
Rahma menatap pantulan dirinya di depan cermin. Bedak tipis-tipis dan polesan lipstik soft peach usai diaplikasikan ke wajah cantik naturalnya. Sesuai obrolan kemarin kala di toko, pagi ini Mizyan akan datang sengaja untuk menemui Ayah dan Uma. Dari pantulan cermin pula ia menatap pigura besar yang menggantung di tembok. Merupakan foto sepasang pengantin yang tengah tersenyum bahagia menatap ke depan, foto dirinya dan Malik.
Ia merasa belum siap untuk menurunkan figura besar juga beberapa figura kecil yang berada di nakas. Meski ia sudah membuka hati untuk pria lain yaitu Mizyan. Masih butuh waktu untuk menyimpan dan menutup rapat semua kenangan indah masa lalu bersama ayahnya Dika. Ia beranjak keluar kamar sebab lama memandang potret malah membangkitkan lagi kerinduan pada almarhum suaminya.
Di teras depan tampak ada Dika yang tengah anteng berbicara dengan Moza. "Eh, ada Moza...sama siapa ke sini?" Rahma menyapa anaknya dokter Gunawsn yang usianya 2 tahun lebih tua dari Dika itu.
"Sama Papa, tante." Moza menunjuk pada pria yang tengah berbincang dengan Ceu Imas di sebrang rumah. Orang yang ditunjuk itupun mendekat dan bergabung duduk di kursi teras.
"Dok, nggak ke rumah sakit?" Rahma sedikit heran melihat penampilan santai dokter Gunawan pagi ini.
"Lagi cuti. Ini Moza ngajak ke sini pengen main sama Dika." Sahut sang Dokter sembari menatap Rahma secara intens.
"Kamu makin cantik aja, Rahma. Fresh gitu--" Lanjut pria tampan berkacamata itu dengan seulas senyum manis tersungging di bibirnya.
"Dokter bisa aja. Tapi makasih buat pujiannya." Rahma tersenyum tipis. Hatinya merasa biasa saja mendapat pujian seperti itu. Beda jika Mizyan yang memuji atau menggodanya pasti akan grogi dan merona malu.
"Papa, barbie aku mana?" Moza melongok paper bag yang dibawakan papanya itu.
Mendengar Moza memanggil papa membuat Dika yang tengah menjalankan robot sapinya sontak berkata penuh semangat. "Moza, atu juja punya Papa---"
"Mana papa Dika?" Moza tak kalah antusias ingin tahu.
"Nda, Papa atu mana?!" Dika menggoyang-goyangkan lengan bundanya yang tampak meringis bingung mendengar ucapan Dika yang ingin pamer terhadap Moza.
"Itu Papa atu! Yeay... Papa atu datang." Dika berjingkrak girang dan berlari menyongsong kedatangan pria dewasa yang tak lain adalah Mizyan yang memasuki pintu gerbang yang terbuka setengahnya. Ia langsung melakukan kebiasaannya menubrukkan badan untuk memeluk papa buye nya.
Mizyan mengucap salam sembari menggendong Dika yang euforia luar biasa menyambutnya.
"Dika sama dong sama aku. Papa aku namanya Papa Gunawan. Papa Dika namanya siapa?" Moza mendongak menatap Dika yang masih berada di gendongan Mizyan.
"Ini Papa Buye, papa atu papa nda juja--" Dika melingkarkan tangan di leher papa Buye sembari memanyunkan bibir mencium pipi kanan pria yang dianggap papanya itu.
Rahma merasa berada dalam situasi serba salah melihat Gunawan yang menatapnya dengan kedua alis terangkat seolah meminta penjelasan.
"Mas, kenalin ini dokter Gunawan. Tetangga satu blok, rumahnya sejajar paling ujung." Rahma mencairkan ketegangan yang melingkupi tubuhnya melihat dua pria dewasa itu saling menatap tajam. Ia menghela nafas lega begitu keduanya saling berjabat tangan menyebutkan nama masing-masing.
"Rahma, maaf aku harus ke rumah sakit. Ada pesan mendadak, pasienku ngedrop." Dokter Gunawan segera beranjak dari duduknya dan menggendong Moza yang menangis sebab tidak mau pulang.
"Dika kangen Papa gak?" Mizyan yang duduk di kursi bekasnya Gunawan merasa hatinya menghangat kala mengucapkan diri menyebut Papa. Ia membiarkan Dika yang tidak mau turun dari dipangkuannya.
Dika mengangguk. "Atu tangen Papa Buye atu, Papa Nda juja---"
Mizyan terkekeh mendengar ciri khas Dika jika bicara selalu lengkap. "Kalau Bunda kangen Papa juga? Coba Dika tanya ya!" Ia berbisik di telinga Dika dengan suara yang masih bisa didengar oleh Rahma.
__ADS_1
"Nda...Nda juja tangen Papa atu?" Dika menatap bundanya yang tengah mengerling sebal ke arah Mizyan dimana pria itu membalas dengan mengulum senyum.
Bunda Rahma menggeleng. "Nggak---" Tapi semburat merah di pipi tersirat jawaban sebaliknya.
****
Mizyan duduk tegak dan serius berhadapan dengan Pak Badru dan Uma. Ada Rahma yang duduk di kursi samping dengan Dika yang menggelayut manja di lengannya sambil memainkan rubik, memutar-mutar warnanya.
"Pak, Uma, kedatangan saya ke sini bermaksud untuk meminta ijin ingin mengkhitbah Rahma." Mizyan berkata dengan tegas dan tenang. "Saya sudah bicarakan ini dengan Rahma sebelumnya. Dan saya mohon Bapak dan Uma mau merestui niatan saya ini."
Pak Badru mengulas senyum tipis. Dari raut wajahnya tampak mengisaratkan rasa bahagia mendengar ucapan Mizyan yang sebelumnya telah meminta ijin untuk mendekati putri semata wayangnya itu.
"Apa nak Mizyan yakin dengan niatannya? Dengan status Rahma yang punya anak satu."
Mizyan mengangguk. "InsyaAllah, pak. Saya serius dan sungguh-sungguh menyayangi Rahma dan Dika. Saya pun sudah istikharah."
Rahma mengusap-ngusap kepala Dika begitu rasa haru tetiba menyeruak mendengar tanya jawab Ayah dan Mizyan. Sementara Dika acuh saja dengan obrolan orang-orang dewasa yang belum ia fahami. Masih anteng dengan mainannya selama ada bunda di dekatnya.
"Bagaimana dengan orangtua nak Mizyan. Apa mau nerima dengan statusnya Rahma?"
"Orangtua saya sudah bercerai. Ibu saya menikah lagi dan tinggal di Semarang. Bapak saya tidak menikah lagi dan tinggal di Bogor. Rencananya setelah ini saya akan menemui keduanya. InsyaAllah saya yakin Papi maupun Mami akan merestui juga."
"Baiklah kalau gitu. Tapi ada syarat jika kamu sungguh-sungguh ingin mengkhitbah Rahma."
"Syaratnya apa pak?!" Mizyan menatap Pak Badru penuh rasa penasaran.
"Bapak minta syarat nak Mizyan untuk menghafal salah satu surah dari juz amma, surah Al-'Alaq."
"Datanglah lagi jika sudah siap untuk setor hafalannya!" Pungkas Pak Badru dengan tatapan menyelidik melihat raut muka Mizyan yang tak nampak keterkejutan dengan syarat yang diajukannya.
"Saya terima syaratnya sekarang ini juga, pak. InsyaAllah sudah hafal. Mohon ijin untuk berwudhu dulu."
Pak Badru mengangguk. Lalu saling tatap dengan Uma begitu Mizyan berlalu diantar Rahma menuju kamar mandi.
"Mas, maaf harus ada syarat dari ayah." Rahma berdiri menyerahkan handuk kecil menyambut Mizyan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Never mind, dear. Apapun akan kulakukan untuk bisa menghalalkanmu." Mizyan membiarkan mukanya setengah basah. Hanya menggunakan handuk untuk mengeringkan tangan.
Sungguh ucapan yang membuat hati Rahma berdesir dan menghangat. Sebuah kalimat romantis yang langka orang pakai untuk menyentuh hati wanita.
Dengan berucap basmallah, di hadapan Pak Badru dan Uma, Mizyan mulai menjalankan syarat yang diajukan orangtua Rahma itu. Ia tampak memejamkan mata untuk memusatkan konsentrasi pada bacaan yang mulai dilantunkannya.
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ
__ADS_1
iqro` bismi robbikallazii kholaq
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"
(QS. Al-'Alaq 96: Ayat 1)
خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ ۚ
kholaqol-ingsaana min 'alaq
"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."
(QS. Al-'Alaq 96: Ayat 2)
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ ۙ
iqro` wa robbukal-akrom
"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia."
(QS. Al-'Alaq 96: Ayat 3)
Sepanjan Mizyan melantunkan surah tersebut dengan tahsin yang benar dan suara yang enak didengar, Rahma nenundukkan wajah sembari mendekap Dika yang duduk di pangkuannya. Kilas balik masa lalu terlintas, kala Malik menghadap sang ayah yang mendapat syarat membaca surah Al-A'la. Kini pria kedua calon imamnya melakukan hal yang sama, menerima persyaratan yang ayahnya pinta.
Hening melingkupi sesaat ruangan tamu, begitu Mizyan usai membaca 19 ayat surah Al-'Alaq. Dengan penuh percaya diri, pria blasteran itu menegakkan kepala menatap Pak Badru, menunggu jawaban ayah dari wanita yang ingin dilamarnya.
"Sekali lagi bapak sampaikan. Bapak sama Uma menginginkan imam yang mampu bertanggungjawab menuntun anak dan cucu untuk kuat dalam iman, taat dalam Islam." Pak Badru mulai memecah keheningan dengan ucapan bijak dan tegasnya. "Syarat barusan adalah simbolis untuk mengetahui apakah lelaki yang menghadap ini bisa dan biasa mengaji atau tidak. Jangan cuma identitasnya saja Islam, tapi syariatnya tidak dijalankan."
Pak Badru menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Uma yang duduk di sisi suaminya itu memilih diam menyaksikan. Sementara Mizyan harap-harap cemas dan tampak menelan salivanya kala menunggu kelanjutan ucapan Pak Badru.
"Jawaban dari bapak adalah----TIDAK."
"Pak---"
"Ayah---"
Baik Mizyan maupun Rahma berbarengan berucap dengan penuh kekagetan sembari menatap lekat Ayah Badru yang tampak tenang sembari mengusap-ngusap janggut pendeknya itu.
"Rahma!" Pak Badru mengarahkan pandangan kepada anaknya yang masih menatapnya dengan kening mengkerut. "Ayah tidak akan menolak keinginan Mizyan untuk mengkhitbahmu."
Pak Badru beralih menatap Mizyan yang juga masih terlihat kaget. "Nak Mizyan, segerakan niat baikmu itu!"
Mizyan menepuk dada, lalu mengusap wajah sembari berucap syukur. Ia beranjak berdiri dan mencium tangan Pak Badru dan Uma sambil mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Terakhir ia menatap sembari melemparkan senyum khasnya terhadap Rahma yang tengah menyembunyikan senyum di belakang Dika yang masih duduk anteng di pangkuannya.
****