
Pada kemana ya?!
Mizyan merasa badmood sejak bangun subuh. Jika tengah malam terlewat karena tidur pulas. Berharap pas bangun subuh, Rahma akan tersenyum manis padanya. Sekadar memberi ucapan do'a di tanggal kelahirannya itu. Tak mengharap kado, cukup lisan sebagai ungkapan perhatian dan bukti cinta sang istri padanya.
Ia melangkah menuju walk in closet untuk berganti baju. Melintasi meja rias pandangannya terpaku pada kertas yang menempel di kaca. Menghentikan dulu membuka kancing baju yang baru terlepas satu, paling atas. Dengan kedua alis bertaut, ia mendekat dan mengambil kertas yang menempel dengan tulisan tangan sang istri.
...Hai, Papa. Udah pulang? Ada surprise buat Papa lho. Tapi habisin dulu sarapan rotinya. Biar kuat ngadepin kenyataan. Di bawah piring roti ada kertas lagi. Baca ya, sayang!...
...Let's start the game, Papa atu!...
Mizyan mendadak tersenyum lebar. Mendadak pula berubah suasana hatinya menjadi riang diselingi dada yang mulai berdebar. Permainan apa gerangan yang dibuat Rahma.
"Sayang, awas lho ya!" Mizyan bergumam. Merasa gemas. Tak mengira bakal dapat prank seperti ini. Hatinya menjadi lega, berarti Rahma tahu akan hari spesialnya ini.
Oke, sayang aku ikut permainanmu.
Dengan langkah semangat ia kembali ke ruang makan. Memakan dengan suapan besar setangkup roti tawar gandum isi selai strawberi yang tersisa setengahnya. Tak sabar sambil membalikkan piring porselen berwarna putih itu. Benar saja, ada kertas putih terlipat.
...Papa sarapannya harus habis! Terus ke dapur ya. Di kitchen set atas tempat bumbu, ada kado buat Papa. Jangan dulu penasaran kami ada dimana. Awas! Papa harus ikuti alur game....
...Semangat!...
"Ya Allah, sayang---" Mizyan bergumam lagi. Geleng-geleng kepala dengan tersenyum miring. Tegukan terakhir tehnya menjadi bukti ia menghabiskan sarapannya. Langsung melesat ke dapur.
Ia membuka lemari tempat bumbu. Tahu pasti, sebab sesekali suka berkutat di dapur memasak. Mengedarkan pandangan mencari kado yang ia juga tak tahu bentuknya bagaimana. Satu persatu botol bumbu diurai. Barangkali ada kotak tersembunyi di belakangnya. Matanya berbinar mendapati kotak segi empat kecil dengan tali pita warna gold, berada di sudut.
Dengan penuh rasa penasaran, Mizyan mengurai simpul pita dengan cepat. Senyumnya yang masih lebar mendadak mengendur bahkan berubah mengerucut melihat isi kotak. Kertas lagi.
Ia menghela nafas panjang. Benar-benar game yang menguji kesabaran. Tapi ia harus patuh dengan aturan yang dibuat Rahma.
...Congrats, Papa. Udah sampe di level 3. Sabar ya, sayang. Buah sabar itu manizzz....
...Let's go ke kamar Dika, Papa. Kado yang sebenarnya ada di atas kasur....
...Keep smile jangan cemberut!...
Mizyan membeliakkan mata. Tahu saja jika sekarang dirinya sedang cemberut. Dengan menarik nafas dalam-dalam dan lalu mengulas senyum tipis, ia melangkah lebar menuju kamar Dika. Pintu dibuka, pandangannya langsung mengarah pada kotak yang lebih besar daripada yang ada di dapur. Nampak teronggok di atas kasur dengan tali pita berwarna silver.
Ia sudah berdebar membaca sekilas kalimat awal dari kertas warna merah jambu yang terbuka lebar tanpa terlipat. Bergegas duduk sila di atas kasur berhadapan dengan kotak kado yang sudah dibuka. Saat kertas diangkat, ada kotak lagi dibawahnya. Ia fokuskan dulu membaca kalimat panjang pada kertas merah jambu itu.
Dear hubby and Papa,
Selamat bertambah usia. Dan 31 tahun hanyalah hitungan angka. Sejatinya saat angka bertambah, umur pun berkurang. Hari ini bukan untuk dirayakan, tapi untuk disyukuri dan menjadi muhasabah diri.
Tetaplah menjadi suami dan Papa yang penyayang. Yang akan mengantarkan kami kepada kemuliaan hidup di dunia dan akherat. Semoga makin bertambah ketakwaan dan keberkahan. Semoga Allah SWT selalu menjaga dan melindungi kemanapun kakimu melangkah.
We love you, Papa.
Rahma & Mahardika
Mizyan menyunggingkan senyum lebar. Haru dan bahagia, Iya. Nampak kedua matanya sedikit berkaca. Dikecupnya kertas bertuliskan rapih tangan istrinya itu.
Tak sabar meraih kotak coklat bertuliskan 'Kado untuk Papa' dengan tangan sedikit gemetar, harap-harap cemas. Tertegun ia menatap isinya. Mengamati 4 buah benda yang hampir sama bentuk dan panjangnya. Barulah saat membuka kertas berlogo rumah sakit serta selembar foto usg, otaknya langsung konek. Matanya membelalak sempurna dengan keterangan dokter yang tertulis di kertas.
Rahma hamil.
Seketika Mizyan terlonjak turun dari ranjang. Berlari cepat membawa serta kotak setelah membaca petunjuk harus pergi ke tempat terakhir, ke ruang kerja.
Ternyata pintu ruang kerja terkunci.
"Sayang, buka dong. The game is over."
__ADS_1
"Sayang.....cepetan buka, please!" Mizyan dengan suara riang menggedor pintu dengan tak sabar.
Ceklek. Saat pintu terbuka, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan Rahma yang sedang tersenyum lebar dan berdiri bersisian dengan Dika yang bertepuk tangan kegirangan.
"Sayang, ini kado--" Mizyan tercekat. Mengangkat kotak coklat yang dipegangnya. "Ka kamu be ne ran ha mil?!" sambungnya dengan suara tersendat ingin memastikan.
Dijawab Rahma dengan anggukkan dan senyum dikulum. Geli melihat Mizyan yang mendadak gagu.
"Alhamdulillah---" Mizyan menarik tubuh Rahma ke dalam pelukan. "Alhamdulillah, Ya Allah---" Semakin mengeratkan pelukan, mencium kening sang istri penuh perasaan, dan menenggelamkan lagi kepala istrinya itu ke dada bidangnya diiringi senyuman terkembang. "Makasih, sayang. Kado luar biasa ini." Pungkasnya sambil mengecup puncak kepala berbalut hijab. Keduanya saling berpelukan erat dengan mata berkaca-kaca.
"Papa, atu juja mau dipeyuk---" Dika memukul-mukul pinggang papanya dengan wajah memberengut. Protes sebab cukup lama mendongak hanya menjadi penonton Bunda dan Papa saling berpelukan.
Mizyan dan Rahma saling mengurai pelukan. Tertawa bersama.
Mizyan berjongkok dengan kedua lutut menjadi tumpuan. Mengusap lalu mencium perut Rahma yang masih rata, cukup lama dengan mata terpejam melangitkan do'a. Hanya dia yang tahu do'a apa yang dipanjatkan dalam hati.
Aku gak boleh nangis. Kuat....kuat.
Rahma mendongakkan kepala. Mensugesti diri ingin kuat agar tidak meneteskan air mata. Sikap Mizyan sungguh menimbulkan keharuan di dada, mendesak air mata untuk jatuh. Ini baru keharuan permulaan, belum nanti siang.
Mizyan kemudian beralih memeluk Dika dan mencium keningnya penuh sayang. Lalu berdiri mengangkatnya dalam gendongan.
"Eh tadi Dika mau bilang apa sama Papa?" Rahma mengingatkan sang anak yang kini menggelayutkan tangan di leher Papa.
"Papa, heppi besdey. Atu sayang Papa, sayang Bunda juja. Ay lapyu, Papa---" Ucap Dika dengan memiringkan kepala serta mata yang berbinar. Kedua tangan mungilnya menangkup wajah Papa buye lalu memberi ciuman di kedua pipi.
Mizyan balas melayangkan ciuman bertubi-tubi pada kedua pipi Dika dengan gemas. "Papa juja sayang Dika, sayang Bunda juja." Lalu menggesekkan hidung di leher bocah kriwil itu sampai tertawa tergelak kegelian.
"Dika nanti bakalan jadi abang." Rahma mengusap rambut kriwil Dika yang berantakan. Bertiga beralih duduk bersama di sofa.
"Hah?!" Dika yang duduk di tengah-tengah menatap bundanya dengan bingung.
"Dika akan punya adek. Adeknya masih di dalam perut Bunda. Nanti harus sayang sama adek ya." Mizyan ikut menjelaskan sambil mengusap perut bunda Rahma.
"Sayang, yang mana sih calon bayinya?" Mizyan masih antusias menatap foto usg dengan lekat.
"Itu baru kantung kehamilan yang terlihat. Nanti bulan depan akan keliatan janinnya sebesar kacang." Rahma menjelaskan sesuai pengalaman hamil Dika. Ia menunjukkan dengan jarinya posisi kantung. Yang menurut dokter usia kehamilannya kini 4 minggu.
"Itu apa, Papa." Dika ikut-ikutan mengamati apa yang dipegang Papa.
"Ini foto adek." Mizyan masih lekat mengamati foto usg dengan takjub. Ia membayangkan hasil menabur benihnya akan bertumbuh tiap bulannya.
"Ihhh jelek item. Atu da mau ade ah." Dika menggelengkan kepala sambil memanyunkan bibirnya.
Mizyan dan Rahma hanya bisa tertawa mendengarnya. Nanti ada waktunya menjelaskan secara perlahan.
"Ayo kita berangkat ah, keburu siang." ujar Rahma usai menatap jam yang melingkar di tangan.
"Pergi kemana?!" Mizyan menatap heran. Ia baru menyadari pakaian yang dikenakan bertiga sama warnanya, atasan putih dan bawahan coklat susu.
"Ke rumah Ayah. Aku gak siapin apa-apa di sini. Kita akan berkumpul bersama di sana syukuran milad Papa Mizyan." Rahma tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata. Ia juga melarang sang suami yang akan mengganti baju koko.
****
Mobil yang dikemudikan Mizyan melibas jalan raya menuju rumah Ayah Badru dengan suasana hati gembira. Berkali-kali melempar senyum terhadap Rahma diiringi pancaran mata penuh cinta.
Rahma mengusap-ngusap bahu sang driver sebagai balasan dan ungkapan kebahagiaannya. Dalam hati bersyukur, surprise pertama berhasil. Kini, menuju surprise kedua.
Pintu pagar besi sudah terbuka lebar. Namun Rahma melarang Mizyan memasukkan mobil ke dalam pekarangan. Menyuruh parkir di tepi jalan di sebrang rumah Ceu Imas. Meski heran, tak urung Mizyan menuruti permintaan istrinya itu.
Bertiga memasuki pekarangan yang lengang dengan posisi Dika dituntun di tengah. Pintu utama rumah tertutup rapat. Nampak sepi.
__ADS_1
"Diketuk aja, Mas." Ujar Rahma yang melihat raut heran suaminya itu.
"Assalamu'alaikum---" Mizyan mengetuk pintu dengan iringan salam. Sementara Dika mengayun-ngayunkan tangan kirinya yang masih dalam posisi berpegangan tangan.
Pintu terbuka perlahan. Seiring sosok pria muncul dari balik pintu mengagetkan Mizyan.
"Papi?!?" Mizyan terkesima dengan apa yang dilihat di depan matanya. Sosok tinggi berwajah bule itu tersenyum simpul menatapnya. Papi Mark.
"Happy birthday, my son." Mark merangkul Mizyan. Menepuk-nepuk punggung sang anak tanpa kata. Biarlah bahasa tubuh yang berbicara jika ia sangat sayang terhadap anak semata wayangnya itu.
Mizyan balas memeluk erat. Memejamkan mata meresapi rasa sayang yang mengalir sampai ke sanubari.
"Semua do'a terbaik untukmu, Nak. Papi bangga punya anak sepertimu. Jaga dan pertahankan pernikahanmu sampai hanya maut yang memisahkan." Ujar suara serak Papi Mark di balik punggung Mizyan yang menahan keharuan.
Mizyan menjawab dengan anggukkan kepala. Balas menepuk-nepuk punggung sang ayah. Ia faham makna ucapan papinya itu yang punya pengalaman gagal dalam berumah tangga. Dan dialah yang menjadi korbannya. Broken home.
Rahma tersenyum senang melihat pemandangan father and son saling berpelukan. Tissu yang sudah dipegangnya dipakai untuk menyusut sudut mata yang berair.
"Aku gak nyangka Papi akan ke Bandung." Mizyan berganti merangkum bahu sang ayah setelah pelukan terurai. Beralih menatap orang yang muncul dari dalam, Rangga. "Wah, lo gak bener gak ngasih kabar." Pandangannya mendelik menatap Rangga yang tersenyum menyeringai.
"Kan surprise, Mas." Rangga mengangkat 2 jarinya.
Ayah Badru dan Uma menyusul keluar. Mizyan segera mendekat dan mencium tangan keduanya bergantian. Bahkan Ayah dan Uma memberi pelukan dan mengucapkan do'a keberkahan usia padanya. Diaminkan semua orang.
Ceu Imas yang ikut membantu masak di dapur Uma, tiba-tiba muncul dan nimbrung dalam kerumunan. "Mas bule, selamat ulang tahun nya. Sing panjang umur, sehat selalu, dan gantengnya gak luntur-luntur." Ujarnya sambil cengengesan.
"Amiin Ceu Imas. Makasih ya." Mizyan mengulas senyum manis. Yang membuat kepala Ceu Imas merasa kleyengan. Terlalu kemanisan.
"Boleh salaman ya, Mas Bul." Ceu Imas menaik turunkan alisnya. "Ya neng Rahma, gak papa ya?!" Ia beralih menatap Rahma meminta ijin.
"Boleh, Ceu. Entar ngences lagi kalau gak dikabulin." Rahma terkekeh.
Ayah Badru dan Uma hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan tetangga depan rumahnya itu. Sudah biasa.
Dengan girang Ceu Imas menerima uluran tangan Mizyan. Ujung-ujungnya mengeluarkan ponsel dari saku kulotnya meminta Rahma mengabadikan sampai 4 jepretan kamera.
Ulala...rejeki nomplok ini mah. Bisa peyuk fotonya tiap malam.
Ceu Imas menyimpan lagi ponselnya dengan hati-hati ke dalam saku.
Rangga menahan orang-orang jangan dulu masuk. Bahkan ia mengeluarkan syal dari saku celananya.
"Mas, ada surprise dari Papi Mas. Ditutup dulu ya matanya!" Tanpa menunggu persetujuan, Rangga melakukan tugasnya.
"Ada surprise apa sih?!" Mizyan setengah tertawa merasakan pandangan yang gelap bercampur rasa penasaran yang hinggap. Kedua tangannya meraba-raba mencari pegangan. Hingga merasakan tangan halus menggenggam tangan kirinya, membimbing langkahnya berjalan dua langkah.
"Sayang, kejutan apa lagi?!" Mizyan tahu pasti siapa yang menggenggam tangannya.
"Tunggu ya. Nanti aku kasih aba-aba hitungan mundur dari angka 5, oke." sahut Rahma.
Mizyan meruncingkan pendengarannya. Tapi yang ia tangkap malah suara Dika yang heboh bersorak-sorak serta selingan tawa Papi Mark dan Ayah Badru.
10 menit kemudian.
"Sayang, lama---" keluh Mizyan.
"Sabar---" Rahma menanggapi tenang.
"Oke, bersiap ya, Mas! 5....4....3....2...1"
**********
__ADS_1
Tahan....tahan....sabarrrr......ya zeyenk, jangan mencak-mencak, ✌✌✌belum selesai surprisenya. Keburu jatah katanya habis, kebanyakan teuing.
Kopi dan taburan bunganya dong....biar papa atu nanti gak nangis dapat surprisenya.