MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 78. Malam Pertama


__ADS_3

Malam ini menjadi momen bahagia yang berlipat-lipat bagi Mizyan. Berdiri di pelaminan bersama orangtua yang mendampingi. Papi Mark dan Mami Kanti. Papa Suryo atas kehendak sendiri memilih berada di meja VIP ditemani Morgan. Ia terus menggenggam tangan Rahma dan selalu melemparkan tatapan penuh cinta. Hanya terlepas kala bersalaman dengan tamu yang naik ke pelaminan mengucapkan selamat. Dika kadang berdiri menyempil di tengah keduanya. Kadang bergeser berdiri bersama Ayah Badru dan Uma Fatma. Sangat kentara terpancar aura bahagia dari wajah Mizyan yang terus-menerus melukiskan senyum sumringah menyambut tamu undangan yang hadir.


Betapa tidak dirinya dilingkupi rasa bahagia dan syukur. Menikahi wanita yang didambanya dan dikejarnya susah payah dengan bonus anak yang lucu dan pintar, sekaligus kembali menjadi lelaki normal seutuhnya. Meski tidak ada manusia yang sempurna namun bahagianyalah yang sempurna. Maka nikmat Tuhan manalagi yang didustakan.


Sesi potong kue dipenuhi keharuan bagi Rahma. Kejutan diberikan oleh anak-anak toko. Seluruh karyawan citarasa mempersembahkan hasil karya wedding cake yang indah untuk sang pengantin. Sungguh melebihi ekspektasi Rahma jika karyawan rasa keluarga itu bisa berkreasi tanpa bimbingannya.



Source : bridestory


"Neng Rahma, sayang....barakallah. Ibu seneng sekali dapat kejutan undangan." Bu Puput, pelanggan setia Citarasa memeluk Rahma penuh keriaan. "Semoga pernikahannya langgeng sampe tua, sampe punya cucu."


"Aamiin, makasih untuk doa dan kehadirannya, Bu." Rahma balas mengulas senyum sumringa.


"Ucapanku jadi do'a toh. Waktu kamu ibu suruh foto bersama bareng penganten biar cepet nyusul." Bu Puput menaikkan kedua alisnya mengingatkan Rahma waktu hadir di pernikahan anaknya dulu. Keduanya menjadi tertawa bersama.


Dimas sang kepala cabang maupun dokter Gunawan hadir pula mengucapkan selamat. Meski hati telah terpatahkan, namun dua pria dengan status duda itu secara gentle datang di jam berbeda. Tak harus benci apalagi memutus silaturahmi sebab cinta ditolak.


"Nih aku datang bawa gandengan sesuai syarat kamu. Happy wedding both of you." Koko Andreas berdiri di depan sepasang pengantin, menyalami silih berganti. Tangan kirinya merangkum bahu wanita paruh baya yang rambutnya sebagian sudah memutih.


Rahma terkekeh dengan candaan Koko. Memeluk wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya koko dengan rasa rindu sebab lama tidak bertemu. "Mami apa kabar? Sehat kan?"


"Mami sehat apalagi saat Andreas ngabarin kamu menikah makin sehat deh." Maminya koko mengusap-ngusap punggung tangan Rahma. "Cantik sekali ini pengantin, nggak akan menyangka usah punya 1 buntut." Pungkasnya dengan penuh kesungguhan memuji lalu mengucapkan selamat. Rahma menanggapinya dengan tersenyum malu.


Tamu masih mengular sebab yang diundang bukan hanya teman dan relasi Mizyan dan Rahma saja tetapi juga kerabat dan relasi orang tua. Di spot musik ada sepasang suami istri yang berdiri di tengah panggung bersiap memberikan persembahan lagu untuk sang pengantin.


"Lagu ini spesial untuk sahabatku yang malam ini terlihat sangat bahagia. Semoga keberkahan selalu menyertai pernikahan kalian and welcome in the new journey." Ia adalah Arya yang mengarahkan pandangan ke pelaminan. Dimana Mizyan merespon dengan acungan dua jempolnya.


"Lagu abadi sepanjang masa dan semoga cinta kita pun terus abadi ya, sayang." Arya beralih menatap mesra Andina, sang istri yang menjadi pasangan duetnya.


My love, there's only you in my life


The only thing that's right


Arya mulai bernyanyi dengan penuh penghayatan dengan menaruh tangan sang istri di dadanya.


My first love


You're every breath that I take


You're every step I make


Andina menyambut tatapan suaminya itu tak kalah hangat dan mesra. Suara merdunya begitu menyerap bait lagu yang dibawakannya.


And I, I want to share


All my love with you


No one else will do


And your eyes, your eyes, your eyes

__ADS_1


They tell me how much you care


Ooh, yes


You will always be


My endless love


Sungguh pasangan yang membuat baper siapapun yang melihatnya. Applause dari para tamu yang hampir banyak orang mengenal dengan pasangan ini begitu meriah terdengar kala lagu berakhir.


Menjelang akhir waktu acara kejutan pun diberikan Mizyan untuk sang istri. Sepertinya ia tak mau kalah romantis seperti yang ditunjukkan Arya terhadap istrinya. Crew WO telah menahan para tamu untuk tidak naik dulu ke pelaminan sebab sang pengantin akan membuat persembahan.


"Sayang, ayo!" Mizyan meraih tangan Rahma untuk maju ke depan tengah pelaminan dengan menuruni 2 tangga yang memang spot itu dikhususkan untuk show sang pengantin.


Rahma tentu terkejut sebab dalam briefing sebelumnya tidak ada list itu. "Mas, kita mau apa?" lirihnya tampak gugup sebab perhatian tamu kini mengarah pada keduanya yang berdiri saling berhadapan. Bahkan crew memberikan mic kepada suaminya itu yang ia tak tahu untuk apa Mizyan memakainya segala.


"Jangan gugup. Kamu cukup menatap mataku saja jangan liat yang lain." Mizyan menggenggam erat tangan Rahma begitu intro dari alat musik saxophone terdengar.


I found a love for me


Ku temukan cintaku


Darling, just dive right in and follow my lead


Kasih, cukup selami dan ikuti aku


Well, I found a girl, beautiful and sweet


Oh, I never knew you were the someone waiting for me


Oh, ku tak pernah tahu bahwa kau menantiku


Rahma belum tahu jika Mizyan pandai bernyanyi. Suaranya begitu enak didengar dan tampak luwes membawakan lagu Ed Sheeran - Perfect. Kejutan yang membuat matanya berkaca penuh haru.


Ia mengunci pandangannya hanya pada Mizyan dengan melukiskan senyum bahagia dan haru. Mendengarkan sang suami yang terus bernyanyi sembari hangat menatapnya dan merengkuh pinggangnya. Tubuhnya yang terbalut gaun putih bak princess merapat pada tubuh tegap yang mengenakan stelan jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja tuxedo putih dilengkapi aksen korsase yang memukau.


Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms


Kasih, aku menari dalam gelap bersamamu dipelukanku


Barefoot on the grass, listening to our favourite song


Tak beralas kaki di atas rumput, mendengarkan lagu kesukaan kita


When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath


Saat kau bilang, kau terlihat berantakan, aku berbisik dengan pelan


But you heard it, darling, you look perfect tonight


Tapi dengarkan ini kasih, kau terlihat sempurna malam ini

__ADS_1


****


Rahma terlebih dahulu membaringkan badan di ranjang empuk berseprai putih. Meluruskan kaki yang pegal usai 3 jam lamanya berdiri di pelaminan. Tubuhnya lebih segar usai mandi air hangat ditambah wewangian aromatherapy yang menguar di udara memberi efek menenangkan dan menyegarkan pikiran.


Mizyan menyusul berbaring di sisi Rahma usai mematikan ponsel agar tidak ada siapapun yang mengganggunya. Sempat ada kekhawatiran jika Arya Cs akan menjahilinya di malam pertama. Namun ia bernafas lega begitu usai acara Arya and the genk pamit pulang. Bahkan Dika sudah tertidur dan berada di kamar kakek neneknya. Alamat bisa gaspoll malam ini.


"Mas, tadi itu keren lho." Rahma memiringkan badan menghadap Mizyan yang telentang dengan tangan merdeka. "Aku gak nyangka kamu pandai bernyanyi. So surprise." Pandangannya beradu kala Mizyan merubah posisi tidur menghadapnya, monopang kepala dengan satu tangan.


"Yes. Surprise ku sukses dong." Tangan Mizyan terulur merapihkan rambut Rahma yang menutupi pipi. "Dulu waktu awal kuliah sempat ngamen buat biaya kuliah. Ternyata kemarin check sound suaraku masih oke juga." Ia terkekeh dengan kenarsisannya.


"Wah, masa iya pernah ngamen." Kedua mata Rahma membulat. Merasa tak percaya.


Mizyan mengangguk. "Nanti aku ceritain pengalaman waktu dulu, tapi bukan sekarang. Malam ini aku ingin mengukir pengalaman pertama tidur bersamamu." Tangannya menarik simpul tali piyama sehingga menampakkan kulit putih menerawang karena balutan lingerie tipis. Jemarinya menyusuri garis wajah Rahma mulai dari alis, mata, hidung, dan berakhir di bibir tipis berwarna pink alami. Mengusap-ngusapnya perlahan dengan telunjuknya.


Perlakuan lembut yang membuat tubuh Rahma meremang dan gugup. Ia mengatur nafas agar tetap normal disela jantungnya yang berdegup kencang. Berusaha menutupkan lagi piyama sebab malu melihat tatapan mata penuh memuja. Namun Mizyan menggeleng, melarangnya.


"Sayang, katakan dengan jujur gimana perasaanmu sekarang?" Mizyan beringsut lebih dekat mengikis jarak dengan merebahkan tubuh Rahma dan ia memiringkan badannya dengan sebelah kakinya menyilang di paha istrinya itu.


"Pastinya bahagia, Mas." Rahma spontan menggelinjang sebab bibir Mizyan bermain-main di lehernya. Bulu halus di tangan dan tengkuknya meremang.


"Terus apalagi?" Suara Mizyan terdengar berat menyapu telinganya.


"Entahlah. Gak bisa dilukiskan dengan kata-kata." Rahma memejamkan mata dengan jemari mencengkram seprai sebab bibir Mizyan menyesap lehernya pelan dan dalam. Dengan satu tangan menyusup ke balik lingerienya. Stempel pertama sepertinya telah terukir.


Ia masih memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Mizyan yang berpindah ke wajah. Menciumi kedua mata, kedua pipi, hidung, dan berakhir menggigit dagunya yang bulat. Aneh, begitu saja menimbulkan sensasi yang membuai.


Mizyan beralih setengah duduk bersandar pada kepala ranjang dan menyandarkan kepala Rahma di dadanya. "Makasih sudah bersedia menjadi istriku." Dikecupnya puncak kepala sang istri dengan segenap rasa sayang.


"Mulai hari ini aku belajar menjadi seorang suami sekaligus ayah. Jangan segan ingatkan aku, tegur aku jika berbuat salah, jika ada ucapan yang menyakiti perasaanmu." Mizyan lebih mengeratkan pelukan. Sejujurnya ia ingin selalu bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecil yang mulai dibangunnya ini.


Rahma mendongak. Jemarinya terulur meraba rahang kokoh yang bersih baru tercukur. "Kuserahkan hati dan masa depanku padamu, Mas." Bibir berucap lembut diiringi senyum tipis dan sorot mata penuh keyakinan. Mizyan membalasnya dengan meraup bibir yang lembab dan menggoda itu. Rakus menyesap nikmatnya penyatuan perpaduan manis dan mint. Melepas sesaat untuk menghirup oksigen. Lalu berlanjut me ma gut dan melakukan eksplorasi lidah.


Detik jarum jam bergerak halus tanpa suara. Mendorong jarum panjang jam dinding bergerak naik menit demi menit. Tepat jam 11 malam telepon kamar berdering ditengah heningnya suasana kamar pengantin. Mizyan bukannya tak mendengar dering panjang yang belum juga berhenti. Ia baru seperempat jalan dan mesinnya sudah panas siap ngegas.


"Mas, angkat dulu!" Rahma menggeleng, menahan tangan Mizyan yang melorotkan tali tipis lingerie hitamnya. Bahunya terpampang polos.


Dengan rasa gondok merasa permainannya terganggu, Mizyan bangun dan berjalan menuju meja telepon. Ia mengangkatnya dengab suara ketus.


"Selamat malam pak, maaf mengganggu istirahatnya."


"Cepet bilang ada apa!" Mizyan menjegal ucapan basa basi petugas resepsionis hotel itu dengan tak sabar.


"Maaf pak, alarm mobil Pak Mizyan bunyi terus. Mohon untuk dimatikan dulu pak karena mengganggu.


"Tolong suruh petugas datang ke sini bawa ini kunci mobil!"


"Mohon maaf pak, room boy sedang sibuk dengan kedatangan rombongan tamu---"


Mizyan memutus begitu saja sambungan telepon. Tidak menunggu suara ramah petugas resepsionis menyelesaikan ucapan. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Jengkel.


Bintang 5 macam apa ini. Bed service.

__ADS_1


Ia menggerutu dalam hati sembari berjalan gontai menuju ranjang dengan wajah ditekuk. Terpaksa akan pamit sebentar.


__ADS_2