MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 111. Level 2


__ADS_3

Rangga memasang headset di telinganya begitu ponselnya berdering dengan nama Mizyan tampil di layar. Fokusnya meneliti laporan dari pabrik yang masuk via email harus teralihkan dulu.


"Gimanna, Ga?"


Ucap salamnya dibalas dengan cepat oleh Mizyan. Disusul todongan pertanyaan update tentang misi percomblangan.


"Kemarin magrib saya disuruh Pak Mark mengantar Bu Fatimah pulang. Tadinya Bu Fatimah mau minta dijemput adiknya pakai motor. Pak Mark melarang, khawatir kehujanan soalnya cuaca sudah mendung. Benar aja, pas baru keluar gerbang hujan deres." Rangga memberi laporan panjang. Meski kemarin sore sudah mengirimkan foto dan video interaksi Bu Fatimah dan Pak Mark.


Terdengar tawa renyah dari ujung telepon yang terdengar senang.


"Yes. Misi level satu sukses, lanjut level 2, Ga. Itu bukan khawatir biasa. Papi gak akan seperhatian itu pada orang yang baru dikenalnya. Unconscious (tanpa sadar), Papi sudah ada ketertarikan."


Rangga mengangguk setuju dengan pendapat Mizyan. Tersadar, Mizyan tidak mungkin melihat responnya itu.


"Saya sependapat, Mas." Jawabnya sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jam 9 akan ada meeting di pabrik. Ia harus mengingatkan sang boss yang masih berenang di kolam renang belakang villa.


"Saya juga mendapat tugas mencari informasi mengenai profil Bu Fatimah."


"Wow, so surprise. Ini sih dilluar ekspektasi, kirain bakal cuek dulu. Papi gercep juga." Terdengar suara Mizyan yang berapi-api.


"Lo pasti udah dapat infonya kan?" Todong Mizyan dengan yakin.


"Sudah, Mas. Ini mau diserahin sekalian jalan ke pabrik. Jam 2 siang nanti Bu Fatimah akan datang lagi membahas interior musholla."


"Good job. Ga, mari kita berdo'a semoga waktunya nanti Bu Fatimah pulang tiba-tiba hujan deras. Lo harus putar otak untuk menahan Bu Fatimah tetap stay di villa sampe ikut dinner. Pokoknya misi level 2 ini harus sukses. Tanggungjawab lo, Ga!" ujar Mizyan dengan entengnya memberi tugas negara.


Berbanding terbalik dengan Rangga yang membelalakkan mata sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Mas, ini tugas sangat berat. Mending diberi kerjaan kantor sampe pagi dah. Ini tugas menguras otak banget, gimana caranya biar Pak Mark gak curiga. Hadeuuh--" Keluhnya sambil menepuk jidat.


"Keep calm, bro. Misi sukses sampai level 10, bonus menanti. Pilih aja pengen motor sport apa?"


Mimik wajah Rangga berubah. Tersenyum sumringah mendengar bonus yang menggiurkan itu.


"Ninja 4 tak keluaran terbaru, Mas. Bisa?!"


"Deal." Mizyan menyahut cepat tanpa ragu.


Membut Rangga mengepalkan tangan kanan ke udara dan berucap yes tanpa suara.


"Oke deh. Saya siap menjalankan misi sampai tuntas."


"Tapi eh bentar, Mas. Misi level 10 itu apa?!" Rangga memperbaiki letak headset yang sedikit melorot.


"AKAD NIKAH."


****


Rangga berdiri dari duduknya di kursi teras begitu mendengar suara derap sepatu yang mendekat. Sudah dipastikan itu sang boss yang sudah siap berangkat. Mobil Rubicon dengan mesin yang sedang dipanaskan, sudah siap menemani sang tuan kemanapun pergi.


Pak, ini profil Bu Fatimah." Rangga menyerahkan map yang dipegangnya. Bersikap se cool mungkin padahal sudut matanya menangkap garis senyum samar di sudut bibir bossnya itu saat menerima map.

__ADS_1


Rangga membukakan pintu tengah untuk Mark. Lalu ia pun berjalan memutar menuju pintu kemudi. Ia fokuskan pandangan ke arah depan. Mobil yang dikemudikannya membelah jalanan desa dengan kecepatan sedang, sesekali matanya awas ke arah spion kanan melihat keadaan di belakang mobil. Sesekali curi-curi pandang sekilas dari rear vision mirror pada penumpang di belakang yang sedang menunduk membaca lembar dalam map.


Bersiap melintasi rumah Pak Yunus, Rangga dapat menangkap sosok perempuan berhijab pink muda berdiri di depan rumah. Olla.


Tiba-tiba hatinya berdesir melihat senyum manis terkembang. Sayangnya, senyum itu bukan untuknya. Tapi untuk pria yang baru keluar dari mobil yang terparkir di tepi jalan.


Rangga menghembuskan nafas berat. Mobil dengan kaca hitam riben melintas tenang melewati 2 insan yang berdiri berhadapan. Ia bisa tenang menguasai stir agar tidak melaju kasar, tapi tidak bisa menguasai hati yang berdebar kala melintasi Olla yang tersenyum kepada calon imam itu.


Rangga akhirnya bisa mebawa mobil dengan halus dalam kecepatan sedang tak terpengaruh dengan suasana galau yang melanda hati. Sampai di kantor PT. BKS yang merupakan pabrik pengolahan kayu terbesar di Bogor. Dengan langkah tegap penuh wibawa, Mark juga Rangga berjalan melewati kubikel para karyawan menuju ruang kantor utama. Setiap orang yang berpapasan menganggukan kepala tanda hormat.


Jam 12 siang. Rangga mengingatkan Mark akan janji bertemu Fatimah jam 2 siang nanti. Pria berusia setengah abad lebih itu langsung duduk tegak dan menutup berkas terakhir yang ditandatanganinya. Membuka kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya dan memasukkannya ke dalam kotak.


"Ga, kita makan siang di luar sekalian pulang." Perintah Mark pada sang asisten yang sedang merapihkan berkas-berkas yang berserakan di meja. Lalu meneguk air mineral yang masih tersisa setengahnya di meja.


"Siap, Pak."


Sampai di villa jam 2 kurang 30 menit, usai makan siang di sebuah restoran. Mark segera masuk ke kamarnya sambil menenteng tas kerja. Ia masih penasaran dengan informasi yang tertulis tentang Fatimah. Di ruang privasinya itu, kembali membuka map pemberian Rangga.


Fa ti mah Ma la ti


Mark mengejanya lagi untuk yang dua kali setelahnya tadi pagi membaca di dalam mobil. Mengagumi nama yang menurutnya indah. Mengulang membaca tempat dan tanggal lahir serta riwayat pendidikan. Juga alamat tempat tinggal dan nomer ponsel.


Menikah 10 tahun tanpa dikaruniai anak.


Status janda cerai mati.


Menjeda baca pada kalimat status di atas dengan mimik wajah yang sulit diartikan. Hanya dia yang tahu. (Juga othor eh 😉)


Tok tok tok.


Suara ketukan di pintu membuyarkan kekhusyuannya membolak balik kertas CV. Seolah sedang belajar hafalan sampai berulang-ulang membaca biodata dari atas sampai bawah.


"Pak, tamu sudah datang." suara Rangga terdengar di balik pintu.


"Astaga." Mark terperanjat. Menoleh ke kiri menatap jam yang menempel di dinding. Terlalu asyik mempelajari CV membuat waktu terasa bergerak begitu cepat. Jam 2 kurang 5 menit. Dan orang yang sedang dipegang lembar profilnya sudah datang.


"Ya. Suruh tunggu!"


Tak ada sahutan dari Rangga yang sepertinya langsung pergi. Mark menuju kamar mandi. Cuci muka dan mengganti kemeja yang baru dipakai setengah hari itu. Tidak bau keringat, malah masih bersih dan rapih serta wangi parfum yang menempel di baju. Entahlah, Mark merasa tidak percaya diri. Memilih mengganti dengan kemeja baru berlengan pendek warna navy dari deretan hanger di walk in closet nya serta celana jeans hitam. Menyisir rambutnya sebagai sentuhan akhir penampilannya yang sudah berpakaian necis.


Mark berjalan semangat menuju ruang tamu. Tiba-tiba langkahnya terhenti di jarak 4 meter, terpaku. Ragu untuk terus melangkah atau berbalik ke kamar. Bagaimana tidak, warna baju yang dipakai sang tamu senada dengannya. Navy.


Terlanjur Fatimah menoleh melihat kehadirannya, Mark berjalan setenang mungkin mendekati kursi tamu.


"Assalamu'alaikum, Bu Fatimah." Mark memberi salam. Bersikap biasa seolah tidak menyadari jika warna baju yang dipakai sama.


Fatimah hanya mengulas senyum sebagai jawaban. Nampak kedua pipinya merona sebelum kemudian menundukkan wajah. Merasa malu jika gamis polos yang dipakainya bisa senada warna.


"Kita bahas sekarang, gimana?" Mark yang berpengalaman berhadapan dengan berbagai karakter orang, kali ini berbeda. Canggung sedikit kaku. Apalagi melihat senyum simpul barusan, yang baru disadari jika wanita anggun ini memiliki lesung di pipi kanan.


"Boleh, Pak. Berkasnya kan ada di Bapak." Fatimah mengingatkan tuan rumah yang datang dengan tangan kosong.

__ADS_1


"Ah, iya lupa. Berkasnya di ruang kerja. Gimana kalau kita diskusi di ruang kerja saja?" Tawar Mark menatap tamunya yang cantik tanpa riasan dalam balutan jilbab motif floral.


"Kalau bisa di ruang terbuka saja, Pak." Menatap Mark dengan sorot meminta pengertian.


"Bu Fatimah jangan khawatir. Ruang kerja saya pintunya akan dibuka lebar. Termasuk jendela-jendelanya juga." Mark meyakinkan sang tamu agar tidak merasa risih karena harus berduaan.


Fatimah mengalah. Mengikuti langkah Mark menuju ruang kerja.


Benar saja, Mark membuka lebar-lebar pintu gandeng 2 berbahan jati itu. Lantas membuka jendela besar model kupu-kupu yang menghadap ke halaman. Ia mempersilakan Fatimah duduk di depan meja kerjanya.


"Maaf Bu Fatim, sebelum pada bahasan desain, saya mau bertanya melenceng tema. Boleh?" Mark merasa ada ganjalan yang ingin diungkapkan dan dibitihkan penjelasan.


Fatimah mengangguk pelan. Nampak ragu dan bingung. "Soal apa ya, pak?"


"Itu...tadi saya berucap salam. Kenapa tidak dijawab, hanya ditanggapi dengan senyum?" Mark akhirnya mengungkapkan apa yang mengganjal di hati.


Fatimah mengulas senyum tipis. "Tadi saya menjawab wa'alaikum, memang pelan sih."


"Kemarin saya memberi salam karena awalnya mengira Anda muslim."


"Terus Rangga yang jelasin?" Tebak Mark menatap sang tamu lebih lembut. Tak setajam tatapan kemarin.


Fatimah menggeleng. "Kang Rangga tidak menjelaskan apapun tentang Anda. Saya tak sengaja melihat salib yang ada di dinding waktu pamit pulang."


"Ketika sesama muslim bertemu, disunahkan mengucapkan salam dan diwajibkan untuk menjawabnya."


"Salam dalam Islam bukan hanya berfungsi sebagai alat sapaan, seperti selamat pagi. Melainkan sebuah syariat, doa, sekaligus penghormatan, terhadap sesama muslim."


"Salam paling pendek adalah Assalamu'alaikum, jika dipanjangin menjadi Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Artinya semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dianugerahkan Allah kepada kalian."


"Jawabannya pun sama mengandung do'a. Wa'alaikumsalam. Yang artinya dan semoga keselamatan terlimpah juga kepada kalian."


"Atau jika dipanjangin, Wa'alaikum salamwarahmatullahi wabarakatuh. Yang berarti, Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah juga kepada kalian."


"Begitlah cara umat Islam saling mencintai yaitu dengan menebar salam."


"Sementara berucap salam kepada non muslim, mayoritas ulama kami memutuskan tidak boleh atau haram. Namun sebagian ulama menyatakan hal itu tidak haram, tetapi makruh."


"Dan mengenai menjawab salam dari non muslim cukup menjawab wa'alaikum atau tidak menjawab apapun."


Mark terkesima sampai lupa berkedip. Cara Fatimah menjelaskan dengan tenang dan detail justru makin menunjukkan kepribadian istimewa pemilik bibir pink natural itu.


"Terimakasih." Hanya kalimat itu yang lolos dari bibir Mark. Speechless.


Bersamaan keduanya menoleh ke arah pintu. Dimana Bi Cicih meminta izin masuk dengan membawa nampan berisi gelas teh dan cemilan.


Mark memulai fokus terhadap berkas desain musholla. Yang secara eksterior gambarnya sudah sempurna. Tinggal membahas interior musholla.


"Oke, kita mulai bahas gambar. Bu Fatim ingin konsepnya gimana?" Mark menatap penuh kagum terhadap sang klien. Setelah menyiapkan kertas kosong dan pena di meja."


"Dimulai dari desain mihrab ya, Pak?" Fatimah melipat kedua tangan di meja dengan semangat. Tadi pagi sudah ditelpon Mizyan agar jangan sungkan menyampaikan ide. Sesulit apapun Papi Mark akan bisa menggambarnya. Dan jangan khawatir soal budgetnya nanti.

__ADS_1


Mark mengangguk. "Oke. Jelasin dulu mihrab itu apa!"


__ADS_2