MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 157. Bonchap 3


__ADS_3

Papi Mark beranjak mengikuti anak dan istrinya ke kamar. Mengakhiri obrolan dengan Mizyan membahas perkembangan pabrik kayu. Inovasi yang dibuat anaknya itu membuat grafik perkembangan usahan naik signifikan. Sehingga ada wacana pembukaan pabrik kedua dengan opsi lokasi di wilayah Priangan Timur. Papi Mark penasaran ingin tahu apa keinginan si kembar sampai berbisik-bisik dan menarik tangan Ibu mereka dan membawanya ke kamar.


"Aku gak mau kadonya buat berdua. Pengen satu-satu. Babang ngasih, Mentari ngasih, Kakak Mizan juga ngasih." Protes Kay pada Ibunya yang ternyata sudah menyiapkan 1 kado yang dibawa dari Bogor. Lidahnya masih belibet mengucapkan nama Mizyan, alhasil menjadi memanggil Kakak Mizan.


"Ada apa? Kok pada manyun gitu." Papi Mark mendengar protes Kaysan. Tapi belum tahu dengan permasalahannya. Meminta istrinya bergeser duduk sehingga ia mendapat tempat di samping ibunya si kembar sembari merangkum bahunya.


"Nah ada Papi. Ayo ceritain sama Papi!" Bu Ima melirik Papi Mark sekilas. Beralih menatap kedua anaknya yang duduk di tengah-tengah kasur. Sejak dini ia selalu mengajarkan komukinasi terbuka pada bocah bule berambut coklat pirang itu.


"Papi gini ya...." Kay memperbaiki posisi duduk silanya.


"Sebentar Kay!" Kei seenaknya menutup mulut saudara kembarnya dengan telapak tangan. "Pintunya belum dikunci...nanti kedengeran sama Kakak Rahma bahaya." Kei melepaskan bekapannya. Turun dari ranjang menuju pintu. Ceklek, mengunci satu putaran dan kembali naik ke atas ranjang.


Bu Ima dan Papi Mark saling pandang sembari menahan senyum.


"Kay...bicaranya bisik-bisik aja ke telinga Papi!"


Kay mengangguk. Mau saja menuruti saran saudarinya itu. Sehingga beralih mendekati papinya dan mulai membisikkan misi surprise seperti yang diceritakan Babang tadi.


"STOP! Papi ishhh....kenapa jadi sleepy!" Kei menginterupsi. Membuat Kay yang masih berbisik di telinga papinya menjadi terhenti. Padahal ia masih antusias menjelaskan keinginan membeli kado. Wajahnya melongo tidak percaya menyaksikan Papi malah terkantuk-kantuk.


"Ha ha ha----" Bu Ima tidak kuat menahan tawa yang dari tadi ingin meledak. Ia tahu suaminya iseng mengerjai si kembar dengan pura-pura mengantuk mendengarkan Kay yang berbicara dengan berbisik.


"Papi sama Ibu ga asyik." Kay memanyunkan bibir dengan kedua pipi dibuat mengembung. Diikuti pula oleh Kei. Bersamaan membalikkan badan memunggungi kedua orangtuanya. Menjadi mode standar jika sedang ngambek.


Bu Ima berusaha mengerem tawanya. Terlihat dari punggungnya yang terguncang-guncang. Matanya berair sebab tawa lepas yang dibuatnya tadi. Bukannya ingin menegur, malah merasa lucu dengan aksi demo si kembar.


Kesempatan yang dimanfaatkan Papi Mark dengan baik. Ia memalingkan wajah Bu Ima ke arahnya. Mencuri ciuman di bibir dengan sesapan tiga detik lamanya. Membuat istrinya itu memelototkan mata dan mencubit paha suami mesumnya itu. Bisa-bisanya si Opa mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Keisha---" Dengan lembut Bi Ima memanggil nama anak gadisnya sembari menyentuh pundaknya. Namun Kei menggeserkan tubuh, maju ke depan. Membuat sentuhan tangan ibunya itu terlepas.


"Kaysan---" Bu Ima beralih memanggil anak bujang dengan cara sama seperti yang dilakukan kepada Kei. Dan Kay pun berlaku sama, menggeser tubuhnya sejajar lagi dengan saudarinya.


Giliran Bu Ima memberi kode kepada Papi Mark. Meminta agar membujuk si kembar yamg masih dalam mode merajuk.


"Let's go beli kado untuk kak Rahma!"


Satu kalimat sakti yang membuat si kembar memutarkan badan bersamaan. Menghadapkan wajah lagi dengan tatapan masih belum percaya.


"Ayo siap-siap, sayang. Kay dan Kei boleh milih kado masing-masing." Bu Ima menganggukkan kepala, meyakinkan si kembar.

__ADS_1


"Ibu juga harus ngasih kado!" Pinta Kei yang mulai mencair dari mode ngambek.


"Iya. Kan dari Ibu sudah ada." Sahut Bu Ima. Kedatangannya ke Bandung memang salah satunya dalam rangka berkumpul dengan anak mantu untuk merayakan milad.


"Berati Papi yang belum punya kado. Papi harus ngasih kado juga ya!" Perintah Kay.


"Siap, laksanakan!" Papi Mark memberi hormat perintah Kay yang kini terbit lagi senyumnya.


"Papi...Ibu....jangan heboh ya. Ini rahasia kita---" Kei berkata pelan sembari melihat ke kiri dan ke kanan. Merasa takut ada Kak Rahma mendengarkan.


Bu Ima dan Papi Mark terkekeh bersamaan. Tingkah si kembar sungguh membuat mereka geli sekaligus bangga. Mengharuskan semuanya memberi kado, menjadi bukti adanya rasa sayang dan perhatian terhadap sang kakak.


"Tunggu dulu ya, Pi. Aku mau laporan dulu sama Babang." Kay dengan semangat turun dari ranjang. Tersisa Kei yang menggelayut manja dan memberi ciuman terima kasih di pipi Papi dan Ibu.


****


"Abang, aku mau main sama onty...gak mau main di kamar Abang." Mentari protes. Ia diajak naik ke kamar abangnya saat akan mencari Keisha ke kamar Opa.


"Sebentar dulu! Abang mau bikin gambar nanti adek jadi juri ya!" Dika mengulur waktu sembari mengambil buku gambar di meja belajarnya.


"Juri itu apa?!" Mentari mengekori dengan kening mengkerut.


"Ooh...begono. Siyap!" Mentari antusias duduk di sofa menunggu abangnya memulai menggambar.


Sementara Dika menatap ke bawah dari jendela kamarnya. Nampak mobil yang dikemudikan sopir Opa nya mundur perlahan keluar dari pekarangan. Kemudian melaju dijalanan aspal komplek dan menjauh. Senyumnya merekah lebar. Aman.


"Dek, mendingan ngegambarnya pindah ke bawah aja yuk! Biar Papa juga liat hasilnya." Dika mengajak turun setelah yakin Kay dan Kei sudah pergi ke mall untuk membeli kado. Sengaja mengevakuasi Mentari sesuai permintaan Kay sebab bisa heboh ingin ikut dan membahayakan misi.


"Tuh kan kataku juga apa. Di bawah lebih seru banyak orang. Makanya sama anak kecil harus nurut." Omel Mentari yang kini tangannya dituntun Abang Dika menuruni anak tangga.


Sudut bibir Dika tertarik. Tidak menanggapi ucapan Mentari yang nyerocos sepanjang menuruni anak tangga.


Sepi. Mentari celingak celinguk mencari keberadaan Kay dan Kei sembari memanggil-manggil namanya. Dika yang sedang memasang meja lipat di karpet ruang keluarga, tertawa di tahan melihat sang adik mengetuk-ngetuk kamar Opa Mark.


"Om sama Onty lagi pergi dulu." Rahma keluar dari ruang fitnes usai memberikan sebotol air untuk Mizyam, menghampiri Mentari di depan pintu kamar Opa.


"Om sama onty jalan-jalan ya? kok gak ngajak aku?" Wajah Mentari berubah cemberut.


"Bukan jalan-jalan. Sebelum magrib juga udah pulang, katanya. Nganter Opa ada urusan sebentar." Rahma merangkum bahu Mentari dan mengajak pindah menghampiri Dika. Menghibur dengan menyiapkan es krim untuk kedua anaknya itu.

__ADS_1


Benar saja sebelum magrib mereka sudah pulang. Situasi aman sebab kakak Rahma sedang menemani Mentari mandi sore sesuai informasi dari Dika. Dengan raut riang si kembar masing-masing menenteng paper bag.


"Wah, bawa apa tuh? Kakak bagi dong!" Mizyan mencegat langkah si kembar yang dikawal Dika di ruang tengah.


"Sstt, Kakak. Jangan heboh." Kay memasang telunjuk di depan mulutnya. "Kita abis beli kado buat kakak Rahma." Ujarnya lagi sambil memperlihatkan isi paper bag.


"Awas ya Kakak...ini rahasia kita. Jangan sampai bocor!" Kei memberi peringatan dengan wajah serius.


"Oke, boss!" Mizyan melakukan aksi seolah menggembok mulut. Terkekeh saat si kembar setengah berlari menuju kamar untuk menyembunyikan kado.


"Keukeuh...harus ngasih kado masing-masing." Papi Mark mengadu akan sikap si kembar sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Dan Papi kalah. Mau aja nurutin keliling mall mengekori dua bocah." Bu Ima menimpali diiringi kekehan.


Mizyan tertawa. "Baguslah jadi 4 kado. Biar uang Papi terkuras banyak." ujarnya dengan wajah puas penuh kemenangan.


Membuat Papi Mark meninju bahu anak sulung yang tidak berubah, tetap senang menggodanya.


Jam 9 malam suasana rumah mulai hening dari keceriwisan anak-anak. Kay memilih tidur bersama Dika. Dan Kei tidur di kamar Mentari. Mereka semangat untuk segera terlelap setelah Mizyan memberikan briefing. Bahwa besok pagi tidak boleh bangun kesiangan untuk memberi surprise ulang tahun.


Di dalam kamar. Papi Mark naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut dimana sang istri sudah lebih dulu membaringkan badan. Ritual sebelum tidur setelah berdo'a tak pernah terlewatkan. Yaitu memberi ciuman ke seluruh wajah sang istri, ditutup dengan me magut bibir dengan sepenuh hati sebagai ungkapan kasih sayang yang tak perlu sering diucapkan dengan kata.


Papi Mark lanjut memeluk Bu Ima. Merupakan kebiasaan posisi tidur setiap malamnya. "Bunny, ada salah satu kebiasaan yang membuat hubungan dengan pasangan akan selalu mesra dan hot." Bisiknya diakhiri mengecupi daun telinga istrinya itu.


"Apa itu?!" Bu Ima mengeratkan tubuh lebih rapat. Sehingga bisa merasakan degup jantung sang suami yang berdetak seirama.


"ML dengan rajin, kreatif dan niat. Bukan hanya kalau minat...."


Dan Papi Mark pun mulai melakukan niatnya tanpa mampu ditolak oleh Bu Ima. Bagaimana mungkin menolak sentuhannya. Sang suami begitu lihai bermain, membuatnya melayang dalam kenikmatan tanpa batas.


Di kamar utama lantai 2. Lampu temaram sudah dinyalakan. Mizyan mengambil posisi tidur memeluk dari belakang. Mengusap-ngusap perut Rahma dengan lembut. Yang membuat istrinya itu selalu merasa nyaman, merasa sedang dikeloni sehingga mudah terlelap.


"Sayang---"


"Hemm---" sahut Rahma diantara setengah kesadaran sebab rasa kantuk mulai mendera.


Mizyan menarik perlahan tubuh Rahma untuk tidur berhadapan. "Adek kecil gak bisa bobo, pengen nengok dulu baby katanya." ujarnya sembari mengecup bibir tipis yang tak pernah bosan untuk diraup dan disesapnya.


Rahma diam. Tak perlu menjawab dengan lisan. Balasannya me ma gut cukup mewakili izin yang diberikannya. Kehamilan ketiga memang membuatnya selalu mendamba akan sentuhan suaminya itu. Malah membuatnya menjadi agresif dan kreatif bermain-main dengan adek kecilnya sang suami.

__ADS_1


Tentu saja Mizyan senangnya bukan kepalang dengan kenakalan Rahma. Semakin bertambah usia pernikahan, bukannya hambar dan membosankan. Malah hubungan semakin lengket dan mesra.


__ADS_2