
Sudah jam 10, namun Ayah dan Uma belum pulang dari kajian. Tumben telat? Rahma mengetuk-ngetukkan jari di meja makan dengan tangan kiri menopang dagu. Pekerjaan rumah sudah selesai dikerjakan. Lantai dipel sampai kinclong, tanaman hias sudah disiram, cucian sudah dijemur. Di rumah sendirian rasanya tidak menyenangkan. Ia beralih masuk ke dalam kamarnya yang kemudian matanya bersirobok pada blazer yang tersampir di kursi.
Semalam begitu sampai di teras, ia baru menyadari masih memakai blazer milik Mizyan. Sayangnya, begitu berlari kembali ke depan, mobil yang ditumpanginya sudah tak ada di tempat. Sempat bingung kala akan masuk ke dalam, takut ada pertanyaan dari Ayah dan Uma mengenai blazer yang kini dilipatnya di tangan. Beruntung ia melihat kantong kresek hitam di bawah meja teras sehingga bisa digunakan untuk mengantongi blazer warna navy itu.
Rahma memegang ponselnya. Menimang-nimang untuk mengirim pesan atau tidak kepada Mizyan. Barang milik pria itu kini bertambah di rumahnya setelah celana dan jaket, kini bertambah blazer..
Kenapa waktu jum'at kemarin bisa lupa, nggak ngasihin celana dan jaketnya.
Dia juga nggak nanyain.
Heran.
Aku harus mengembalikannya.
Ia menghembuskan nafas panjang. Dan akhirnya memutuskan mengetikkan pesan, meminta alamat apartemen Mizyan untuk mengirimkan pakaian lewat ojol. Sambil menungu balasan, ia beranjak menuju lemari. Diary bersampul hitam dipeluknya erat di dada dengan mata terpejam membayangkan hangat dan nyamannya pelukan Bang Malik. Namun tak lama ia membuka mata. Teringat semalam menangis tak bisa dibendung sebab lirik lagu yang tetiba membuncahkan kerinduan akan almarhum suaminya.
Mizyan.
Ia menggigit bibir bawahnya kala mengingat nama itu. Orang itu sudah 2 kali hadir disaat-saat sulit, menolongnya. Kini ia merasa bersalah dan malu sebab sudah berlaku galak dan ketus. Dan ia pun berjanji tak akan lagi bersikap seperti itu.
Buru-buru Rahma mengambil ponselnya. Barangkali pesannya belum dibaca oleh Mizyan. Benar saja, pesannya belum centang biru. Ia pun menghapus chat kalimat terakhir yang berbunyi;
"Saya akan kirimkan via ojol."
Dihapusnya menjadi;
"Saya akan antarkan."
Dilihatnya status online terakhir pria yang ia chat itu, jam 6 pagi. Baiklah, ia memilih beralih membuka diary untuk melanjutkan membaca curahan hati Bang Malik selama sakit. Lembar yang ditandai pita dibukanya sebagai halaman yang belum dibaca.
Senyumnya merekah membaca lembaran yang berisi ungkapan perasaan Bang Malik untuknya. Tulisan tangan yang rapih, tiap lembarnya hanya berisi kalimat pendek menyentuh hati. Lembaran yang kini dibukanya beirisi kenangan bagaimana Malik berjuang menghafal surat Al A'la sebagai syarat untuk melamarnya. Konsentrasi membacanya buyar kala ponselnya berdering.
Mama Indah?
Kening Rahma mengkerut melihat nama yang tampil di layar. Ia menggeser tombol hijau lalu berucap salam.
"Rahma, apa kabar?"
Bukan jawaban salam yang didengarnya dari sebrang sana.
"Alhamdulillah, Ma. Mama apa kabarnya juga?" Ia balik bertanya hal yang sama.
"Kabar Mama kurang baik. Kangen terus sama cucu, jadinya tensi mama naik." Keluh dari sebrang sana dengan nada sedih. "Mana Dika nya? Mama pengen bicara dong!"
Rahma mencoba menganalisis ucapan dan nada bicara mantan mertuanya itu. Sungguhkah? Pura-purakah?
Ia teringat lagi ucapan Nico yang tak yakin mama Indah beneran insyaf. Malah menyuruhnya untuk hati-hati dan waspada terhadap mama Indah. Tapi jika mendengar nada bicaranya barusan, ia merasa mama Indah sepertinya memang sudah berubah.
__ADS_1
"Hallo. Rahma---"
"Eh iya, Ma." Rahma terkaget sebab dirinya malah melamun. "Dika belum pulang, Ma. Ikut kakek neneknya pengajian."
Tak ada jawaban. Hanya terdengar helaan nafas berat seolah mama Indah tengah kecewa.
"Masih lama nggak pulangnya?"
"Harusnya jam 9 sudah pulang. Mungkin Ayah mengajak Dika jalan-jalan dulu, Ma."
Terdengar mama Indah ber oh panjang.
"Kapan kamu ajak Dika ke Jakarta, Rahma? Mama pengen ketemu kalian. Mama pengen mengganti waktu yang dulu terbuang karena udah menyia-nyiakan kamu dan Malik."
"Please, kasihani Mama, Rahma!"
Suara mama Indah terdengar parau, seperti menahan tangis. Membuat hati Rahma tersentuh dan spontan matanya berkaca. Menyesal selalu datang diakhir, bukan? Mungkin begitu yang kini dialami Oma nya Dika itu.
"InsyaAllah, Ma. Nanti kalau pas waktunya saya akan ke Jakarta."
"Janji ya, Rahma." Suara Mama Indah terdengar riang. "Beneran lho mama tunggu. Kalau bisa secepatnya....Mama udah nggak sabar."
"Iya, Ma. Nanti aku konfirmasi sehari sebelumnya kalau mau berangkat."
"Nda....Nda... "
Suara teriakan Dika memanggil-manggil bersamaan dengan berakhirnya sambungan telepon. Suara riang anaknya membuat hatinya pun ikut riang.
"Kok anak Bunda pulang. Dari mana aja hmm." Rahma menurunkan badan dan berdiri dengan kedua lutut bertumpu di lantai, mengongsong Dika yang datang sambil berlari dan menjerit senang.
"Atu mamam bubul." Dika menggelayut di dada Bunda yang memeluk dan menciumi kedua pipinya.
"Buat Bunda mana?"
"Abisss." Dika tertawa-tawa sebab bundanya beralih menciumi leher yang membuatnya geli.
Malam hari usai mengeloni Dika, Rahma mengetuk pintu kamar orangtuanya begitu melihat televisi di ruang tengah tidak menyala. Biasanya itu berarti Uma dan Ayah ada di kamar. Ia melihat Ayah tengah mengaji kala pintu dibuka oleh Uma.
Sebagai anak tunggal, ia terbiasa bermanja-manja tiduran dipangkuan Uma sebelum menikah dulu. Selama menikah, ia melanjutkan kebiasaan bermanja-manja di pangkuan suaminya. Dan setelah kehilangan tempatnya berlindung dan bermanja, pangkuan Uma menjadi labuhannya lagi.
"Tadi mama Indah telepon aku." Rahma mulai membuka pemicaraan usai Ayah menutup Al-Qur'annya. Matanya terpejam menikmati usapan lembut tangan Uma di rambutnya.
"Ada keperluan apa?" Ayah menimpali dan ikut duduk menyelonjorkan kaki dengan punggung bersandar pada kepala ranjang.
"Mama memintaku main ke Jakarta. Katanya kangen sama aku dan Dika. Ingin mengganti waktu yang hilang dulu karena telah menyia-nyiakan aku dan Abang."
"Menurut Ayah gimana?" Rahma mendongak menatap Ayahnya yang terpekur.
__ADS_1
"Kamu jawabnya apa?" Ayah balik bertanya.
"Aku bilang InsyaAllah jika waktunya pas akan ke Jakarta."
"Apa kamu yakin mertuamu itu sudah baik?" Uma ikut menimpali dengan menaikkan kedua alis.
"Kalau dengar dari nada suaranya tadi, aku yakin mama sudah berubah. Terdengarnya menyesal dan sedih sekali. Darah tingginya naik karena keinget Dika, kangen katanya."
"Aku harus gimana?" Rahma mendongak menatap Uma lalu beralih menatap Ayahnya yang tengah mengusap-ngusap jenggot yang panjangnya 5 cm.
"Kalau kamu yakin, datangi aja." Ayah memberikan masukkannya. "Tali hubungan kamu dan mertua bisa dibilang sudah putus. Tapi pertalian darah antara Dika dan neneknya tidak ada kata putus. Kamu punya kewajiban menyambungkan tali silaturahim Dika dan neneknya."
Rahma mengangguk. Ia leyeh-leyeh di kamar orangtuanya sampai 1 jam lamanya, dengan topik pembicaraan ke sana ke mari membahas keluarga di Aceh yang tak pernah putus selalu berkomunikasi.
"Rahma, kalau panen raya kita pulang dulu ke Aceh ya?" Ayah mencetuskan ide. "Kamu kan udah lama juga nggak mudik."
"Dari Aceh terus ke Medan ya, Yah? Uma juga kangen keluarga di sana." Uma tak luput memberikan ide.
Membuat Rahma menjentikkan tangan dengan senyum semringah. "Setuju, Uma. Sekalian kita liburan juga biar nggak suntuk."
Ia hanya tinggal menentukan waktu dan menguatkan hati kapan akan menginjakkan kaki lagi ke Jakarta. Sebab tentu bukan hanya rumah mama Indah yang akan dituju, tapi ia pun akan melewati rumah sakit tempat dulu suaminya dirawat beberapa bulan lamanya. Tentunya akan membuatnya terkenang lagi.
Ia mulai memposisikan tidur di samping Dika, sedikit terhalang 3 ekor robot sapi yang tak pernah absen ada di dekat jagoan kecilnya itu. Begitu matanya siap terpejam, tetiba teringat akan pesan yang dikirimkan tadi pagi tapi sampai sore belum juga dibaca oleh penerimanya.
Penasaran, ia bangkit menuju meja rias tempat diletakkannya ponsel.
"Titip dulu ya."
"Aku keluar kota untuk waktu yang lama."
"Kalau sudah kembali, aku akan mengambilnya."
"See you again."
Pesannya baru dibalas pukul 21.00, baru 1 jam yang lalu. Ia mengulang kembali membaca pesan balasan itu.
Dia pergi.
Berapa lama?
Kemana?
Rahma termenung dengan kening mengkerut. Merasa mendadak pria yang selalu membuatnya kesal itu kini pergi. Ia pun mengetikkan pesan lagi.
"Owh. Pergi ke mana?"
Usai mengetikkan pesan, ia baru sadar dan menghapusnya lagi. Menyimpan lagi ponselnya di meja rias dan bersegera naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai ke dada.
__ADS_1
Kenapa aku jadi kepo?
Ia pun memejamkan mata usai memanjatkan do'a dan dzikir sebelum tidur.