagaimanapun juga Rahma masih menganggap mereka orang asing yang baru mengakrabkan diri dikala Malik sudah tiada.
"Rahma, ngineplah di sini semalam lagi. Jangan dulu pulang." Teo membuka pembicaraan tatkala duduk bersama di meja makan untuk sarapan. Ia sudah rapih dengan setelan jas bersiap berangkat ke kantor.
"Iya, mbak. Biar Dika bisa adaptasi. Aku kan pengen deket sama keponakan aku yang cuma satu-satunya ini." Alex menimpali usai menelan burger yang tengah dikunyahnya itu.
Alex kok jadi ramah?
Padahal semalam keliatan angkuh.
Rahma kembali menyuapi Dika yang duduk di sisinya usai sejenak menyapukan pandangan terhadap Teo dan Alex yang duduk di depannya.
"Tuh, denger kan Rahma. Papa sama Alex masih pengen kangen-kangenan sama kalian." Mama Indah merasa mendapat dukungan sebab tadi ia pun sudah merayu Rahma agar mau menginap sehari lagi.
"Maaf, bukannya nggak mau, Ma. Tapi 4 hari lagi aku mau mudik ke Aceh. Sementara aku udah janji akan nginep di rumah Bang Candra. Jadinya ya malam ini giliran. Soalnya besok pagi pulang ke Bandung."
"Aku boleh ya main ke rumah kalau pas lagi ke Bandung?!"
"Boleh Om Alex. Ditunggu sama Dika di Bandung." Rahma berharap ini hanya sekedar basa basi apalagi melihat kedipan nakal yang sekilas tertangkap matanya. Alex dan Malik sama sekali tak ada ikatan darah sebab Alex anaknya Om Teo dari istri terdahulu. Serba salah jika ia melarang Alex berkunjung ke Bandung. Tidak enak sama mama Indah.
"Nanti biar Alex yang anterin pulang ke rumah kakakmu ya?!" Pinta mama Indah.
"Nggak usah repot-repot, Ma. Mas Nico akan jemput kemari sebentar lagi."
Tampak raut kekecewaan tergambar di wajah mama Indah mengetahui Rahma akan pulang pagi ini, bukan nanti sore. Om Teo beranjak lebih dulu diikuti mama Indah yang akan mengantarnya sampai teras sebab sudah waktunya berangkat ke kantor. Tinggallah Rahma dan Alex di meja makan.
"Eh Alex, mau apa?" Rahma terkaget melihat Alex yang keluar dari kursinya lalu berpindah mendekatinya. Sampai ia harus menarik wajahnya ke sebelah kiri sebab wajah Alex yang condong sangat dekat dengan pipinya.
"Mau duduk di sini." Alex menarik kursi kosong di sebelah kanan Rahma dan duduk dengan santainya. "Aku ingin memastikan wajah kakak ipar lebih dekat. Soalnya dari jauh terlihat cantik. Ternyata sedekat ini natural cantiknya." Pungkasnya dengan tatapan penuh kekaguman memandang Rahma dengan tersenyum penuh arti.
"Makasih." Rahma menjawab datar sebab menurutnya Alex bersikap tidak sopan. "Aku udah selesai makan. Maaf mau nunggu jemputan di depan." Dengan tergesa ia menuntun Dika dengan perasaan takut. Bahkan ia merasa Alex terus menatap punggungnya yang membuat bulu kuduknya merinding.
Yang ditunggu akhirnya datang 15 menit lebih awal. Membuat Rahma merasa lega melihat Nico dan Suci turun dari mobil. Sebelumnya ia sudah mengirim pesan kepada Suci agar Nico beralasan ada janji meeting yang membuat mereka tidak bisa berlama-lama, harus segera pergi lagi.
"Alhamdulillah---" Rahma menghembuskan nafas lega kala mobil sudah meninggalkan pekarangan rumah Oma nya Dika. Tadi ia hanya pamit dengan mama Indah sebab Alex tidak muncul ke teras depan.
"Kenapa? Kayak lepas beban gitu." Suci sampai menolehkan kepala ke belakang mendengar suara Rahma.
"Cukup pertama dan terakhir nginep di sini." Rahma menghembuskan nafas kasar. "Semalaman Dika rewel pengen pulang. Atmosfer rumah juga nggak enak, horor banget. Terus aku juga nggak suka si Alex, cara natapnya nggak sopan." Keluh Rahma sambil membiarkan Dika duduk di kljok sampingnya memainkan pesawat yang kemarin dibelikan Omanya.
"Kenapa semalam nggak minta dijemput?!" Nico menatap sekilas dari spion tengah. "Kan aku udah pesan, kalau ada apa-apa kabari."
__ADS_1
"Nggak enak sama oma nya Dika, mas. Udah dibelanjain sebanyak itu." Rahma menunjuk ke jok baris belakang. "Pulang dari mall magrib. Masa langsung pulang gitu aja."
Tetiba obrolan terpotong sebab ponsel di tas Rahma berdering. Ia terpaku menatap layar ponsel dengan nama 'Om Buye' terpampang di layar. Semalam ia memutuskan mengganti nama 'Mr. X' menjadi nama panggilan Dika. Duh video call lagi.
"Kok nggak diangkat?" Suci menoleh dengan kening mengkerut melihat Rahma hanya memandangi ponsel, membiarkan terus berdering.
"Nda, ciapa?" Dika ikutan kepo menatap Bundanya yang tampak bimbang. Bukan apa-apa, ia merasa malu sebab lagi bersama Nico dan Suci.
"Om." jawabnya lolos begitu saja tanpa sadar.
"Yeay, Om buye, Nda?!" Spontan Dika merebut ponsel yang dipegang bundanya. Dengan pintarnya ia menggeser layar sehingga menampilkan wajah yang tengah tersenyum di sebrang sana.
"Hallo, Om buye---" Dika berseru riang sambil melambaikan tangannya, menguasai sepenuhnya ponsel milik bunda Rahma.
"Morning, Dika. Kayaknya lagi di mobil ya?" Suara Mizyan yang tak kalah riang tentunya terdengar seisi mobil yang membuat pipi Rahma memerah sebab Suci memicingkan mata padanya dengan isyarat bertanya siapa yang menelpon.
"Iya, Om. Atu sama Nda di mobil sama om Nico, tante Uci."
"Om lagi apa? Napa kelingetan?"
"Om abis lari pagi."
"Napa halus lali pagi, Om?"
Rahma tampak mencolek kaki Dika sambil menggelengkan kepala. Namun Dika mana mengerti isyarat yang disampaikan bundanya itu.
"Biar sehat dong." jawaban dari sebrang sana diiringi kekehan.
"Atu juja mau lali pagi sama Om---"
"Oke. Nanti kalau pulang ke Bandung kita lari pagi sama-sama."
"Yeay---" Dika memekik girang dengan senyum lebar menghiasi wajah cute nya.
"Sama Nda juja ya Om."
"Boleh, kalau bundanya mau."
"Nda?!?!" Dika menatap bundanya yang lalu dibalas dengan anggukkan. Yang maksudnya Rahma bukan mengiyakan tapi agar Dika tak membahas berkepanjangan. Namun Dika malah memekik girang dan melaporkannya pada om buye.
Rahma memalingkan wajah ke arah jendela berharap percakapan Dika dan Mizyan tak terdengar olehnya ataupun oleh Suci dan Nico. Tetap saja terdengar.
"Bundanya mana, Om mau bicara ya?"
Membuat Rahma meringis dengan wajah yang merona seperti kepiting rebus kala Dika menyerahkan ponsel padanya.
__ADS_1
"Semalam gimana, tidur nyenyak? Nggak ada yang gangguin kan?"
Aduuuh kamu vidcall di waktu yang salah.
Rahma ingin sekali sembunyi ke kolong jok mendengar Suci berdehem, bahkan tertangkap di spion tengah Nico melirik sekilas sambil menahan senyum. Membuatnya merasa salah tingkah.
"Iya nyenyak." jawabnya singkat sambil menundukkan wajah bahkan menarik Dika ke pangkuannya agar tak terlihat wajahnya yang memerah dan resah.
"Syukurlah. Just make sure (ingin memastikan) kamu dan Dika baik-baik saja."
"Alhamdulillah, baik."
"Kenapa pipinya merah gitu. Sakit?!"
Meski pelan, tetap saja terdengar jika Suci kembali berdehem menggodanya. Membuat wajahnya kini makin panas dan menyembunyikannya di belakang kepala Dika.
"Eh, nggak kok biasa aja."
"Hmm, maaf ya nggak bisa berlama-lama. Aku sama Dika udah mau nyampe ke rumah kakakku."
Maaf harus berbohong.
Namun Dika menolak mengakhiri obrolannya dengan om buye nya itu. Membuat Rahma kini harus merayu Dika jika sebentar lagi akan turun dari mobil.
"Nanti Dika aja yang telpon Om kalo udah sampe rumah. Oke?" Mizyan membantu memberi pengertian sambil mengacungkan jempol.
"Okey, Om." Dika mengikuti mengacungkan jempolnya.
"Nda, dadah sama Om buye!" Dika memerintahkan bundanya ikut melambaikan tangan seperti yang dicontohkannya. Terpaksa Rahma menuruti dengan wajah ditenggelamkan di belakang kepala Dika, sama sekali tak mau menatap layar ponsel. Malu.
Terdengar kekehan dari sebrang sana yang kemudian ditutup dengan ucap salam.
Huft. Rahma menghembuskan nafas lega, menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Dika, Om barusan siapa sih?" Suci menolehkan kepala ke arah Dika sambil menahan senyum.
"Om buye. Om atu---"
"Owhhhh, om atu yaaaa--- ehemmm" Suci beralih menatap Rahma, menggodanya. Yang kemudian mendapat pelototan sepupunya itu.
"Lucu juga namanya ya, Buye," lanjutnya terkikik.
"Kamu utang penjelasan!" Suci kembali menolehkan badan ke belakang, menodongkan 2 jari ke arah Rahma.
Rahma hanya memutar kedua bola matanya dengan bibir mengerucut. Enggan menanggapi, apalagi kini mobil sudah tiba di depan kantor advokat Hari Wibisono & Partners.
__ADS_1