MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 128. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Mizyan menghentikan mobilnya di depan toko Citarasa tanpa masuk ke area parkiran. Hanya untuk mengantar Rahma saja sebab ia akan lanjut ke rumah Arya untuk berangkat ke Lembang. Ia akan menjadi driver untuk Arya dan Ricky yang ingin menumpang satu mobil dengannya.


"Mau nengok ibunya Andreas jam berapa?" Mizyan memperhatikan Rahma yang melepas sabuk pengaman.


Rahma nampak berpikir. "Paling jam 11an....pas jam besuk."


"Jangan pergi sendiri. Ajak Fitri atau siapa biar aku tenang." Masih menatap sang istri penuh sayang. Rahma yang kemarin-kemarin hanya mau sarapan roti tawar gandum, pagi ini bisa makan nasi goreng buatannya dengan lahap.


"Aku akan ajak Fitri."


Mizyan mengangguk setuju. Ia menerima uluran tangan Rahma yang akan mencium tangannya. Beralih ia mencium kening sang istri dan memberi pelukan hangat. Sehari ini akan berpisah sebab harus menginap semalam di Lembang. Ia sudah mengkonfirmasi kepada Ayah Badru akan menitipkan Rahma dan Dika semalam ini.


"Fii amanillah, Papa." Rahma yang bersiap turun, memeluk lagi sang suami. Belum juga ditinggal pergi sudah merasakan rindu menyeruak.


"Aamiin. Jangan nangis dong...besok juga aku pulang." Mizyan tersenyum menggoda, melihat mata Rahma yang berkaca-kaca. Ia sudah membaca artikel seputar kehamilan agar bisa menjadi suami siaga. Termasuk tentang bagaimana mood swing ibu hamil.


Membuat Rahma tersipu malu dan terkekeh sambil menyeka sudut mata.


Mizyan memberika lagi ciuman di kedua pipi Rahma, terakhir di bibir. Memberikan senyum sumringah yang menenangkan pada sang istri yang nampak melankolis. Lambaian tangan saat Rahma berada dii luar pintu menjadi kebersamaan terakhir hari ini.


Rahma menatap lalu lintas jalan dari jendela ruko lantai 2 itu. Menatap ke arah trotoar dimana tadi Mizyan menepikan mobil. Termenung seketika, hatinya mendadak hampa ditinggal pergi sehari ini. Ia menolehkan wajah melihat Fitri datang dengan membawa berkas di tangan.


Rahma duduk di sofa. Membuka berkas yang diserahkan Fitri. Laporan omset penjualan bulan ini. Ia mengamati dengan kedua alis bertaut.


"Maaf, mbak. Bulan ini omset turun 10% dari bulan lalu." Fitri berkata dengan sorot penuh penyesalan.


Rahma belum menjawab. Masih mempelajari dengan teliti semua rincian pengeluaran operasional yang tertera di berkas. Merasa semua normal tidak ada yang janggal. Ia akhirnya menandatangani berkas laporan itu.


"Gak papa. Namanya dagang kan gak tentu. Kadang ramai kadang sepi." Rahma menutup berkas. Menyuruh Fitri menyimpankan ke meja kerja.


"Fit, nanti 1 jam an lagi temani aku ke rumah sakit. Nengok maminya Koko dirawat di Borom****."


Fitri mengangguk. "Siap, mbak." Ia lalu permisi turun sebab meja kerjanya ada di lantai bawah.


Perjalanan menuju rumah sakit lancar tanpa macet. Sepanjang menyusuri koridor bersama Fitri, Rahma mengenakan masker. Pengalaman hamil Dika, aroma rumah sakit membuat perutnya mual. Ia pun antisipasi jika saja mengalami hal yang sama.


Sampailah di salah satu ruang VIP sesuai info dari Koko. Ternyata koko Andreas ada di dalam sedang menyuapi Mami Sensen.


"Hei, kirain gak akan ke sini." Koko Andreas tersenyum sumringah melihat tamu yang masuk usai dibukakan pintu olehnya.


"Kalau koko yang sakit, aku gak akan datang. Karena Mami yang sakit, aku pengen banget datang." Rahma menyahut dengan kalem. Berjalan mendekat ke arah bed perawatan diikuti Fitri.


"Haish, jahara kau---" Koko tertawa lepas. Lalu geleng-geleng kepala merasa mati kutu tidak bisa membalas joke Rahma. Ia ikut mendekat dan berdiri di samping bed sang ibu.


"Mami, bagaimana keadaannya sekarang?" Rahma menggenggam tangan Mami Sensen dan mengusap-ngusapnya dengan lembut. Sekeranjang parsel buah diletakkan oleh Fitri di meja sebagai bingkisan.


"Tidak terlalu pusing seperti kemarin. Tapi tangan kiri masih mati rasa." Jawabnya dengan wajah berbinar sebab senang akan kedatangan Rahma.


"Wah, kalau gini sih insya Allah besok juga Mami bisa pulang. Mami harus semangat dan jangan banyak pikiran ya." Rahma memberi motivasi dengan ucapan lembutnya.

__ADS_1


"Memang sih tadinya Mami banyak pikiran. Mikirin si koko belum juga ngenalin calon mantu." Mami tersenyum miring.


Rahma mengerling ke arah koko. "Tuh, Koko denger gak Mami pengen apa?!"


"Lah si Mami mah ngarang. Mami kena stroke ringan bukan karena aku, tapi abis makan pete coel sambal berlebihan." Koko memberengut merasa sudah disalahkan dan dibully.


Fitri yang menjadi pendengar hanya senyum-senyum melihat Koko mendapat serangan.


Setelah kurang lebih 15 menit berbincang santai dengan pasien, Rahma undur diri. Beralasan ada kepentingan yang lainnya lagi. Nampak wajah Maminya Koko itu masih berat ditinggalkan. Namun ia tulus mengucapkan terima kasih kepada Rahma yang sudah mau menjenguknya.


"Rahma, Fitri, makasih udah ke sini. Keliatan banget Mami senengnya." Ujar Koko yang mengantar sampai ke luar pintu.


Rahma dan Fitri sama-sama mengangguk sambil mengulas senyum. Bergegas Rahma berpamitan lagi dengan koko. Saat memasuki lift, ia buru-buru membuka tasnya mengambil kayu putih.


"Kenapa, mbak?" Fitri memperhatikan Rahma yang menggosok-gosok hidung dengan raut khawatir. Beruntung tak ada orang lain di dalam lift.


"Mual, Fit. Tadi nyium bau obat dan bau aroma bubur rasanya sebal. Makanya tadi buru-buru pamit takut muntah." Rahma menghirup aroma kayu putih dalam-dalam. Memasang lagi maskernya usai ditetesi kayu putih. Kini perutnya merasa lebih baik.


"Kita lanjut kemana, mbak?" Fitri menolehkan wajah saat Rahma berhenti melangkah sekeluarnya dari lift di lantai satu.


"Sebentar, itu kayak Mama Indah." Rahma bergumam tak yakin. Pandangannya lurus menatap seorang paruh baya yang duduk di ruang tunggu yang lengang. Penasaran, ia mendekat untuk memastikan sosok yang nampak kurus dengan wajah sayu itu.


"Mama Indah?!" Rahma menyapa dengan ragu. Wajah yang mirip mantan mertuanya itu nampak lebih tua, dengan tubuh berbalut sweater.


Yang disapa nampak terkejut dan memicingkan mata menelisik wajah di balik masker. "Rah ma." ujarnya kaget setelah masker itu diturunkan.


"Alhamdulillah, ternyata benar mama Indah. Mama apa kabar? Sedang apa di sini?" Rahma mengulurkan tangan dengan wajah sumringah. Ternyata tebakannya benar.


"Bu, obatnya sudah ditebus. Mau langsung pulang ke hotel?" Ujar seorang wanita yang baru datang.


Tangan Rahma yang masih menggantung, perlahan diturunkan. Menggeserkan tubuh memberi ruang saat Indah berdiri dan pergi begitu saja, acuh tanpa kata.


"Mbak, itu omanya Dika kan ya?! Fitri berbisik sambil memperhatikan mama Indah yang berjalan dengan lengan digandeng.


Rahma mengangguk lemah. Ia masih merasakan kecewa dengan perlakuan sang mantan mertua yang seolah membencinya.


"Sombong amat ya. Dulu mah fashionable bak sosialita, sekarang pangling kayak mpok anu tuh." Fitri mencibir.


"Sabar ya, Mbak." Ia mengelus bahu sang boss rasa kakak itu. Melihat dengan mata kepala sendiri saat Rahma mau salaman tapi ditolak.


Rahma menghembuskan nafas panjang. Seolah sekalian membuang rasa tak nyaman di hati atas peristiwa yang baru saja terjadi.


"Aku pengen makan pecel pedas sama rujak bebek (tumbuk) tapi pengen makan ditempatnya. Di mana yang enak, Fit?" Rahma melenggang keluar dari lobi rumah sakit dengan tangan menggandeng lengan Fitri.


"Aku tau....aku tau. Kita ke Kepatihan, Mbak. Dijamin cenghar pokoknya." Fitri dengan semangat membuka ponselnya untuk memesan mobil via aplikasi.


"Hmm, jadi ngences pengen cepet sampe." Rahma bergumam sendiri dengan riang sambil menelan saliva.


*****

__ADS_1


Tiga pria tampan dengan mengenakan hoodie berbeda warna, memasuki cafe. Mencuri perhatian kaum hawa yang sedang duduk kongkow dengan genk nya. Nampak senyum-senyum dan berbisik-bisik. Entah review apa yang mereka ulas saat melihat tiga pria itu duduk tak jauh dari meja mereka.


Mizyan, Arya dan Ricky mulai memesan menu makan malam di cafe kawasan Maribaya tempat mereka menginap. Dengan panorama alam yang romantis cocok untuk datang berpasangan ataupun membawa keluarga. Terdengar gemuruh air terjun yang jika siang akan terlihat pemandangan hutan yang elok dengan udara yang segar.


"Harusnya kalau ke Lembang bawa bini. Dingin tau---" Ricky menggosok-gosokkan telapak tangan mengusir hawa dingin yang menyergap kulit.


"Anggap aja ini ujian buat kita. Kalau lagi jauh dari bini, apa mata bisa kuat gak jelalatan or tebar pesona." Mizyan memberi kode lirikan sudut mata ke arah kumpulan cewek yang disadari sedari tadi memperhatikan ke arah mejanya.


"Bener itu. Sebenarnya aku tipe yang gak bisa jauh-jauh dari bini. Terpaksa dah kalau urusan kerja padat, gak bisa diajak. Kasian kalo cuma harus nunggu di hotel." Arya menyahut. Urusan ke Lembang bukan sekadar untuk rencana pembangunan villa. Tapi juga bertemu pemilik lahan perkebunan yang berniat menjual lahannya. Dan ia sudah sepakat kerjasama dengan Mizyan untuk membelinya jika memang prospektif. Sementara survey lahan perkebunan baru akan dilakukan besok pagi.


Semakin beranjak malam, suasana cafe makin bertambah dengan pengunjung yang datang berpasangan. Di malam sabtu yang cerah dan iringan live music menambah betah pengunjung untuk tinggal lebih lama.


Tiga pria itu sama-sama memesan menu steak. Hanya pesanan minuman saja yang berbeda. Mereka makan dengan cepat dalam diam sebab sangat lapar sampai piring licin. Tiga ponsel yang tersimpan di meja berdering hampir bersamaan. Mizyan dan 2 sahabatnya tertawa. Sama-sama mendapat video call dari orang rumah.


"Gue ngungsi dulu ya biar gak berisik." Mizyan mengalah mencari tempat yang lengang untuk menerima sambungan video. Berjalan cepat keluar cafe dengan ponsel yang terus berdering. Ia menemulan meja kosong di pojok dengan pencahayaan yang cukup.


"Papa atu....." teriakan Dika yang keras dengan lambaian tangan dan tawa sumringah nampak di layar.


"Dika....salam dulu sayang." Terdengar suara Rahma namun tak nampak di layar.


Dika menurut dan mengulang mengucap salam.


Mizyan terkekeh usai menjawab salam bocah yang nampak duduk sila di tengah kasur.


"Papa buye atu, kapan pulang?" Dika mengerucutkan bibir dengan tangan menopang dagu.


"Papa pulangnya besok sore. Dika mau oleh-oleh apa?" Mizyan ikut menopang dagu di atas meja.


"Hmmmm...." Nampak Dika mengerutkan keningnya. "Atu mau eslim setawbeli." Akhirnya dengan mata berbinar.


Mizyan tergelak. Masa iya bawa es krim dari Lembang. Auto sampai rumah menjadi cair.


Rahma mulai bergabung duduk di samping Dika. Memakai daster ungu bersejarah, rambut dicepol ke atas.


"Bunda....beautiful---" Mizyan berkomentar sambil memberi kecupan jauh.


"Bun da....bi sul---" Dika menolehkan wajah ke samping. Mengikuti ucapan dan gestur Papa buye, mengerucutkan bibir.


"Bhuahaha----" Rahma yang awalnya tersanjung dengan pujian Mizyan, berubah tertawa dengan copy paste Dika yang salah ucap. Sampai memegangi perut sebab tak bisa mengerem tawa.


Begitupun juga Mizyan yang tertawa agak ditahan sebab takut pengunjung cafe ada yang terganggu.


"Papa lagi di mana? Kayaknya bagus tempatnya." Rahma sudah bisa menghentikan tawa. Beralih memperhatikan backround tempat duduk sang suami.


"Lagi dinner di cafe sama Arya dan Ricky. Sehati banget deh dapat vidcall dari orang rumah barengan." Mizyan terkekeh.


"Jalan pake mata!"


Fokus Mizyan terganggu mendengar suara orang yang marah. Ia menolehkan wajah ke asal suara. Nampak seorang waiter sedang dimaki oleh seorang pria yang berdiri di pintu masuk sambil memeluk wanita seksi.

__ADS_1


"Alex?!" Gumam Mizyan terkejut. "Ngapain dia di sini?!" batinnya.


__ADS_2