
Mizyan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Setengah jam lagi waktunya magrib. Ia menyudahi permainan basketnya dengan Rangga. Keduanya duduk di bangku kayu di samping lapang mini dengan satu ring tempat mereka tadi berebut memasukkan bola basket.
"Ga, masjid yang deket di mana?" Mizyan menahan Rangga yang akan pergi ke dapur mengambil minum. Selama berapa kali mengunjungi villa ia belum pernah sholat di masjid sebab villa ini letaknya terpencil paling atas.
"Dari sini turun 300 meter belok ke kiri. Itu masjid yang paling dekat. Kalau masjid jami nya dari sini turun lurus terus ke bawah---"
"Di kampung bawah yang satu jalur ke sini ya?!" Mizyan memotong ucapan Rangga yang tengah memetakan dengan tangan.
Rangga mengangguk.
"Kita magrib ke masjid, Ga! Yang paling deket aja, sekalian silaturahmi dengan warganya."
Rangga tak menyahut. Hanya diam sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Membuat Mizyan mengernyit memperhatikannya.
"Siap-siap. Gue mandi dulu." Mizyan beranjak dari duduknya, namun panggilan Rangga menyurutkan langkahnya.
"Miz, gue---gue dah lama gak sholat." Rangga tersenyum meringis menatap Mizyan yang menautkan kedua alisnya.
"Tapi kamu masih muslim kan?!"
Rangga mengangguk dengan tangan berpindah menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal. Gestur yang menunjukkan seolah dirinya merasa malu telah berkata jujur.
"Tak ada kata terlambat untuk memulai lagi. Ayo siap-siap!"
Mizyan dan Rangga berada di masjid sampai isya. Mizyan yang paling vokal memperkenalkan diri terhadap bapak-bapak jamaah masjid yang merupakan warga setempat. Ternyata semuanya sangat mengenal baik terhadap Mark, Papinya. Namun warga lebih mengenalnya dengan panggilan nama Pak Emsi.
"Kang Rangga pan anu osok masihan sedekah ti pak Emsi kanggo warga, dititpkeun ka abdi." (Kang Rangga yang suka memberi sedekah dari pak Emsi untuk warga, yang dititipkan ke saya)
"Tapi upami pendak sareng kang Rangga di masjid mah nembe ayeuna." (Tapi kalau ketemu kang Rangga di masjid baru sekarang)
__ADS_1
Mizyan menginterupsi ucapan Pak RT itu agar memakai bahasa Indonesia saja sebab ia tidak mengerti banyak kosakata bahasa sunda.
Rangga tertawa sumbang mendengar penuturan ketua RT itu yang memang benar dirinya tak pernah ke masjid apalagi bergaul dengan warga. Hanya ketemu seperlunya aja jika ada sumbangan rutin yang akan diberikan. Ia memang tertutup.
Dengan berboncengan motor matic keduanya kembali pulang ke villa selepas isya. Mizyan dan Rangga duduk sejenak di kursi teras menikmati suara alam dan dinginnya dataran tinggi yang mulai menggigit menusuk tulang.
"Apa Papi selama ini melarang lo sholat?" Mizyan menatap Rangga yang mulai menyulut sebatang rokok. "Lo jangan segan ngomong sama gue, biar gue yang tegur Papi."
Rangga menggeleng sembari mengepulkan asap pertama dari mulutnya. "Pak Mark memberi kebebasan untuk beribadah pada gue juga terhadap semua karyawan baik di peternakan maupun di pabrik kayu. Bahkan masjid dan fasilitasnya sangat nyaman."
"Sejak banyak duit gue jadi malas sholat, malas puasa. Padahal dari kecil nenek menggembleng mengaji dengan keras. Bahkan selalu sedia sapu lidi kalau gue gak mau sekolah agama." Pungkasnya sedikit terkekeh kala mengenang masa kecilnya dulu.
Mizyan menepuk bahu Rangga. "Gue bukannya nasehatin. Just wanna say, I'm proud to be a moslem. And lo harus lebih bangga terlahir sebagai muslim."
"Gue cabut dulu mau ke rumah Pak Yunus!" Mizyan menepuk bahu Rangga sekali lagi. Ia melenggang masuk untuk berganti pakaian meninggalkan Rangga yang tercenung sembari mengisap rokoknya dalam-dalam.
****
"Cep Mizyan, makasih banyak kiriman parselnya. Aduh meni banyak dan bagus-bagus sekali." Tampak sekali wajah sumringah ibunya Olla itu mendapat bingkisan istimewa berupa buah-buahan kualitas super, cake aneka rasa dan cookies dengan kemasan toples kristal, cangkir set Vicenza, dan yang lainnya.
"Kenapa tidak bilang dulu kalau mau kesini. Ibu kira mah masih di Bandung nanti kesininya sama Olla---kalau tahu mau datang pasti dimasakin dulu yang enak-enak buat nyambut cep Mizyan." Nur masih merasa surprise dengan kedatangan tamunya itu. Berbagai ekspektasi bermunculan di kepalanya yang menyebabkan ia terus menerus tersenyum lebar.
"Ibu jangan bicara terus. Ambilkan minum dulu, masa ini tamu dianggurin."
Teguran dari suaminya itu barulah menyadarkan Ibu Nur yang segera beranjak menuju dapur. Hingga tak lama kemudian datang lagi membawa 3 cangkir teh manis dan 2 toples kue.
"Maaf kedatangan saya jadi ngerepotin nih--" ujar Mizyan yang melihat Bu Nur mempersilakannya minum.
"Mana ada ngerepotin. Malah seneng ibu mah." Bu Nur menyahut dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Cep Mizyan, kapan sampe di Bogor?" Pak Yunus mulai mengambil alih berbicara setelah dari tadi istrinya yang nyerocos terus.
"Tadi jam 10, Pak. Saya kangen bertemu Papi sekalian juga ada keperluan dengan bapak dan ibu di sini." Ada rasa geli di hati Mizyan mendengar kedua orangtua Olla itu jadi berubah memanggilnya dengan embel-embel Cep. Merasa berlebihan.
Pak Yunus manggut-manggut. Ia lalu bertanya kabar pak Emsi yang dijawab Mizyan dengan kabar kesehatan yang sangat baik.
"Pak Yunus dan Bu Nur, saya mengirim hampers ini sebagai rasa terima kasih karena pertolongan bapak dan ibu yang sudah mempertemukan saya dengan bapak saya." Mizyan berkata dengan tenang sambil menatap keduanya bergantian. "Waktu itu saya baru ngucapin terima kasih saja. Dan maaf baru saat ini saya bisa membalas kebaikan bapak dan ibu. Buah tangan yang saya beri tidak seberapa dibanding dengan kebaikan balak dan ibu tentunya."
"Cep Mizyan jangan berkata seperti itu. Bapak sama sekali tidak mengharapkan ada balas budi segala. Mana ini bingkisan sangat mahal harganya." Pak Yunus melirik 5 hampers yang masih berjajar di sudut tembok ruang tamu dimana istrinya menolak untuk dibuka hiasannya kemasannya, merasa sayang sebab tampilannya begitu cantik.
"Dan satu lagi tujuan saya bersilaturahmi ke sini, ingin membahas pembicaraan soal ta'aruf."
"Oh iya, itu gimana-gimana, Cep---" Bu Nur begitu bersemangat menyambar ucapan Mizyan. Yang kemudian mendapat colekan dari suaminya.
Mizyan tersenyum tipis. Ia meneguk tehnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Pak, kenapa waktu itu saya meminta waktu untuk berpikir. Karena saya sebetulnya sudah melamar seseorang dan sedang menunggu jawabannya. Di malam yang sama saat itu, saya ditunggu di rumah wanita yang saya lamar. Tapi karena ada mis uderstanding, saya baru datang besoknya."
"Mohon maaf pak, bu. Saya tidak bisa ber ta'aruf dengan Olla. Karena minggu depan saya akan mengkhitbah wanita pujaan saya."
Wajah sumringah yang awalnya menghiasi wajah Pak Yunus dan terutama Bu Nur perlahan memudar dan berakhir menegang seiring penjelasan panjang Mizyan yang berakhir menohok hati, menguapkan ekspektasi akan calon menantu impiannya itu.
Mizyan kembali ke villa dengan hati yang lega. Lepas sudah ganjalan yang membebani hati dan pikiran usai semuanya di clear kan. Meski raut kekecewaan tampak di wajah kedua orangtua Olla itu, namun mereka berlapang dada menerima keputusannya.
Pagi menjelang, Mizyan duduk bersama dengan Papi Mark dan Rangga menikmati sarapan nasi goreng. Usai sarapan ketiganya berencana menuju BKS untuk meeting bersama manajer pabrik.
Semalam Mizyan menanyakan mengenai informasi letak kebun sengon yang memiliki seribu pohon siap tebang. Dari Papi Mark dan Rangga lah ia mendapat informasi mengejutkan bahwa pabrik sudah menandatangani MoU dengan pemilik kebun sengon yang letak kebunnya di desa sebelah. Ia sudah tidak sabar ingin melihat file asli perjanjian itu dan meyakinkan lagi benarkah nama Rahma tertulis di dokumen itu.
****
Bandung
__ADS_1
Sudah 2 hari Mizyan berada di Bogor. Komunikasi berjalan lancar bahkan pagi sebelum berangkat ke toko, Rahma mendapat panggilan video call dengan percakapan yang didominasi oleh Dika pastinya. Ia seolah pemeran figuran yang duduk di sisi Dika dan hanya bisa berkomunikasi lewat tatapan mata dan senyum. Sama halnya disebrang sana yang meladeni celotehan Dika namun bermain kedipan mata dan senyuman padanya.
Dering interphone di meja kerja Rahma membuyarkan konsentrasinya dari menatap layar laptop. Ia tengah menjelajahi chanel di youtube untuk mencari inspirasi resep baru. Fitri mengabari ada tamu kepala cabang menunggunya di bawah, Dimas.