MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 115. Pesona


__ADS_3

Bogor


Bunga desa pada masanya. Pria bujangan maupun duda dengan tongkrongan mobil mewah hampir tiap hari datang menemui orangtuanya. Namun gadis Fatimah Malati lebih memilih pemuda sederhana asal Cianjur, seorang hafiz.


Pernikahan 10 tahun berakhir. Suaminya tiba-tiba jatuh saat memimpin sholat jum'at di rakaat kedua. Meninggal seketika.


Pesona Fatimah Malati belum pudar. Setelah menyandang status janda, banyak pria beristri yang mengajak poligami, juga pria duda yang melamarnya. Namun Fatimah pengkuh dengan pendirian. Memilih status single sampe dengan sekarang, 10 tahun lamanya.


Mark menggeleng-gelengkan kepala di depan cermin. Lanjut mengusap mata dan wajah dengan kasar. Heran, bisa-bisanya informasi pribadi Fatimah hapal dan terngiang-ngiang di kepala. Bahkan sosok wanita anggun dalam balutan gamis warna navy dan jilbab floral itu mengayun-ngayun di kelopak mata.


Pagi ini ia akan singgah ke rumah tahfiz La Tahzan sebelum ke pabrik. Mau memberikan gambar desain interior musholla kepada Fatimah sesuai janjinya 3 hari akan selesai.


Kenapa jadi gugup begini.


Mark yang sudah make sure penampilannya untuk yang kedua kalinya, menghentikan gerakan tangannya memutar handle pintu. Ragu melanda. Ia kembali melangkah ke depan meja rias untuk melihat lagi kerapihan baju serta rambut coklatnya yang mulus tanpa uban sebab baru dicat di salon langganan sesuai warna asli rambutnya. Tubuhnya yang kekar dan perutnya yang rata sebab rajin olahraga membuat orang tak percaya jika usianya sudah 57 tahun. Bahkan saat berjalan dengan sang anak, orang sering memuji sebagai adik kakak.


"Aya jalan!" Mark menegur Rangga yang sedang fokus menatap layar laptop di kursi teras. Sebenarnya salahnya, karena bolak balik mengecek penampilan sehingga waktu berangkat menjadi telat 10 menit. Untung dia bossnya.


Rangga dengan sigap menutup laptopnya.Tak sempat membukakan pintu mobil untuk sang boss sebab Mark sudah masuk lebih dulu.


"Rangga---"


"Iya, Pak." Rangga sigap menjawab. Menatap sekilas sang boss dari rear vision mirror. Mobil yang sudah keluar dari pintu gerbang villa melaju dalam kecepatan sedang. Tujuan pertama adalah ke rumah tahfiz.


"Tanggal 20 Miki ulang tahun. Saya mau beri kado mobil. Tolong hubungi showroom di Bandung yang bonafid. Pokoknya kamu urus serapih mungkin untuk kejutan. Gambarnya sudah saya kirim." Wajah Mark sumringah saat mengatakannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berpisah, ia ingin merayakan lagi ulang tahun anak semata wayangnya itu. Jikalau sang anak meminta perayaan dengan party tentu ia sanggup mengabulkannya.


"Siap, pak. Warnanya apa, Pak?" Rangga yang menyetir sambil membuka pesan kiriman Mar, melirik lagi sekilas lewat spion.


Mark mengerutkan kening sejenak. Mempertimbangkan warna mobil tipe MPV auto family yang cocok untuk keluaga kecil anaknya itu.


"Putih saja." Jawabnya yakin.


Rangga pun menyahut cepat. Siap melaksanakan tugas boss Mark Cornelius.


"Gimana kabar nenek dan adik-adikmu?" Mark memecah keheningan yang baru saja tercipta usai pembahasan mobil.


"Alhamdulillah semua sehat, Pak. Tadi malam juga vc an lama."


"Kamu sudah punya pacar? Kapan mau nikah?"


Rangga menelan saliva. Ia sudah hafal dengan sifat bossnya itu yang tidak suka basa basi, selalu to the point dalam membahas hal apapun. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba jadi belok pembahasan ke arah sana. Memang seperti itulah karakter umum orang Jerman.

__ADS_1


Kalau saya nikah, siapa yang jadi teman ngobrol Bapak. Bapak kan orangnya selektif dalam berteman.


Siapa nanti yang akan nemenin makan dan ngopi.


Makanya Bapak cepat nikah biar ada teman 24 jam. Saya juga akan tancap gas nyusul Bapak entar.


"Saya belum siap nikah, Pak. Masih betah sendiri." Nyatanya hanya kalimat ini yang lolos dari mulut Rangga sebagai jawaban dari sekian ocehan di hatinya itu.


Tak ada lagi percakapan diantara keduanya sampai mobil melewati kawasan kebun sengon milik Rahma yang masih lanjut melakukan penebangan. Mark meminta Rangga berhenti dulu untuk sidak para pekerja. Tentu saja kedatangan boss besar membuat kaget staf pengawas lapangan yang sedang duduk-duduk di bedeng. Tergopoh-gopoh menghampiri boss dan asisten yang baru turun dari mobil.


"Selamat pagi, Pak." Para pekerja menyapa dan mengangguk hormat pada Pak Mark yang berdiri didampingi Rangga menyaksikan proses pemotongan kayu.


Ada mobil loader dan truk-truk pengangkut masih terparkir. Menunggu proses pemotongan kayu selesai.


"Mana Wawan?" Mark dengan penuh wibawa menanyakan keberadaan kepala pengawas. Ia selalu detail dan hafal dengan wajah-wajah karyawan yang memiliki jabatan kepala.


"Ma maaf Pak, belum datang." Dengan takut-takut staf pengawas menjawab dengan kepala menunduk.


"Apakah tiap hari selalu datang terlambat?" Dengan tatapan tajam, Mark menginterogasi staf lapangan itu. Nampak para sopir dan operator berdiri berbaris, menunduk tidak berani menatap wajah sang boss yang sedang marah itu.


"Jawab aja! Jangan takut sama si Wawan." Rangga menimpali tak kalah tegas.


"Kadang-kadang, Pak. Paling nanti jam 10 baru datang." Staf menjawab dengan suara bergetar.


"Tidak ada toleransi bagi karyawan yang tidak disiplin. Kalau dia datang suruh menghadap manajer HRD!"


"Kalian, bekerja yang benar. Dan jangan abaikan keselamatan kerja!"


"Siap, Pak." Jawab serempak semua orang yang berdiri seperti pasukan.


Mark berbalik badan kembali menuju mobil diikuti Rangga yang sigap membukakan pintu.


****


Gerbang terbuka rumah tahfiz La Tahzan sudah terlihat dari jarak 10 meter. Ini kali pertama Mark menginjakkan kakinya di tempat yang asri ini. Kali ketiga untuk Rangga yang sudah dua kali memgantarkan Bu Fatimah pulang.


Mark mengedarkan pandangaan saat turun dari mobil. Nampak beberapa pekerja melakukan finishing di bangunan bertingkat dua.


"Pak, itu kantor sekretariat dan rumahnya Bu Fatimah." Rangga menunjuk pada bangunan di sebelah barat bercat biru kombinasi putih.


Mark mengangguk. Berjalan mengikuti arahan asistennya itu. Begitu sampai di depan pintu ruang kantor yang terbuka, bersamaan dengan seorang wanita bergamis marun pun keluar.

__ADS_1


Nampak keterkejutan di wajah wanita yang tak lain adalah Fatimah. Sesaat mematung, saling menatap lurus dengan tamu yang datang tanpa diduga itu.


"Ya Allah. Pak Mark---kenapa gak bilang dulu kalau mau ke sini." Fatimah tergeragap sebab masih tak menyangka akan kedatangan boss besar itu.


Lain halnya Mark yang malah menikmati pemandangan di hadapannya itu. Gamis marun dan jilbab cream memberi efek fresh untuk pemakainya yang berkulit putih bersih itu.


"Cantik." Satu kata lolos dari bibir pria matang itu dengan pelan. Ia terkaget sendiri dengan ucapan spontan itu. Beruntung sepertinya Fatimah tidak mendengarnya jika dilihat dari raut keningnya yang mengkerut.


"Apa, Pak?!"


"Ini saya ke sini mau ngasih desain yang sudah jadi. Sekalian jalan aja karena habis sidak dari kebun sengon." Mark bisa menguasai situasi dan kondisi dengan berbicara tenang.


Bohong Bu, memang sengaja mau ke sini kok.


Rangga yang berdiri di belakang Mark tertawa dalam hati mendengar alasan sang boss yang terbalik itu. Yang benar, sengaja ingin bertemu Bu Fatimah dan sekalian sidak. Tangannya merogoh ponsel di tasnya untuk mengirim pesan.


"Mas, level 3 in action." Menyimpan lagi ponselnya setelah berhasil mengirim pesan kepada ketua comblang, Mizyan.


"Silakan masuk Pak Mark, Kang Rangga." Fatimah tak lagi gugup. Tersenyum ramah mengajak masuk.


Mark yang masuk. Rangga memilih menunggu di luar sambil memperhatikan anak-anak yang riang keluar dari ruang kelas yang sepertinya hendak melakukan olahraga. Terlihat dari setelan kaos dan trening yang dipakai.


Di dalam kantor sekretariat dimana ada 2 orang staf pengajar sedang duduk menghadapi layar komputer. Duduk di sofa single, Fatimah menerima berkas yang diberikan Mark. Dengan seksama membuka lembar demi lembar detail gambar berikut tertera ukurannya.


"Sangat bagus, Pak. Jadi gak sabar ingin segera diaplikasikan." Fatimah mengulas senyum cerah menampakkan lesung pipi yang menjadi pemanis senyumnya.


Mark tersenyum simpul. Tak sedetik pun mengalihkan tatapannya dari sang owner rumah tahfiz.


"Eh, sampe lupa nawarin minum. Mau minum apa, Pak?" Fatimah menggeleng atas keteledorannya menjamu sang tamu.


"Gak usah repot-repot bu Fatim. Saya masih kenyang baru aja sarapan dan ngopi." Tolak Mark dengan sopan.


"Saya ingin melihat-lihat bangunan karya arsitek Mizyan Abdillah, boleh?!" Lanjutnya.


Fatimah terkekeh dengan menghalangi bibirnya dengan telapak tangan kanan. Geli mendengar Mark berkata formal mengenai putranya sendiri.


Kenapa ya setiap tertawa selalu ditutupi tangan.


Mark lagi-lagi tersenyum simpul dibuatnya.


"Mari, Pak."

__ADS_1


Ajakan Fatimah yang berdiri lebih dulu, membuyarkan keasyikannya menatap tawa yang ditahan itu. Masih betah.


__ADS_2