MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 94. Hasutan Alex


__ADS_3

Tak terasa ini hari ketiga Papa Buye berada di Surabaya. Sudah 2 malam pula kehilangan pelukan hangat disetiap tidur malam. Meski tetap tidur bertiga tapi bukan dengan sang suami, melainkan boneka sapi opa yang berada di sisi Dika dan selalu dipeluk erat oleh bocah kriwil itu. Sebagai pengobat rindu, hoodie warna biru milik Mizyan dipakai Rahma untuk menghangatkan tubuhnya. Membayangkan seolah itu pelukan erat dan mesra sang suami yang biasa dilakukan setiap malam.


Menyibukkan diri menjadi salah satu alternatif agar waktu bergulir cepat. Meski sesungguhnya tak ada yang berubah dengan waktu. Tetap berjalan seperti biasanya tidak melambat atau mempercepat ataupun rehat sejenak. Kesibukan atau kemalasan kita yang seolah membuat waktu terasa cepat atau lambat.


Dengan berbalut apron warna orange khas toko Citarasa, Rahma berkutat di pantry bersama Fitri. Menghias wedding cake 4 tingkat nuansa putih marun, yang merupakan kerjasama dengan salah satu wedding organizer. Dan akan diambil pihak WO nanti sore.


"Fit, menurutmu Asep Oray itu nama asli atau bukan sih?" Rahma memecah keheningan di tengah konsentrasinya finishing menghias cake tingkat pertama. Ia merasa tergelitik dengan nama yang menurutnya unik.


"Menurutku sih nama Asepnya asli, Oray mah nama panggilan." Sahut Fitri yang bertugas mengaplikasikan fondant ke seluruh permukaan cake. "Mbak tau apa itu oray?"


"Hm, emang apa?" sahut Rahma sembari bergeser tempat ke cake tingkat 2 yang selesai dilapisi fondant.


"Oray itu bahasa sunda, sama dengan ular. Jadi karena di Sunda nama Asep itu banyak, makanya suka dibedain nama belakangnya oleh teman-temannya."


Penjelasan Fitri membuat Rahma ber oh ria diiringi kekehan. Merasa lucu.


Cake tingkat kedua dan ketiga selesai finishing. berkutat 2 jam, pekerjaan yang dilakukan dengan hati menimbulkan kesenangan dan kepuasan tersendiri. Namun keseruan di pantry terusik dengan kedatangan Lia yang tampak panik. "Mbak, di depan ada ribut-ribut."


"Ada apa?!" Rahma urung membentuk rose marun di cake terkecil yang merupakan tingkat ke 4. Membuka sarung tangan plastik yang membungkus tangannya begitu melihat kepanikan di wajah Lia.


"Alex?!" Rahma terkejut melihat siapa orang yang dipelintir tangannya ke belakang oleh Asep Oray. Sempat menjadi perhatian dan membuat tanda tanya pembeli yang ada di dalam toko. Namun Rahma berhasil menenangkan situasi setelah menggiring sang pengawal dan Alex ke sudut parkiran.


"Mbak, aku dilarang masuk ke dalam sama preman sombong ini." Sengit Alex menatap nyalang terhadap Asep Oray yang berwajah datar. Sama sekali tak terpengaruh dengan kemarahan Alex.


"Maaf Bu Rahma, wajah orang ini ada dalam daftar blacklist. Orang ini dilarang sama boss untuk menemui Anda." Tegas Asep Oray. Ia tak melepaskan cengkraman kuat di tangan Alex.


"Cih. Boss apaan?" Alex menggeram kesal. "Gue ini keluarganya mbak Rahma. Bukan debt collector yang mau nagih." Ia masih saja nyolot menolehkan wajah terhadap Asep Oray.


"Sudah-sudah. Pelankan suaramu, Alex. Gak enak dilihat orang." Rahma berkata tegas. Ia meminta sang pengawal melepaskan tangan Alex. Asep Oray bergeming. Rahma meyakinkan lagi dengan isyarat mata dan anggukkan kepala. Membuat sang pengawal menurut namun tetap waspada di samping Alex.


Rahma menghembuskan nafas panjang. "Maaf Alex, kalau ini tidak nyaman buat kamu. Mas Mizyan sedang ke luar kota dan kamu memang tidak diijinkan menemui aku. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Harus patuh pada perintah suami." Pungkasnya menyampaikan amanat apa adanya.


Alex tersenyum menyeringai. "Baru juga nikah sebulan si Mizyan sudah berkuasa mengaturmu. Hati-hati lho mbak, dia itu gak tulus. Dia mau menguasai warisan pemberian Malik."


Aku yang harus hati-hati sama kamu, Lex.

__ADS_1


Rahma tersenyum tipis. "Aku kira tidak begitu. Mas Mizyan khawatir dengan keselamatanku selama ia berada jauh."


"Kamu terlalu lugu, mbak." hasut Alex. "Aku punya rekamannya kalau dia cuma modus menikahimu. Sebenarnya dia mengincar hartamu." Sembari merogoh ponsel dari saku celana.


Rahma mengibaskan tangan. Menolak Alex yang akan memutar voice note. "Maaf Lex, aku lagi banyak kerjaan. Bukannya ngusir, tapi sebaiknya pulang aja. Karena aku gak bisa ngajak kamu masuk ke dalam." Ia mengatupkan tangan di depan dada.


Alex tampak menghembuskan nafas kasar, meredam emosi sebab merasa tersinggung. "Oke, aku kalau mbak gak mau dengar rekamannya sekarang. Hanya mengingatkan, jangan percaya sama mulut manis mantan casanova itu. Dia sudah expert merayu wanita. Siapapun wanita akan bertekuk lutut menyerahkan tubuhnya sama dia. Apalagi punya modal tampang yang menunjang. Mba jangan terpedaya!"


Alex tertawa sinis. "Bilangnya aja keluar kota ada urusan pekerjaan. Bisa jadi sekarang dia lagi holiday sama model seksi. Ingat mbak, tidak ada player yang benar-benar insaf. Dia akan kembali pada watak aslinya!"


Rahma menelan saliva. Sikap tenang yang tadi ia tunjukkan berubah wajah pias usai mendengar ucapan panjang Alex. Membuat hatinya menjadi gusar. Ia berlalu pergi ke dalam toko tanpa permisi. Berhenti sejenak di depan Fitri. Meminta asistennya itu melanjutkan pekerjaan menghias wedding cake yang tinggal satu lagi. Lalu bergegas naik ke lantai dua. Menjatuhkan bo kong nya di sofa dengan keras.


"jangan percaya sama mulut manis mantan casanova itu. Dia sudah expert merayu wanita. Siapapun wanita akan bertekuk lutut menyerahkan tubuhnya sama dia. Apalagi punya modal tampang yang menunjang."


Rahma mengusap muka dengan kasar. Ucapan Alex tentang Mizyan berhasil mengusik hatinya. Seolah Alex benar-benar tahu tentang masa lalu suaminya itu.


Benarkah?


Tidak. Ini pasti fitnah


Rahma termenung. Ia memang sama sekali tidak tahu dengan masa lalu Mizyan. Perkenalan yang singkat dan hanya tahu dia sebagai seorang mualaf serta orangnya baik dan alim.


Ia menutup mulut dengan kedua tangan. Perlakuan romantis Mizyan dan kelihaian kala mencumbu dirinya terbayang bak adegan film yang tengah diputar di depan mata. Apakah ini menjawab rasa heran yang pernah hadir di kepalanya? Bagaimana ia berkali-kali terbang dan melayang dalam kenikmatan tanpa batas. Bukankah hanya orang yang berpengalaman yang mampu melakukan itu?


Rahma mendesah. Memejamkan mata sebab pikiran dan konsentrasi yang menjadi kacau. Ia meneguk setengah botol air mineral dingin dari dalam kulkas. Berusaha berpikir jernih dan bijak. Kedatangan Alex benar-benar merusak suasana hati.


****


Rahma melajukan mobil dengan wajah lesu. Tetapi tak mengurangi keawasan sepanjang perjalanan. Dari rear vision mirror pun terlihat sang pengawal mengikuti di belakangnya menggunakan motor. Sampai mobil tiba di depan rumah, barulah Asep Oray pergi berbalik arah tanpa pamit.


Ia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan dengan perlahan sebelum turun membuka pintu mobil. Berusaha menetralkan wajah agar tak kentara jika tengah banyak pikiran.


"Nda---"


"Hole Nda Lahma pulang---"

__ADS_1


Dika yang baru membuka pintu rumah, memekik girang melihat bundanya turun dari mobil. Segera berlari dan menubruk tubuh sang bunda dan memeluknya erat. Rahma tersenyum lebar. Keriangan Dika berhasil mengubur kegalauan hatinya.


"Nda, atu mandi syendili." Lapor Dika tampak bangga.


Rahma menunjukkan ekspresi takjub sembari menuntun Dika masuk ke dalam rumah. "Emang bersih gitu mandinya?!"


"Belsih, Nda." Dika mendekatkan badannya agar tercium wangi sabun mandi oleh bundanya yang kini duduk di kursi ruang makan.


"Uma, beneran Dika mandi sendiri?" Menatap Uma yang baru muncul dari dapur membawa lauk yang baru dimasak dan menyimpannya di meja makan.


"Iya. Maksa pengen mandi sendiri. Bilangnya atu syudah besal," Uma menirukan logat bicara sang cucu. "Uma liatin aja dari pintu sambil intruksi jangan lupa gosok gigi. Agak was-was juga takut kepeleset."


Rahma meraih tubuh Dika dalam pangkuan. Mencium pipinya dengan gemas. "Anak Bunda memang pintar." Lalu menggesekkan hidung ke leher sang anak sampai tergelak kegelian.


"Dika kayaknya udah siap jadi Abang." Seloroh Uma sambil lalu ke dapur.


Rahma menggigit bibir. Tersipu malu.


Malam selepas isya Dika kembali menunggu ponsel bundanya berdering. Semangat menunggu panggilan video dari Papa Buye. Yang jika tidak ada perubahan, besok pulang ke Bandung. Namun sampai jam 9 malam pun yang ditunggu-tunggu tak jua muncul di layar. Hanya notif pesan yang berkali-kali bunyi dari teman-temannya Rahma. Tak ada pesan dari Papa Buye.


Dika merajuk agar bunda Rahma yang menelpon. Namun Rahma memberi alasan dengan lembut jika Papa buye masih sibuk. Yang sebenarnya hatinya juga gundah dan resah kenapa Mizyan belum menghubungi. Berbeda dengan 2 malam kemarin sang suami yang teratur menghubungi di jam 8 malam.


Ucapan Alex siang tadi cukup mengganggu pikirannya. Membuat ia enggan menelpon. Memilih menunggu inisiatif pria yamg entah sedang apa di luar kota sana. Sampai Dika mampu dibujuk dan dikeloni hingga tertidur, ponselnya tetap membisu.


"Bilangnya aja keluar kota ada urusan pekerjaan. Bisa jadi sekarang dia lagi holiday sama model seksi. Ingat mbak, tidak ada player yang benar-benar insaf. Dia akan kembali pada watak aslinya!"


Rahma membuka matanya untuk kesekian kali. Memaksa mata untuk terpejam sungguh susah. Ucapan Alex terus terngiang, benar-benar mengganggu. Membuatnya gelisah tidak bisa tidur.


"So much love you, sayang."


Ungkapan cinta yang selalu dibisikkan Mizyan di telinganya setiap usai bercinta membuat tubuhnya meremang. Ia lebih percaya pada sang suami jika kepergian ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Bukan seperti yang dituduhkan Alex.


Yang membuat hatinya gundah adalah tentang masa lalu Mizyan yang seorang mantan cassanova. Benarkah?


Rahma memilih duduk bersandar di kepala ranjang. Memijat-mijat kepalanya yang berdenyut. "Ya Allah, wajarkah aku merasa kecewa jika masa lalu suamiku seburuk itu? Bahkan taunya dari orang lain." jerit batinnya yang gundah gulana mengadu pada Sang Khalik.

__ADS_1


__ADS_2