
Bandung
Rahma mengetuk-ngetukkan jari di meja kerjanya usai memeriksa laporan pembukuan selama ia pergi ke Aceh dan Medan. Selama ditinggalkan ke luar kota seminggu lamanya itu, manajemen toko tetap berjalan baik dan sehat, orderan snack selalu ada. Beruntung ada Fitri menjadi orang kepercayaan yang bisa diandalkan dikala ia tidak ada di toko.
Sesekali ia melirik ponselnya yang senyap. Merasa ada sesuatu yang hilang. Dari kemarin sampai menjelamg sore ini tidak ada video call dari Mizyan untuk Dika, otomatis tak ada yang menggodanya memanggil 'Bun' yang entah kenapa membuatnya menjadi tak masalah, bahkan terdengar enak di telinga. Tak lagi merasa sebal ataupun marah. Mungkinkah karena sudah terbiasa?
Selepas magrib kemarin Dika merajuk ingin menghubungi om buye nya. Tersambung, tapi tidak ada jawaban meski 2 kali diulang. Beruntung rengekannya teralihkan dengan kedatangan Moza anaknya dokter Gunawan yang datang bersama susternya. Sehingga anteng main bersama sampai kedua batita itu ketiduran di karpet diantara berserakkannya mainan.
Ia menatap layar LED yang menampilkan aktivitas seputaran toko yang terekam camera cctv. Ia menjadi teringat dulu di camera 2, pandangannya bersirobok dengan sepasang mata hazel yang tengah duduk sambil tersenyum menatap camera. Ah, kenapa jadi teringat dia?!
Lamunannya terbuyarkan oleh dering interphone di meja. Biasanya panggilan dari karyawannya di bawah. Dan ternyata Fitri mengabari ada tamu Pak kepala, alias Dimas.
Kenapa aku berharap Mizyan yang datang.
Biasanya orang itu suka bikin kejutan, tiba-tiba **m**uncul.
Rahma menggelengkan kepala sambil beristigfar. Ia merasa hati dan otaknya sudah terkontaminasi. Buru-buru ia beranjak dari ruangannya untuk menemui Dimas.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu juga." Dimas berdiri sambil mengulas senyum menyambut kedatangan Rahma. Kemeja lengan panjang yang digulung sampai sikut membuat penampilannya lebih santai dan cool. "Susah ya pengen ketemu owner Citarasa ini." Pungkasnya dengan wajah berbinar menyiratkan rasa bahagianya.
"Pak Dimas bisa aja." Rahma terkekeh lalu mempersilakan tamunya duduk lagi. Perlakuan yang sopan membuatnya menghargai setiap kedatangan Dimas ke tokonya. Entah itu untuk membicarakan order cake atau sekadar main saja.
Ia mengernyit kala Dimas mengulurkan sebuah paper bag ke atas meja. "Apa ini, pak?"
"Jangan formal dong, ini bukan di kantor." Dimas menggeleng tak setuju dengan cara Rahma memanggilnya.
"Eh, maaf. Suka lupa ini mulut." Rahma refleks menyentuh bibirnya. "Apa ini, kang Dimas?" Ia meralatnya. Dimas adalah orang sunda asli Garut. Permintaan Dimas sendiri yang ingin dipanggil 'Akang'.
"Minggu kemarin aku pulang liburan dari Labuan Bajo. Ini oleh-oleh souvenir buat kamu."
"Wah, dapat oleh-oleh." Rahma mengintip isi di dalam paper bag itu. "Makasih banyak ya, kang. Lain kali nggak usah repot-repot bawain oleh-oleh segala."
"Nggak direpotin kok. Toh aku yang ngasih bukan kamu yang minta." Dimas tersenyum simpul menatap Rahma yang tersenyum meringis mendengar sanggahannya.
"Oke. Kalau gitu aku pamit pulang dulu. Ke sini hanya untuk ngasih itu aja." Ujar Dimas sambil berdiri bersiap pergi.
Rahma turut berdiri dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
"Oh ya, kapan-kapan boleh kan aku main ke rumahmu?!"
Dimas yang sudah melangkah lalu membalikkan badan sambil berucap demikian, membuat Rahma bingung mau menjawab apa.
"Kenal lebih dekat boleh kan?!"
Lagi-lagi kalimat pertanyaan setengah memaksa harus menjawab iya membuat lidahnya kelu untuk berkata tidak. Akhirnya ia mengangguk. Dan itu cukup membuat pak kepala tersenyum lebar dan melangkah ringan meninggalkan toko.
****
"Nda, telpon om buye cekalang!" Dika menggelayutkan tangannya di leher bundanya kala sang bunda tengah memakaikan baju usai mandi sore.
"Emang Dika kangen sama Om Buye?" Rahma memasangkan kaos dan celana santai berbahan lembut dan hangat. Cocok dengan udara yang lagi dingin sebab baru saja turun hujan.
__ADS_1
Dika mengangguk sambil tangan kanannya memainkan jepitan rambut bundanya. "Nda tangen juja?" Wajahnya didekatkan dengan bibir dimonyongkan untuk mencium pipi bundanya. Cup.
Rahma tidak tahu. Apakah pipinya yang kini merona sebab dicium Dika sehingga membuatnya terharu melihat anak semata wayangnya itu tampak sayang padanya. Ataukah meronanya pipi itu sebab pertanyaan polos Dika; "Nda tangen juja?"
Ia tak menjawab. Memilih mencium dengan gemas kedua pipi anaknya itu. "Anak Bunda udah wangi, udah ganteng. Sekarang boleh telepon Om Buye."
Ia mengajak Dika yang berjingkrak riang untuk berpindah duduk di kursi dan menempatkan ponsel pada phone holder. Sekali terhubung namun belum jua dijawab panggilan videonya. Diulang sampai 3 kali tetap saja sama tidak ada sahutan. Ia beralih menatap Dika yang mulai tak sabar dengan bibir mengerucut.
"Om buyenya lagi sibuk, sayang." Rahma mengusap rambut Dika yang klimis sehabis keramas. "Nanti kalau udah nggak sibuk, pasti om buye telpon Dika." Ia menggendong Dika yang masih manyun, membawanya ke luar kamar.
"Cucu nenek kenapa manyun gitu?" Uma menatap kedatangan Rahma yang bergabung duduk di ruang keluarga dengan Dika yang tampak memberengut.
"Pengen vidcall om nya. Tapi nggak diangkat. Jadinya manyun deh." Rahma mengecup puncak kepala Dika yang tak mau turun, malah nemplok di dadanya.
"Mungkin lagi sibuk." Ayah bersuara meski pandangannya tetap mengarah pada layar televisi yang menyajikan berita sore. Kemudia Ayah mematikan tv yang membuat uma protes.
"Mumpung lagi nyantai, ada hal yang ingin ayah sampaikan sama Rahma." Uma tak lagi protes mendengar alasan suaminya itu.
"Ada apa sih, Yah? Jangan serius amat ih." Rahma menatap sang ayah yang menegakkan punggung bergantian kepada uma yang mengatupkan bibir.
"Rahma, ingat nggak? Kalau nggak salah 2 bulan yang lalu ayah sama uma sama Dika telat pulang dari kajian ahad."
Rahma tampak mengerutkan kening. Berusaha mengingat kembali waktu yang dimaksud sang ayah.
"Waktu ayah bilang abis ketemu teman ayah ya?!" Ia masih lanjut mengingat-ngingat lagi. "Ah iya, barengan sama mama indah telpon minta aku ke Jakarta kan." Kali ini ia sangat yakin.
Ayah mengangguk. "Waktu itu ayah dan uma bertemu seorang laki-laki dewasa, orangnya baik dan sopan, InsyaAllah agamanya juga bagus. Dia meminta ijin kepada ayah sama uma ingin melamar menjadi istrinya, ingin menjadi ayah untuk Dika."
Ayah Badru tak beralih menatap putri satu-satunya itu yang kini menautkan kedua alisnya. Sementara Uma memilih menjadi pendengar dulu.
"Mizyan."
Tetiba keheningan melingkupi. Raut keterkejutan jelas nampak di wajah Rahma.
"Mizyan orang yang baik dan sopan. Mualaf yang sungguh-sungguh belajar agama. Dia bisa menjadi imam untukmu dan Dika." Uma kini menyampaikan dukungannya.
"Yah, Uma. Aku belum ada niat menikah lagi. Jangan paksa---" Rahma menatap kedua orangtuanya dengan sorot memelas.
"Nggak ada yang maksa kamu, sayang." Uma meralat ucapan Rahma. Ia sudah menyadari akan sifat pengkuh anaknya itu. "Barusan Ayah hanya menyampaikan amanah. Keputusan tetap ada di tangan kamu."
Rahma merebahkan badan perlahan di sisi Dika yang sudah terlelap. Ia sampai harus mengajak anaknya jalan-jalan berkendara mobil agar tidak terus-terusan rewel sebab tak bisa menghubungi om buye nya. Selepas isya tadi mencoba menghubungi namun kali ini tidak aktif. Akhirnya Dika bisa tertidur kala diajak muter-muter jalan raya.
Ia teringat lagi percakapan tadi sore. Tak menyangka jika Mizyan sudah melamarnya kepada ayah dan uma.
Apa ia tulus menyayangi Dika?
Atau cuma modus untuk mendekati aku?
Tetiba tulisan di buku diary almarhum Malik hadir di ingatannya.
Langkahmu masih panjang. Pesanku, Menikahlah lagi.
__ADS_1
Dika masih kecil. Butuh figur ayah. Kamu pun masih muda, jangan meratapi kepergianku.
Doakan Abang mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
Kebahagian Abang adalah melihatmu dan Dika bahagia.
Semoga Allah kabulkan do'a Abang ya sayang. Aamiin....
Rahma mulai terisak kecil dengan mata yang nanar menatap langit-langit kamar.
"Kenapa Abang sama seperti ayah dan uma." Ia protes menatap lampu neon yang tak lagi menyala sebab berganti lampu tidur yang redup.
"Kenapa nyuruh aku nikah lagi. Hiks---"
Entah berapa lama ia menangis sampai lelah dan tak sadar sudah terbang ke alam mimpi. Betapa hatinya menghangat dengan senyum tersungging di bibir melihat Dika yang berlari sambil tertawa lepas sebab dikejar Mizyan yang ingin menangkapnya. Keduanya bahkan berguling-guling di hamparan rumput luas mengekspresikan kegembiraan.
"Ah, tolong----" Rahma menjerit ketakutan kala ada seekor ular kobra tiba-tiba hadir di depannya. Bukan 1 ekor tapi 2 ekor berukuran besar, dengan kepala sudah melebar siap mematuk.
Ia berteriak lagi namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Malah tubuhnya memanas dan berkeringat dingin. Ia menatap Mizyan yang masih anteng bermain dengan Dika. Sekuat tenaga berteriak pun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Malah membuatnya payah tak bertenaga lagi.
"Mizyan, tolong aku---" Ia berteriak dalam hati dengan air mata berderai. 2 ekor ular itu makin mendekat dan ia hanya bisa duduk mematung.
"Aku di sini, Rahma. Jangan bergerak dulu!" Tahu-tahu Mizyan sudah berada di belakang ular menatapnya dengan sorot mata menenangkannya.
"Everything will be fine, Bun."
Ia memilih memejamkan mata. Takut dan khawatir melihat apa yang akan terjadi pada Mizyan yang rela berkorban untuknya.
"Bun, buka matanya. Ularnya sudah mati." Sebuah tepukan lembut di pipi membuatnya mengerjap dan perlahan membuka mata.
"Nda, atu ausss---- mo minum----" Dika terduduk menatapnya dengan mata masih mengantuk lalu menguap.
Ia termenung sambil mengumpulkan nyawa yang masih berserakan. Berarti barusan hanya mimpi?
Ia pun merasakan tenggorokannya yang kering dan tubuh yang berkeringat.
Firasat apakah ini?
****
Aku berprasangka baik. Masih banyak readers yang melewatkan memberi LIkE mungkin dia lupa atau tak tahu caranya....
Setiap habis baca akan ada icon jempol. Tinggal sentuh sampai keluar warna biru dan itu GRATIS TIS tak mengurangi poinmu.
Minimal kasih LIKE lah ya jika memang membaca karyaku ini.
Hargai author yang menulis dengan pemikiran masak dan tidak asal-asalan.
Yuk ah saling menghargai agar tidak ada saling kecewa diantara kita.
Peluk onlen utk readers baik hati 😍
__ADS_1
Salam
Me Nia