
Bogor
Rangga melajukan mobil dengan santai sepulang dari pabrik pengolahan kayu. Sengaja tidak ingin ngebut meski di dalam mobil hanya sendirian tanpa Pak Mark. Sang boss sedang berada di Jakarta sejak kemarin. Pergi bersama sopir kantor dan satu orang bodyguard. Ada meeting bersama pengusaha Jepang yang lokasinya di hotel tempat sang klien menginap. Dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang mengingat Mizyan akan datang malam ini.
Rangga yang mendapat mandat menghandle klien yang datang ke kantor, membuka kaca jendela sepertiganya untuk menikmati hembusan angin sore. Lanjut menyalakan player musik mencari chanel radio untuk mengusir sepi. Tapi tak ada lagu yang menarik menurutnya. Semua lagu temanya galau. Memilih mematikannya lagi.
Tiba-tiba Rangga menginjak rem dan menepikan mobil. Ia melihat perempuan yang dikenalnya sedang termenung di samping motor.
"Olla....kenapa motornya?!" Rangga yang datang mendekat, berhasil membuyarkan lamunan gadis itu.
"Eh, mas Rangga." Olla menatap dengan wajah berbinar. Senang bertemu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa dimintai tolong.
"Ini motor tiba-tiba mati mesin. Udah cek bensin masih banyak. Tapi distarter gak bisa." Keluh Olla.
"Coba saya lihat!" Rangga mulai melakukan pengecekkan. Mulai dari stater sampai membuka jok motor dan memperhatikan dengan seksama.
"Ini sih kabel businya bermasalah. Soalnya gak ada percilan listrik." Rangga menerima uluran tisu dari Olla untuk mengelap tangan yang kotor.
"Duh, mana di sekitaran sini gak ada bengkel." Olla menghembuskan nafas panjang.
"Gini aja, motor kita titipkan di warung. Besok orang saya akan urus motor kamu sampe beres. Kamu tunggu aja di sini!" Tanpa menunggu persetujuan Olla, Rangga menuntun motor ke sebrang jalan dimana ada warung yang menyatu dengan rumah.
"Aman, yuk!" Rangga menghampiri lagi usai menitipkan motor pada pemilik warung. Mengajak Olla naik ke mobilnya untuk diantar pulang.
"Saya jadi merepotkan Mas Rangga nih." Olla berkata sungkan usai duduk manis di samping jok sang driver yang mulai melajukan mobil.
Saya malah senang.
"Santai saja toh kita pulang searah." Lain di bibir lain di hati apa yang diucapkan Rangga.
"Minta nomer kamu biar nanti kalau motornya beres bisa konfirmasi." Rangga menoleh sekilas menyerahkan ponsel usai dibuka kunci layarnya.
"Sudah---" Olla mengulurkan lagi ponsel Rangga.
"Nomerku di save ya. Entar dikira orang iseng lagi...jadi ga diangkat." Ujar Rangga sambil terkekeh usai melakukan miss call.
"Baiklah." Olla tersenyum simpul.
Sudut bibir Rangga tertarik tipis dengan pandangan lurus ke depan. Merasa sebagai permulaan yang baik bisa mendapatkan nomer Olla. Hatinya membuncah bahagia.
"By the way, apa kamu mengajar juga di rumah tahfiz Bu Ima?" Rangga memecah keheningan di dalam mobil. Ia pura-pura belum tahu, untuk memancing hal lain.
"Hmm, iya. Saya resign dari sekolah lama. Sekarang beralih menjadi freelance writer. Sementara baru menulis artikel di 2 situs online. Kalau di La Tahzan, itu pengabdian bukan untuk mencari cuan." Olla terkekeh di akhir ucapan.
"Saya respect." Rangga menoleh sebentar sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kenapa harus resign dari SMP itu? Bukankah menjadi guru tidak mengajar tiap hari kan? Tetap bisa sambi menulis." Rangga memancing lagi.
Come on...curhat dong, La.
"Eh, maaf Olla. Kenapa aku jadi kepo. Maaf-maaf ya---!" Rangga menolehkan wajah lagi dengan raut menyesal. Dan menjadi sangat menyesal dan kecewa ternyata mobil sudah sampai di depan rumah sang penumpang. Hampir terlewat jika Olla tidak menyetopnya.
"Mas Rangga, ngobrolnya lain waktu disambung lagi. Makasih ya untuk tumpangannya." Olla sudah membuka pintu mobil bersiap turun. "Oh ya, untuk motor saya titip uang berapa dulu untuk biaya bengkel?" sambungnya urung menurunkan kakinya. Menatap Rangga sambil membuka resleting tasnya.
Rangga menggeleng. "Biar nanti aja."
Ia masih menatap punggung Olla yang menjauh dari balik kaca riben jendela. Usai gadis itu mengucapkan lagi terima kasih di luar pintu mobil.
Wamtu magrib masih 1 jam lagi. Rangga tidak lantas turun dari mobil sesampainya di pekarangan villa. Memilih merebahkan punggung dengan sandaran jok yang sudah diturunkan. Kedua tangan menyangga kepala dengan pandangan yang menerawang dan bibir senyum-senyum. Semobil berdua, meski tidak ada interaksi spesial, namun mampu memompa semangat untuk memanfaatkan peluang. Motor akan menjadi modus untuk besok bisa bertemu lagi. Ia tersenyum menyeringai.
"Alright, slow but sure...aku akan mengejarmu, Olla." Rangga bergumam. Menatap layar ponsel dengan nama Violla tertera.
Sebuah mobil datang mendekat dan parkir di sampingnya. Tak lain boss Mark yang baru pulang dari Jakarta. Rangga segera keluar dari dalam mobil menyambut kedatangan sang boss.
"Baru pulang, Ga?!" Mark menyapa Rangga yang mengambil alih tas kerjanya. Berjalan bersama memasuki pintu utama.
"Iya, pak. Tadi meeting sore dengan divisi ekspor." Rangga mensejajari boss Mark masuk ke dalam rumah.
"Saya istirahat dulu. Tasnya bawa ke ruang kerja!" Mark berbelok ke arah kamarnya tanpa menunggu jawaban Rangga.
Rangga tak perlu disuruh pun pasti akan meletakkan tas sang boss di ruang kerja. Selanjutnya ia menuju dapur meminta Bibi membuatkan minuman teh hitam.
"Ehh bebeb Rangga. Aku masakin buat boss Mark sop buntut rempah sama cah brokoli tofu. Sate kambing ini request bro Mizyan, tadi dia telpon eyke...katanya otewe mari." Iwan dengan apron melekat di badan mengerling genit terhadap Rangga.
"Sip. Abis magrib Pak Mark akan makan. Persiapkan ya, Wan!" Rangga menepuk bahu Iwan sebelum pergi.
"Wan Wan...Wan Wan, udah cakep panggil Inces." Iwan memberengut sambil memutar bola mata.
"Awas tuh sate gosong!" Bi Cicih menepuk keras punggung Iwan sampai chef andalan boss Mark itu terjengit kaget dan latah.
****
Rangga beralih ke luar menuju pos jaga untuk bersantai, usai menemani boss Mark dinner. Berbincang soal pekerjaan 15 menit lamanya sebelum kemudian sang boss pergi ke ruang perpustakaan dan meminta jangan diganggu.
Baru saja duduk dan menawarkan rokok pada dua security, ponselnya berdering. Boss Mark calling.
"Rangga, ke sini!" Suara Mark yang serius membuat Rangga setengah berlari kembali ke dalam villa. Sudah dikenalnya jika intonasi seperti itu menandakan ada hal penting.
"Ada apa, pak?" Rangga menarik kursi dan duduk berhadapan dengan sang boss di ruang perpustakaan.
"Botol air mineral dikemanakan?!" Mark dengan gusar menunjuk tempat tersimpannya botol di sisi meja sebelah kanan. Sehari ditinggal.ke Jakarta, namun botol kini raib.
__ADS_1
"Botol?! Botol yang mana ya, Pak?!" Rangga bertanya balik dengan raut bingung. Ia sama sekali tidak tahu.
"Botol Aq** masih ada airnya seperempat lagi. Cepet tanyain Bi Cicih, apa dia beres-beres di sini. Jangan sampe botolnya hilang apalagi masuk tempat sampah."
"Pak, gimana kalau saya ganti baru aja ya. Sebentar saya ambilkan dulu."
"Tidak mau! Saya ingin botol itu." Mark menolak keras dengan raut kesal. "Tugasmu sekarang cari botol itu sampai ketemu. Kalau tidak, gajimu bulan ini dipotong 5 juta!" Tegasnya dengan tangan terlipat di dada.
Rangga menelan saliva. Antara kaget dan aneh dengan sikap bossnya. Ia keluar dari ruang perpustakaan dengan kening berlipat. Ada apa dengan botol? batinnya sungguh penuh tanda tanya.
Yang bener aja. Itu Aq** beli di warung cuma 5 ribu. Masa harus diganti rugi 5 juta.
Rangga mendesah. Berjalan ke ruang belakang sambil *******-***** rambutnya. Mendadak pusing. Diketuknya pintu kamar pasangan suami istri Bi Cicih dan Mang Uyo.
"Mas Rangga, aya naon (ada apa)?" Mang Uyo yang bertugas merawat taman dan kebun villa, mengernyit penuh tanya. Sebab jarang-jarang Rangga datang mengetuk pintu, biasanya menghubungi lewat telepon.
"Mau ke Bi Cicih, Mang."
Yang dicari menyembul dari dalam, masih berbalut mukena.
"Bi Cicih kapan terakhir beberes di perpustakaan?" Rangga menatap sang asisten rumah tangga dengan serius, to the point pada tujuan.
"Kemarin, Mas. Kenapa emang?!" sahut Bi Cicih bingung. Tiap hari ia biasa bersih-bersih seluruh ruangan dan tak ada complain.
"Botol di meja Pak Mark dibawa kemana?" Rangga mulai menginterogasi.
"Oh itu...Bibi bawa keluar. Kan itu bekas, airnya juga tinggal dikit. Ya dibuang lah." sahutnya dengan wajah tanpa dosa.
Rangga membelalaķan matanya. Bayangan potong gaji 5 juta menari di pelupuk mata.
"Ad duuhh....di buang ke mana, Bi?" Rangga mulai panik. "Cepet, Bi. Bantu saya nyari. Pak Mark marah." sambungnya dengan spontan menarik lengan Bi Cicih.
"Mas Rangga, kenapa dibikin sulit. Ganti aja dengan yang baru. Buang airnya sampe tinggal seperempat. Kasihkan deh ke tuan Mark." Bi Cicih yang mengikuti langkah Rangga menuju dapur, memberi saran.
Rangga menggeleng. "Pak Mark akan tau kalau aku sudah membohonginya. Ini lebih gawat. Pak Mark sangat tidak suka kalo dibohongi." Jelasnya.
Bi Cicih manggut-manggut. Membuka tempat sampah kering khusus sampah plastik dan menelitinya.
"Kok gak ada ya, Mas. Harusnya di sini bersama sampah plastik. Apa saya lupa belum buang ya?!" Bi Cicih bicara sendiri.
Rangga menepuk keningnya. Alamat malam ini ia tidak bisa tidur gara-gara botol. "Coba ingat-ingat, Bi!" ujarnya dengan suara lemah.
Keluar dari dapur. Rangga berpindah duduk di kursi teras dengan wajah resah. Belum berani melaporkan kepada Pak Mark. Botol belum ditemukan meski sudah dicari dibantu Mang Uyo juga Iwan sampai mencari ke semua tempat sampah dan kantong sampah. Nihil.
Ya Allah, ada-ada aja masalah. Gara-gara botol.
__ADS_1
Rangga menghembuskan nafas berat. Kepalanya menjadi berdenyut memikirkan botol. Ia menatap mobil yang melaju pelan dan mendekat. Sebuah mobil Alphard putih yang dikenalnya sebagai hadiah ulang tahun. Mizyan dan keluarga kecilnya sudah tiba.