
Sore hari begitu sampai di toko, Mizyan membuka baju di hadapan Rahma, memperlihatkan hasil hapus tato menggunakan laser. Setelah sebelumnya bercerita jika hasil meeting menghasilkan deal. Desain rumah akan dikerjakan dalam waktu 2 bulan.
"Sakit gak, Mas?" Dengan wajah meringis Rahma memperhatikan tinta tato yang memudar di area dada Mizyan serta kulit yang sedikit memerah.
"Lumayan nyeri pas ditembak sinar laser, panas juga. Tapi abis itu dokter ngompres pakai es batu, nyerinya ilang. Dikasih antibiotik juga. Paling 2 kali laser lagi bersih." Mizyan memakai lagi kaosnya. Mengajak Rahma duduk di sofa.
"Sayang, lusa kita ke Bogor, bisa? Papi tadi telepon pengen kita tinggal lama di sana. Pengen ngumpul katanya. Kalau aku sih bisa kerja dimana aja. Kamu nggak apa-apa ninggalin toko?"
Rahma mengangguk. "Berapa lama, mas? Maksudnya aku mau prepare tugas sama Fitri selama pergi."
"Maybe a week. Karena tanggal 15 aku ada schedule ke Surabaya."
Rahma tidak kaget. Sang suami sudah memperlihatkan maping serta schedule pekerjaan di luar kota untuk bulan ini dan bulan depan. "Ini masih hangat. Fresh from the oven." Ia mendekatkan piring ceper berisi bika ambon kuning yang wangi menguar.
"Suapin, Bun!" Mizyan dengan cuek membuka mulutnya sembari tangannya fokus memainkan ponsel, membaca pesan masuk.
"Idih kayak Dika aja." Tak urung mengikuti apa yang diperintahkan Mizyan. Memotong bika ambon dengan garpu, menusuknya dan dimasukkan ke mulut yang sudah menunggu.
"Mas, aku mau cerita banyak. Tapi yang mana dulu ya."
Mizyan menyimpan ponsel di meja. Beralih memiringkan badan menatap Rahma yang duduk di sisinya dan tampak serius. "Ceritain aja satu-satu, semuanya." Ia menerima suapan kedua bika ambon yang rasanya enak dan legit.
"Tadi Alex ke sini---"
"Jam berapa?" Mizyan memotong ucapan Rahma. Mendadak menghentikan kunyahannya mendengar nama yang ia cap bocah ingusan itu disebut.
"Jam 11 an. Dia minta maaf gak bisa hadir waktu kemarin karena nemenin mama Indah di rumah sakit. Sekalian aku tanya sakit apa, katanya jantung koroner. Terusnya dia pinjam uang 2 juta buat bayar servis mobil di bengkel."
"Kamu kasih?!"
Rahma mengangguk. "Maaf gak bilang dulu. Aku takut ganggu Mas lagi meeting. Dan biar Alex cepet pergi. Soalnya aku gak nyaman deket-deket sama Alex. Cara natapnya bikin merinding kayaknya abis mabuk." Pungkasnya sembari menggigilkan tubuhnya.
Mizyan memeluk bahu Rahma, mengusap-ngusapnya. "Hati-hati jangan diakrabin si Alex itu. Memang hobinya mabuk. Aku dari awal liat dia di rumahmu udah gak suka."
"Apa dia kurang ajar, nyentuh-nyentuh?" Ia pun memindai sang istri dari atas sampai bawah.
Rahma menggeleng. "Aku sengaja minta Fitri dan Sandi nemenin. Pura-pura ngerjain sesuatu."
Tampak kelegaan di raut wajah Mizyan. Ia pun meminta Rahma melanjutkan cerita berikutnya.
"Ayahnya Dika memberikan peninggalan yang banyak. Aku dan Dika mendapat hibah tanah beserta tanaman pohon sengon yang sebentar lagi akan panen. Lokasinya di Bogor. Mas masih ingat waktu itu aku kena begal?"
Mizyan menjawab dengan anggukkan. Memilih menyimak semua cerita Rahma.
"Itu aku dan Ayah abis nengok kebun dan nerima hasil penjualan kelapa dan petai dari mang Ojak, orang kepercayaan ayahnya Dika."
"Terus aku sudah buat MoU dengan manajer pabrik BKS. Semua kayu akan dijual ke pabrik. Dokumennya ada di Ayah nanti aku kasih lihat ya."
Rahma meraih botol air mineral di meja. Meneguknya sampai tiga kali.
"Ada lagi yang mau diceritain?" Ujar Mizyan sebelum ia pun akan berceritan banyak.
__ADS_1
"Satu lagi. Ayahnya Dika wasiat, jika hasil panen 100 batang sengon minta digunakan untuk merenovasi rumah tahfidz yatim piatu. Lokasinya masih satu kampung sama kebun."
"Bolehkah aku minta bantuan mas untuk desain bangunannya sekalian nyari tukang yang bagus kerjanya? Biar pihak yayasan terima beres aja." Pungkas Rahma sedikit hati-hati menyampaikannya.
Mizyan menautkan jemari tangannya dan jemari Rahma. Lalu diletakkan di atas pangkuannya sembari menatap dalam ke arah bola mata hitam istrinya itu. "Sayang, jangan bersikap sungkan seperti itu. Sejak ucap akad nikah, kamu dan Dika sepenuhnya tanggungjawabku. Pastinya aku akan selalu ada buat kalian."
Rahma menghamburkan diri ke pelukan Mizyan. Merasa terharu. Dengan senyum sumringah, Mizyan balas memeluk dan mengusap punggung sang istri penuh sayang.
"Bukankah tidak ada kejadian yang kebetulan. Semua terjadi karena kehendak Allah. Pabrik BKS itu milik Papi. Itu artinya aku yang akan turun tangan mengurus kerjasama dengan Ibu Cut Mutiara Rahma." Mizyan tersenyum di balik punggung Rahma. Menahan tubuh sang istri yang ingin melepas pelukan sebab terkejut.
"Mas, ini serius kan?" Rahma meronta ingin duduk tegak menatap wajah Mizyan. Namun suaminya itu malah mengeratkan pelukan.
"Panggil sayang dulu, baru dilepas." Mizyan memberikan penawaran sembari tersenyum usil.
"Sayang, lepasin engap ih." Rahma merajuk manja. Sampai pelukan pun terurai dan ia bisa leluasa menatap wajah tampan yang tersenyum miring menatapnya. "Sayang, Papi Mark beneran owner BKS?" Ia masih ingin meyakinkan lagi.
Mizyan mengangkup wajah Rahma dengan gemas sebab mimik sumringah berpadu keraguan tersirat di wajah cantiknya. "Iya, sayang." Satu pagutan singkat mendarat di bibir yang basah menggoda itu.
"Alhamdulillah. Aku sempat khawatir akan dicurangi dalam hitungan kubikasi. Soalnya aku dan ayah masih awam dalam dunia perkayuan." Ujar Rahma dengan nafas yang masih tersengal karena ulah Mizyan.
****
Uma menahan Rahma dan Mizyan yang baru datang untuk menjemput Dika. Meminta anak dan menantunya makan bersama dulu. Keduanya menyetujui. Namun sebelumnya satu keluarga itu duduk bersama di ruang keluarga. Dika duduk menggelayut di lengan papa buye. Sementara Rahma mulai membuka berkas yang dikeluarkan dari dalam tas khusus yang diambil dari kamar ayahnya.
"Alhamdulillah, Ayah bener-bener lega kalau kerjasama ini ternyata dengan pabrik pak Mark." Komentar Ayah Badru setelah Rahma menjelaskan dengan ceria. "Ayah serahin semua urusannya sama kalian berdua. Suami istri plus jadi partner kerja."
Rahma dan Mizyan tertawa sembari saling tatap dengan imajinasi yang sama. Partner ranjang dan partner kerja.
"Maaf sayang, tadi belum bilang. Aku mau sekalian bicara di depan Ayah dan Uma." Mizyan seolah bisa membaca tanda tanya di benak Rahma.
"Ada apa, Nak?" Giliran Uma yang tergelitik ingin segera mendengar cerita menantunya.
Sesampainya di apartemen, Mizyan segera mandi dan berganti baju yang disiapkan sang istri di atas kasur. Ia sudah buat janji akan ke rumah Arya selepas isya. Dengan memakai hoodie warna biru, ia menghampiri Rahma yang tengah menemani Dika menonton film kartun The Lion King.
"Bun, aku ke rumah Arya dulu." Mizyan mengecup kening Rahma. Lalu beralih mencium kening Dika.
"Papa, ituutt." Dika menggembungkan pipi. Merajuk agar mau diajak.
"Nanti Papa akan ajak Dika sama Bunda main ke sana. Kalau sekarang Papa sendiri dulu ada urusan penting." Mizyan membuka telapak tangan agar Dika menyambutnya. Deal, Dika mau ber high five.
"Jangan ngebut, Mas." Rahma mengekori sampai depan pintu. Mendapat tatapan dengan bibir cemberut suaminya, ia meralat ucapannya lagi. "Jangan ngebut, sayang." Ucapnya dengan lembut.
Membat Mizyan tersenyum sumringah. "Siap 86!" Sembari mencuri ciuman sebelum membuka pintu. Mumpung Dika lengah. Rahma hanya geleng-geleng kepala sambil mengunci pintu.
Sampai di depan pintu gerbang rumah Arya, Mizyan membunyikan klakson sekali. Seorang security keluar dan mendekati pintu mobil sebelah kiri.
"Selamat malam, saya dengan Adang SH. Mohon kaca dibuka dulu. Mau bertamu ke siapa?"
Mizyan menahan senyum mendengar sapaan security kesayangan Arya itu yang lain dari yang lain. Ia sengaja membuka sedikit kaca biar tidak kelihatan wajahnya. "Mau ketemu pak Arya." Ia sengaja membesarkan suaranya.
"Kurang bawah pak kacanya. Saya harus memindai wajah Anda dulu. Tidak bisa sembarangan bertemu komandan. Harus melalui prosedur keamanan berlapis."
__ADS_1
Kali ini Mizyan menahan tawa. Teringat cerita Ricky dan Willi yang merasa dikerjai tentang kode Bravo Alpha kang Adang dan Ceu Edoh. Ia pun akhirnya menurunkan kaca sampai bawah dan tertawa lepas.
"Aishh...geuningan Aa kasep bule. Kirain siapa...biasanya mobilnya kan si merah bohay." Kang Adang menepuk jidat. Sudah kalah dikerjai.
"Si merah sudah dijual. Ganti si black, kang. Punten bukain pintunya! Aku mau ketemu boss Arya."
"Ashiaap...Aa bule sudah ada dalam daftar tamu malam ini kok." Kang Adang bergegas membukakan pintu gerbang tinggi model kupu-kupu itu.
Mizyan berucap salam kala memasuki pintu rumah dan disambut Athaya yang menghambur mencium tangannya.
"Om, silakan duduk dulu. Om mau ketemu Papi ya?" Athaya dengan riang dan sopan langsung bertanya dan menemani Om Mizyan duduk di ruang tamu.
"Eh, ada Om Mizyan. Lala mau salim hihihi---" Baru juga membuka mulut untuk menjawab, datang si ceriwis Lala yang tengah berlari-lari sambil bernyanyi.
"Om, ke sini sama Dika gak?" Lala duduk di sofa yang sama menatap Mizyan.
"Om sendirian. Dika tadi pengen ikut tapi lain kali aja soalnya Om ada urusan sama Papi Lala."
"Yaahh, Om. Kan Dika bisa main sama Lala dan kakak. Lala pengen mainin rambut Dika soalnya lucu kayak mie hihihi..."
Mizyan ikut tertawa. Berada di tengah-tengah kedua anaknya Arya yang mengajaknya berbincang memang selalu rame. Mereka selalu mudah akrab dengan siapapun.
"Eh, Omnya malah diajak ngobrol. Udah ditungguin Papi tuh Omnya." Andina datamg dari ruang tengah begitu mendengar suara Lala yang paling rame tertawanya.
"Ayo Om aku antar. Papi lagi di ruang kerja." Athaya segera berdiri untuk menjadi pemandu.
"Sama Lala aja dianternya. Ayo Om sama pinces, hihihi..." Lala melambaikan tangan berjalan lebih dulu.
Mizyan kembali tertawa dengan tingkah Lala yang centil. Ia pamit pada Andina untuk menemui Arya.
"Silakan masuk Om. Pinces tinggal dulu ya, hihihi." Lala membukakan pintu ruang kerja papinya.
"Thank you, Princess Lala." Mizyan menjawil gemas pipi putri cantik Arya itu.
Mizyan menjatuhkan tubuhnya dengan keras di sofa begitu masuk ke dalam ruangan. Menghembuskan nafas panjang dan kasar.
"Roman-romannya lagi ada masalah." Arya ikut duduk di sofa yang sama usai menutup laptop di meja kerjanya. "Masa pengantin baru, baru juga seminggu udah berantem." ledeknya.
Mizyan mendengus. "Sembarangan. Malah lagi manis-manisnya eh mulai muncul hama. Aku ke sini butuh bantuanmu bro. Minta rekomendasi preman yang qualified buat intel."
"Masalahnya apa dulu?"
"Mantan mertua dan adik iparnya Rahma minta jatah warisan peninggalan almarhum." Mizyan pun menceritakan kronologis dua kali pertemuannya dengan Alex. Sama persis dengan yang ia ceritakan kala di rumah Ayah Badru.
"Bocah ingusan itu berani ngancam-ngancam. Dikira aku bakal takut." Mizyan tertawa mengejek membayangkan wajah Alex. "Aku juga curiga waktu Rahma kena begal di Bogor ada sangkut pautnya sama 2 orang serakah itu." Pungkas Mizyan mengakhiri ceritanya.
Arya mengangguk-nganggukkan kepala. "Aku punya orang yang recomended untuk urusan itu. Anak buahnya ada dimana-mana."
"Siapa?" Mizyan menegakkan punggungnya melihat Arya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum, Kang Hendra."
__ADS_1