
Mizyan menggeleng. Menolak bersulang minuman beralkohol yang ditawarkan Leon. "Jangan minum alkohol, Leon. Sudah, ganti!" Ia akan menarik 2 gelas cocktail yang tersaji di meja itu namun keburu tangan Leon lebih cepat mengamankan.
"Diamlah. Gue ingin nikmatin malam ini. Malam perpisahan dengan lo yang akan jadi milik orang lain." Segelas cocktail milik Leon tandas. Ia memegang erat gelas milik Mizyan yang belum diminum.
"Michael eh Mizyan. Ah, whatever dengan nama lo. Yang jelas lo orang yang sama sejak dulu gue suka." Leon mengibaskan tangan sembari tersenyum miring. Alkohol mulai menguasai pikirannya.
"Leon, jangan seperti ini." Mizyan merasa kasihan melihat teman lamanya itu menangkupkan wajah di meja. Gelas cocktail kedua kini tersisa setengahnya dan ia berhasil mengambilnya dari tangan Leon.
"Lo di mana? Leon mabuk." Mizyan dengan cepat mengirim pesan pada Jason tanpa sepengetahuan Leon.
"Lo harus tau, Mizyan. Dari dulu gue suka, gue cinta sama lo. Kenapa gak peka sih." Leon mengangkat wajah menatap nanar dengan mata berkaca. "Gue selalu sabar nunggu lo membuka hati. Tiba-tiba malah kirim undangan mau kawin. Tega sekali bikin gue patah hati." Air mata mulai berderai membanjiri kedua pipi putih itu. Tak ada lagi rasa malu sebab sudah dipengaruhi alkohol.
Mizyan bukannya tidak tahu jika Leonny punya perasaan lebih untuknya. Namun hati tak bisa dipaksakan. Ia lebih nyaman berteman dan mendukung Jason yang jelas menyukai Leon bahkan sampai sekarang tetap sabar berada di samping Leon meski hanya dianggap teman dan juga partner kerja.
Ponselnya berdering. Jason calling.
"Jas, lo cepet ke sini!" Mizyan berkata pelan jangan sampai terdengar Leon yang mulai meracau.
"Lo di mana? Gue sudah di cafe Bear dari tadi. Leon bilang lo ngajak ketemuan di cafe ini." Ada nada kebingungan tertangkap dari jawaban Jason di sebrang sana.
Mizyan menarik kesimpulan. Berarti Leonny sengaja menjauhkan Jason agar leluasa bisa berduaan dengannya. Ia pun memberitahu lokasinya saat ini. Meminta Jason datang cepat.
Leon berdiri dengan sempoyongan beralih mendekari Mizyan. "Gue cinta sama lo. Lo harus tau itu." Tangannya bergerak membuka cardigan yang dikenakannya namun dicegah Mizyan yang berdiri menahan Leon yang semakin mepet padanya.
"Leon, sadar. Ada Jason yang sungguh-sungguh cinta sama Lo. Buka hati untuknya."
"No---Jason hanya temen, my BFF (Best friend forever). Aku hanya cinta sama lo." Leon menangkis tangan Mizyan yang memegangnya. Dibukanya cardigan hitam yang dikenakannya hingga terpampang dress seksi tanpa tali yang mengekspos bahu putihnya. "Came on, kita habiskan malam bersama, Mizyan. Aku rela jadi milikmu malam ini. Nanti udah gak bisa, kamu jadi milik wanita lain." Leon sudah hilang akal, terus mendekatkan tubuh seksinya pada Mizyan.
Bukannya terpancing, Mizyan malah merasa kasihan dengan Leonny yang sebenarnya baik. Patah hati ditambah mabuk yang membuat temannya itu menjadi hilang rasa malu. Tangannya yang lebih kuat tentu saja mampu menahan bahu Leon yang terus saja ingin menyosornya. Beruntung posisi mereka di pojok tanpa menimbulkan kegaduhan sehingga tidak menjadikan pusat perhatian tamu lain.
"Jason, syukurlah." Mizyan menarik nafas lega kedatangan Jason yang berlari ke arahnya. Dan menyerahkan Leon yang semakin hilang kesadaran.
"Jas, Leon jadi tanggungjawab lo sekarang. Gue harap jangan berbuat kesalahan yang bikin dia ilfill sama lo."
Jason mengangguk. "Sorry udah ngerepotin lo." Ia memapah Leon keluar coffe shop menuju kamar yang berada di lantai 10 tempat mereka menginap dengan 2 kamar bersebelahan. Ia memilih membopong Leon yang sudah mabuk berat agar lebih cepat sampai ke kamar.
"Mizyan---gue cinta sama lo. Harusnya aku yang jadi mempelai wanitanya." Leon menahan kerah kemeja yang dipakai Jason begitu ia terbaring di ranjang berseprai putih. Yang ia kira lelaki itu adalah Mizyan.
Ada rasa nyeri di ulu hati mendengar racauan wanita yang dicintainya itu. Ia selama ini selalu menjadi teman curhat Leon yang terbuka mengatakan jika sangat mencintai Mizyan. Bahkan meminta saran bagaimana bisa mendapatkannya. Padahal ia yang begitu mencintai wanita cantik itu sejak masih kuliah. "Leon tidurlah. Kamu mabuk." Dibelainya rambut hitam sebahu yang tergerai menutupi sebagian pipi dengan penuh perasaan.
Bukannya tidur, Leon malah menanggalkan dress seksinya sehingga tersisa pakaian dalam. Membuat jakun Jason naik turun melihatnya.
"Mizyan, miliki aku malam ini. Sebelum kamu jadi milik orang lain."
"Leon---" suara Jason menjadi serak dengan seluruh tubuh menegang. Ia berusaha untuk tidak terpancing dengan gerak sensual Leon yang menariknya hingga mengungkung tubuh hampir polos itu.
__ADS_1
"Leon, aku Jason bukan Mizyan. Jangan seperti ini--" Jason masih mengingat ultimatum Mizyan untuk tidak berbuat kesalahan. Ia bangun dan duduk membelakangi dengan kepala yang berat menahan hasrat yang naik ke ubun-ubun.
Bukan jawaban yang diterimanya malahan pemandangan yang menantang. Leon menariknya lagi, memasrahkan diri dengan tubuh yang telah polos. Jason mendapat serangan bibir yang dilakukan Leon dengan ganas sembari tangan halus itu lincah melucuti pakaian yang dikenakannya satu per satu.
Masa bodoh dirinya dianggap Mizyan oleh Leon. Ia laki-laki normal yang punya cinta yang tulus dan nafsu yang tengah menguasai diri. Maka terjadilah, apa yang seharusnya tidak boleh terjadi.
****
Mizyan membuka pintu apartemen dengan kaget sebab Mami sudah berdiri didepan pintu dengan tangan dilipat di dada.
"Syukurlah kamu sudah pulang." Mami Kanti menghembuskan nafas lega. "Mami dari tadi khawatir, cemas takut terjadi apa-apa sama kamu."
Mizyan memeluk wanita paruh baya itu dengan sayang. Naluri seorang ibu tidak salah. Memang iya hampir saja terjadi hal yang tidak baik menimpa dirinya. "I'm okey, Mam. Mami sekarang tidur ya dari siang sudah cape." Cukup dirinya saja yang tahu akan kejadian tadi. Tak mau ibunya itu tambah cemas lagi. Toh ia sudah pulang cepat dengan selamat.
"Mami duluan ke kamar ya." Mami berlalu dengan mulut yang menguap. Baru jam 9 namun aktifitas seharian ini membuatnya lelah dan cepat mengantuk. Bahkan Morgan sudah tepar di sofa ruang keluarga.
Mizyan menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu. Melirik sejenak hantaran box kaca yang berjajar di karpet, sudah siap untuk hari H yang tinggal sehari lagi.
Hampir saja.
Ia memejamkan mata. Mengingat kejadian tak terduga malam ini dan merasa iba dengan sikap Leon yang tampak terpukul. Sorry Leon.
Apa Jason bisa nahan diri?
Dirogohnya ponsel yang ada di saku jaket. Yang waktu di coffee shop terasa bergetar beberapa kali. 3 Miss called Bunda Dika.
Mizyan menegakkan punggungnya meliaht ada 3 pesan yang dikirim Rahma :
"Mas, lagi di mana?"
"Baik-baik aja kan?"
"Aku kok tiba-tiba gak enak hati."
Mizyan menghembuskan nafas panjang. Bahkan rasa khawatir dan gelisah sampai juga ke orang yang dicintainya itu. Ia menyesal mengabaikan pesan Mami yang tadi melarangnya pergi.
Nada sambung terdengar begitu ia menghubungi nomer Bunda Dika. Terdengar suara lembut berucap salam yang membuat hati Mizyan nyes, dingin.
"Waalaikumsalam."
"Maaf, sayang aku baru lihat hape. Lagi apa?"
Mizyan menempelkan ponsel di telinganya sembari melangkah memasuki kamar agar bisa leluasa mengobrol.
"Lagi cemas nunggu kabar darimu. Syukurlah sepertinya Mas baik-baik saja kan."
__ADS_1
Mizyan mengulas senyum lebar. Ia senang Rahma begitu mengkhawatirkannya.
"Aku baru pulang ketemu teman yang datang dari Surabaya. Gak lama kok cuma 1 jam. Maaf sayang, udah bikin kamu cemas." Mizyan merasa bersalah sebab sudah melanggar komitmen yang dibuatnya. Bahwa kemanapun pergi harus saling mengabari.
"Gak papa. Yang penting mas baik-baik aja, aku bisa tidur sekarang."
"Duh, makin cinta deh sama kamu." Mizyan berguling di atas ranjang dengan perasaan yang terbang ke angkasa saking bahagianya mendengar Rahma yang makin terbuka.
"Gombal lagi." Terdengar suara decakkan dari sebrang sana. Mizyan tertawa.
"Oh ya, Mas. Besok di rumahku mau ada pengajian. Mengundang warga satu komplek. Ya, sebagai syukuran menjelang mau nikah."
Mizyan beralih duduk sila di atas kasur mendengar penuturan Rahma dari sebrang sana. "Aku juga pengen seperti itu. Tapi gak bisa. Di keluargaku cuma aku seorang yang muslim. Hanya bisa menitipkan doa ke pesantren karena malam jumat ada pengajian."
"Tak apa, Mas. Mas bisa sholat hajat sendiri. Berdoa untuk kelancaran dan keselamatan sampai hari H. Juga berdoa untuk kebaikan dan keberkahan masa depan pernikahan kita."
"MasyaAllah, bangga sekali aku punya calon istri kamu." Mizyan berdiri di tepi ranjang dengan wajah berbinar ceria menggambarkan hatinya yang dipenuhi cinta yang ingin tersalurkan. "Boleh aku culik kamu sekarang aja ya. Aku udah gak sabar."
Terdengar suara kekehan dari sebrang sana sebagai jawaban.
Mizyan menghembuskan nafas panjang. "Sayang, sehari lagi. Tapi waktu terasa lambat bergerak." Keluhnya.
"Jangan lebay."
Mizyan terkekeh. Dikira Rahma akan membalas dengan kalimat manis juga. Ia mendengar Rahma akan mengakhiri sambungannya sebab mau istirahat agar besok pagi bangun segar.
"Bun, miss to meet you." Suara Mizyan memberat sebab berucap dari hati.
Dua puluh detik berlalu belum ada jawaban.
"Aku juga."
Mizyan tersenyum lebar.
"Good night and sweet dream. I love you, Bun."
Satu menit berlalu dalam hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding di kamar Mizyan. Ponsel masih menempel di telinga.
"Love you too, Papa."
Bip.
Sambungan pun terputus cepat dari sebrang sana.
Mizyan menghempaskan tubuh telentang di ranjang. Kalimat sakti untuk pertama kalinya keluar dari bibir Rahma. Yang entah bagaimana rupa wajah wanita itu kala mengucapkannya. Yang pasti Mizyan merasa melayang di atas awan dan ingin terbang saat itu juga memeluk kekasih hatinya.
__ADS_1