MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 98. Tonight And Every Night


__ADS_3

Bertepatan dengan hari libur karena tanggal merah, Hendra mengisi pagi di Rumah Singgah Silih Asuh dengan kegiatan mengajarkan praktek wudhu pada anak-anak usia 9 tahun ke atas. Lima anak laki-laki dan tiga anak perempuan berbaris usai mempraktekkan wudhu.


"Abi lihat semuanya wudhunya belum sempurna. Gak boleh asal basah." Hendra menatap anak asuh satu persatu. "Wudhu merupakan syarat sah sholat. Kalau wudhunya tidak benar maka sholatnya tidak sah. Jangan sampe sholat kita sia-sia tidak mendapat pahala."


"Siap untuk belajar wudhu? Hendra membakar semangat anak-anak.


"Insya Allah siap, Abi." Serempak anak-anak menjawab.


"Abi, ada tamu---" Uci yang merupakan istrinya Hendra datang diiringi Mizyan di belakangnya.


"Assalamu'alaikum, kang." Mizyan menyapa sambil mengulurkan tangan. Salamnya dijawab Hendra dan anak-anak.


"Mas, gak papa nunggu 30 menitan lagi? Mau nyelesaikan praktek wudhu dulu."


"Santai aja, kang. Aku juga mau liat. Kali aja wudhuku juga belum bener." Mizyan mempersilakan Hendra melanjutkan tugasnya. Ia ikut berdiri bersama anak-anak di tempat wudhu musholla dengan semangat.


Hendra menggulung celana sampai lutut. "Ingat, awali setiap perbuatan dengan ucapan apa?" tanyanya mengingatkan.


"Bismillahirrahmanirrahiim---" Kompak anak-anak menjawab.


"Setelah membaca bismillah, basuh tangan dengan menggosok-gosok dan mambersihkan sela-sela jari sebanyak 3 kali. Lanjut bersihkan mulut dengan berkumur. Terus membersihkan lubang hidung, lebih bagus dengan cara menghirup airnya. Tapi kalau belum bisa, cukup bersihkan lubang hidung saja."


Hendra memperhatikan anak-anak untuk memastikan mereka masih fokus. "Lanjut membasuh muka secara merata, bersamaan dalam hati lalu membaca niat wudhu. Coba bacakan niat wudhunya."


Anak-anak pun kompak membaca doa. "Nawaitul Wudhuu’a liraf’il hadatsil ashghari fardhal lillahi ta’aala”


“aku niat wudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala” 


"Pinter--" Hendra acungkan jempol.


"Lanjutkan dengan membersihkan tangan kanan dari ujung jari sampai siku.        Membersihkan tangan kiri dari ujung jari sampai siku." Hendra memberi contoh sampai tahap terakhir mencuci kaki sambil membersihkan sela-sela jari, sebatas mata kaki. Dan menutup dengan doa sesudah wudhu dengan menghadap kiblat.


"Ingat, semuanya dilakukan 3 kali 3 kali dan harus tertib alias berurutan." Hendra mengakhiri pemaparannya dan menyuruh anak-anak satu persatu mempraktekannya dengan diawasi.


Bertempat di ruang kantor, Hendra dan Mizyan duduk bersama di sofa. Dua gelas teh botol dingin tersaji di meja. Kegiatan mengajar anak-anak berwudhu sudah selesai. Lanjut membiarkan mereka bebas bermain di hari libur ini.


"Kang, Insya Allah aku akan menjadi donatur tetap di sini." Mizyan membuka percakapan dengan menyampaikan niat baik. Ia pernah dua kali memberi sumbangan lewat Arya. Kini setelah menyaksikan langsung kegiatan pendidikan berbasis agama, membuatnya tertarik untuk menjadi donatur tetap.


"Alhamdulillah. Jazakallah sebelumnya." Hendra tersenyum sumringah.


"Mulai bulan depan ya, kang. Nanti istri yang urusnya. Minta nomer rekening aja."


Hendra mengangguk. Berdiri menuju meja mengambil kartu nama yayasan dengan tertera nomer rekening. "Teh Andin dan Kang Arya pasti senang. Semua keluarga dan teman dekatnya menjadi donatur tetap."


"Wah, berarti aku yang terakhir dong." Mizyan meringis malu.


"Gak masalah atuh, Mas." Hendra mempersilakan Mizyan meminum teh botol. Lanjut menanyakan pada topik utama.


"Alex sudah meresahkan, Kang. Sudah ganggu ketenangan rumah tanggaku. Sudah waktunya ngasih pelajaran. Kita keluarkan kartu As!" Mizyan menatap tajam dengan wajah serius.


"Oke, kalau Mas Mizyan sudah mantap. Aku akan kenalkan sama anak buah yang akan bertugas di misi ini." Hendra merogoh ponsel, melakukan panggilan. "Kita ketemu di markas 15 menit lagi. Jangan telat!" Memutus sambungan telpon dan menyimpan lagi ponsel di sakunya.


"Let's go, Mas!"


Minuman disedot sampai habis, jangan sampai mubazir. Keduanya berjalan cepat menuju mobil. Dalam waktu yang diperkirakan sudah sampai di markas yang dimaksud.


"Ini markas?!" Mizyan mengkerutkan kening dengan menatap sekeliling. Yang ia pijak adalah kebun singkong yang sama sekali tidak ada bangunan atau gudang kosong. Makin memicingkan mata melihat dua orang datang dengan berperawakan kurus kering dan rambut gondrong tergerai berantakan tertiup angin.

__ADS_1


"Ini tempat meeting teraman, Mas." Hendra mengulas senyum melihat keheranan kliennya itu.


"Kenalin ini Asep Kawat dan Asep Cang Cut." Hendra menunjuk ke wajah di depannya satu per satu. Mengabaikan keterkejutan Mizyan yang menganga mendengar nama-nama unik itu.


"Sep, kenalin ini Boss Mizyan. Klien yang WAJIB dibantu. Karena menyangkut keselamatan dan ketenangan rumah tangganya." Hendra mengenalkan Mizyan pada duo Asep. Yang keduanya lalu tersenyum ramah memamerkan gigi depan yang somplak, itu berarti Asep Cang Cut. Yang memamerkan gigi depan bawah ompong 2, berarti Asep Kawat.


"Mereka akan bertugas dalam misi ini sebagai intel." Hendra dengan kalem menyerahkan dokumen pada duo Asep di depannya itu. Mengabaikan gurat kening dan tatapan mata Mizyan yang tampak dipenuhi banyak tanya.


"Ada yang mau ditanyakan, Sep?!" Setelah beberapa menit melihat duo Asep membaca file dengan wajah serius.


"Sudah jelas, Kang. Kami siap menjalankan mission possible ini. Cetek, kang." Asep Cang Cut mewakili menjawab dengan santuy. Sementara Asep Kawat menganggukkan kepala saja.


"Baiklah. Tugas dimulai saat ini juga. Selamat bertugas!" Hendra mengulurkan tangan menjabat tangan duo Asep. Mizyan pun melakukan hal yang sama.


"Kang--" Mizyan baru membuka mulut sembari berjalan menuju mobil yang di parkir di pinggir jalan buntu. Terpotong oleh Hendra yang tergelak.


"Pasti heran kan?" Hendra masih tertawa tanpa beban. Berjalan mensejajari sang klien.


"Jelasin Kang, kenapa semua namanya Asep? Dan nama belakangnya itu aduh...." Mizyan tertawa geli. "Terus kenapa yang dipilih jadi intel badannya kurus kering begitu. Maaf, bukan maksud body shaming. Pantesnya kan kayak Asep Oray, tinggi besar." Semua unek-unek dikeluarkannya.


"Di Sunda mah pabalatak (bertebaran) nama Asep. Sampai dibentuk komunitas Asep segala. Kebetulan aja anak buah saya ada empat yang nama Asep. Satu lagi Asep Kadal, area tugasnya di Bogor." Hendra mulai menjelaskan sembari memasang seatbelt.


"Dipanggil Asep Kawat karena dulu waktu jadi preman, belum hijrah seperti sekarang, pekerjaaannya mencuri kabel PLN dan Telkom. Menyisitnya untuk diambil kawat tembaganya, dijual ke penadah. Sampe akhirnya apes tertangkap polisi. Dipenjara 1,5 tahun."


"Kalau Asep Cang Cut, dia itu spesialis mencuri cang cut di jemuran kos-kosan. Dikoleksi di rumah untuk alat berfantasi liar. Sampe akhirnya ditangkap dan jadi bulan-bulanan warga sampe babak belur."


"Aku datang menolong, karena dia tetanggaku di Cimahi. Minta diselesaikan dengan kekeluargaan saja dengan menjamin si Asep gak akan mencuri lagi. Alhamdulillah pada hijrah deh semua."


Mizyan mencerna semuanya. "Soal tugas intel?" pertanyaan terakhir yang menggantung di otaknya.


Sampai tak terasa mobil tiba kembali di depan rumah singgah. Mengantarkan Hendra pulang.


"Kang, makasih banyak sudah mau bantu aku." Mizyan masih menjabat erat tangan Hendra yang bersiap turun.


"Jangan sungkan. Kita ini keluarga." Hendra menepuk bahu Mizyan.


****


Sesuai schedule, Mizyan lanjut ke kantor Arya untuk meeting yang berakhir pukul 3 sore. Melanjutkan tujuan ke klinik untuk laser hapus tato terakhir. Dan pulang ke apartemen selepas sholat magrib di luar.


Senyuman manis Rahma menyambut kepulangannya. Yang berlanjut mencium punggung tangannya. Ditambah Dika yang berlari riang menubruknya.


"Jangan sambil lari dong, nanti jatuh lagi." Ia menggendong tubuh montok itu, membawa duduk ke sofa.


"Papa, mau makan dulu atau mandi dulu?" Rahma membawa segelas air, menyimpannya di meja. Lalu ikut duduk di samping Mizyan dengan keharuman tubuh yang menguar. Memancing hasrat Mizyan untuk mencium bibir ranumnya. Sayangnya, ada Dika diantara mereka.


"Mandi dulu ah, gak enak udah lengket."


Malam ini pun Mizyan menghindar berinteraksi lama-lama secara empat mata dengan Rahma. Usai makan malam dan bermain sebentar dengan Dika yang sudah sehat seperti sedia kala, segera ke ruang kerja melanjutkan pekerjaan menggambar dengan alibi dikejar deadline. Rahma seperti biasa membawakan minuman dan pamit tidur lebih dulu di jam 10 malam.


Selama belum ada kabar baik dari Kang Hendra, malam-malam Mizyan lalui dengan bekerja sampai tengah malam. Bahkan terlihat Rahma sudah melaksanakan sholat yang berarti tamu bulanan sudah pergi.


"Ya Allah, kenapa aku merasa insecure menghadapi Rahma." Mizyan mengeluh sendiri. Menelungkupkan wajah di atas lipatan tangan di meja. Sungguh tersiksa dengan caranya menghukum diri. Tak bisa memeluk dan bermesraan dengan sang istri lama-lama sebab takut diinterogasi. Memilih menempatkan Dika untuk selalu ada diantara mereka agar Rahma sungkan membahas hal privasi.


Suara puntu terdorong dari luar, mengagetkan Mizyan yang langsung mendongak dan menoleh. Rahma datang dengan membawa segelas minuman.


Mizyan menelan saliva melihat penampilan Rahma. Rambut dicepol mengekspos leher dan setengah bahu yang putih nan bersih sebab baju tidur dua lapis yang dipakai berbelahan dada rendah.

__ADS_1


"Mas, ini air madu. Diminum dulu ya mumpung anget." Rahma beralih memijat pundak Mizyan usai menyimpan gelas di meja.


Mizyan meneguknya sampai habis. Matanya memejam menimmati pijatan lembut di pundaknya. "Hmm, enak banget, sayang. Baru tau kalau kamu pandai mijit gini." Pujinya tulus.


"Udah dulu ya kerjanya. Jangan terlalu diporsir tiap hari, Mas. Aku gak mau kamu sakit." Jemari Rahma memijat di area tengkuk dengan gerakan memutar. Bermanfaat melancarkan peredaran darah ke otak. " Bisa kita bicara, Mas?"


Membuat Mizyan yang tengah terpejam menikmati pijatan, spontan membelalakkan mata. "Besok aja ya, aku lagi tanggung kerjaan." Elaknya.


"Enggak, Mas. Aku udah ga tahan pengen nanya." Rahma beralih memutar kursi kerja suaminya hingga kini menghadapnya.


Mizyan mencoba tenang dikala tubuhnya mendadak menegang sebab panik. Merasa tidak siap mendengar ucapan Rahma yang merasa akan menghakiminya.


"Aku merasa aneh dengan sikap Mas akhir-akhir ini. Sudah 4 malam kerja lembur tiap hari. Terus kayak gak mau deket-deket lagi sama aku. Keliatan menghindar gitu. Apa Mas udah gak suka, udah bosen sama aku? Bilang aja Mas, aku gak akan marah kok."


"Eh---" Mizyan tercekat ludah sendiri. Merasa kaget dengan cecaran Rahma yang tampak gusar dan hendak menangis. Sungguh di luar ekspektasi. Bukan pertanyaan menyangkut masa lalu.


Mizyan menuntun Rahma berpindah duduk di sofa. Menangkup wajah cantiknya yang berubah sendu. "Sayang, kamu salah. Mana mungkin aku bosan sama kamu. Kamu itu candu buat aku."


"Tapi aku merasa Mas berubah. Tak sehangat biasanya." Rahma menatap tajam ke manik mata hazel. Mencoba mencari jawab sendiri. Sebab mata adalah jendela hati.


Mizyan menggeleng. Menghembuskan nafas berat dengan pandangan lurus ke depan. Menghindar dari tatapan mata Rahma.


"Sebenarnya aku takut, sayang. Takut kamu benci, takut kamu ilfill dan merasa jijik sama aku. Bukankah kamu udah tau aib masa lalu aku dari Alex? Aku merasa hilang harga diri jika kamu ingin membahasnya. Makanya memilih menghindar, tak mau ngobrol lama-lama sama kamu. Maaf--" Sesal Mizyan dengan wajah tertunduk.


"Mas, liat aku!" Rahma beralih berjongkok di depan sang suami. Hingga pandangan saling bertaut.


"Mas salah besar. Aku sama sekali gak akan mengungkit masa lalumu. Biarkan masa lalu tertinggal di belakang. Kamu adalah Mizyan Abdillah, yang catatan amal perbuatannya baru ditulis saat berucap syahadat. Aku sayang sama kamu, Mas."


"Kamu gak menyesal menjadi istriku? Yang dulunya seorang pria brengsek." Jemari Mizyan menelusuri bibir tipis yang ranum menggoda.


Dijawab Rahma dengan berdiri dan membuka outer baju tidurnya. Menyisakan lingerie tipis menerawangkan isinya.


Glek. Jakun Mizyan turun naik dengan tubuh yang menegang dan memanas.


"Mas akan menyesal kalau menolakku malam ini. Kesempatan tidak datang 2 kali." Rahma mengedipkan sebelah mata dengan gerak bibir sensual.


Mizyan menarik tangan Rahma sampai terjatuh di pangkuannya. "Kamu nakal, sayang." Tangannya meremas bagian yang terpampang menantang di depan matanya.


"Biarin. Sama suami sendiri ini." Rahma berbisik lirih di telinga Mizyan. Memberi tiupan lembut di sekitaran telinga turun ke leher. Membuat Mizyan mendesah nikmat.


"Aku gak akan melepaskanmu." Dengan gemas menggigit di bagian dada, meninggalkan stempel kepemilikan.


"Aku milikmu, tonight and every night." Rahma meremas aset suaminya. Semakin menantang macan yang lapar usai berpuasa 10 hari lamanya.


"Lanjutkan di kamar, Mas!" Menahan bibir Mizyan yang akan me lu mat bibirnya.


"Ada Dika kan?" Mizyan tampak ragu.


"Aman, sayang. Dika bobo di kamarnya." Rahma mengalungkan tangan di leher pria yang sudah berkabut gairah itu. "Gendong---" Sambungnya merajuk manja.


"With a pleasure." Me raup sejenak bibir ranum yang sedari tadi menggodanya. Dengan ringan membawa tubuh seksi yang sudah setengah terbuka itu tanpa melepaskan pagutannya.


****


Hareudang...hareudang....


Mangga paket combonya. Moga bahagia semuanya. Jangan lupa suguhannya....ehh 😄

__ADS_1


__ADS_2