MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 95. Papa Buye Pulang


__ADS_3

Surabaya


Mizyan tidak bisa menolak ajakan makan malam yang ditawarkan kliennya. Dengan alasan sebagai salam perpisahan sebelum besok pulang ke Bandung. Bertempat di rumah mewah milik kliennya yang merupakan sepasang suami istri berusia setengah abad, yang juga sebagai Om nya Jason. Suasana hangat penuh kekeluargaan tercipta diselingi canda tawa khas orangtua terhadap anaknya. Berbanding terbalik dengan kemarin-kemarin kala meeting di kantor yang tampak serius dan profesional.


"Bro, anaknya Pak Darma ada di mana?" Mizyan melirik Jason yang mulai melajukan mobil keluar dari gerbang rumah Darma, Om nya. Sejak tadi merasa penasaran melihat di dalam rumah yang besar itu tampak sepi, hanya ada 2 orang tuan rumah. Sungkan bertanya hal privasi jika bukan klien sendiri yang mengatakan.


"Om Darma punya 2 anak, cewek cowok. Keduanya ngurus bisnis di Jakarta." Jelas Jason yang menjalankan mobil dengan kecepatan sedang begitu keluar dari komplek perumahan elit itu. Cuaca malam kota Surabaya tampak cerah meski waktu merambat menuju angka 9.


"Thanks ya bro, gue batal jadi pengangguran berkat lo mau gabung team." Jason tersenyum sumringah menatap sekilas teman lamanya itu. Sepekan setelah kejadian malam panas di Bandung, ia didepak perusahaan orangtua Leony secara tidak hormat. Ia tahu itu akibat dari kemarahan Leony padanya. Dan ia pasrah.


"Ini project lo. Udah sepantasnya didapat.9 Mizyan berkilah merendah.


Jason menggeleng. "Kalau bukan nama lo yang diajukan sebagai leader team, Om gak akan ngasih project villa ini sama gue. Meski keluarga, tapi urusan bisnis dia profesional."


"Langsung ke hotel atau hangout dulu?" Lanjut Jason melirik sekilas Mizyan yang tak menyahut.


"Langsung hotel aja. Gue kangen anak istri, kayaknya mereka udah nungguin vc." Mizyan urung merogoh ponselnya mengingat tak lama lagi sampai di hotel tempatnya menginap. Dimana seluruh akomodasinya ditanggung oleh klien.


"Ngiri gue." Jason mendesah berat. "Andainya Leon mau gue nikahi." Ia mengatupkan bibir dengan wajah berubah murung.


"Sabar. Lo masih bisa perjuangkan Leon. Gue yakin itu." Mizyan menepuk bahu Jason. Memotivasi teman kuliahnya itu.


"Stop, Jas!" Mizyan menegakkan duduknya. Matanya awas mengikuti sebuah mobil yang memasuki cafe.


Jason yang tangkas segera menepikan mobilnya menatap heran. "Ada apa?"


"Leon masih pakai mini cooper orange plat L...." Mizyan mendikte mobil yang familiar dan barusan dilihatnya masuk ke parkiran cafe.


Jason mengangguk.


"Fixed. Ĺeon baru aja ke dalam cafe." Mizyan begitu yakin. Ia melepas sabuk pengaman. "Gue akan temui dia. Lo sabar nunggu di sini ya. Tunggu kabar dari gue!"


Jason termangu. Mizyan tak menunggu jawaban dirinya. Melesat keluar mobil dan kini tak terlihat.


Suasana cafe dengan lampu yang remang, membuat Mizyan kesulitan mencari meja tempat duduk wanita yang dicarinya. Ia melangkh pelan sembari pandangan mengedar ke setiap meja yang hampir penuh pengunjung. Orang galau cenderung menyendiri bukan? Instingnya menuntun langkah kaki menuju pada spot yang sepi.


"Ganti orange juice 2!" Tegas Mizyan pada waiter yang akan menyimpan segelas wine di meja.


Membuat wanita yang duduk sendiri itu mendongak dan siap protes. Baru juga membuka mulut, berubah gagu sebab kaget melihat sosok pria yang berdiri dan tersenyum menatapnya.


"Leon, apa kabar?" Mizyan duduk di hadapan. Menatap wanita oriental yang terbaca jika wajah cantik itu menyimpan kekalutan.


"Seperti yang lo lihat." Jawab Leon kikuk. Teringat peristiwa malam itu dan kini ia merasa malu berhadapan dengan Mizyan. "Sejak kapan lo di Surabaya?" Pungkasnya masih merasa tak percaya tapi nyata pria yang ditaksirnya itu kini berada di depannya.


"Sudah 3 hari dan besok pulang. Gue lagi ada project dengan Jason." Mizyan menatap perubahan mimik wajah Leon begitu nama Jason disebut. "Gue dan Jason abis dinner dengan klien. Gak sengaja lihat mobil lo masuk ke sini."


"Kalau lo gak liat mobil gue pasti gak akan sengaja nemuin gue kan? Lo ilfeel sama gue kan?!" tuduh Leon sembari meremas jari.


Mizyan menggeleng. "Lo salah. Mana mungkin gue ngelupain orang-orang yang udah berjasa di hidup gue. Rencananya besok pagi mau ke kantor lo sebelum pulang. Syukurlah ketemu sekarang."


Alunan musik akustik terdengar mengalun dari sound cafe. Alunan pelan pengantar suasana santai para pengunjung yang melepas kepenatan usai seharian bekerja.

__ADS_1


Mizyan mengaduk orange juice miliknya sebelum diseruput. "Jason udah cerita soal malam itu. Dia sangat menyesal dan berharap lo memaafkannya." Ia memperhatikan reaksi Leon yang menundukkan wajah. Dari awal sudah yakin jika Leon yang keras kepala akan luluh padanya.


"Gue yakin hati kecil lo tau jika sejak dulu Jason menyukaimu. Dia yang selalu ada mendampingi kemanapun lo pergi. Bukan sebagai partner kerja, tapi panggilan hati yang tak ingin lo kenapa-napa di luar sana."


"Please, Leon. Jadikan kesalahan kemarin sebagai awal hubungan baru kalian. Kita ini manusia dewasa dengan pemikiran dewasa. Jason orang baik. Mau cari pria seperti apa lagi hmm."


Ucapan lembut Mizyan membuat air mata Leon luruh tak bisa ditahan. Ia tak menyela sedikitpun.


"Waktu sebulan kayaknya udah cukup buatmu introspeksi diri. Lo merasa ada sesuatu yang hilang dari hati kan?" tebak Mizyan. Yang ternyata tepat sasaran. Tampak dari reaksi Leon yang terkejut menatapnya.


"Kenapa lo bisa tau" Leon mencibik sembari mengusap pipi dengan tisu.


"Karena gue punya kamus bahasa tubuh wanita." Mizyan terkekeh. Jempolnya selesai mengirimkan pesan pada Jason agar masuk ke dalam cafe. Minuman dingin menyegarkan miliknya diseruput sampai habis.


"Leon, kalian harus bicara dari hati ke hati. Ingat, kita ini manusia dewasa bukan anak kecil." Sembari memberi isyarat menunjuk dada dan kepala dengan telunjuknya.


Keduanya bersamaan menatap kedatangan Jason yang berdiri mematung berjarak 2 meter dari meja.


"Gue cabut duluan. Bayarin minuman gue ya!" Mizyan berdiri dari duduknya. Tersenyum menatap Leon yang mencebik. Pastinya teringat kebiasaan dulu masa di kampus yang suka kabur duluan meninggalkan tagihan.


"Gue naik taksi aja. Fighting!" Mizyan menepuk bahu Jason kala melaluinya. Dijawab Jason dengan ucapan terima kasih.


****


Bandung


Rahma menemani Dika mandi pagi. Sang anak awalnya keukeuh ingin mandi sendiri dalam bathtub berisi air hangat. Namun tentu tidak membiarkan begitu saja. Dengan bujukan bahwa harus kelihatan bersih kala Papa Buye pulang, ia menggosok punggung serta membersihkan telinga. Yang pastinya tidak akan terjangkau oleh tangan mungil anaknya itu.


Berbagai rasa berbaur dalam hati kala matanya yang masih berat menyipit menatap layar. Papa Buye calling. Bahagia dan rindu menyeruak lebih dulu disusul rasa lain yang berdemo menyuarakan kekecewaan. Mizyan mengabari akan pulang hari ini dengan pesawat jam 10. Juga meminta maaf semalam tidak sempat menghubungi sebab pulang larut malam.


"Nda, Papa pulang jam belapa?" Dika mengangkat kakinya kala sang bunda berjongkok memakaikan celana panjang sembari berpegangan pada bahu.


"Paling sampai rumah jam 1 siang. Dika sama Uma dulu nunggu di rumah. Bunda ke toko dulu ya, nanti siang pulang." Rahma menyisir rambut kriwil Dika perlahan agar tidak sakit.


Dika mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kepergiannya ke toko hanya alibi untuk mengistirahatkan badan sebab merasa kurang fit. Ia tidak ingin Mizyan melihatnya dalam keadaan lesu. Jika tidur di rumah pastinya akan sering terganggu Dika yang sudah antusias menunggu papanya pulang.


Asep Oray yang menunggu di depan gapura perumahan masih bertugas membuntutinya di belakang sampai tiba di toko. Dan lanjut bersiaga di luar dengan seragam kebangsaan, serba hitam.


"Fit, hari ini aku gak bisa terima tamu. Kamu aja yang urus. Lagi gak enak badan, mau istirahat di kamar." Ujar Rahma pada Fitri yang membawakan segelas teh manis hangat ke ruang kerjanya.


Fitri mengangguk. "Jangan-jangan lagi isi, mbak." Tebaknya dengan wajah sumringah.


Rahma memutar bola matanya. "Aku lagi dapet--"


Fitri membulatkan bibirnya. Ia pun turun lagi ke lantai bawah menghandle tugas sang boss.


Sejenak Rahma membalas pesan dari Suci dan Salma yang mengabari ada resep baru yang patut dicoba. Ia meninggalkan ponsel di laci meja kala jam menunjukkan pukul 10 pagi. Lalu menuju kamar, lumayan ada waktu 2 jam untuk tidur usai meminum obat sakit kepala.


****

__ADS_1


Mizyan turun dari taksi online di depan toko Citarasa. Menenteng satu koper hitam ukuran kecil dengan wajah ceria. Ia terlebih dulu menghampiri Asep Oray yang berdiri tegak begitu melihat kedatangannya.


"Sep, tugasmu sudah selesai. Kamu boleh pulang." Mizyan mengeluarkan 2 lembar warna merah dari dompetnya. "Buat bensin." Sembari mengepalkan pada tangan bodyguard itu. Sebab uang jasa urusannya dengan Hendra.


Asep Oray tampak senang. Memberi hormat dan lalu berlari kecil menuju motornya.


Semua karyawan yang melihat kedatangan Mizyan mengangguk sopan dan tersenyum. Pengunjung toko bahkan menolehkan wajah dan menatap penuh keterpesonaan terhadap sosok tegap dan tampan berwajah bule itu.


"Rahma ada diatas?" tanya Mizyan begitu berpapasan dengan Fitri yang baru keluar dari pantry.


"Ada, Pak. Lagi istirahat katanya kurang enak badan." Fitri pun menawarkan diri untuk membawakan koper Mizyan. Namun ditolak.


Pantesan ditelpon tidak dijawab.


Mizyan bergegas menaiki anak tangga satu persatu. Tampak sepatu flat Rahma ada di depan pintu kamar. Perlahan ia membuka pintu kamar usai membuka sepatunya. Tersenyum lebar melihat wanita yang dirindukannya tidur meringkuk dengan rambut panjang tergerai ke atas. Usai mencuci muka serta kaki dan tangan, ia perlahan naik ke atas ranjang.


Rahma mengerjapkan mata begitu merasakan tubuhnya yang berat namun hangat karena dekapan. Menatap tangan yang merengkuh dari belakang. Ia masih mengumpulkan nyawa antara mimpi atau bukan yang dirasakannya itu. Sebab begitu nyata jika kehangatan serta aroma yang terendus hidungnya itu milik Mizyan.


"Mas--" Suaranya serak memanggil setelah yakin ini nyata. Ia segera membalikkan badan dan kini saling berhadapan dengan wajah yang tengah tersenyum manis menatapnya.


"Sshh, tidur aja. Katanya lagi gak fit, hmm." Mizyan menarik tubuh Rahma ke dalam pelukan. Namun Rahma menahannya.


"Bentar ini jam berapa?" Meraih lengan Mizyan untuk melihat jam. "Astagfirullah, aku kebablasan. Maaf--" Pekiknya kaget dengan raut wajah menyesal. Membawa tangan Mizyan dan dikecupnya sebagai salam yang terlambat.


"It's oke. Aku telpon kamu mau tanya ada dimana tapi gak dijawab. Pas telpon Ayah bilangnya ada di toko." Mizyan menarik tubuh Rahma kembali ke dalam pelukan. "Miss you so much---"


Rahma membiarkan Mizyan melampiaskan rindu dengan memeluk erat dan menciumi wajahnya. Terakhir memagut bibirnya dengan rakus, tetap penuh kelembutan. Tubuhnya merespon menginginkan dan merindukan sentuhan yang juga menjadi candu itu.


"Mas, Dika nungguin." Rahma mengurai pelukan. Mendongak menatap wajah tenang dengan mata terpejam seolah tengah menikmati keintiman yang tercipta sebab rindu yang sudah terobati.


"Iya, sebentar lagi kita pulang. Aku lelah, mau tidur memelukmu dulu. Kamu juga masih sakit kan?" Mizyan beralih memeluk Rahma yang telentang. Membenamkan wajah di ceruk leher istrinya itu.


"Aku udah sembuh. Sepertinya sakitku malarindu." Rahma terkekeh. Kini tubuhnya merasa sangat segar dan kepala menjadi ringan. Efek obatkah atau Mizyan yang jadi obatnya. Ia meringis malu.


Mizyan memberi gigitan kecil di leher Rahma, menghisap dan meninggalkan jejak kissmark sebagai jawaban. Merasa gemas.


Membuat tubuh Rahma mengejang nikmat. Sejenak lupa akan masalah yang tengah dipikirkannya. Ia membiarkan Mizyan yang tak lama terlelap dengan dengkuran halus sembari memeluknya. Tangannya terulur mengusap-ngusap rambut kecoklatan yang halus dan tebal sembari mata menatap langit-langit kamar berwarna putih. Tak dipungkiri, hatinya begitu penuh kasih dan sayang pada pria yang dulu selalu hadir di waktu yang pas, di saat sulit.


****


Readers tersayang,


Selamat Hari Ibu untuk semua ibu juga calon ibu dimanapun berada. Kodrat yang memiliki derajat lebih tinggi dibanding laki-laki jika kita ikhlas menjalankan peran terbaik sebagai istri sekaligus ibu.


Last, mhn maaf yg belum ter acc yg ingin gabung di grup chat. Grup yg seru berisikan orang2 yg ramah, tdk sombong, baik hati & kekeluargaan.


Silakan tinggalkan jejak like & hadiah. Juga beri alasan ingin gabung di GC agar admin bisa meloloskan keinginan Anda.


Salam sayang 😍


Me Nia

__ADS_1


__ADS_2